David Efendi
Ketua Serikat Taman Pustaka

Kemampuan komunikasi dengan beragam/keunikan bahasa, kemampuan mencipta kebudayaan, dan kemampuan surivive (daya tahan) merupakan kemampuan dasar yang dimiliki spisies manusia Homo Sapiens. Di dalam mendukung kemampuan itu, Sapiens, tulis Yuval Noah Harari, memiliki hasrat mencari dan memahami pengetahuan, mendalami berbagai sumber informasi, menemukan pengalaman yang dapat dimanfaatkan untuk menemukenali karakteristik keadaan manusia lain, alam semesta, dan juga binatang-binatang. Kapan waktu menanam yang baik, kapan berburu yang tepat, dan kapan harus berpindah lokasi. Sejatinya, ilustrasi di atas adalah kekuatan literasi, subtansi dan atau kompetensi utama gerakan literasi yang sedang diperjuangkan jutaan orang.

Angka psikologis dan politik menunjukkan ada peningkatan sangat tajam ihwal hasrat ber-literasi di Indonesia baik dalam aspek potensi peningkatan jumlah individu yang terlibat, Komunitas, dan industri perbukuan yang semakin menunjukkan kebangkitan. Di level masyarakat secara umum, ada kenaikan tingkat kepercayaan diri yang baik untuk terlibat dan mengapresiasi gerakan literasi. Tahun-tahun 2010 ke atas adalah tahun-tahun yang lebih terbuka bagi jalannya gerakan literasi. Jika periode 2001-2009 terlihat keenagganan berkolaborasi dengan negara, tahun 2010 ke atas ada keberanian dan langkah lebih percaya diri bekerjasama dengan program negara. Salah satu dalihnya adalah Komunitas literasi bekerja sukarela membantu negara. Gerakan pembantu ini menandakan suasana berbeda dari karaker taman baca tahun 2000-an yang lebih dipicu oleh banyaknya pengangguran terdidik dan lepas dapat pekerjaan taman bacaan akan mati cepat atau perlahan.

Beruntung sekali ada Stian Haklev (2008) yangs ecara serius meriset pertumbuhan dan kemunduran gerakan literasi di Indonesia khususnya yang dilabeli sebagai Taman Bacaan. Sejak tahun 2001, di Indonesia telah ada suatu pergerakan dari kalangan individu, tingkat rukun tetangga, dan organisasi kemasyarakatan serta LSM yang memulai dan menjalankan perpustakaan mereka. Perpustakaan-perpustakaan sederhana ini dikenal sebagai Taman Bacaan. Lokasi mereka sering di rumah seseorang atau di dalam sebuah bangunan umum, dan menyediakan akses yang mudah dan bersifat informal untuk buku-buku dan banyak kegiatan- kegiatan literasi. Riset Haklav menelusuri kembali sejarah tentang TB mulai dari masa persewaan buku oleh keturunan Cina di abad 19, melalui Balai Pustaka dan pergerakan perpustakaan umum di masa pemerintahan Sukarno. TB modern mulai muncul di tahun 1980, lalu pemerintah mencoba menerapkan TB berskala besar di tahun 1990, dan pada akhirnya pergerakan masyarakat muncul di tahun 2001. Dokumen terbanyak menerangkan fenomena taman baca adalah sebagai fenomena pasca reformasi.
Menurut Haklev dalam laporannya yang diberikan judul Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Suatu Pertanyaan Fenomena Taman Bacaan Masyarakat ditermukan ada sejumlah faktor-faktor yang dapat dan mendukung pergerakan tersebut, yaitu: inspirasi tokoh teladan, “perpustakaan kusus terbaik”, jaringan-jaringan serta peran Islam dan nasionalisme. Di bagian akhir saya memberikan ihktisar mengenai situasi hari ini, yang menggabungkan statistik pemerintah dengan hasil survei yang dilakukan di Jakarta, yang menunjukkan ada tiga jenis TB, yaitu: TB yang dibentuk oleh pemerintah nasional, regional dan daerah, TB yang didanai oleh donor berskala-besar, dan TB independen yang didirikan oleh masyarakat setempat. Saya juga melampirkan beberapa rekomendasi bagi pemerintah dan para penyumbang.

Indeks baca ditengarahai naik lebih baik pada tahun 2019. Laporan kemendikbud tahun 2019 Indexs baca nasional berada dalam kelas sedang. Terobosan membuat indeks secara mandiri memang patut diapresiasi namun demikian ada tugas berat yang perlu dijalani yaitu mensinergikan gerakan literasi sekolah, gerakan literasi keluarga, dan gerakan literasi masyarakat. Ada banyak sarana prasarana yang perlu dibangun untuk mempertemukan titik jumpah antar varian gerakan, jenis, dan program gerakan literasi. Fungsi ihtiar ini adalah untuk memastikan gerakan literasi tumbuh dan senada dengan kamampuan dan daya yang besar masyarakat di dalam mengatasi beragam persoalan aktual yang ada. Jika literasi rendah, maka akan mudah terpapar kemiskinan.

Membaca progresifitas gerakan

Ada tiga hal utama melihat progresifitas gerakan literasi di Indonesia. Pertama, tumbuh kembangnya kelompok perpustakaan informal atau dalam terminologi negara disebut sebagai perpustakaan khusus. Jumlah Komunitas literasi non-negara ini mencapai 18% dari total jumlah perpustakaan di Indonesia. Jumlah perpustakaan di republik ini adalah kedua terbesar di Dunia setelah India. Perpustakaan khusus diartikan sebagai kelompok penyedia akses bahan bacaan yang dikelola secara independen, mandiri, dan sukarela. Setahun terakhir ini, kementerian desa juga mengklaim telah membina atau mendanai sebanyak 791 perpustakaan di desa dengan dana desa sebanyak 22,84 Miliyar pada tahun 2018. Klaim kementerian Desa, pada tahun 2018 desa yang memiliki taman bacaan meningkat 4.773 desa (60%) dibandingkan tahun 2014 (sumber Potensi Desa 2014, 2018). Sebagai tambahan, dalam catatan kemendikbud ada sebanyak 11.437 komunitas literasi dengan jumlah keterlibatan sebanyak 543. 736 orang di seluruh Indonesia. Keberadaan Komunitas ini telah membuktikan bahwa sharing pengetahuan akan menambah kompetensi hidup dan karakter yang lebih kuat sebagai bagian dari bangsa.

Perubahan karakter dari persewaan menjadi bebas pinjam dan baca adalah anugerah terbaik dari perkembangan kegiatan literasi di Indonesia. Sampai tahun 2004-an di Yogyakarta misalnya, jika seseorang berminat membaca komik maka datang ke Rumah sewa buku/komik yang mirip sekali dengan ruang Komunitas literasi. Namun sekarang akses bacaan serupa tidak perlu sewa bahkan dengan muda didapatkan di perpustakana rumahan, atau jalanan. Situasi ini harus dialamatkan pada kinerja prima para penggerakan literasi baik yang tergabung dalam simpul taman bacaan masyarakat, pustaka bergerak, serikat taman pustaka, perpusjal, dan lain sebagainya. Jumlah mereka ribuan dan tersebar relatif merata di berbagai daerah di Indonesia.

Kedua, tersinergikannya beberapa stakeholder yang mempunyai visi literasi yang sama khususnya dalam instansi pemerintah. Mindset yang semoga terus berubah adalah bagaimana negara beralih dari mindset proyek literasi menjadi gerakan literasi. Negara harus hadir untuk memastikan yang kurang akses mendapat akses pengetahuan. Itulah tanggungjawab mencerdaskan bangsa dan memberkuasakan rakyat. Sedikit memperlihatkan data jika ini layak dipercaya. Capaian yang dihasilkan dari tersinergikanya lintas intansi negara sebagai berikut. Tahun 2019, jumlah perpustakaan di Indonesia saat ini 164.610 perpustakaan. Jumlah Perpustakaan Indonesia Terbanyak Kedua Dunia. Berdasarkan data dari OCLC (Online Computer Library Center) Lembaga jejaring Perpustakaan yang berbasis di Amerika Serikat tahun 2018, menempatkan Indonesia menempati peringkat ke-2 dunia jumlah perpustakaan tertinggi. India menempati posisi pertama dengan jumlah 323,605 perpustakaan. Peringkat ke-3 Rusia 113,440 perpustakaan dan ke-4 China 105,831 perpustakaan. Adapun tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Indonesia dilaporkan oleh perpusnas dengan status Tinggi. Berdasarkan hasil survey dari NOP World CultureScore Index 2018, sebagaimana dilansir pada laman IFLA, menunjukkan bahwa kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat signifikan. Indonesia menempati urutan ke-17 dari 30 negara. Dalam hal membaca rata-rata orang Indonesia menghabisakan waktu membaca sebanyak 6 jam per minggu, mengalahkan Argentina, Turki, Spanyol, Kanada, Jerman, Amerika Serikat, Italia, Mexico, Inggris, Brazil, Taiwan dan Jepang yang rata-rata frekuensi membacanya 3 jam per minggu.

Perpustakaan Nasional juga terus mendorong pengembangan berbagai jenis perpustakaan di Indonesia melalui berbagai jenis pendidikan dan pelatihan tenaga perpustakaan, bantuan koleksi, TIK, mobil dan motor pustaka keliling, sarana dan prasarana perpustakaan, perlombaan perpustakaan dan pustakawan berprestasi, penghargaan tokoh penggerak kemajuan perpustakaan dan literasi serta berbagai kegiatan lainnya. Satu hal yang menarik dicatat adalah bahwa perpusnas telah serius mendorong pembangunan perpustakana inklusif untuk memperkuat struktur kesejahteraan masyarakat. Penguatan literasi dipercaya akan membawa bangsa Indonesia lebih maju.

Ketiga, kolaborasi antara industri perbukuaan dengan Komunitas literasi. Ada ribuan forum diskusi yang dihidupi oleh kerjasama penerbit, penulis, dengan Komunitas literasi. Salah satu wajah progresif (maju) yang dapat dibanggakan. Koalisi paripurna tiga kelompok ini sangatlah menentukan arah juang gerakan aktualisasi literasi di Indonesia. Terlebih, adanya program pengiriman buku gratis via PT POS telah mendinamisasi secara radikal gerkana literasi baik pembentukan maupun perkembangannya, sayang sekali, setelah setahun berjalan nampaknya kebijakan ini semakin memudari seiring beralihnya penyandang dana dari POS ke Kemendikbud yang diikuti dengan aturan main yang tidak populis bagi aktifis dana tau komunitas literasi. Petisi penolakan pun sudah dilayangkan di change.org namun pihak kemendikbud nampaknya bergeming. Membutuhkan ikhtiar lebih kuat, solid, dan berdaya tahan untuk menjadikan kebijakan free cargo literacy langsung dibebankan pada APBN sehingga lebih stabil dan berkelanjutan. Tanpa kesungguhan negara, bukannya saya psimis, sangat dimungkian sebuah gerakan literasi yang dahsyat akan berujung pada regresi yang menyedihkan.

Selain parameter di atas, ada juga kondisi yang sangat layak diapresiasi adalah semakin inklusifnya gerakan literasi yang dipelopori oleh masyarakat sipil dan juga negara. Gerakan literasi tak hanya soal kelas terdidik sekolahan dan universitas, tetapi merambah pada kelompok-kelompok yangs elama ini dianggap marginal dalam konteks kebudayaan baca tulis seperti petani, warga lapas, gerombolan ibu-ibu, kelompok masjid, anak jalanan, pedagang pasar, kelompok difabel, dan seterusnya. Hal ini mempelihatkan kondisi bahwa maju itu menjadi kebutuhan sekaligus hak semua orang. Meminjam Bahasa Dauzan Farook, siapa saja dapat menjadi penggerak literasi.

Jika hasrat berkembang dan membangun yang lahir dari gerakan aktualisasi literasi sedemikian menghebat, maka politik literasi sebagai politik etis yang seharusnya dihandle oleh negara adalah sebuah keniscayaan. Gerakan literasi sebagai gerakan berbagi pengetahuan, berbagi daya juang, berbagi kesejahteraan, dan berbagi masa depan. Sebuah nilai-nilai yang sangat mengedepankan pemberdayaan dan solidaritas sosial haruslah benar-benar diperjuangkan. Adakah kesulitan memberikan 7-10% dana APBN untuk urusan perbukuan: subsidi harga, pengiriman gratis untuk Komunitas, dan juga fasilitas perpustakaan khusus. Barangkali inilah moral politik yang menjadi etis di tengah ancaman regresinya gerakan intelektual di negeri ini yang ditandai dengan semakin meruncingnya jurang pemisah antar kelas ekonomi dan sosial, semakin tidak berdayanya masyarakat di hadapan mahkamah pasar dan pemerintahan. Wallahu a’lam bishawab.