Sejak 10 tahun lalu saya mendapat kesempatan baik sebagai pengajar di Ilmu pemerintahan UMY untuk menemani diskusi dan membimbing topik skripsi seputar politik sumber daya alam, gerakan sosial masyarakat sipil. Ada lebih dari 100 skripsi membahas isu demokrasi dan masyarakat sipil, puluhan lainnya seputar tema ekologi politik dan pemerintahan lokal. Setiap topik punya sejarah risernya masing masing. Passion mahasiswa kemudian sangat menentukan warna warni narasi dan argumentasi dalam naskah. Penulis buku ini salah satu yang extra ordinary. Bukan semata-mata kecerdasan, tapi kesungguhan memperjuangkan skripsinya.

Tema gerakan lingkungan dan perempuan memang masih sering absen dalam perdebatan akademik di UMY khususnya dan kampus kampus lainnya pada umumnya. Dunia riset kampus sering tidak emansiparif, agenda riset kampus lebih kuat tumpuhannya pada padat modal dan bukannya orientasi pada kemaslahatan dan penegakan keadilan.

Dengan penuh semangat saya sangat senang menyambut ambisi Iqbal, penulis skripsi yang saya bimbing, untuk memberikan kata pengantar guna memantik semangat api intelektual progresifnya juga memberi dukungan bagi mahasiswa lain yang sedang berjibagu menulis laporan penelitian ihwal politik mempertahankan lingkungan hidup.

Sejak agresi Wadas 1 dan 2, wadas menjadi isu nasional bahkan internasional lantaran dimensi kekerasan dan aktor aktor yang terlibat. Tambang menjadi primadona negara dengan paradigma ekonomi extraktif sekaligus menjadi momok bagi kekuatan masyarakat sipil dan aktifis lingkungan hidup sejak beberapa dekade terakhir ini. Pasca reformasi pertempuran menjadi manifest dan perang terbuka. Perubahan strategi dan ekslasi konflik dipengaruhi banyak variabel baik dari faktor internal dan eksternal.

Ada banyak hal mengapa buku ini penting diterbitkan. Pertama, kontribusi buku ini adalah membuka ruang dialogis bagi semua pihak bahwa konflik vertikal dan berubah menjadi konflik horozontal merupakan dimensi politik sumber daya alam. Modus operandi demikian sudah mafhum bagi pengamat atau peneliti.

Ruang dialogis itu melalui narasie kofeminisme dalam kisah wadon wadas yanh paling berdaya tahan dalam mengupayakan politik pertahanan alam.kelentingan wadon wadas ini menjadi kunci apakah perjuangan sampai titik menang atau titik timbung. Gerakan sosial ekologis mensyratkan penjagaan api perlawanan sebagai kerja merawat politik perlawanan.

Pintu masuk petaka awal bumi Wadas adalah kerja penelitian yang misterius di tahun 2015. Misterius karena warga tidak tahu siapa dan lembaga apa yang mendanai riset tersebut. Orang masuk area Wadas tanpa perlu memandang kehadiran manusia Wadas sebagai subyek. Tentu saja riset aliran positivis proyektif adalah jenis riset yang mengobjekkan sumber daya alam dan manusia di dalam ekosistemnya.

Tahun 2023 awal, banyak warga penolak tambang, mengingat awal mula hasil riset yang membenarkan bahwa tambang andesit di desa Wadas sangat menjanjikan secara ekonomi kapital.

Agresi Kepada Manusia

Berawal dari masjid yang menjadi pusat komando perlawanan rakyat dengan tagar #wadasmelawan, gerakan perlawanan ini kemudian viral, dan dalam waktu dekat twitternya langsung centang biru, tetapi malah kena banned karena ulah agen tertentu. Walau demikian, baliho dan spanduk serta militansi warga terlihat solid di kompleks masjid.

Setelah melihat keramaian masjid kami bertolak menuju Polres Purworejo, perwakilan PP Muhammadiyah diterima Polres, dan kami memastikan warga yang ditangkap dibebaskan dan yang masih bersembunyi dijamin keamanannnya. Kami tidak percaya Wadas dalam kondisi aman, karena faktanya memang masih mencekam ketika itu.

Pasca Ganjar kompress pukul 15.00, tim MHH LHKP PPM ke lokasi titik kekerasan aparat, bertemu dengan warga korban dan mengobservasi kondisi sekitar yang padat aparat kepolisian berseragam dan tak berseragam, serta menyaksikan ditariknya lebih dari 100 motor berboncengan orang bukan warga desa wadas berpakaian sipil mirip preman bayaran meninggalkan desa wadas. Ada rekaman videonya. Orang-orang ini telah mengawasi, memburu, dan memukul warga serta aktivis solidaritas di Wadasl dua hari terakhir sampai pasca bentrok.

Warga kocar-kacir berlarian ke hutan hingga lebih dari 16 jam hingga ditariknya sebagian aparat dan preman. Kondisi masih cukup mencekam dan tangisan terdengar dari orang-orang pasca 67 orang dilepaskan oleh Kapolda dengan bingkisan sembako dan uang Rp.200.000 per kepala. Kata mereka yang dilepas, “ini adalah uang ganti siksa.”

Komentar teman saya yang ahli hukum lingkungan, terkait pemberian Sembako: “itu pelecehan,” dikiranya warga Wadas itu miskin. Padahal clear dari hasil bumi, mereka sangat mandiri setidaknya secara subsistem.

Ketika kami bertolak ke Polres bersama koordinator kuasa hukum warga, Mas Julian. Dari 14 orang yang diterima hanya dua wakil PP Muhammadiyah dan PDM Purworejo. Garansi keamanan didapatkan tetapi warga di Wadas belum merasa aman. Kita saksikan masih banyak wajah ormas berkeliaran disudut-sudut kampung. Tiga orang dilaporkan naik ke penyidikan tanpa kejelasan sangkaan: pukul kentongan, admin, nyebar foto atau apalah tak jelas.

Selanjutnya, kami kemudian bertolak ke PDM setelah untuk laporkan hasil lapangan dan rencana respon shelter darurat bagi warga dan aktivis yang merasa tak aman, lalu PDM menyiapkan ruang transit bagi warga wadas/pendamping warga. Kita juga mendapat permintaan dukungan trauma healing yang sudah koordinasi dengan dosen/dekan psikologi UM Purworejo.

Malamnya, sekitar pukul 23.00, kami meluncur menuju desa Wadas, tepatnya di bagian paling tinggi di Randuparang atas permintaan para pendamping demi keamanan warga yang masih merasa tak aman, dan dimunculkan isu sweeping kepada warga bukan Wadas. Pukul 00.00 kurang, kami pun tiba, setelah berdialog selama lebih dari satu jam, banyak fakta tak benar akhirnya kami temukan dari pernyataan pejabat Polres di media termasuk dari Beka.

Dan, kondisi yang diceritakan warga sungguh tidak berperi-kemanusiaan. Berdasarkan penuturan warga setempat, mereka ditangkap di dalam kamar, baru balik dari sawah pun ditangkap, mau wudhu ditangkap, yang mujqhadah ditarik, rumah diobrak-abrik, rambutan dijarah, kopi-makanan di sikat, pintu almari dirusak dan diacak-acak. Pengakuan sebagian yang diangkut dan ditahan mengalami kekerasan dan penghancuran mental selama di Polres.

Tentunya mereka sangat berterima kasih pada hadirnya Muhammadiyah. Walau banyak bendera NU dikibarkan di kampung ini, entah simbol perlawanan bagaimana, tapi kami merasa warga menerima kami dengan penuh kesungguhan rasa.

Malam sudah mulai larut, sekitar pukul 00.50, kami mengawal 12 pendamping dan warga keluar dari desa Wadas. Mobil PDM Purworejo menjadi rombongan pertama diikuti mobil PP Muhammadiyah, serta belasan motor mengiringi dari belakang. Pukul 01.40 dini hari, rombongan akhirnya tiba di PDM Purworejo.

Agresi kepada alam adalah auto agresi kepada manusia, sehingga upaya pemaksaan proses penambangan dengan teror pengukuran dan ganti rugi adalah penistaan terhadap manusia dan alam. Zaman ini disebut zaman otoriter bergerak, apa yang muram di Wadas oleh ribuan aparat dan preman adalah memori zaman VOC yang diputar kembali kasetnya.

Trauma healing bagi anak-anak dan warga Wadas sedang kita diskusikan dengan PDM UMP untuk bantuan relawan. Semoga MDMC yang sudah terlatih dapat mendorong MDMC Purworejo dan teman-teman MDMC janji akan support. Ada tujuh orang anak dibawah umur 17 Tahun diangkut polisi. Pandangan matanya kayak traumatis, ada yang masih suka bengong belum memahami apa yang terjadi pada diri mereka. Bahkan, dari pengakuan warga, anak-anak tidak mau ke sekolah karena masih terlihat banyak mobil polisi di sekitar perkampungan.

Saya mencatat, warga dan pendamping kocar-kacir, tepatnya tanggal 8 Februari, mereka dikejar preman/polisi dengan menggunakan bantuan anjing pelacak. Di antara warga yang handphonenya ketinggalan dan ditemukan polisi atau preman, diambil semua tanpa dikembalikan.

Agresi Kepada Alam Bumi Wadas

Agresi kepada alam adalah auto agresi kepada manusia, sehingga upaya pemaksaan proses penambangan dengan teror pengukuran dan ganti rugi adalah penistaan terhadap manusia dan alam. Zaman ini disebut zaman otoriter bergerak, apa yang muram di Wadas oleh ribuan aparat dan preman adalah memori zaman VOC yang diputar kembali kasetnya.

Doa dan mantra terus dipanjatkan warga untuk menolak balak tambang. Mujahadah sudah tak berhitung jumlahnya dan teror negara tak pernah padam. Dalam sebuah gerakan simbolik pemasangan stagen oleh Wadon Wadas pada tanggal 6 Januari 2023 lalu saya menulis sajak begini:

Sabuk hijau di wadas.
Stagen atau kendit untuk pohon,
merapal mantra wadas lestari.
Pohon pohon yang sakral.
Disabuki putih.
Agar kuat kokoh dan menang.
Dari kuasa tambang dan investasi.
Kepada sebuah pohon.
Ibu dan bumi
Menitip doa agar engkau tabah sampai titik penghabisan.
Jika kuasa serakah menang.
Setidaknya kita bersama telah berjuang.
Ritual doa memungkasi drama manusia alam siang yang basah.
Keringat air hujan bercampur kesungguhan doa tulus:
Wadas harus menang!
Kita semogakan.

Jumat pagi yang basah, di tengah guyuran hujan ketika itu, Wadon Wadas dengan dandanan khas jawa menggelar aksi untuk menolak rencana pemerintah menambang batu andesit di desa mereka. Aksi yang dinamakan “Wadon Wadas Mangku Bumi Pertiwi” (Perempuan Wadas Menyelamatkan Bumi Pertiwi) itu dilakukan dengan cara simbolis melilitkan kain stagen ke batang pohon-pohon besar.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, seorang ibu adalah care taker/pengasuh dan penjaga keluarga. Ini pula yang dilakukan Wadon Wadas, mereka mangku atau menjaga Bumi Wadas karena alam Wadas telah memberikan kehidupan selama ratusan tahun. Kondisi mutakhir, pemerintah melalui berbagai desakan terus merayu warga untuk menjual tanahnya dengan harga tinggi, Wadon Wadas dan Gempadewa masih tetap kukuh menolak tambang.

Seperti diketahui, pemerintah berencana menambang batu andesit di Wadas untuk materi pembangunan Bendungan Bener di Purworejo. Bendungan yang berada sekira 10 kilometer dari Desa Wadas ini adalah Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk keperluan irigasi, pembangkit tenaga listrik, dan penunjang pariwisata.

“Kami ingin menunjukkan masih ada warga Wadas yang masih konsisten menolak tambang batu andesit,” ujar Tri Handayani (Wiji) dari Wadon Wadas.

Ia mengatakan lokasi tambang batu andesit seluas 114 hektar yang berada di kawasan perbukitan itu berpotensi menyebabkan bencana bagi warga. Pasalnya, selama ini kawasan Wadas dikenal sebagai daerah rawan longsor.

“Tambang andesit yang dilakukan dengan mengeruk tanah akan menyebabkan potensi longsor di Wadas makin tinggi. Bencana ini terutama mengintai wilayah Kaligendol dan Randuparang di Desa Wadas yang berbatasan langsung dengan lokasi tambang.

Dalam aksi ini, para Wadon Wadas mengenakan pakaian tradisional Jawa, yaitu berkain panjang (jarik) yang diikat ke tubuh dengan stagen warna putih. Stagen adalah kain panjang yang digunakan untuk melekatkan jarik ke tubuh perempuan pemakainya

Mereka berjalan bersama-sama menuju lokasi tambang sambil membawa wayang-wayang kardus, antara lain berbentuk tikus, lambang pejabat korup. Tiba di lokasi tambang, mereka berdiri di samping pohon-pohon besar, seperti pohon durian, karet, waru dan lainnya. Pepohonan itu adalah sumber penghidupan bagi warga Wadas, penahan longsor, dan sarana untuk menyimpan air hujan ke dalam tanah.

Setelah doa bersama, prosesi diawali dengan pelilitan stagen berumur 90 tahun milik Rubiah pada pohon durian besar yang berada di tanah milik Ngatinah. Rubiah memutar tubuhnya dan dengan bantuan Ngatinah, stagen yang melilit bagian perutnya berpindah melilit batang pohon durian. Selanjutnya mereka menaburkan bunga setaman di sekeliling pohon.

Walaupun hujan deras, masing-masing anggota Wadon Wadas tetap melakukan prosesi pelilitan kain stagen warna putih pada sekira 20 pohon. Ini adalah simbol bahwa pohon-pohon itu tidak akan diserahkan untuk kepentingan tambang batu andesit atau quary.

Wiji menjelaskan aksi ini juga jadi simbol pengharapan agar warga yang masih kukuh menolak tambang andesit senantiasa mendapat kekuatan dalam menjaga dan menjalankan nasihat, pelajaran, berkah, dan kekayaan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Cara ini secara alamiah bisa menjaga kelestarian alam wadas.

“Bila tanah dan pohon-pohon itu hilang, kami juga akan kehilangan mata pencaharian kami,” tambahnya.

Wiji mengatakan pemerintah perlu menghargai warga Wadas yang menolak melepaskan tanahnya menjadi lokasi tambang andesit. Bagi mereka, mempertahankan kelestarian lingkungan bagi kepentingan bersama adalah hak sekaligus kewajiban bagi warga negara yang mengerti nilai-nilai Pancasila.

“Mempertahankan tanah dan kelestarian alam adalah hak warga negara. Hak kami ini dilindungi konstitusi dan undang-undang,” tegasnya.

Sementara itu Talabudin (Budin) dari Gempadewa menyatakan dukungannya terhadap aksi Wadon Wadas. Ia gembira karena masih ada warga Wadas yang konsisten mempertahankan ruang hidup untuk keselamatan seluruh warga desa.

Menunggu Mukjizat PTUN

Dukungan mengalir dari banyak pihak, terutama sejak agresi 8-9 Februari 2022 yang menyisahkan trauma bagi warga. Dukungan dari beragam komunitas, NGO, individu, dan organisasi masyarakat masih kuat kepada gerakan warga Wadas. Pada rangkaian sidang gugatan warga kepada ESDM di PTUN, PP Muhammadiyah turut mendukung dengan memfasilitasi warga sampai Jakarta dan memberi akomodasi.

Banyak pakar siap sedia menjadi saksi ahli dalam kasus gugatan warga atas terbitnya rekomendasi penambangan oleh ESDM (gambar berikut). Lima kali sidang sudah dijalani di PTUN Jakarta Timur dan tiga putaran lagi akan sampai pada putusan hakim. Kita mendoakan yang terbaik bagi alam bumi manusia Wadas.

Target kelompok warga yang terus berjuang sampai titik ini; agar cabut IPL dan hentikan penambangan andesit di area desa Wadas. Keinginan dan harapan ini sepertinya menabrak tembok kekuasaan, bahkan konflik semakin mengarah kepada warga versus warga (konflik horizontal) yang semula adalah warga vs negara (kementerian terkait, ESDM dan PUPR) serta pemerintah provinsi Jawa Tengah.

Warga desa wadas pemilik lahan yang setuju hanya kurang lebih 10% untuk penambangan andesit, sebagian besar mereka kerja non pertanian, atau bukan petani tulen dan/atau mereka punya lahan tapi tidak tinggal di Wadas. Hal inilah yang oleh buzzerp dijungkir-balikkan dan hasilnya sekarang memang terbalik.