Saya khawatir nanti tidak bisa menyimak dengan baik untuk kegiatan diskusi rumah baca Abdul Fajar. Alhamdulillah data base dan scan yang sudah mendekati selesai untuk urusan persiapan wakaf buku. Saya dapat informasinya dari Kak Lufi dan kak Dani untuk scanning kurang lebih kurang tujuh ratusan buku ya dan itu bisa diselesaikan kalau hanya scanning saja mungkin perlu 4 hari ya, semoga akhir pekan depan bisa dikelarkan.

Terkait dengan beberapa hal yang sempat kita diskusikan yaitu penulisan buku biografi perpustakaan keluarga Abd Fajar atau biografi rumah baca keluarga. Terkait biografi, Rumah baca Abdul Fadjar saya kira ada dua pilihan ya untuk menuliskan biografi ini. Pekan pekan lalu sudah saya diskusikan dengan mas Muti dan mas Fauzan ihwal buku ini. Saya kira penting sekali untuk ditulis dan disajikan secara berbeda bagaimana memperkenalkan sosok Abd Fajar melalui buku, melalui rumah baca Abd Fajar itu jadi pintu masuknya. Buku biografi perpustakaan bukan biografi tokoh secara eksplisit atau langsung gitu kalau biografi tokoh kan sudah banyak model-model seperti itu. Bagi saya yang menarik Tentu saja Ini adalah biografi tokoh tetapi pintu masuknya itu melalui profiling buku2nya dan dunia referensi bacaan-bacaan buku rumah yang di khususkan habya untuk menampung menghidupi ribuan buku tersebut.

Saya kira nanti ini akan menjadi menarik karena mendapatkan 2 unsur sekaligus yang pertama sosok Abdul Fajar sebagai orang yang gemar merawat buku membeli buku dan meriset yang menarik misalnya bagaimana upaya itu ketika sedang punya riset berusaha untuk menghadirkan buku-buku itu di dekatnya dan itu sekarang menjadi warisan yang sangat berharga bagi keluarga dan masyarakat umum.

Belum Lagi ditambah kesan-kesan dari keluarga terkait dengan Pak Abdullah dan buku kesan kesan mahasiswa kesan-kesan anak muda yang pernah berinteraksi dengan Pak Abd Fajar. Saya kira itu akan menjadi bagian utama dari biografi perpustakaan keluarga ini dan tentu saja ditanbahkan konten bagaimana keluarga punya ikatan emosional dengan buku-buku yang ada di rumah itu yang mana Buku itu menempati satu rumah ya satu rumah yang “dikorbankan” untuk merawat ribuan buku sumber-sumber pengetahuan: Dari berbagai macam penerbit dibeli dari berbagai macam penjuru kota dan luar negeri gitu ya?

Unsur biografi yang ke-2 selain tadi ada sosok Abdullah yang juga sangat kuat adalah bagaimana menyajikan profile Pak Abd Fjr itu melalui beragam koleksi yang kita ketahui bersama sangat mengagumkan. Bagaimana alam pikir itu dibentuk dan minat pengetahuan itu dari buku-buku yang ada di dalam koleksi rumah baca pak Abd Fajar ini, nanti juga ada caption foto beberapa buku favorit Park Abd ada buku-buku yang di resensi atau perhatian khusus ada buku-buku yang dihadiahkan untuk anak yang itu kita tafsirkan sebagai apa ya tetap akan terpisahkan terhadap pengetahuan itu menjadi penting untuk untuk masa depan keluarga masa depan anak-anak Pak Abdullah. Keren, itu saya kira itu sebuah kesan yang sangat emosional ya itu kalau ada testimoni Mbak ilma misalnya yang di tulis namanya di sebuah buku m Apakah merasa sangat gembira ketika berumur 3 bulan sudah disiapkan buku oleh Pak AF kemudian setelah sekian puluh tahun baru melihat ternyata buku itu benar-benar ada gitu.

Tentu saja itu menjadi monumen ingatan, Monumen pengetahuan keluarga yang sangat penting dan bermakna sangat mendalam menurut saya. Belum mas kasman mbak pipit dll, bu Abd Fjr tentu akan makin memperkuat bahwa moral intelektual pak AF sungguh kokoh.

Jadi usulan saya sama mas Fauzan sebetulnya adalah Bagaimana menghadirkan buku biografi keluarga ini didesain dengan sentuhan seni desain ya seni fotografi jadi banyak foto keren perpustakaan rumah, cover buku, dilampirkan dipadu dengan catatan tangan milik Pak Abdul Fajar dengan berbagai macam foto keluarga dipadukan dengan taman, meja, ruang rumah, dan itu saya kira sangat menarik kemudian nanti ada ulasan cerita orang-orang yang pernah riset dengan Pak AF dan kisah Bagaimana pak menghadirkan buku-buku sumber referensi riset. Bagi saya, ini sudah sangat menarik ya jadi biografinya ini tidak banyak berisi puja-puji tapi yang kita tawarkan adalah nilai terutama nilai itu berakar pada keberpihakan kepada ilmu pengetahuan, inklusivitas, altruisme, kerjq keras, tekun, dan nilai baik lainnya. Juga, Bagaimana kesungguhan menempatkan buku sebagai anggota keluarga, lalu yang terakhir Bagaimana kesungguhan untuk mewakafkan buku itu agar buku ini menjadi berguna, memberikan api literasi dan cahaya manfaat bagi kehidupan banyak orang banyak di masa depqb.

Saya kira itu sangat sangat powerful ya dan ini akan menginspirasi banyak sosok yang keluarga lain di bumi yang mungkin tidak mampu merawat buku-buku tinggalan orangtuanya sehingga harapannya tentu biografi perpustakaan Abdul Fajar Yang beraakhir dengan akan dipindahtempatkan kepada rumah-rumah atau lembaga kredibel yang akan memberikan dampak pada pengembangan ilmu pengetahuan. Sungguh ini Uswatun Hasanah yang sangat luar biasa saya kira. Faktanya, sangat banyak tokoh-tokoh sepuh atau yang sudah kan sudah meninggal juga berakhir pada menjual buku bekas ke toko-toko buku bekas yang akhirnya walaupun tetap berguna Tetapi saya melihat itu sebuah kekalahan keluarga yang ditinggalkan jika abai. Karena buku yang seharusnya buku itu tetap dapat terawat dengan baik dimanfaatkan secara reguler oleh banyak orang mendapat kunjungan dan sebagainya nanti. Misalnya ada Fajar Institut misalnya Tentu saja itu menjadi Muara, jadi resources bersama yang ini tentu saja lebih sistematis pendayagunaan akan referensi-referensi, literatur, majalah, dsb.

Saya kira ini harus ditekankan walaupun geografi ini tidak berisi puja-puji berlebihan tetapi menawarkan sebuah terobosan yang saya juga sangat beriman kepada ayat Iqra itu yaitu manifestasinya adalah bagaimana merubah kepemilikan buku pribadi menjadi milik “publik” dengan catatan milik publik itu artinya bisa diakses oleh masyarakat luas dan menjadi lebih berguna lebih berbunyi, bergaung pengetahuan yang ada di ribuan buku itu saya kira ini pembelaan yang sangat penting ya bisa disebut membela pengetahuan itu. Di rumah AF ada ketulusan keikhlasan untuk mewakafkan buku itu menjadi terbuka untuk publik dan tentu saja yang suatu saat jika keluarga pengen menengok buku-buku itu tidak terlalu sulit karena bukunya masih berkumpul di tempat yang nyaman, apa mungkin dia lebih nyaman hehe tapi ya memang sulit mencari tempat yang lebih nyaman dari yang di Payaman. Hal ini karena saya melihat dengan mata kepala sendiri buku ini relatif terjaga dengan baik sangat sedikit yang rusak ya. Saya kira itu sangat militan mengurus ribuan buku yang menjadi anak ruhani peradaban. Mbak pipit, selama bertahun-tahun, telah menjadi orang keren perawat peradaban ilmu.