Gerakan Sarekat Taman Pustaka adalah kebelanjutan dari Taman Pustaka Muhammadiyah yang ada di seluruh tanah air yang bernaung bersama organisasi Muhammadiyah. Di bawah Majelis Pustaka dan Informasi, Taman Pustaka tidak hanya memfungsikan diri sebagai sebuah kerja dokumentatif administratif, tetapi juga sebuah kerja literasi dan keilmuwan dalam bingkai dakwah Muhammadiyah.

Sebagai sebuah keberlanjutan dari sebuah gerakan literer yang telah berlangsung 100 tahun (20 Juni 1920-20 Juni 2020), Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah mengusung misi buku untuk semua. Terinspirasi dari Dauzan Farook seorang aktifis perbukuan Muhammadiyah yang berkeliling dengan sepeda dan menggelar lapak baca, maka Taman Pustaka hadir sebagai sebuah wadah untuk berkumpul dan bergerak bersama dalam rangka untuk mewujudkan kerja-kerja literer.

Dakwah memerlukan alat, salah satunya adalah buku. Buku juga merupakan dokumen pemikiran yang merawat dan juga ikut menggerakkan dakwah dan kebaikan. Sebab itulah, dalam bergerak, Taman Pustaka Muhammadiyah memiliki rekanan yang mampu mendukung dan berkontribusi terhadap gerakan perbukuan di kalangan Muhammadiyah. Muhammadiyah sendiri memiliki penerbit Suara Muhammadiyah. Melalui penerbit inilah, tidak hanya gagasan dan wacana kemuhammadiyahan akan terus hidup, tetapi juga sebagai medium untuk membangun dan meningkatkan kecerdasan bangsa terkhusus warga muhammadiyah. Dari bukulah, Taman Pustaka bergerak, dan bersama buku pula Taman Pustaka telah mendokumentasikan berbagai kegiatan dakwah, tulisan, pemikiran dan kiprah Muhammadiyah dalam bidang literasi.

Melalui organisasi otonom di Muhammadiyah, Sarekat Taman Pustaka bergerak bersama untuk berbagi pengetahuan melalui pustaka. Di seluruh Indonesia, banyak komunitas yang diinisiasi oleh IPM, IMM Pemuda Muhammadiyah, Nasiatul Aisyiah, yang menjadi sukarelawan dalam menggerakkan pengetahuan. Ada yang menggelar lapak baca di setiap minggu, ada yang sudah memiliki ruang atau kantor untuk tempat bergerak. Ada pula yang sudah memiliki usaha bersama masyarakat yang bergerak ke arah kewirausahaan.

Ragam gerak Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah itu membentuk satu harapan baru akan nasib literasi di Indonesia yang sering dikabarkan bernasib kurang baik. Upaya untuk mengajak perubahan dan membangkitkan dunia literasi di kalangan warga Muhammadiyah mendorong sekelompok anak muda untuk bergerak dalam satu wadah organisasi di bawah Majelis Pustaka dan Informasi pimpinan pusat Muhammadiyah dalam wadah Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah.

Sarekat Taman Pustaka membawa spirit islam, karena islam merupakan bagian dari gerakan pencerahan. Sarekat Taman Pustaka meyakini kerja berbuku dan berliterasi adalah bagian dari dakwah islam yang mencerahkan. Sebab dari buku itulah, pengetahuan menyala, sehingga mampu menjadi suluh bagi kegelapan akal. Sedangkan nama sarekat itu diambil dari satu nama pergerakan islam di negeri ini yang telah menjadi bagian dari sejarah kebangsaan kita yakni Sarekat Islam. Sarekat dimaknai sebagai perkumpulan, ikatan yang kuat yang bekerja bersama dengan berdasarkan kerelaan dan kerja kerelawanan. Dari kerja menebarkan huruf-huruf, menghimpun, membagikannya agar bisa dicecap oleh semua adalah cara Sarekat Taman Pustaka bekerja.

Kampanye buku adalah kampanye ilmu pengetahuan, ia hadir dari dorongan batiniah dan kesadaran akal. Setiap penggerak di Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah mengilhami bahwa ilmu adalah milik semua. Dan ada kewajiban lain bahwa menyampaikan ilmu adalah bagian dari laku spiritual sekaligus laku intelektual. Akan tetapi tantangan ke depan memang tidak sekadar membuka lapak buku untuk dibaca dan disebarluaskan. Tantangan ke depan adalah menjadikan buku bergerak dalam praktik amaliah ataupun dalam bentuk produksi pengetahuan melalui buku.

 

 

 

Kopi darat pegiat literasi taman pustaka di seluruh Indonesia yang diselenggarakan di Gedung Walidah Universitas Muhammadiyah Surakarta akhirnya berjalan lancar. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 8-10 Desember 2017. Pembukaan kopi darat pegiat literasi terasa begitu meriah. Ini seolah memberi energi dan harapan baru bagi nasib literasi di masa mendatang. Kegiatan kopdarnas (Kopi Darat Nasional) literasi secara khusus memang diselenggarakan oleh Muhammadiyah. Akan tetapi, sebagai sebuah usaha bersama dalam berkumpul dan bergerak bersama menggerakkan buku, maka para penyelenggara kopdarnas literasi pun mengundang berbagai pihak yang bergiat dalam perbukuan dan mitra kerja perbukuan untuk bersama bergerak melalui sharing session (Sesi bersama) untuk membincangkan nasib dan pergerakan literasi di Indonesia.

Dalam catatan jurnalis Jawapos Radar Solo (8/12/17) tercatat sekitar 200 komunitas literasi di seluruh Indonesia hadir dan ikut serta meramaikan Kopdarnas literasi. Acara Kopdarnas Literasi inilah awal dari sebuah kerja bersama para pegiat literasi di kalangan Muhammadiyah. Pada hari ketiga inilah, nantinya akan dibahas dan ditentukan bersama apa langkah selanjutnya agar acara kopdarnas literasi ini memberikan dampak dan daya gerak yang lebih luas.

Maka setelah acara kopdarnas literasi selesai, dari dua ratus pegiat literasi itu membahas, dan membincang bagaimana tindak lanjut dari acara kopdarnas. Dalam sesi yang dipandu oleh panitia yang dipimpin oleh David Effendi, maka forum memutuskan beberapa hal diantaranya : Pertama, para pegiat literasi sepakat untuk membentuk organisasi di bawah payung Majelis Pustaka dan Informasi. Kedua, menyepakati nama organisasi pegiat literasi ini dengan nama Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah.

Ketiga, setiap rumpun pegiat literasi menyusun dan merumuskan rumusan dan rekomendasi yang diberikan kepada pemerintah, kepala daerah, dalam bidang literasi. Keempat rumpun tersebut adalah rumpun Majelis Pustaka dan Informasi (MPI), rumpun sekolah, rumpun komunitas, rumpun Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiah.

Ada banyak hal yang sudah dikerjakan setelah Kopdarnas literasi di Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah berjalan kurang lebih selama hampir tiga tahun berjalan.  Kegiatan itu diantaranya adalah membangun jejaring bersama Perpustakaan Nasional melalui gerakan Wakaf Buku. Selain itu, Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah juga telah melahirkan produk buku The Spirit of Dauzan (2018). Pada buku itulah, tertanam jejak dan pergerakan komunitas literasi Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah juga telah bekerjasama dengan Pustaka Bergerak yang diinisiasi oleh Nirwan Ahmad Arsuka untuk mengirimkan buku-buku ke seluruh pelosok Indonesia. Melalui gerakan wakaf baca, Sarekat Taman Pustaka telah memberikan stimulan, dorongan dan membuat komunitas literasi semakin aktif dan bergerak. Buku-buku yang dikumpulkan dan disumbangkan ke komunitas literasi di seluruh Indonesia diakui ikut menghilangkan dahaga bacaan dan memenuhi kekurangan bacaan yang ada pada komunitas literasi di seluruh Indonesia. Kerja-kerja kerelawanan dan amaliah ini menjadi spirit bagi para penggiat literasi untuk berbagi pengetahuan.

 

Pilar Gerakan Literasi

Dalam keyakinan serikat taman pustaka setidaknya ada lima pilar gerakan literasi : ideologi, penggerak, komunitas atau masyarakat sipil, industri perbukuan, dan negara. Dari kelima pilar tersebut, seandainya keempat faktor dihilangkan, lalu kita sisakan penggerak (individu), bisakah gerakan literasi mati?. Pilar penggerak literasi sebenarnya adalah individu-individu. Ali syariati menyebutkan para individu ini sebagai rasyan fikr (kaum tercerahkan). Ketika individu memiliki kesadaran akan pentingnya literasi, maka secara otomatis, ia memiliki kesadaran untuk mengggerakkan