David Efendi

 

Ilmu pengetahuan dan teologi dipahami sebagai sesuatu yang berbeda tetapi sebenarnya memiliki kedekatan metodologi. Kali ini kita coba mengulik bagaimana masing-masing paradigmanya dipahami dan bagaimana kritik serta terobosan pemikiran dari Capra, Mathus, dan Rust.

Fritjof Capra

paradigma ilmiah lama dapat disebut sebagai paradigma cartesian newtonian atau baconian karena ciri-ciri khasnya yang utama adalah hasil rumusan dari Descartes, Newton, dan Bacon.

sedangkan paradigma baru dapat disebut paradigma holistik ekologis atau sistemik meski tak satupun dari sifat-sifat ini yang dapat mencirikan secara lengkap pemikiran paradigma baru dalam ilmu pengetahuan meliputi lima kriteria yang pertama mengacu kepada pandangan kita salam ketika berikutnya mengacu kepada epistimologi yang kita anut.

pertama, pergeseran dari bagian menuju keseluruhan dalam paradigma lama diyakini bahwa dalam setiap sistem yang kompleks dinamika dari keseluruhan zuhur dapat dipahami melalui sifat-sifat bagian-bagiannya tepat dalam paradigma baru hubungan antara bagian bagian dengan keseluruhan yang menjadi terbalik. Sifat bagian-bagian dapat dimengerti hanya melalui dinamika keseluruhannya akhirnya tidak ada bagian-bagian sama sekali. Apa yang kita sebut dengan bagian tidak lain adalah sebuah pola di dalam sebuah jaringan hubungan-hubungan yang saling terkait tak terpisahkan

kedua, pergeseran dari struktur kepada proses. dalam paradigma lama diyakini bahwa terdapat struktur-struktur fundamental dan ada daya-daya setelah mekanisme-mekanisme yang melalui keduanya struktur-struktur fundamental diatas saling berinteraksi dan menghasilkan proses dalam paradigma baru setiap struktur selalu dipandang sebagai manifestasi dari proses yang mendasarinya seluruh jaringan hubungan-hubungan yang pada hakekatnya bersifat dinamis

ketiga, pergeseran dari ilmu pengetahuan objektif menjadi ilmu pengetahuan epistemic. Dalam paradigma lama penjelasan atau deskripsi ilmiah diyakini bersifat objektif yang diperoleh dari manusia yang mengamati dari dan dari proses pengetahuan dalam paradigma baru diyakini bahwa epistimologi pemahaman pengetahuan praktis tercakup dalam proses terhadap fenomena alamiah pada titik ini tidak terdapat kesepakatan tentang epistemologi manakah yang tepat Namun demikian mulai muncul kesepakatan bahwa epistimologi harus menjadi bagian integral dari setiap teori ilmiah.

Keempat, pergeseran metafora pengetahuan dari bangunan menjadi jaringan metafora pengetahuan yang diibaratkan sebagai bangunan hukum hukum fundamental prinsip-prinsip dasar yang tiang penyangga telah digunakan dalam dunia ilmu dan filsafat barat selama ribuan tahun

Pergeseran dari bangunan kepada jaringan kerja juga mengimplikasikan ditinggalkannya ideal ilmu fisika sebagai pola ideal di mana ilmu-ilmu yang lain dipadukan dan tentukan ataupun sebagai sumber utama metafora metafora bagi penjelasan ilmiah.

kelima, pergeseran dari kebenaran menjadi deskripsi kira-kira. paradigma kartesian didasarkan pada keyakinan bahwa pengetahuan ilmiah mampu mencapai Kepastian Yang mutlak dan final dalam paradigma baru diakui bahwa semua teori hasil penyelidikan selalu terbatas dan bersifat kira-kira ilmu pengetahuan tidak akan pernah mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan definitif terhadap realitas para ilmuwan tidak berurusan dengan kebenaran dalam arti kesamaan yang ekstrak antara penjelasan dan fenomena yang dijelaskan mereka hanya berurusan dengan penjelasan yang terbatas dan bersifat kira-kira mengenai realitas.

 

Thomas mathus dan David steidl Rust

Paradigma teologis lama dapat disebut paradigma rasionalistik, manualistik atau skolastik-positif karena ciri-ciri khasnya yang utama telah dirumuskan dalam pedoman-pedoman teologis yang didasarkan pada naskah-naskah skolastik, sedangkan paradigma baru dapat disebut paradigma holistik, ekumenis atau thomistik transsendental meskipun tak satupun dari sifat-sifat ini yang mencirikannya secara lengkap.

pemikiran paradigma baru dalam teologi meliputi lima kriteria dalam teologi sebagai berikut. Dua yang pertama mengacu kepada pandangan kita atas wahyu ilahi ketika berikutnya mengacu kepada metode teologis yang kita pakai.

Pertama, pergeseran dari Tuhan sebagai pemberi kebenaran menjadi realitas sebagai penyingkapan diri Tuhan dalam paradigma lama diyakini bahwa Keseluruhan ajaran agama yang pada dasarnya semua sama pentingnya merupakan tambahan saja terhadap kebenaran yang diwahyukan.

dalam paradigma baru hubungan antara bagian bagian dengan keseluruhannya dibalik makna dari ajaran-ajaran tertentu hanya dapat dimengerti melalui dinamika Wahyu and sebagai suatu keseluruhan akhirnya Wahyu sebagai suatu proses adalah sebuah kepingan ajaran-ajaran tertentu memfokuskan diri pada momen-momen tertentu saja dalam pengungkapan diri Tuhan di dalam alam sejarah dan pengalaman manusia

kedua, pergeseran dari wahyu sebagai kebenaran Abadi kepada wahyu sebagai manifestasi historis dalam paradigma lama diyakini bahwa terdapat struktur-struktur fundamental dan ada daya-daya serta mekanisme-mekanisme yang melalui keduanya struktur-struktur fundamental diatas saling berinteraksi dan itulah yang menghasilkan proses dalam paradigma baru setiap struktur selalu dipandang sebagai manifestasi dari proses yang mendasarinya seluruh jaringan hubungan-hubungan pada hakekatnya bersifat dinamis

ketiga, pergeseran dari ilmu pengetahuan objektif menjadi ilmu pengetahuan epistemik dalam paradigma lama penjelasan atau deskripsi ilmiah diyakini bersifat objektif yakni terlepas dari manusia yang mengamati dan dari proses pengetahuan dalam paradigma baru diyakini bahwa epistemologi pemahaman atas proses pengetahuan secara eksplisit tercakup ke dalam penjelasan terhadap fenomena alamiah
.pada titik inilah tak terdapat kesepakatan tentang epistemologi. pada titik ini tak ada konsensus tentang sejauh mana sumbangan yang telah diberikan oleh cara-cara konseptual dan non konseptual bagi wacana teologis yang ada ialah munculnya konsensus bahwa cara-cara pengetahuan dan konseptual adalah bagian integral dari teologi

keempat, pergeseran metafora pengetahuan dari bangunan kepada jaringan metafora pengetahuan yang diibaratkan sebagai bangunan termasuk hukum hukum fundamental prinsip-prinsip dasar tiang-tiang penyangga dan seterusnya telah digunakan dalam dunia ilmu dan filsafat barat selama ribuan tahun lama berlangsungnya pergeseran pergeseran paradigma dirasakan bahwa fondasi-fondasi doktrin tersebut telah rapuh dalam paradigma baru metafora bangunan telah digantikan dengan metafora jaringan kerja (Network) sebagaimana yang kita lihat realitas merupakan jaringan hubungan-hubungan pernyataan pernyataan teologis demikian pula membentuk jaringan kerja yang saling berhubungan dari berbagai perspektif mengenai realitas transenden.

Dalam jaringan kerja semacam itu masing-masing perspektif merupakan pandangan pandangannya khas dan hadits kepada kebenaran pergeseran dari bangunan kepada jaringan kerja suka mengimplikasikan ditinggalkannya konsep tentang sistem teologi monolitik sebagai pengikat semua orang beriman serta sebagai satu-satunya bagi ajaran yang otentik kelima. pergeseran Fokus dari pernyataan-pernyataan teologis kepada misteri misteri ilahi.

paradigma teologi manually stick ditandai dengan adanya kumpulan yang lengkap  yang menandakan pengetahuan teologis kita telah kering paradigma baru dengan penekanan yang lebih besar pada misteri mengakui sifat terbatas dan kira-kira dari setiap pernyataan teologis biologi tidak akan pernah dapat memberikan pemahaman yang lengkap dan definitif mengenai misteri misteri ilahi para teolog sebagaimana setiap orang beriman menemukan kebenaran ultim, bukan pada pernyataan-pernyataan teologis melainkan pada realitas kemana pernyataan memberikan sebuah kebenaran tertentu namun dengan ungkapan yang terbatas.