David Efendi

 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat perbuatan mereka) agar mereka kembali ke jalan yang benar (Ar-Rum ayat 41)

 

Pengetahuan yang sudah menjadi common di komunitas islam terutama kaum muda di seputaran saya bahwa Islam adalah agama yang menganjurkan pelestarian lingkungan dan mengecam pengrusakannya. Ada banyak bukti ayat-ayat dalam al-quran yang menunjukkan sains dan ekologi. Misalnya, dari nama-nama surat dalam Al-Qur‟an teridiri dari nama-nama alam mengisyaratkan Islam ramah lingkungan.di dalam al Quran jelas setiap unsur-unsur seimbang (mizan) dalam lingkungan saling melengkapi dan menyempurnakan untuk kemaslahatan manusia. Banyak kaum muda membangun kesimpulan bahwa kerusakan di darat dan laut akibat ulah kecerobohan dan keserakahan tangan manusia sendiri.

Ada pepatah Arab Al-Insan: ibn bi’atihi. Manusia itu anak lingkungannya. Pandangan ini menolak antroposentrisme karena ungkapan di atas ini mengimajinasi hubungan simbiosis-mutualisme antar penghuni bumi. Sebagai makhluk berfikir, manusia cenderung menjadi users dari sumber daya alam dan dipihak lain ada kewajiban teologis:  merawat dan memakmurkan alam. Manusia harus memastikan kondisi al mizanterhadap lingkungan dengan gotong royong memuliakan lingkungan hidup.

Karena will to power, manusia cenderung lebih enteng memanfaatkan dan merusak keragaman hayati, daripada gerak memulihkannya.Keserakahan pada sumber daya bergerak seperti deret ukur, sementara gerakan konservasi lambat seperti deret hitung. Pun,  tak gampang menumbuhkan kesadaran untuk mempraktikkan kesalehan ekologis. Kemungkaran ekologis sebagai lawan kata kesalehan ekologis jauh lebih akrab terdengar kita.

Banyak ustadz menyampaikan semua nabi utusan Allah adalah manusia jenis ramah lingkungan. Nabi Muhammad dapat disebut sebagai imamnya para nabi-nabi ekologis. Muhammad diutuskan ke dunia untuk memastikan bahwa islam sebagai rahmat untuk seluruh alam dan tugas keduanya adalah memperbaiki akhlak manusia. Nabi penutup ini bener-bener menjalankan Islam sebagai addien lil’alamin melalui sumber utamanya Al-Qu‟an dan Al-Hadits. Banyak orang tersadar hadis-hadis hijau yang sangat besar menaruh perhatian terhadap lingkungan sehingga Islam menyetarakan pemeliharaan lingkungan sama halnya dengan menjaga agama, jiwa, keturunan, akal dan harta. Belum lama ini komunitas greenfaith menerbitkan 40 hadis hijau. Jadi eko-profetik dapat disematkan sebagai agenda revolusioner Nabi Muhammad untuk membangun manusia melalui akhlak lingkungan.

Yusuf Qardhawi, Islam Agama Ramah Lingkungan (2002) menuliskan bahwa Islam adalah agama para nabi dan rasul seluruhnya, dari semenjak Adam a.s hingga Muhammad saw, yang diturunkan Al-Qur‟an kepadanya sebagai tuntunan umat manusia untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Beliau diutuskan ke dunia sebagai rahmat untuk seluruh alam dan memperbaiki akhlak manusia. Islam sebagai addien lil’alamin melalui sumber utamanya Al-Qu‟an dan Al- Hadits sangat besar menaruh perhatian terhadap lingkungan sehingga Islam menyetarakan pemeliharaan lingkungan sama halnya dengan menjaga agama, jiwa, keturunan, akal dan harta.

Dan Islam mengecam keras orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi sebagaimana firmannya: “ Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul- Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh, atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan timbal balik atau dibuang dari negeri tempat kediamannya. Yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akirat mereka beroleh siksa yang besar (QS Al-Maidah: 33)”.

 

Nabi Ekologis

Nabi Khidir itu konon asal kata bahasa arabnya berarti hijau (green). ini mengingatkan saya pada penjelasan Karen Armstrong. Nabi Khidir cukup akrab dalam kebudayaan suku Bajo, suku laut acapkali didaratkan oleh Negara karena dianggap tertinggal Nabi Sulaiman juga nabi ekologis kan, cocok bantu Effendi Buhing di film Kinipan, bisa ngobrol dengan penghuni hutan untuk merumuskan cara perang melawan kaum kafir ekologis yang menjarah hutan tanpa jeda. Nabi Yusuf merumuskan cara pertanian yang tidak eksploitatif memberikasn kesempatan tanah untuk istirahat—hal ini mirip dengan kearifan local nusantara. Dalam konteks Indonesia, nabi Khidir mungkin pendiri walhi di zamannya atau pendiri KIARA karena lebih banyak di laut dan konon Nabi Khidir ketemu Nabi Musa di dekat laut. Sementara representasi nabi Muhammad bisa diperlihatkan dari kerakteristik Muhammadiyah dan NU (sebagai ilustrasi).

Memang, hampir semua nabi itu ekologis. hanya selama ini ajaran ekologis para nabi tak pernah dinarasikan karenanya perlu diceritakan. Beberapa tahun terakhir hadis-hadis hijau Nabi Muhammad menjadi popular untuk mengupayakan Pendidikan ekologi berbasis iman. Pendidikan eko-profetik itu bisa diperkuat dengan model ecological profetik quotation dengan mengadopsi ecological intelligence dana atau environmental quotion. Dengan bekal Kecerdasan lingkungan kaum muda dapat memahami mana bencana yang disebabkan oleh kerakusan manusia dan mana yang sebab-sebab alamiah. Seringkali manusia hadapi kegagalan belajar usai menghadapi  banjir, tanah longsor, lumpur panas, kekeringan berkepanjangan, dan sebagainya. Eko-profetik memutlakan kesadaran merawat hutan, mempertahankan keseimbangan biologis.

Keseimbangan alam dan pangan menjadi penanda eko-profetik ajatran nabi Muhammad. Bagaimana tidak, ajaran itu sangatlah kuat jika dilacak dari hadis-hadis nabi Muhammad Rasulullah SAW. Pertama, beliau pernah melarang menebang pohon di tanah gurun yang menjadi tempat berteduh manusia atau hewan, dan menganggapnya sebagai arogansi dan aniaya” (HR. Abu Dawud). Kedua, Jabir ibn Abdullah ra. berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu ada beberapa orang memiliki tanah lebih, lalu mereka berkata: “Lebih baik kami sewakan dengan hasilnya sepertiga, seperempat atau separuh. Tiba-tiba Nabi Saw bersabda: Siapa yang memiliki tanah, maka hendaknya ditanami atau diberikan kepada saudaranya, jika tidak diberikan, maka hendaklah ditahan saja.”  (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Karena itu, menanam pohon, tanaman, atau tumbuhan yang memberi nilai manfaat sangatlah  penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain. Bahkan nabi menegaskan, jika tanaman itu dimakan burung, binatang, atau manusia, maka yang dimakan itu dinilai sebagai sedekah; dan sang pemilik tanaman itu mendapatkan pahala dari Allah SWT. Tiada seorang Muslim yang menanam tanaman kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan tercatat untuknya sebagai sedekah. (HR. al-Bukhari Muslim)

Hadis diatas jelas sekali  menunjukkan pentingnya gerakan pemanfaatan lahan tidur (yang tidak ditanami) menjadi lahan produktif.Dengan memanfaatkan lahan menjadi produktif, kelestarian lingkungan menjadi terjaga dan memberi nilai tambah bagi semua makhluk.

Dengan demikian, memuliakan lahan itu inline dengan gerakan peduli alam ciptaan Allah tempat semua makhluknya bergantung. Dalam pelestarian lingkungan, prinsip utama yang harus dipedomani Muslim adalah prinsip ketauhidan, keseimbangan, keadilan, dan rahmat.

Adalah Muhammad SAW yang bersabda: “Ada golongan hamba yang pahalanya terus mengalir, sementara ia telah berada dalam kubur setelah kematiannya, yaitu: orang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon, membangun masjid, mewariskan mushhaf, dan meninggalkan anak yang selalu memintakan ampun orang tuanya setelah kematiannya” (HR. al-Baihaqi, Ibn Abi Dawud, al-Bazzar, dan ad-Dailami).

Nabi muhammad malam menjelaskan setidaknya tiga hal: pertama, menanam pohon sebagai keberpihakan atas kebaikan alam dan keterpenuhan pangan bagi manusia dapat menjadi jariyah sampai hari kiamat. Saking seriusnya Nabi, meski keadaan perang tidak boleh merusak atau menebang pohon sembarangan, dan membuang kotoran di sungai, buang hajat di bawah pohon dilarang sebagai upaya pemuliaan terhadap hak hidup pohon dan penghormatan pada sesama ciptaanNya.

Dengan demikian, dapat dikatakan dengan sangat meyakinkan, nabi Muhammad merangkum banyak praktik ekologi zaman nabi-nabi sebelumnya yang juga mempunyai kearifan ekologis. Daya tahan lingkungan itu sangat tergantung pada faktor manusianya. Reboisasi tidak akan berhasil jika hutan atau tanaman selalu digunduli secara ilegal. Optimalisasi fungsi lingkungan alam, lingkungan hidup menjadi sangat penting karena ekosistem ini dapat menentukan kualitas hidup kita.

Jika lingkungan kita rusak (tidak sehat, tidak bersih, tidak indah, tidak nyaman), maka kualitas hidup  menjadi terganggu dan tidak nyaman. Dengan demikian, pendidikan lingkungan merupakan bagian dari pendidikan Islam yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak, mulai dari diri sendiri hingga para petinggi negeri ini agar berbagai bencana dan musibah dapat dicegah dan dihindari.

 

Platform Bersama untuk Keadilan Iklim

David Glavor dan Thimothy Jessup,Mahalnya Harga Sebuah Bencana: Kerugian Lingkungan akibat kebakaran dan Asap di Indonesia (2002) merangkum kondisi krisis sejak orde baru di Indonesia. Emil Salim, mantan Mentri Lingkungan Hidup dan juga sebagai ketua World Commission on Environment and Development (WCED) bahwa.tahun 1997 tercatat sebagai tahun terburuk terjadinya kebakaran hutan dunia, terutama bagi negara berkembang di wilayah topik dan sub-tropik. World Wide Fund for Nature (WWF) menyebutkan tahun tersebut dengan “Tahun terperangkapnya dunia oleh kebakaran. Keadaan tahun 2021 tidak lebih baik akibat gerak ekonomi ekstraktif berjamaah merusak keseimbangan bumi Indonesia.

Krisis dan kedaruratan di atas telah direspon oleh beragam fikih progresif di beberapa organisasi islam di Indonesia, di Katolik juga punya respon yang setara misalnya Laodato Si.

Aspirasi untuk hidup berkeadilan dan berkelanjutan, manusia harus belajar memahami lingkungannya dan dapat mengatur penggunaan sumber daya alam dengan cara dapat dipertanggungjawabkan untuk pengamanan dan kelestarian alam ini. Sebagai upaya iman hijau, misalnya ada komitmen Bersama untuk menjadikan Ramadan sebagai bulan hijau, bulan penuh kerahmatan pada lingkungan hidup di mana manusia adalah bagian di dalamnya. Kepada semua pihak, hendaknya di bulan Ramadan ini menjadi awal untuk tidak lagi menggusur ruang hidup manusia, tidak membakar, menebang, menambang hutan, tidak membuang sampah plastic, dan tidak mengotori udara dengan asap kendaraan secara berlebihan dan mencemari udara air dari aktifitas pabrik, dan tidak mengabaikan lima seruan di atas tanpa merasa dosa, sebaliknya, lakukan hal-hal yang penuh welas asih kepada bumi dan sesama. Ramadan, bulan yang paling tepat mumulai pertobatan ekologis untuk meraih ketaqwaan hijau (iman hijau).

Sebenarnya, esensi kesalehan ekologis atau yang saya sebut sebagai eko-profetik itu adalah mempertahankan, memuliakan, mengelola, memperbaiki, memulihkan, dan mendayagunakan lingkungan demi kesejahteraan semua makhluk yang diciptakan Allah.

Dengan memiliki kesadaran eko-profetik,  hendaknya semakin adil dan mengupayakan keseimbangan terhadap lingkungan sebagaimana ajaran Imam besar nabi Ekologis Muhammad SAW. Tanpa itu, bukannya kita menebar rahmat tetapi justru akan mendistrubusikan bencana bagi alam semesta yang artinya kita gagal menjadi khalifah dan menjalani hidup penuh kekafiran ekologis.

Marilah kita menghijaukan Ramadan kita.