David Efendi, Kader Hijau Muhammadiyah
Temuan riset mengenai ekoliterasi dari beberapa lembaga dan peneliti di Indonesia menunjukkan posisi yang tidak menggembirakan. Di negeri ini, orang kebanyakan tak percaya akan adanya global warming atau clmate change, pengetahuan ekoliterasi di kalangan anak muda juga tidak memadai (Lyn Parker & Kelsie Prabawa-Sear, 2021)—kalaupun kuat lebih banyak pengetahuan lingkungan yang sifatnya regular dan normatif, lack of critical thinking alias tidak berparadigma kritis. Tetapi kesempatan ini saya tidak akan mengutuk kegelapan, saya ingin membagi pelita yang terang dari kalangan kaum muda wa bil khusus kaum muda Muhammadiyah (sebagian penghuni klaster millennial hampir expired), sebagian masih fresh, dan Z. Ada juga yang kelompok progresif yang lintas zaman.
Satu bulan terakhir saya mengumpulkan poster kegiatan bertema lingkungan di dalam ekosistem Muhammadiyah (majelis, ortom, AUM, PTM, komunitas, PCIM, lembaga) ada setidaknya 85 kegiatan menjelang dan sepanjang bulan puasa Ramdan tahun 1442 Hijriyah ini. Tentu tidak semua kegiatan berhasil saya rekam karena mengingat keterbatasan group WA atau social media yang saya akses. Intinya adanya gelombang Islamic environmentalist yang diprakarasi oleh kader-kader muda Muhammadiyah. Ada upaya serius untuk eco-jihad dan berfastibuqul khairat di dalam membela alam. Saya menyebutnya, ikhtiar untuk menghijaukan al-maun di Muhammadiyah.
Suatu ekspresi keberimanan dan tauhid kontemporer yang sangat menggembirakan. Ini yang saya sebuts ebagai kebangkitan kesadaran ekoliterasi yang mengagumkan bagi saya pribadi sebagai bagian dari pegiat ekoliterasi yang berada di ruang komunitas dan berdekatan dengan aktfisme kalangan muda Muhammadiyah baik struktural maupun kultural dan pertemuan antar keduanya. Untuk menyebutkan beberapa kalangan muda: ikatan pelajar muhammadiyah dan lembaga lingkungan hidup PP IPM, IMM, Nasyiatul Aisyiyah, dan Hizbul wathan, kader hijau Muhammadiyah (KHM).
Beberapa hal yang membuat dinamika ekoliterasi di kalangan kaum muda Muhammadiyah adalah karena faktor internal dan eksternal. Untuk factor internal adalah tumbuhnya pengetahuan dan tafsir baru akan risalah-risalah yang ada dalam Muhammadiyah seperti fikih air, fikih kebencanaan, teologi lingkungan, PHIWM, akhlak lingkungan, dan juga kreatifitas agency di dalam organisasi. Factor ekternal selain demokratisasi akses pengetahuan melalui kanal-kanal digital adalah interaksi dengan beragam organisasi di luar seperti WALHI, JATAM, WWF, Greenpeace, KIARA, MUI, forum ilmiah yang mendedah hasil-hasil riset mutakhir tentang kerusakan lingkungan dan persoalan sumber daya alam. Interaksi ini sifatnya multi arah sehingga memungkinkan kolaborasi dan proses dialektika pengetahuan yang lebih memadai dan intensif.
Pada akhir maret di saat ramai-ramainya publik menonton film documenter Kinipan saya turut membantu memfasilitasi kader hijau Muhammadiyah di Kendari untuk mendapatkan akses nonton bareng. Mereka sungguh menjadi bagian dari generasi yang antusias terhadap produk pengetahuan visual yang dipelopori watchdoc. Watchdoc adalah kampus keren kaum muda Muhammadiyah untuk belajar ekonomi politik dan lingkungan hidup.
Mas Ali kader hijau Muhammadiyah dari kendari mengirim WA begini:
“Kegiatan nobar dan diskusi berjalan hikmah di kendari , Alhamdulillah cak. Kegiatan dimulai dari pukul 19.20 sampai selesai pukul 23.45 WITA, ada 30an lebih peserta dan ada penanggap sebanyak 6 orang 1 perempuan dan 5 laki laki. Saying mereka testimoni tidak sempat divideokan.  Beberapa kutipan testimoninya berbunyi singkat padat jelas: Film dokumenter ini lagi lagi menyadarkan kita sebagai manusia utk berperan dgn lingkungan, negara telah mengabaikan SDA yg tersisa, film dokumenter ini mengajak hidup sederhana, tidak serakah, informasi tentang penambangan yg liar tidak kenal aturan, film ini kasusnya sama seperti di Sulawesi , apalagi sekarang d area Wawonii, kepulauan kecil yang dulu hidup dengan kekayaan kelapa kini akan tergantikan dengan aktivitas pertambangan, Kita perlu kembali  hidup yg indah dgn berkebun tanpa mempedulikan kemajuan teknologi.”
Saya sangat gembira membaca betapa bermaknanya kegiatan yang mereka lakukan untuk membangun kesadaran tauhid lingkungan serta kesadaran antropologi, ekonomi politik yang autentik. Tentu saja, itu akan menjadi energy terbarukan untuk berjuang lebih militant lagi. In film tentang omnibus, tentan demokratisasi sumber daya yang seharusnya dipenuhi dan ada syuhada dari kader IMM yang tewas dalam perjuangan menolak omnibuslaw tepat sekali di gelanggang kota kendari ini. Saya sambil bergeter hati saat memberikan dukungan pada pemutaran film documenter kinipan sepanjang 2,5 jam ini.
Dalam kesempatan ini, saya bermaksud membagi temuan saya bagaimana bekerjanya gerakan ekologi di kalangan kaum muda Muhammadiyah. Saya membuat daftar setidaknya tujuh hal yang menyebabkan kaum muda Muhammadiyah merasa terpanggil menjadi bagian dari gerakan ekologi baik lokal, nasional, maupun global. Mereka paham, think globally act locally dan act now. Mereka terhubung dengan banyak hal, dunianya meluas melebar dan menjadi penting untuk saya bagikan hasil amatan dari dekat saya.
Pertama, kondisi riil yang dirasa mengancam kesehatan anak muda. Tentu saja, anak muda tahu persis kapan akan bilang krisis dan situasi darurat. Watak alamiah mahkluk biologi itu mempertahankan kehidupan bahkan manusia punya kemampuan mitigasi yang tak selalu dimiliki hewan cerdas lainnya. Kaum muda Muhammadiyah mengenal ketabahan aksi Greta Thunberg dengan climate strike dan lebih lawas lagi ada di tahun 1990-an yaitu Suzuki dan kawan-kawannya yang masih remaja pada saat earth summit di Brazil.
Kedua, kaum muda sebagai zoon economicus juga dapat mencium persoalan keterancaman ekonomi secara nyata. Kaum muda memikiki ekspektasi yang baik akan masa depan sehingga lebih aware kepada kehidupan yang berkelanjutan. Ketiga, inline dengan konsep Vandana Shiva tentang ‘earth democracy’ menjadikan menarik apabila dipakai membaca geliat kesadaran biosentrisme dan ekosentrisme di kalangan anak muda muslim. Dalam hal ini kaum millenial relatif percaya Demokrasi dan mendayagunakan demokrasi untuk membela manusia, membela alamnya, dan lebih bernalar komprehensif. Kesempatan politik ini dimanfaatkan untuk terlibat di dalam mendemokratisasikan sistem politik secara spontan, actual, dan kadang sporadis—misalnya dengan mengikuti aksi tolak omnibuslaw, menolak revisi UU KPK karena korupsi di idnustri ekstraktif juga maha mengerikan. Pengetahuan demikian, sangat muda dipahami oleh kaum yang berkesadaran ekologi kritis alam kaum muda yang terafiliasi di AMM.
Keempat, keterhimpatan dengan tergerusnya ruang publik di mana ekspresi kaum muda memiliki kepentingan untuk hidup lebih bermakna dalam kehidupan social. Ada banyak perlawanan kaum muda di saat hutan dan kota yang makin mengalami krisis ekosistem. Kita bisa belajar dari gerakan sosial mempertahankan hutan kota  di Bandung, menolak jogja asat di Jogja, di Bali tolak reklamasi, Jakarta, dan banyak kota lain. Kita juga lihat dengan sangat antusias kalangan muda Muhammadiyah terhubung dan tersambung dengan “savemeratus. Lima aktifis IPM asal Kalimantan selatan, kaltim, kalteng saat memberi testimony saat nobar Kinipan memperlihatkan pengetahuannya yang sangat menonjol akan isu lingkungan di daerahnya dan dalam struktur ekonomi politik global.
Kelima, saya merasakan sekali pemahaman akan teologi di Muhammadiyah sangatlah membantu, mewarnai dan memperkuat keyakinan akan dimensi kerusakan akibat ulah tangan manusia yang menjadikan mereka (AMM terpanggil). Ruang lebar dan keterbukaan tafsir baru untuk memahami relasi manusia-kosmos menjadi lebih baik, membaca fikih secara progresif menjadi everyday life di kalangan anak muda ini. Sebagai contoh, antusiasme membuka komite daerah untuk kader hijau Muhammadiyah (KHM) sangat kuat. KHM ini kemudian serin beralienasi dengan beragam forum pemuda di isu yang sama seperti, NKSDA, Kristen Hijau, Greenfaith, dan sebagainya. Kini KHM hadir lebih dari 5 propinsi dan ada di lebih dari 15 daerah jika tak salah. Karena ini komunitas, jadi sangat organic kehidupannya (tidak birokratis dan administratif).
Keenam, ketersediaan akses pengetahuan tentang ekologi karena Tarik ulur antara Globalisasi-lokalisasi. Sejak decade 1980an sudah munciul aliansi global untuk keamanan bumi, ada banyak forum internasional dan pada saat yang sama dalam politik rekognisi global muncul konsekuensi untuk memberikan penghormatan terhadap entitas lokal, adat, hutan, biodeversitas, dan sebagainya. Kaum muda membaca kondisi ini semakin menambah amunisi gerakan dan merasa apa yang dilakukan dalam gerakan ekologi in adalah  keren dan bermakna. Ada banyak kesempatan di saat pandemic untuk kembali bersahabat pada alam dan membela keadilan. Lalu, daya tahan dan daya juang cukup menentukan langka kaum muda di hari-hari ke depan.
Terakhir, terkait apa benar kaum muda gaya hidupnya lebih cocok ekologis. Aktifis yang sangat aware dengan problem kapitalistik akan mengarah pada gaya hidup hijau cocok green lifestyle—gaya hidup yang sedikit mungkin memberi jejak karbon dan kredit untuk kerusakan lingkungan. Gaya hidup islami adalah gaya hidup akhlak ekologis: sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia lain dan untuk berguna bagi manusia lain tak lain tak bukan harus pertama-tema bermanfaat bagi keseimbangan alam semesta tempat semua hewan baik yang berakal atau tidak bergantung.
Saya kira ini kemenangan kecil milik kaum Muda Muhammadiyah yang patut disyukuri dan diperkuat. Kemenangan besar untuk mencegah kiamat lebih besar adalah tantangan maha besar yang harus dihadapi. Seperti doa pada pasukan di kapal selam Nanggal 402: Wira Ananta Rudira!, semoga kaum muda Muhammadiyah berjuang sampai batas akhir.