David Efendi

Merenungkan ke-Indonesia-an Kita Jutaan orang menyatakan sebagai bangsa Indonesia, tapi juga jutaan orang tidak tahu sejarah kata Indonesia akibat tidak meratanya Negara mendidik rakyatnya. Sekian puluh tahun merdeka(65 th), kemiskinan (40 jt), pengangguran (20 jt), angka putus sekolah nasional (masih tinggi), hutang Negara (879,3T/juni 2010 ) terus bertambah jumlahnya sampai-sampai ada bangsa Indonesia yang malu menjadi Indonesia. Bagaimana ini, ini bagaimana setelah kemerdekaan dan persatuan yang dibayar dengan aliran darah dan air mata oleh pahlawan kita baik dari kalangan rakyat jelata atau bangsawan elite pemimpin.

Meski banyak orang tidak lagi menganggap bangsa sebagai sesuatu yang penting untuk mengatakan identitas seseorang sebab bangsa sendiri hanya imajinasi yang tidak mewujud secara langsung sebagaimana Ben Anderson (1983) dengan konsepnya yang popular, nation as Imagined society atau Ernas Renan (1882) yang definisi tentang nationhoodnya cukup luas mempengaruhi manusia di bumi yang diawali dengan pertanyaan what is a nation? Yang ia artikan sebagai “desire of a people to live together, which he summarized by a famous phrase, “avoir fait de grandes choses ensemble, vouloir en faire encore” (having done great things together and wishing to do more). Sementara Fichte (penulis asal Jerman) memahami nation sebagai komunitas yang ‘sharing common characteristics” seperti bahasa, feeling, nenek moyang atau perasaan senasib sepenanggungan.

Tidak hanya nation yang tidak nyata, state dalam batas tertentu sebagaimana Hobbes (1561) menyatakan sebagai artificial (Leviathan) yang sumber kekuasaan berasal dari sesuatu yang tidak berwujud (devine state) yang dijelaskan dalam konsepnya: the human nature, the Law of nature, and the nature of war dan sebagainya yang mana manusia satu dengan lainnya bisa menjadi ancaman sehingga negara (state) dengan berbagai kekuatan harus menegakkan ketaatan penuh (obedience) untuk mewujdukan tertib sosial (social order). Sementara bagi John Brevilly (1993) nation atau nationalism is nothing but politics yang mana nationalism digunakan sebagai ideology penguasa untuk menaklukkan lawan-lawan politiknya. Dalam konteks yang luas misalnya Nazi Hitler di Jerman mengklaim rasnya sebagai bangsa arya yang mempunyai derajat lebih agung dibandingkan yang lain, dan karena dan atas nama itu melakukan ekspansi politik dan peperangan.

Konsep ‘ras’, ‘race’ itu sendiri menurut Harun Yahya (1998) sebagai konsep destruktif yang paling berbahaya semenjak manusia lahir di bumi. Konsep ini dianggap sebab dari segala sebab peperangan dan pembantaian di jagat raya. Sebagaimana temuan Darwin (1859) yang melahirkan teori ras unggul dan ras lemah, kulit putid dan berwarna, dan gelap yang putih (Arya) menganggap ras terbaik dari segala macam ras yang mengilhami Hitler (1925) menulis buku propagandanya yang diberi judul Mein Kampf dan membenarkan peperangan yang dilakoninya.

Dalam kontek Indonesia alasan paling lazim dan make sense adalah kesamaan sebagai korban kolinialisme Belanda meski pun ada perdebatan bahwa tidak semua bagian Indonesia di jajah Belanda, seperti bagian timur Indonesia yang dijajah oleh Portugal( baca: Timur Leste yang sudah merdeka dari Indonesia tahun 1999). Kalangan filosof dan ilmuwan politik juga beragam pendapat mengenai eksistensi bangsa (nation). Hegel (1830) menganggap nation itu sebuah kenyataan (exist) yang dilihat dari ethos atau etika yang menyangkut moralitas sekelompok manusia sementara Arendt (year) berpendapat bahwa nation itu adalah perilaku dan menjadi karena mempunyai gagasan kesamaan (equality) dan ide mengenai kebebasan (freedom) sehingga menjadi atau tidak menjadi adalah proses secara sadar (aware). Kenapa masih penting membicarakan nation atau nation-state?

Negara super power seperti Amerika, jepang, Jerman dan sebagainya masih sering menggunakan kata-kata ‘bangsa’, seperti Amerika yang Barack Hussain Obama (Presiden Amerika ke-44) selalu dengan tegas menyatakan ‘American People’ dalam berbagai pidatonya sebagai pengganti kata bangsa yang mengisyaratkan bahwa ide sebagai nation sebagai masyarakat yang setara dan merdeka perlu dijaga meski dalam era yang tekhnologi yang memunculkan ide nationless, stateless, bourderless dan sebagainya.

Di sini saya mencoba mengajukan satu proposisi bahwa rasa memiliki seseoarang terhadap bangsanya sangat ditentukan oleh kultur dimana dia ditumbuhkembangkan atau dibesarkan. Generasi yang lahir pada masa revolusi perebutan kemerdekaan melawan colonial tentu mempunyai rasa memeiliki yang kuat bila dibandingan dengan generasi yang ahistoris, tidak membaca sejarah bangsanya sehingga atas alasan tersebut (reason de etre) Negara sebagai lembaga politik menyusun kerangkah politik untuk menjaga memory public mengenai pembentukan bangsa, karakter, dan tentu memelihara loyalitas terhadap Negara.

Di sinilah letak nationalism sebagai aksi politik penguasa dilahirkan. Orang bisa mengatakan sebagai bangsa tertentu karena lingkungan tempat tinggalnya melakukan hal yang sama sebagai pemberian atau warisan (taken for granted) sebagaimana manusia dilahirkan laki/perempuan, di Indonesia atau luar Indonesia, dan sebagainya yang mana tidak ada pilihan sadar waktu itu. Dari pergaulan dunia luar yang mulai terbuka ada dua kasus yang perlu dilihat sebagai kajian.

Pertama, orang Indonesia yang dilahirkan di luar Negara Indonesia baik kedua orang tuanya orang Indonesia atau salah satunya bukan orang Indonesia (alien, foreigner) anak tersebut tetap merasa sebagai bagian bangsa Indonesia. Mengapa?. Kedua, seorang anak manusia yang tumbuh di era dunia maya (cyber space) yang dia tidak merasa ada batas antara negara, tidak ada batas bangsa lantaran ia bisa terkoneksi dengan siapa saja dimana saja dengan menggunakan internet. Dia belajar berbagai hal dari internet, dia tumbuh di jaringan kabel yang terhubung dengan udara (air) yang tidak perlu lagi upacara bendera atau mendengar ceramah nasionalisme. Apakah benar-benar anak ini tidak menganggap dia bukan bagian dari bangsa di mana dia tinggal?

Sangat mungkin orang kemudian memperkenalkan identitasnya bukan nama bangsanya tapi misalnya ketika ada orang bertanya who are you? Lalu dijawab, ‘ saya blogger’, ‘saya facebooker’ (penghuni facebook sudah mencapai 500 juta) yang jika dikomparasikan dengan penghuni bumi sekitar kurang lebih 10% dari penghuni bumi yang mencapai 6.628.218.568 (geography.com), atau bisa mengtakan, “saya jurnalis”, “saya dokter” dan tidak perlu lagi bertanya atau menjawab apa nama kebangsaan karena pertanyaan ini misalanya sudah dianggap useless atau meaningless di komunitas masyarakat tertentu. Hal ini (apakah berbeda secara mutlak) dengan bangsa dunia ketiga yang anak-anak masih tumbuh di tanah (tanah, batas teritori sebagai salah satu identitas suatu bangsa) sehingga arti bangsa masih sangat penting dan bermakna dan selalu berbangga dengan identitas sebagai bangsa A, B, dan juga ideology nationalism-nya. Ini mungkin terus diperdebatkan. Sehingga penulis mencoba membuat kategori dari istilah sehari-hari yang selalu muncul secara sadar atau tidak sadar pelafalan kategori bangsa: bangsaku, bangsamu, dan bangsa kita yang mempunyai dampak psikologi dan politik yang sebagian besar orang (bisa jadi) tidak memikirkannya.

Bangsaku ……yang sebagian besar menggantungkan diri pada kerjasama dengan modal asing secara konvensionil adalah tidak sesuai dengan prinsip “Berdiri diatas kaki sendiri”….. (“Berdikari”-amanat Bung Karno dalam Pembukaan Sidang MPRS 11 April 1965) Hanya Indonesia yang lahirkan nationalism yang dikumandangkan melalui sumpah pemuda yang diwakili beberapa pemuda dari beberapa pulau di Indonesia yaitu jong java, jong Sumatra, jong dan sebagainya (sumber, year). Karena keunikan ini lah, karena teks book di sekolah, melahirkan kebanggaan dan rasa memiliki sebagai bangsa Indonesia.

Lalu muncul istilah yang popular: Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku yang kemudian didramatisir dan dijadikan statemen politik yang bertenaga oleh Soekarno, bahwa kita tidak boleh membiarkan tanah kita walau sejengkal dikuasai bangsa lain. Ini juga yang melahirkan semangat anti Asing (Amerika disetrika, Inggris dilinggis) sampai pada “ganyang malaysia”. Nasionalisme hari itu menemukan taringnya, sementara hari ini nasionalisme mewujud pada keberpihakan dnegan pasar bebas dengan pembenaran ilmiah pada kaum tekhnokrat dan mafia (baca: mafia Berkeley, mafia Ohio, mafia …) yang bersumber dari latar belakang pendidikan di luar negeri.

Orang lalu berspekulasi lulusan luar negeri kehilangan nasionalisme-nya meski ini seharusnya dibantah karena para pendiri bangsa memikirakan kemerdekaan, membangun ide nasionalismenya ketika sedang sekolah diluar negeri (Belanda) yang tak lain tak bukan adalah penjajahnya sendiri. Sebagai salah satu Negara-bangsa (nation-state) bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan dengan cara yang tidak muda bahkan dibayar mahal dengan berbagai pertumpahan darah di berbagai pelosok tanah air semenjak Belanda masuk ke Indonesia (1600) yang dilawan oleh penduduk lokal sebelum muncul konsep nation atau nationalism. Penduduk pribumi yang berupa kerajaan atau tidak melakukan berbagai bentuk perlawanan.

Karena sifatnya lokal maka pribumi (bangsaku) yang membedakan secara tegas dengan Belanda (bangsamu) sebagai orang asing dan tidak punya hak untuk merampas dan menaklukkan bangsa pribumi, Bangsa pribumi seringkali mengalami kekalahan yang pahit dari satu daerah ke daerah lainnya. Belanda sengaja melakukan perang lokal sebab sangat sadar jika ada koalisi antara daerah satu dengan daerah lain Belanda akan kuwalahan dan terseok-seok melawan kedaulatan ‘alam’. Perang-perang lokal itu seperti terjadi di Yogyakarta yang dikenal dengan perang Diponegoro (1925-1930), Perang Padri Minangkabau (1821-38), Pertempuran 10 Nopember Surabaya (1945), Bandung Lautan Api (1946), Serangan Umum 1 Maret (1949), dan sebagainya.

Setelah perang, kita tetap berwacana soal kebangsaan sebagaimana kata ‘Bangsaku’ sebagai kata kepemilikan sebagaimana yang tercantum dalam lagu nasional Indonesia yang diulang berkali-kali sebagai penanaman ide kepemilikan sebagai bangsa yang besar dan maju tanpa menghina bangsa lain tidak beradab dan tidak maju. Ini adalah nasionalisme keseharian yang banyak bersemayam di kapala anak-didik di sekolah sebagai insteranalisasi konsep nation dalam alam pikiran.

Untuk kepemilikan (self belonging) ini banyak ragam strategi Negara untuk menjaga ingatan kolektif mengenai perjuangan sebagaimana yang ditulis Ben Anderson dalam Imagined community (1983, pp.12-33) yang mengupas pentingnya map, sensus dan museum sebagai penjaga alam piker agar tidak liar mengenai konsep bangsa yang terus tergerus arus kebebasan yang ditopang oleh kehadiran tekhnologi yang melampaui batas-batas geografi sebuah atau antar negara (territorial). Kenyataan membuktikan, bahwa konsep nasionalisme dan nation berbeda-beda ditafsirkan oleh masyarakat, nationalism bagi wong cilik tentu tanpa tendensi mencitai bangsanya dilakukan dengan kepasrahan menerima keadaan, mematuhi lalu lintas, dan dating ke tempat pemungutan suara dan mereka senang mendapat pengakuan sebagai ‘warga Negara yang baik’ sebagai didikan Orde Baru (1965-1997) yang sudah lulus penataran P4.

Berbeda dengan penguasa yang meski sering mendendangkan: “bangsaku, rakyatku, semuanya…” dalam berbagai pidato, mereka hanya berambisi mendapatkan nama baik, mendapatkan uang untuk pemasukan ke kas Negara dengan menghalalkan segala cara termasuk meruntuhkan ide nationalism rakyat kebanyakan. Ide privatisasi BUMN, membuka investor yang menguasasi hajat hidup rakyatnya digadaikan di tangan asing, dan sebagainya adalah bentuk anarkisme atau kontra-nasionalisme yang dijaga dan dimiliki oleh rakyatnya. Bangsamu (mereka) “Bangsamu” berarti bukan “Bangsaku”, engkau bukan bagian dari saya dan sebaliknya, dan tentu engkau berbeda dengan aku dan saya, kami, kita.

Konsep ini yang bermata dua, satu sisi menolak kolonialisasi satu bangsa terhadap bangsa lain, satu sisi lainnya perbedaan ini menjadikan pembenar satu bangsa mengobarkan perang kepada bangsa lain entah atas nama “warfare” dimana tidak ada konsep benar-salah (right-wrong), adil-tidak adil (justice-unjustice) sebagaimana teori kemunculan modern state ala Hobbes (1561: pp?) katakan dalam buku Leviathanya. Selain itu, perang juga bisa diakibatkan oleh alasan agama (holy war), atau alasan ekonomi pasca revolusi Industri di Inggris (year) yang bisa jadi diilhami semangat kapitalisme murni (Adam Smith, year), atau dalam konteks Indonesia dan Asia, Belanda melalui VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie, 1602-1800) membawa misi sempurna-nya 3G: Gold, Glory, Gospel yang juga mempunyai kompetitor persekutuan dagang Inggris yaitu EIC (East India Company, 1612-1757).

Konflik antara Malaysia-Indonesia yang sudah berlangsung lama menjadikan sentiment akan penitngnya menjaga harga diri bangsa terus berlanjut meskipun lambat laun menjadi tidak perlu atau terkesan publik semakin apatis. Malaysia pernah dijajah Inggris, Indonesia di jajah Belanda, Jepang dan Portugal. Karena tidak sama common enemy-nya maka Malaysia dianggap sebagai bangsa lain sehingga boleh “diganyang” oleh Indonesia sebagaimana propaganda Soekarno pada saat itu (1962-66).

Kata-kata ini kerap muncul pasca pencaplokan sigitan dan sipadan oleh Malaysia yang dilegitimasi dari hokum Internasional. Namun demikian, masih banyak kalangan di Indonesia yang mempercayai betul arti pentingnya nasionalisme di dunia yang tunggang langgang, di era pasar sebagai panglima karena politik selalu menjadi subordinate dari kepentingan bisnis sehaingga suara-suara sumbang nasionalist lambat laun akan digerus oleh kepentingan pasar yang makin liberal.

Meski partai politik, anggota dewan perwakilan rakyat berkoar-koar perang melawan Malaysia, tapi karena malsysia sebagai tempat berjualan TKI/TKW Indonesia maka suara lantang pun kalah sebab bagi presiden nasib ribuan TKI di Malaysia lebih berarti dari pada perang yang tidak dianggap dapat menyelesaikan masalah. Kompromi, negosiasi sebagai karakter pasar (market) jauh lebih dominan zaman pemerintah Indonesia dan Malaysia hari ini. Di sisi lain, ini juga menjadi bukti Negara lemah(weak state) alias tidak kuat ketika teritorial-nya tidak bisa dijaga dengan kuat malah oknum pejabat ditangkap oleh kapal Malaysia.

Bangsa yang besar belum tentu kuat, seperti Indonesia hari ini yang tidak punya militer yang kuat yang menjaga kedaulatan teritorialnya baik secara administrative atau politik, tidak merdeka penuh (independent) dalam menjalankan roda pemerintahan alias selalu tergantung (dependent) dengan kekuatan asing baik donor maupun Negara, serta kelemahan yang berikutnya tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri-utamanya pangan (teori siapa?).

Hal ini sudah disinyalir oleh Hatta (year)dalam pentingnya kedaulatan ekonomi bangsa melalaui penguatan koperasi, juga Soekarno (1965) yang mengenalkan istilah berdikari (berdiri diatas kaki sendiri). Artinya bangsa Indonesia harus mandiri secara politik, ekonomi dan ketahanan. (baca: “Berdikari”-amanat Bung Karno dalam Pembukaan Sidang MPRS 11 April 1965) Bangsa Kita Ide bahwa kita sebagai sesama penghuni planet bumi memang terkesan utopis sebab sejatinya Hobbes benar bahwa tidak hanya antar manusia yang selalu berkompetisi satu sama lain tidak pernah selesai sampai mati (Ch.? The law of war), melainkan antar negara juga sebagaimana pelajaran dari WW1,WW2, dan tentu peperangan it uterus terjadi sampai saat ini di berbagai belahan bumi baik adu fisik atau dengan model-model soft power yang berdiri atas nama perdagangan dunia, lembaga keuangan international yang dipayungi oleh liberalisasi ekonomi dan seterusnya yang ujungnya melahirka kesenjangan antara Negara pusat (satelit) dengan yang pinggiran (pheriperi), antara developed dengan under developed/developing country yang terjadi ekspolitasi besar-besaran setiap detik, 7 hari seminggu, 30-31 hari sebulan dan 365 setahun, di muka bumi ini. Konsep bangsa kita selain menimbulan nasionalisme juga melahirkan chauvimisme, egoism yang dilembagakan dalam kebijakan Negara dan dipraktikkan dalam perbuatan nyata yang tentu dampak destruktifnya semakin besar. Atas nama bangsa superior seperti Amerika ingin menjadi polisi dunia yang menjaga ketertiban yang sangat keras kepada bangsa lain yang tidak seiring dan sejalan seperti perang di Bosnia, Chechnya, Irak (year-2010), Afghanistan (year-2010), Vietnam (year), Kamboja (year), dan sebagainya, tapi lunak kepada Israil yang selalu melakukan kejahatan dalam keadaan perang dan damai terhadap warga Palestina (-berlangsung sampai hari ini). Dalam konteks Indonesia juga menarik untuk dikaji.

Ketika pusat mendominasi ‘kepemilikan’ Negara sebagai milik kelompok elite tertentu lalu memonopoli kebenaran, ide nation-state yang dijadikan pembenar untuk eksploitasi kekayaan daerah dan hanya untuk kemakmuran segelintir orang di Jakarta (rezim Soeharto: 1965-98) yang menimbulkan reaksi kuat dari pemimpin lokal dan masyarakatnya untuk bangkit juga dengan menggunakan istilah daerah kita, suku kita, masa depan kita yang terancam oleh kepentingan pusat yang sangat rakus mengeskploitasi ekonomi dan politik daerah. Karena ‘istilah bangsa kita’ yang didistorsi penguasa maka muncullah berbagai bentuk perlawanan melawan pusat seperti; Permesta (1957), Pemberontakan Ratu Adil (1950), DI/TII (1945-50), Komando Jihad-Komji (1968), Tragedi Tanjung Priok (1984 ), Talangsari (1989), Konflik etnis di berbagai tempat, agama lainnya era Soeharto dan Pasca Orde Baru, dan sebagainya dan berbagai variasi eksperesi lokalitas sampai hari ini dalam rangka melawan dominasi dan hegemoni pusat yang sembunyi dibalik ideologi “nasionalisme”, yang melanggengkan kekuasan terpusat yang diktator, predator, tyran, dan otoriter.

Kejadian diatas menunjukkan bahwa state menjelma jadi monster yang menteror rakyatnya. Kesimpulan Tidak bisa dielakkan bahwa miliaran orang di muka bumi sudah terpetakkan dalam berbagai nama nationality-nya karena administrasi di berbagai Negara menanyakan apa nasionality kita jika masuk atau keluar dari Negara. Hal ini seperti ‘takdir’ maski ada beberapa Negara yang tidak mengkategorikan sebagai bangsa tertentu seperti Malaysia yang terkotak atas China, Malayu, dan India.

Orang bisa mengklaim mempunyai nation tertentu secara sadar dan suka rela disertai rasa kepemilikan (self belonging), sementara yang lain identitas nasional dirinya hanyalah sebagai formalitas administrative alias tidak menganggap ini hal yang prinsipil sehingga nationalism tidak pernah bersemayam dalam otak dan pikirannya yang mengingatkan tetralogi novel karya Pramudya Ananta Toer (1980) bahwa kita adalah; The Child of All Nation. Artinya sekat bangsa ekslusif tertentu sudah melebur dalam warga Negara dunia-yang menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal.

Bagi penulis, istilah ‘bangsa kita’ itu secara sangat radikal berbeda implementasi dan dampaknya jika digunakan oleh negara lemah (weak state) miskin lemah tidak berdaya” dan negara kuat (strong state) yang dilengkapi dengan kekuatan militer dan tekhnologi perangnya. Semakin kuat suatu Negara, semakin ekspansionis bangsa tersebut. (baca kisah perang dunia 1,2) yang dipicu dari perlombaan senjata.

Daftar bacaan

Anderson, Benedict (1991). Imagined Community. London: Verso. Hobbes, T. (1968). Leviathen. London: Penguin Books Lane, M. (2008). Unfinished Nation, Indonesia Before and After Soeharto. New York: Verso. Roeder, Philip.G.(2007). Where Nation-State Come From, Insitutional Change in The Age of Nationalism. New Jersey: Princeton University Press. Rotberg, Robert I. (Ed). (2004). When State Failed, Cause and Consequences. New Jersey: Princeton University Press. Rotberg, Robert I. (Ed). (2004). State Failure and State Weakness in A Time of Terror. Massachusetts: World Peace Foundation. Robison, Richard (1990). Power and Economy In Soeharto’s Indonesia. Manila: The Journal of Contemporary Asia Publishers. Robison, Richard (1986). Indonesia, The Rise of Capital. North Sydney: A publication of the Asian Studies Association of Australia. Wanandi, Yusuf (2002). Indonesia Failed State?. The Washington Quarterly. The Center for Strategic and International Studies and the Massachusetts Institute of Technology. Hadiz Vedi R. (2005). Dinamika Kekuasaan, Ekonomi Politik Indonesia Pasca-Soeharto. Jakarta: LP3ES