Di seluruh dunia, agenda lingkungan semakin banyak ditampilkan hari ini agenda sosial dan politik. Di negara-negara barat kampanye lingkungan masalah sasaran baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka memiliki urgensi khusus yang menarik dalam berbagai juru kampanye lapangan yang menakjubkan, dari militerisme muda hingga pemberontak bangsawan. Buku bagus yang dieditori Stephen Hussey dan Paul Thompson (tahun) mengkaji akar dari lingkungan kontemporer kesadaran dan tindakan baik dari segi pengalaman populer maupun tradisi. Penyebaran global buku ini mencerminkan karakter kontemporer lingkungan. Ini mengkaji secara geografis dan tematis beragam berbagai studi kasus, termasuk: juru kampanye lingkungan Inggris dinhutan hujan Brasil; ekokritik dan sastra; lingkungan gerakan di Kazakstan; dan ikonografi gereja Abad Pertengahan. Yang umum tema yang menghubungkan setiap bab adalah kesadaran lingkungan dan aktivismendibentuk melalui kisah hidup orang, dan ingatan mereka dibentukmtidak hanya melalui pengalaman individu tetapi juga melalui mitos, tradisi dan memori kolektif. Berisi banyak bahan sumber empiris, buku ini akan menjadi sangat berharga bagi sosiolog dan sejarawan salah satu karena  narasi dan sejarah lisan diberdayakan untuk dapat menerangi pemahaman ekologi kita.
Absennya Isu Lingkungan Hidup di Muhammadiyah sampai pasca reformasi menjadi salah satu pintu masuk memperkarakan gerakan islam berkemajuan dan modern ini. Muhammadiyah dan organisasi keagamaan yang didirikan pada masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Persis merupakan organisasi massa Islam yang memiliki pandangan keagamaan bercorak modernis. Howard Federspiel mengatakan bahwa Muhammadiyah lebih menekankan pengembangan ajaran Islam melalui lembaga pendidikan dan aktivitas kesejahteraan sosial.

Sebagai respon terhadap persoalan krisis lingkungan dapat dimulai dari dua hal yaitu pertama, adanya krisis yang akan menghasilkan satu bentuk respon yang bersifat teologis/ ideologi yang berarti ide atau pemikiran yang tertumpu pada pemahaman agama yang dalam tradisi Muhammadiyah berarti diambil dari Alquran dan hadis guna memperkuat argumentasi bahwa krisis lingkungan itu disebabkan oleh tangan-tangan manusia kesadaran kesadaran itu sangat terlihat sebagai pembelaan bahwa islam tidak terpisahkan dari hubungan hubungan relasi dengan alam dari sifatnya salah satunya adalah mengcounter pandangan-pandangan sekuler yang menganggap Islam atau Muhammadiyah dalam hal ini mungkin juga dialami dialami NU, Persis, MUI, atau LDII yang hendak memuliakan alam dengan atau sebagai gerak memuliakan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya. Namun karena ekoteologi ini format dasarnya adalah pemikiran sehingga memang lebih banyak terbatas pada bagaimana asal muasal ide itu bagaimana ide itu bisa dipahami secara ontologis epistemologis dan aksiologis. Di Muhammadiyah yang telah memproduksi sejumlah buku mengenai isu ini, di antaranya Teologi Lingkungan, Akhlak Lingkungan, Fikih kebencanaan, Fikih agraria, fikih anti korupsi, dan Fikih Air yang terkait dengan tata kelola sumber daya alam.

 

Kedua, adanya harapan. Dari harapan hidup lestari pemetaaan taksonomi krisis dilakukan dengan dalih sedang memperjuangkan harapan sehingga prakarsa positif diupayakan sebagai komitmen moral, intelektual, politik, dan keagamaan/iman.

Sebagaimana yang saya pahami, merasa masih sangat minim ditemukan pemikiran-pemikiran yang sifatnya itu orang kita lebih dalam pandangan teologi Muhammadiyah menghadapi tes atau menciptakan is possible di dalam pelanggan pemikiran Muhammadiyah karenanya seringkali di dalam ekosistem gerakan lingkungan Muhammadiyah baru menyumbang Apa yang disebut dengan wacana pendidikan lingkungan atau gagasan-gagasan yang sebetulnya tidak ditemukan hal-hal yang baru dalam konteks sosialisasi. Pendidikan Lingkungan sebetulnya Muhammadiyah punya peluang membentuk langgam politik lingkungan yang lebih radikal atau ekoteologi politik ala Muhammad yang lebih radikal yaitu menyentuh pada aspek-aspek advokasi sebagai bagian dari kelompok Civil Society yang punya struktur, punya sumber daya yang melimpah tetapi kesadaran itu tidak otomatis akan bertransformasi menjadi sebuah tindakan atau pilihan-pilihan aksi langsung yang berhadapan dengan upaya merubah kebijakan. Dalam banyak hal, misalnya Muhammadiyah memberikan respon berupa  seruan-seruan moral  etis yang kita rasakan masih sangat tafsirnya rahmatan lil alamin adalah antroposentris, atau sangat sosial sentris.

aspek-aspek keadilan lingkungan moral ekologinya masih sangat tertinggal kalau moral politik moral ekonomi Muhammadiyah cukup kuat karena itu adalah bagian dari gerakan gerakan lokal-nasional-global yang selama ini sudah dipraktekkan seperti pelayanan pelayanan pendidikan pelayanan pelayanan kesehatan yang ketiga argumentasi dari riset ini adalah bahwa untuk mentransformasikan pemikiran tentang lingkungan menjadi sebuah posisi sosiologi yang transformatif yang perlu ekologis sebagaimana al-maun yang ditafsirkan dalam kerangka bantuan kelompok rentan di dalam periode kolonial hingga hari ini menunjukkan satu pandangan bahwa Al Makmun itu ya aspeknya sangat mantap konsentris sangat berorientasi kepada kemanusiaan sebenarnya tafsir-tafsir baru harus dibuka salah satu tantangannya adalah sebetulnya bahwa Bagaimana mendekatkan gerakan lingkungan pemikiran lingkungan di Muhammadiyah itu dalam kerangka Politik Politik sebagai bentuk pembelaan terhadap keadilan lingkungan politik sebagai pembelaan terhadap hak-hak belajar hack alam yang itu tidak terpisahkan dari kebutuhan-kebutuhan manusia di masa kini atau di masa mendatang yang sudah di lawan sejatinya idealnya dalam pemikiran politik lingkungan Muhammadiyah adalah bagaimana distribusi dampak dampak krisis itu bukan hanya kepada kelompok rentan begitu juga distribusi profit bukan hanya kepada kelompok-kelompok kaya sehingga apa yang disebut oleh Capra bahwa upaya mengejar kesejahteraan itu harus selalu diikuti dengan tata kelola hidup lestari.  Selama ini dua hal ini berkonflik satu dengan lainnya. Ambisi will to improve seringkali membunuh kelestarian lingkungan membunuh keanekaragaman hayati.

 

Selama ini Muhammadiyah sebagai kekuatan masyarakat sipil masih kerja dengan isu-isu lingkungan masih cukup berjarak dengan konservasi masih enggan apa pada keberadaan entitas-entitas masyarakat lokal agama lokal dan seterusnya. Hal ini ditengarai disebabkan oleh faktor-faktor rasionalitas yang berkiblat pada pemikiran pemikiran di tengah sebuah hadits yang juga fenomena korban dan juga karena Muhammadiyah belum punya imajinasi dan identitas ekologis ada bayangan-bayangan sebuah peradaban yang dihubungkan dengan situasi ekologi Saya kira minimnya narasi peradaban di dalam kehidupan berorganisasi di dalam bakar suara organisasi menunjukkan ditunjukkan oleh model-model respon Muhammadiyah yang cenderung reaktif seperti pemadam kebakaran. Hal ini sebetulnya akan menjadi argumentasi yang penting untuk melacak narasi-narasi yang tidak dominan di Muhammadiyah yang barangkali bisa memberikan makna bagi konsepsi ekoteologi radikal ala Muhammadiyah sebagai satu model gerakan ekologi yang sangat subtantif di masa depan yang tak jauh.

 

Lima langkah menghijaukan Al Maun
Dakwah bermakna mengajak orang kepada kebaikan. Dakwah berasal dari bahasa Arab da’wah yang berasal dari kata da’ā. Kata da’ā memiliki arti memalingkan sesuatu kepada diri kita melalui suara atau pembicaraan, atau menuntut kehadiran sesuatu atau mengharapkan kebaikan. Dalam perkembangan sejarah, makna dakwah mengalami perluasan, tidak hanya menyampikan pesan melalui suara atau pembicaraan, tetapi juga menggunakan media-media lain seperti tulisan dan gambar atau ilsutrasi yang bertujuan mengajak orang kepada kebaikan. (Shihab, 2007).
Adapun dakwah ekologis yang dimaksud dalam tulisan ini adalah suatu upaya yang dilakukan secara sistematis dan konsisten guna mengajak masyarakat luas untuk memiliki kesadaran terhadap keadilan dan keberlanjutan planet bumi, kritis terhadap berbagai hal yang merusak keselamatan lingkungan, serta berani memperjuangkan keseimbangan dan kelestarian kehidupan di planet ini.
Dalam konteks inilah, Persis penting untuk segera mendorong dakwah ekologis sebagai sebuah gerakan utama pada seratus tahun kedua dalam rangka memperkuat dan memperluas sampai pada tingkat akar rumput. Penulis merekomendasikan empat langkah berikut:
Pertama, Muhammadiyah perlu melakukan pengarusutamaan Islamic environmentalism sebagai bagian penitng dalam dakwah. Islamic environmentalism adalah pandangan dan gerakan ummat Islam yang terorganisir, kuat, dan berkelanjutan untuk menegakan keadilan ekologis serta melindungi keberlanjutan planet bumi dari berbagai ancaman kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, dengan berpijak pada pesan-pesan Islam sebagaimana yang terekam dalam al-Qur’an maupun hadits serta karya para ulama.
Pada titik ini, Persis dituntut terus melakukan produksi pengetahuan yang memadukan pendekatan ilmu-ilmu agama semacam teologi, fiqh, filsafat, tasawuf, dan tafsir ilmi, yang diperkaya dengan perdekatan ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, cultural studies dan antropologi, serta telaah terhadap berbagai kebijakan publik di Indonesia. Dengan langkah pertama ini, diharapkan akan banyak memproduksi berbagi ijtihad baru yang interdisipliner serta relevan dengan tantangan umat yang bersifat kekinian.
Kedua, pada tataran institusional, sangat mendesak bagi Muhammadiyah untuk segera membentuk satu divisi khusus yang memiliki fokus untuk mengkaji isu-isu lingkungan hidup, krsisis iklim, dan sejumlah isu terkait, yang dapat dijadikan bahan untuk melakukan edukasi dan advokasi kebijakan di tingkat nasional. Jika di Muhammadiyah telah dibentuk Majelis Lingkugan Hidup Muhammadiyah pada tahun 2003, dan NU telah membentuk Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) pada tahun 2010, maka Persis dapat segera mengisiasi lembaga serupa untuk memperkuat dakwah dalam isu lingkungan hidup.
Ketiga, Persis harus mendorong aktivitas penelitian mengenai isu-isu lingkungan hidup di berbagai perguruan tinggi yang kini telah dibentuk. Hal ini akan memiliki nilai strategis mengingat Persis telah mendirikan Universitas Persatuan Islam yang memiliki program studi ilmu lingkungan. Aktivitas penelitian mengenai isu-isu lingkungan hidup dapat dilembagakan ke dalam pusat studi.
Keempat, Muhammadiyah juga harus segera melakukan pengarusutamaan isu lingkungan hidup ke dalam kurikulum di banyak pesantren Persis di Indonesia dan berbagai lembaga pendidikan yang dimilikinya. Hingga saat ini, Persis tercatat memiliki 333 Pesantren di seluruh Indonesia, di mana lebih dari 70 persen berada di Provinsi Jawa Barat.
Jika belum bisa dilakukan di banyak pesantren, maka Persis dapat melakukan assessment dan memilih pesantren mana saja yang siap secara sumber daya untuk mengarusutamakan isu lingkungan ke dalam kurikulumnya. Harapannya, pembangunan kesadaran mengenai isu ini dapat dimulai sejak dini.
Menghijaukan Muhammadiyah yang sudah hijau dalam kongek greening al Maun pada abad kedua adalah panggilan zaman, panggilan khalifah kebumian mengingat krisis ekologis terus terjadi tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
catatan:
Tulisan ini draft sebagian masih copas untuk mendapatkan ide dari tulisan kang Paris di https://kumparan.com/pridwanuddin03/menghijaukan-gerakan-persatuan-islam-melalui-dakwah-ekologis-1wZ2ZmEDEMK/full