Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Indonesia ini sangat kaya raya, di anugerahi Allah alam yang indah dan kaya akan segalanya, misalkan kekayaan lingkungan/ekologi atau keanekaragamaan hayati. Indonesia bersama Brazil disebut-sebut sebagai negara yang bisa melindungi kerusakan bumi akibat pencemaran global karena kedua negara ini memiliki hutan tropis yang luas, dan kekayaan maritimnya. Namun pemahaman tentang bagaimana menyelamatkan asset berharga berupa lingkungan di Indonesia ini masih belum begitu bagus. 

Misalkan saja Indonesia ini menempati peringkat ke-2 dalam hal pembuangan sampah plastik ke laut, dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Baru-baru ini media banyak melaporkan tentang ikan  paus yang terdampar di Wakatobi (November 2018) yang mati sebagai korban sampah plastik. Ditemukan diperut ikan paus itu 5,9 kg plastik antara lain terdiri dari 750 gr sampah gelas plastik (115 buah), 260 gr ato 25 buah kantong plastik, tali raffia 3.260 gr atau lebih dari 1.000 potong, karung nilon 200 gr, bahkan dua sandal jepit. Harian kompas juga pada tanggal 13 Desember 2018 di halaman depannya memuat foto sampah plastik dan potongn kayu berserakan di lokasi ditemukan bangkai penyu lekang yang mati dengan sebagian perutnya berisi plastik di pantai Congot, Kulon Progo, Yogyakarta.

Pemahaman tentang pentingnya menyelamatkan lingkungan ini menjadi fokus diskusi yang diselenggarakan PPMI (Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam) Unusa (Universitas Nahdlatul Ulama) Surabaya pada tanggal 13 Desember di kampus Unusa. PPMI ini dalah sebuah lembaga yang digagas Prof. Dr. Ir.Muhammad Nuh, DEA (menteri Komunikasi dan Informatika RI periode 2007-2009 dan menteri Pendidikan Nasional RI periode 2009-21014 sebagai ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya yang membawahi dua RSI dan Universitas NU Surabaya tersebut. 

Diskusi itu menampilkan Ir. Wardah Alkatri, M.A, Ph.D direktur PPMI Unusa, seorang aktivis lingkungan dan sociopreneur yang mempresentasikan hasil pemikirannya yang berjudul “ Eco Literacy di Era Digital, Ijtihad Untuk Bumi” dan mantan wartawan senior Ismid Hadad yang saat ini menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan KEHATI – Yayasan Keanekaragaman Hayati, sebuah yayasan konservasi keanekaragaman hayati. Baik bapak Ismid Hadad maupun Ir. Wardah membicarakan tetang kekayaan Indonesia dan bagaimana masyarakat Indonesia, terutama yang mayoritas Islam ini memiliki literacy atau pemahaman terhadap persoalan lingkungan serta bagaimana mengatasi persoalan lingkungan ini yang memiliki dampak tidak hanya di Indonesia tapi juga di tatanan global. 

Sering kali literacy tentang persoalan lingkungan ini jarang disentuh dalam ceramah-ceramah agama, atau bahkan di institusi pendidikan. Ir. Wardah berpendapat bahwa kultur dan agama sangat mempengaruhi human consciousness dan behavior atau kesadaran dan perilaku manusia. Karena itu kalau penyebaran nilai-nilai ajaran agama yang juga mengajarkan soal perlunya menjaga lingkungan tidak merasuk dalam jiwa ummat beragama, maka tentu kesadaran dan perilaku mereka akan sangat minim terhadap persoalan lingkungan ini.

Dalam hubungannya dengan hal ini Prof. Muhammad Nuh dalam pembukaan acara diskusi ini mengusulkan bahwa ijtihad mengatasi masalah lingkungan ini janganlah hanya dalam tataran literacy atau pemahaman, tapi sudah harus pada tataran Awareness atau kesadaran berwawasan lingkungan. Berbicara masalah awareness yang disinggung Prof. Nuh tadi, kita ingat ketika ada perhelatan kompetisi sepakbola dunia di Rusia pada bulan Juni 2018 lalu, ada pemandangan menarik dimana sekelompok penonton pertandingan sepakbola dunia ini dari Jepang membawa kantong plastik besar dan memungut sampah-sampah yang berserakan di stadion seusia pertandingan. Sikap penonton Jepang ini mendapat apresiasi luas di sosial media. Apakah itu pencitraan..? ternyata tidak, karena tingkat awareness atau kesadaran tentang lingkungan ini sudah “embedded” atau tertanam dalam benak orang Jepang mulai kecil sehingga awareness itu menjadi kebiasaan sehari-hari. Cucu saya yang lagi sekolah di sebuah SD di Hiroshima Jepang meng-konfirmasi cerita diatas karena di sekolahnya memang ada pelajaran bersih-bersih lingkungan secara reguler.

Dalam perspektif Islam di Indonesia, sebenarnya sudah banyak fatwa dari MUI misalnya, tentang lingkungan ini; namun fatwa itu hanya menjadi “a stand –alone approach” yang tidak memiliki dampak yang signifikan di pribadi-pribadi bangsa ini. Tentu di Kitab Suci pun banyak keterangan tentang lingkungan, kerusakan lingkungan yang di perbuat oleh diri manusia sendiri dsb. Agar pemahaman dan kesadaran tentang lingkungan ini efektif, Ir, Wardah yang di amini oleh bapak Ismid Hadad- mengusulkan dalam pemikirannya tersebut bahwa gerakan menanamkan kesadaran lingkungan itu haruslah “Community Based” atau muncul dari bawah atau masyarakat. Karena kalau hal ini bersifat instruksional dari atas maka kesadaran itu tidak akan “deep rooted” atau tertanam dalam-dalam di karakter bangsa ini, mau bersih karena disuruh-bukan atas kesadaran sendiri.

Unusa meskipun sebagai Perguruan Tinggi yang baru di Surabaya, lewat PPMI nya berusaha memulai tradisi membedah isu-isu penting bangsa ini dengan Critical Thinking, diskusi secara intens dan hasilnya dijadikan buku setiap tahunnya. Dan pemikiran Ir. Wardah yang bertema “ Eco Literacy di Era Digital, Ijtihad Untuk Bumi” adalah fokus rentetan diskusi di tahun 2019 yang nantinya akan menjadi buku.

Memang penanaman kesadaran dan pemahaman tentang lingkungan di negeri yang kaya raya ini haruslah menjadi sebuah Ijtihad yang mulia untuk kemaslahatan ummat manusia.

sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/12/16/ijtihad-untuk-masa-depan-bumi

.

*Alumni Universitas Airlangga dan

University of Lodnon

Staf Khusus Rektor Unair

Bidang Internasional.