Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Arsip Berita | Politik Lokal dan Gerakan Sosial Transformatif

Arsip Berita

Jokowi – Prabowo Berebut Bung Soekarno

Laporan Reporter Tribun Jogja, Niti Bayu Indrakrista
20140610_133847_debat-dua-pasangan-capres-cawapres-2014
TRIBUNNEWS.COM, YOGYA – Di luar perkiraan para pengamat politik, dalam kampanye Pemilihan Presiden 2014 wacana mengenai ideologi banyak muncul ke permukaan.

Sosok dan ideologi Soekarno pun menjadi rebutan kedua pasangan capres-cawapres yang berkompetisi.

Dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) David Effendi mengatakan, sebenarnya banyak pengamat politik yang sempat memprediksi bahwa ideologi akan menjadi wacana yang diabaikan selama jalannya kampanye.

Namun kenyataannya, ideologi justru menjadi pembicaraan hangat, jauh melampaui saat masa kampanye Pilpres sebelumnya tahun 2009.

“Saat ini, wacana ideologi lebih kuat daripada sebelumnya. Kedua kontestan pun memperebutkan sosok maupun pemikiran Soekarno,” kata David yang menjadi pembicara dalam Seminar Politik Debat Tim Sukses Capres Cawapres Mencari Presiden Ideal untuk Indonesia yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Sabtu (14/6/2014) siang.

Konsep-konsep politik yang terkait dengan Putra Sang Fajar, kata David, seperti diperebutkan oleh para Capres. Misalnya konsep Trisakti Bung Karno, Undang-Undang Dasar, hingga cara berpakaian. Sebaliknya, isu agama tidak lagi selaku sebelumnya.

Meskipun masih ada, namun sudah tidak lagi kencang apalagi sampai menjadi pertimbangan. “Kegagalan para pengamat politik yang menganggap era persaingan ideologi sudah lewat,” ujar David.

Ia juga menyoroti pentingnya peran tim sukses atau tim pemenangan para capres. Bahkan, ia tidak menduga akan ada kalangan yang menentukan pilihannya bukan berdasarkan kualitas capres atau cawapres itu sendiri, melainkan karena simpati pada tim pemenangan mereka.

Menurut David, dalam konteks Pilpres 2014, hal tersebut bisa menekan kemungkinan terjadinya konflik horizontal.

Sebab, tim pemenangan masing-masing capres berisi orang-orang yang sebelumnya memang sudah saling kenal dan menjalin hubungan baik.

“Anies Baswedan dan Mahfud MD sama-sama dari akademisi. Di tingkat daerah, Herry Zudianto dan Idham Samawi juga pada dasarnya adalah teman,” ujar David. (Tribunjogja.com)

 

Sarasehan Raperdais di PWM

antarafoto-Yogyakarta040910-2

Pada tanggal 28 Maret 2013 sejumlah organisasi Islam mengadakan sarasehan untuk yang ketiga kalinya bertempat di aula Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta yang diorganisir oleh LHKP PWM. Sedikitnya ada 40 peserta yang mewakili masing-masing organisasi Islam dan adat Mataram yang ada di Yogyakarta. Satu kesamaan dalam komunitas ini adalah adanya obyektifitas untuk melihat sejarah kesultanan Yogyakarta sebagai kesultanan Islam dimana nilai-nilai keislaman menjadi penanda kekhasan dan keistimewaan termasuk gelar utuh Raja yang berbunyi Sri Sultan Hamangkubuwono Senopati Ing Ngalogo Panotogomo Ngabdurrahman Sayidin Khalifatullah.

Raperdais adalah implementasi dari UU No.13 Tahun 2012. DIY menurut UU adalah provinsi yang memiliki keistimewaan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan. Keistimewaan ini berdasar pada sejarah, kontribusi Sri Sultan Hamengkubuwono IX bagi kemerdekaan Indonesia serta simbol budaya Yogyakarta. PEMDA DIY dan DPRD DIY diberikan kewenangan dalam melaksanakan urusan Keistimewaan DIY.

Ir. H. Yuwono Sri Suwito, MM yang juga bagian dari tim penyusun Raperdais menyampaikan pokok-pokok pikiran terkait penanda keistimewaan Yogyakarta yang berarti paugeran yang tidak dapat diubah antara lain yaitu gelar sultan dan raja yang dijabat seorang laki-laki. Walau demikian, Ketua Dewan Kebudayaan DI Yogyakarta ini membenarkan apabila ada pihak tertentu yang ingin membelokkan sejarah kesultanan Islam Yogyakarta dengan mengidentifikasi kerajaan ini sebagai kerajaan Jawa.

Ada pun pembicara kedua, Isti’anah, Anggota DPRD DIY memberikan tawaran teknis untuk memasukkan aspirasi ummat islam yang didasarkan obyektifitas sejarah itu ke dalam batang tubuh sebagai sesuatu yang ideal walaupun tidak menutup kemungkinan kita hanya sampai mendekati yang ideal—pencantuman hanya dalam penjelasan umum Raperdais. “Sesuatu yang ideal itu harus diperjuangkan sekuat tenaga dengan niat menegakkan agama islam”, tambah Sukri Fadholi, tokoh Islam dan juga petinggi PPP DIY.

Beberapa kesepakatan dalam sarasehan yang difasilitatori oleh David Efendi ini antara lain menghasilkan rencana untuk audiensi dengan Sri Sultan, menyiapkan draft materi usulan, dan memperbanyak organisasi yang terlibat sehingga bukan hanya suara organisasi Islam. Rencana sarasehan kelompok poros tengah ini berikutnya akan diselenggarakan di Pimpinan Wilayah NU. [DEF]

Informasi Pendaftaran Mahasiswa Baru UMY

© 2016 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY