Kewarganegaraan global atau kewarganegaraan dunia dalam makna luas mengacu pada seseorang yang mengutamakan identitas “masyarakat global” di atas identitasnya sebagai warga negara (nasionalisme atau chauvimisme). Menurut konsep ini, identitas seseorang sudah melintasi batas geografi atau demarkasi politik dan manusia di planet Bumi saling bergantung dengan satu sama lain. Kosmis menyatukan. Umat manusia merupakan satu kesatuan penciptaan dan juga punya saling ketergantungan yang kuat.

Istilah kewaragaan bumi ini digunakan di bidang pendidikan dan filsafat politik dan dikenal di gerakan-gerakan sosial seperti gerakan warga dunia dan mundialisasi. Dalam konsepsi agama-agama langit, kemanunggalan manusia dengan alam sangat terkonseptualisasi secara teologis (ukhuwah kauniyah) atau hablum min al alam.

Istilah “kewarganegaraan” merujuk pada identitas antara seseorang dan kota, negara, atau bangsa dan haknya untuk bekerja, menetap, dan berpartisipasi secara politik di wilayah tertentu. Bila ditambah kata “global”, istilah tersebut mendefinisikan seseorang yang mengutamakan identitas “masyarakat global” di atas identitasnya sebagai warga negara. Identitas seseorang sudah melintasi batas geografi atau politik dan tanggung jawab beserta haknya merupakan bukti keanggotaannya dalam “umat manusia”. Ini bukan berarti orang tersebut menolak atau mencabut kebangsaannya atau identitas lokalnya. Identitas global merupakan “tempat kedua” dalam keanggotaannya di komunitas global. Konsep ini juga memunculkan persoalan seputar masyarakat global pada zaman globalisasi.

Secara umum, istilah ini memiliki makna yang kurang lebih sama seperti “warga dunia” atau “kosmopolitan”, tetapi “kewarganegaraan global” memiliki makna khusus dalam konteks yang berbeda.

Konsep Environmental Citizenship (EC) mendefinisikan kembali hubungan manusia dan alam dan menegaskan kembali bahwa pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab semua orang setiap saat, berdasarkan pilihan hidup seseorang dalam meminimalkan dampak ekologis di bumi.

Memberi Makna #Faiths4Climate

Gerakan global climate strike ada yang berbasis non-agama ada yang membangunnya dengan sentimen keagamaan dan iman. Salah satu gerakan global yang masuk ke Indonesia adalah greenfaith yaitu sejak tiga tahun lalu turut mensuport gerakan kampanye lingkungan di kalangan anak muda di Indonesia dengan tagline faith4climatejustice. Gerakan ini sangat memberikan makna bagi kemunculan dan aktualisasi gerakan lingkungan dan menolak krisis iklim yang diundang dan diperparah oleh kebijakan pembangunan.

Gairah anak muda di dalam mengikuti proses karnval kampanye krisis iklim sangat menggembirakan. Mereka secara kreatif mengupayakan partisipasi dan mengirim pesan-pesan pada bumi, kepada rezim ekonomi dan politik nasional dan global. Jika dua tahun sebelumnya jumlah aksi sebanyak 30-an, 2022 ini ada lebih dari 300 aksi serentak di Indonesia untuk menyuarakan dua hal: kaum agama dan tokoh agama harus menjadi bagian dari spirit gerakan keadilan iklim dan meminta pemerintah mengoreksi dan menghentikan kebijakan yang pro energi kotor yang memperparah krisis iklim yang sudah kian parah.

Earth Democracy untuk Agama-agama

Earth Democracy in Action. Begitu bunyi salah satu chpater dalam buku Vandana Shiva (2010) yang relatif kurang pipuler di Indonesia dibandingkan ekofeminismenya. Buku ini pdf pun belum tersedia. Untuk mendapatkannya saya harus request teman di Inggris untuk mendapatkan sejumlah bab secara terpisah dan lalu saya gabungkan menjadi mushaf yang saya bagi kepada sahabat yang berminat.

Kenapa perlu aksi lintas agama dan keyakinan untuk mendorong gerakan yang menyelematkan planet bumi dari krisis iklim yang akan memunahkan kebudayaan dan atau peradaban manusia. Ada beberapa alasan kenapa musti bergerak sekarang dan multifaiths. Pertama, tersedia common ground yang sangat kuat antar agama dan keyakinan akan persoalan krisis ekologi yang nyata dan darurat. Kelompok agama yang meyakini bahwa kekuatan korporasi yang menegasikan kedaruratan krisis lingkungan hidup memang menjadi kontrol narasi di banyak aspek kehidupan termasuk media mainstream.

Kedua, persoalan planet bumi tidak mungkin bisa diatasi salah satu agama. Sehebat dan sekuat apapun agama itu memiliki sumber daya dan mesin sosial. Selama ini agama langit dianggap dan mungkin bagian dari persoalan karena mass organizer dengan jejak karbon yang tinggi. Pertaubatan ekologis dimaknai sebagai kerja bbersama untuk merestorasi bumi dan mencegah kerusakan atau praktik pengrusakan akibat aktifitas pasar (bussness society) dan pembangunan (political society). Bussiness as usual dapat dicegah dengan moral etis ekologis yang bersumber dari nilai-nilai ajaran agama.

Bahwa seruan etis dan dogmatis sudah sangat lama digaungkan tetapi implikasi etis dan politisnya masih jauh panggang dari api. Hal ini mengundang kaum agamawan dan pimpinan lembaga keagamaan untuk memperkuat dukungan dan gerakan yang bersifat politik demi menyelamatkan bumi dari kepunahan. Kebudayaan adalah ruang utama yang dapat diupayakan kelompok masyarakat sipil untuk berbuat lebih nyata–memastika kewargaan global sebagai basis kesadaran baru untuk menunjukkan gerak memulihkan planet bumi di atas kepentingan sentimen antar agama apalagi negara.