Naomi Klein

 

Apa yang dimaksud dengan ‘gerakan an – globalisasi’ sebenarnya? Saya letakan is lah tersebut dalam tanda ku p karena saya segera dihinggapi dua keraguan mengenainya. Apakah benar itu merupakan sebuah gerakan? Jika memang itu merupakan sebuah gerakan, apakah benar mereka an -globalisasi? Mari kita mulai dari keraguan pertama. Kita dapat dengan mudah meyakinkan diri kita bahwa

itu merupakan sebuah gerakan dalam sebuah forum seper ini – dimana saya sudah begitu banyak menghabiskan waktu untuk mereka- berlaku seolah kita dapat melihatnya, dapat kita genggam dengan kedua tangan kita. Tentu kita benar-benar dapat melihatnya –dan kita tahu gerakan itu kembali ke Quebec, dan juga pada perbatasan AS-Meksiko

selama Pertemuan Puncak pemerintah AS dan pada pembahasan Area Perdagangan Bebas suatu belahan dunia. Namun jika kita meninggalkan ruang ini, pulang ke rumah, menonton beberapa acara TV, sedikit berbelanja ini itu dan segala rasa yang tadi masih ter nggal menguap begitu saja, dan kita merasa mungkin kita akan menjadi gila. Sea le (Ba le of Sea le -Penj.) –Apakah itu merupakan sebuah gerakan atau halusinasi kolek f semata? Bagi kebanyakan dari kita di sini, Sea le menjadi semacam pesta bersama untuk gerakan perlawanan global, atau “globalisasi harapan (globaliza on of hope)”, seper yang digambarkan oleh seseorang saat berlangsungnya World Social Forum di Porto Alegre. Tetapi bagi sebahagian orang yang lain, Sea le tetap berar kopi-berbusa yang melimpah, masakan campuran Asia yang mewah, Jutawan e-commerce, dan lm Meg Ryan yang sen men l –dan sekarang, banyak dari hal-hal tersebut hadir bebarengan secara ganjil.

Gerakan ini kadang kita hadirkan dengan berbagai nama yang berbeda: an -korporasi, an -kapitalis, an perdagangan bebas, an -imperialis. Banyak yang berujar bahwa itu semua bermula di Sea le. Yang lainnya bersikeras bahwa itu semua sudah dimulai dari 500 tahun yang lalu –sejak para kolonialis pertama kali memberitahu kepada penduduk pribumi untuk melakukan hal-hal berbeda jika mereka hendak “berkembang” atau

agar pantas dalam “perdagangan”. Yang lain lagi berkata bahwa itu semua bermula pada 1 Januari 1994 ke ka kaum Zapa sta melancarkan perlawanannya dengan kata Ya Basta! [Kata yang dipopulerkan oleh EZLN (Ejército Zapatista de Liberación Nacional/ Zapatista Army of National Liberation) dalam perjuangannya yang secara hara ah berarti: “Cukup Sudah!” -Penj] pada malam ke ka NAFTA (North America Free Trade Area -Penj.)menjadi hukum yang berlaku di Meksiko. Ini semua tergantung pada siapa kamu bertanya. Tetapi menurut saya akan lebih tepat jika kita menggambarkannya sebagai gerakan dari banyak gerakan (movement of many movement) –Koalisi dari banyak koalisi (coali on of coali ons). Ribuan kelompok saat ini bekerja bersama melawan kekuatan- kekuatan yang menjadi ancaman bersama yang dapat digambarkan secara luas sebagai priva sasi pada seluruh aspek kehidupan, dan perubahan dari se ap ak tas dan

nilai (value) menjadi komoditas. Kita sering berbicara perihal priva sasi pendidikan, jaminan kesehatan, sumber daya alam. Namun proses yang sebenarnya terjadi jauh lebih masif. Permasalahan itu melingkupi cara dimana gagasan-gagasan yang hebat diubah menjadi slogan-slogan pengiklanan dan tempat-tempat publik menjadi mall; generasi-generasi muda menjadi target- penjualan sedari mereka lahir; sekolah- sekolah dibombardir oleh berbagai macam iklan; kebutuhan dasar umat manusia seper air dijual sebagai barang komoditas; Hak-hak dasar bagi para buruh digulung balik; Gen manusia dapat dipatenkan dan designer bayi bermunculan; Benih tanaman telah diubah secara gene s dan diperjualbelikan; Para poli si pun juga dapat dibeli dan diubah.

Namun pada saat yang sama bermunculanlah usaha-usaha untuk melawannya, mengambil bentuk dalam berbagai kampanye dan gerakan. Semangat yang coba mereka tularkan adalah mengembalikan yang commons secara radikal. Saat ruang-ruang komunal kita –taman kota, jalanan, sekolah-sekolah, lahan pertanian, tetumbuhan –digan kan dengan menggelembungnya tempat berbelanja, sebuah semangat perlawanan muncul secara bersama di berbagai belahan dunia. Masyarakat merebut kembali sebagian dari alam dan kebudayaan mereka, sembari berkata “sekarang ini akan menjadi ruang publik”. Pelajar dari Amerika menolak masuknya iklan produk di ruang kelas mereka. Enviromentalis dari Eropa dan para ravers mengadakan pesta di persimpangan jalan yang sibuk. Para petani Thailand yang tak mempunyai tanah menanam sayuran organik di lapangan golf yang kelebihan irigasi. Pekerja Bolivia memutar balik priva sasi sumber air mereka. Tampilan seper Napster telah membuat semacam commons di dalam internet dimana remaja dapat bertukar musik satu sama lain, tanpa perlu membeli dari perusahaan rekaman mul nasional. Billboard telah terbebaskan dan jaringan media independen telah muncul di permukaan. Protes merebak. Di Porto Alegre, selama berlangsungnya World Social Forum, Jose Bove [3], sering digambarkan sebagai satu- satunya palu bagi McDonald’s, pergi bersama dengan beberapa ak vis lokal dari Movimento Sem Terra[4] menuju lahan uji coba milik Monsanto, dimana mereka menghancurkan ga hektar lahan kedelai yang telah diutak- atik secara genes. Namun gelombang protes tak hanya berhenti di sana. MST telah merebut kembali tanahnya dan para anggotanya mulai menanami sayuran organik

bersambung….

Akan tetapi sejumlah proposal yang bertujuan untuk mengubah pengembalian radikal yang commons menjadi produk hukum telah bermunculan. Ke ka NAFTA dan perjanjian sejenisnya dibuat, muncul pembahasan akan ditambahkannya “kesepakatan sampingan (side agreements)” ke dalam agenda perdagangan bebas, yang nan nya melipu perihal lingkungan hidup, tenaga kerja dan HAM. Sekarang sebuah perlawanan balik coba untuk menghalaunya. Jose Bove –bersama dengan Via Campesina, sebuah asosiasi petani global- telah melakukan kampanye untuk menanggalkan standar keamanan makanan dan produk pertanian dari seluruh perjanjian perdagangan, di bawah slogan bersama “Dunia ini dak untuk dijual (The World is Not for Sale)”. Mereka mencoba untuk menegaskan garis seputar yang commons. Maude Barlow, direktur dari Councils of Canadians, yang mempunyai anggota yang lebih banyak dari partai poli k manapun di Kanada, berpendapat bahwa air bukan merupakan barang privat, oleh karena itu dak seharusnya ada dalam perjanjian perdagangan manapun. Banyak dukungan diarahkan pada gagasan ini, terutama di Eropa sejak kelangkaan pangan terakhir kali terjadi. Secara umum kampanye dan privatisasi tersebut berjalan menurut cara mereka masing-masing. Namun sewaktu-waktu mereka bisa bergabung bersama –itulah yang terjadi di Sea le, Praha, Washington, Davos, Porto Alegre dan Quebec.

Melampaui Batas

Dengan demikian ar nya wacana yang selama ini ada harus bergan . Selama perjuangan melawan NAFTA, bermunculanlah sinyalemen akan berkoalisinya para pekerja yang telah terorganisasi, pencinta lingkungan, kaum tani dan kelompok konsumen di dalam suatu negara. Di Kanada, kebanyakan dari kita merasa harus senan asa berjuang untuk menjaga jarak bangsa kita dengan apa yang disebut sebagai “Amerikanisasi”. Di Amerika Serikat sendiri, tuntutannya sangatlah proteksionis: para pekerja khawa r bahwa orang Meksiko akan “mencuri” pekerjaan “kita” dan menurunkan standar lingkungan hidup “kita”. Sementara itu, suara orang Meksiko yang menentang persetujuan tersebut malah dak tampak di permukaan –padahal suara mereka adalah yang paling kuat diantara yang lainnya. Tetapi hanya dalam beberapa tahun berikutnya, perdebatan mengenai perdagangan telah berubah. Perjuangan melawan globalisasi telah berubah wujud menjadi pertarungan melawan korpora sasi dan, untuk beberapa orang, melawan kapitalisme itu sendiri. Perjuangan ini juga telah menjadi perjuangan untuk demokrasi. Maude Barlow mengepalai kampanye melawan NAFTA di Kanada 12 tahun yang lalu. Semenjak NAFTA disahkan, dia telah bekerjasama dengan para organisator dan ak vis dari negara lain, dan juga para kaum anarkhis yang senan asa merasa curiga dengan tatanan negara di tanah airnya sendiri. Perjuangannya memang pernah sangat kental bernuansakan nasionalisme Kanada. Namun saat ini ia sudah berpindah dari wacana tersebut. “Saya telah berubah”, suatu kali ia berkata, “Saya memang pernah memandang perjuangan ini untuk menyelamatkan sebuah bangsa. Sekarang saya melihatnya sebagai upaya menyelamatkan demokrasi.” Ini merupakan tuntutan yang melebihi kewarganegaraan dan batas-batas negara manapun. Pesan sebenarnya yang bisa dipe k dari Sea le adalah para organisator dari seluruh dunia mulai memandang perjuangan lokal dan nasional mereka –untuk pembiayaan sekolah publik yang lebih baik, perlawanan kepada pelarangan serikat pekerja dan kebijakan buruh kontrak, untuk pertanian keluarga dan perlawanan terhadap pelebaran jarak antara yang kaya dan yang miskin –melalui kacamata global. Inilah perubahan paling pen ng yang kita lihat belakangan ini.

Bagaimana itu bisa terjadi? Siapa atau apa yang telah menyatukan gerakan baru masyarakat internasional ini? Siapa yang memberikan arahan? Siapakah yang mampu membangun koalisi yang kompleks ini? Sangatlah menggoda untuk berandai-andai bahwa ada seseorang yang merangkai sebuah master plan untuk mobilisasi di Sea le waktu itu. Namun saya pikir kejadian tersebut lebih merupakan kebetulan dalam skala yang sangat besar. Banyak dari kelompok-kelompok yang lebih kecil mengusahakan dirinya untuk bisa sampai kesana dan menjadi terkejut betapa mereka telah menjadi bagian dari koalisi yang begitu luas dan beragam. Tetap saja, jika ada satu kekuatan yang mampu membuat semua ini menjadi nyata, maka kita patut berterima kasih kepada para korporasi mul nasional. Seper ucapan seorang ak vis dari aksi Reclaim the Streets, kita patut bersyukur kepada para CEO yang telah membantu kita melihat segala permasalahan menjadi semakin jelas. Terima kasih kepada ambisi para imperialis yang kukuh untuk segala tujuan korporasinya selama ini –pengejaran keuntungan yang tak kenal batas, dimungkinkan oleh deregulasi perdagangan, dan gelombang merger serta pengambilalihan saham, yang dimungkinkan oleh melemahnya undang-undang yang mengatur kompe si perdagangan –perusahaan mul nasional telah tumbuh dengan begitu bergelimang kekayaan, begitu banyak pemegang sahamnya, dan begitu luas jaringan globalnya, sehingga sanggup memunculkan sebuah koalisi kita untuk kita.

Di seluruh dunia, para ak vis telah menunggangi segala infrastruktur siap pakai yang disediakan oleh korporasi global. Hal ini dak hanya berar perserikatan lintas batas, namun juga pengorganisasian lintas sektor –antara para pekerja, pencinta lingkungan, konsumen, bahkan para tahanan, yang kesemuanya memiliki hubungan yang berbeda pada suatu mul nasional. Jadi sekarang kita dapat membuat sebuah kampanye atau koalisi bersama seputar sebuah merek seper General Electric. Terima kasih kepada Monsanto, para petani di India bekerjasama dengan para pecinta

lingkungan dan konsumen dari seluruh dunia untuk menginisiasi sebuah aksi langsung- strategis yang memotong peredaran makanan transgenik di lahan pertanian dan supermarket. Terima kasih kepada Shell Oil dan Chevron, para pekerja HAM dari Nigeria, kaum demokrat di Eropa, para pencinta lingkungan di Amerika Utara dapat bersatu melawan perusakan oleh industri minyak. Terima kasih kepada raksasa katering Sodexho-Marrio ’s atau keputusannya untuk berinvestasi di Correc ons Corpora on of America, para mahasiswa dapat memprotes pengerukan keuntungan besar-besaran Amerika atas industri penjara hanya dengan memboikot makanan di kafetaria kampus mereka. Target lain termasuk perusahaan obat-obatan yang mencoba untuk memperlambat produksi dan distribusi obat AIDS yang murah. Baru-baru ini, para mahasiswa dan pekerja di Florida menyatukan aksi seputar Taco Bell[5]. Di daerah St. Petersburg, para buruh tani –kebanyakan dari mereka imigran dari Meksiko –dibayar rata- rata $7,500 per tahun untuk meme k tomat dan bawang. Karena mempunyai kelemahan dalam persoalan hukum, mereka sama sekali dak mempunyai posisi tawar: bos dari para petani tersebut bahkan selalu menolak berbicara kepada mereka perihal gaji. Sewaktu mereka mencari tahu siapa yang membeli sayuran yang mereka pe k, mereka mendapa bahwa Taco Bell merupakan pembeli terbesar tomat yang dihasilkan di daerah tersebut. Lalu dilancarkanlah kampanye Yo No Quiero Taco Bell (Saya dak menginginkan Taco Bell -Penj.) bersama dengan para mahasiswa, untuk memboikot Taco Bell di lingkungan kampus Universitas.

Nike, tentu saja, yang paling membantu dalam mengawali sebuah sinergi ak visme jenis baru ini. Para mahasiswa menghadapi pengambilalihan oleh korporasi di kampus mereka dengan logo Nike dan juga telah terhubung dengan para pekerja yang membuat segala macam peralatan peralatan olah raga kampus, begitu juga para orang tua yang menaruh perha an pada komersialisasi kaum muda dan kelompok gereja yang berkampanye melawan eksploitasi buruh anak-anak –semuanya bergabung dengan hubungan yang berbeda-beda terhadap sebuah musuh global bersama. Melihat kelemahan dari sebuah merek ternama yang telah memungkinkan permulaan dari gerakan ini, semacam respon terhadap narasi lain dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut yang didengungkan hampir ap hari lewat iklan dan hubungan masyarakat. Ci group6 menawarkan target utama yang lain, sebagai ins tusi keuangan terbesar di Amerika Utara, dengan pemegang saham yang sangat banyak, yang sering berurusan dengan beberapa perusahaan yang paling bermasalah. Aksi penolakan atasnya mengikat bersama lusinan isu sekaligus –dari pembalakan habis- habisan di California hingga skema pipa minyak di Chad dan Kamerun. Proyek ini hanyalah permulaan. Namun membentuk semacam ak visme baru: “Nike adalah pintu masuk bagi semuanya”, tutur seoranga ak vis mahasiswa dari Oregon, Sarah Jacobson.

Dengan memfokuskan diri pada korporasi, para organisator dapat menunjukan secara nyata betapa banyak isu sosial, ekologi dan keadilan ekonomi yang terhubung satu sama lain. Tidak ada ak vis yang saya temui percaya bahwa perekonomian dunia dapat dirubah dengan aksi kepada sebuah korporasi semata, namun berbagai macam aksi yang dilakukan telah membuka pintu ke dunia rahasia dari perdagangan dan keuangan internasional. Secara langsung mereka mengarahkan kita kepada ins tusi pusat yang menentukan aturan perdagangan global: WTO, IMF, FTAA (Free Trade Area of the Americas), dan untuk beberapa orang pasar itu sendiri. Di
sini disadari juga bahwa musuh bersama kita adalah priva sasi –saat hilangnya yang commons. Tahap selanjutnya dari negosiasi WTO ditujukan untuk memperluas jangkauan dari komodi kasi lebih jauh lagi. Melalui kesepakatan sampingan seper GATS (General Agreement of Trade and Service) dan TRIPS (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights), tujuannya adalah untuk tetap menjamin perlindungan pada hak milik pada benih tanaman dan paten obat-obatan, dan untuk mengkomersialisasikan pelayanan publik seper jaminan kesehatan, pendidikan, dan pasokan air.

Tantangan terbesar yang kita hadapi adalah untuk menyaring semua ini menjadi sebuah pesan yang dapat diterima secara luas.

Banyak ak vis paham bahwa hubungan yang mengikat antar berbagai macam isu terjadi secara intui f –seper halnya ucapan Subcomandante Marcos, ‘Zapa sme bukan merupakan sebuah idiologi, tapi sebuah intuisi.’ Namun bagi orang di luar gerakan, pandangan umum mengenai protes-protes
itu tampak sedikit kabur. Jika anda menilik gerakan tersebut dari sisi luar, seper kebanyakan orang, anda dapat mendengar apa ke dak harmonisan dari banyak seruan yang terpisah-pisah, berbagai macam tuntutan berbeda yang campur aduk dan tanpa tujuan jelas. Dalam Pertemuan Nasional Demokra k (Democra c Na onal Conference) di Los Angeles tahun lalu (tahun 2000 -Penj.), saya ingat sedang ada di luar Staples Center selama konser Rage Againts the Machine, dimana saya hampir saja tertembak, dan berpikir bahwa terlalu banyak seruan untuk banyak hal dimana-mana, mengarah pada suatu absurditas.

Kegagalan Mainstream

Kesan seper ini diperkuat dengan struktur gerakan yang non-hirarkial dan tak terpusat, yang selalu tampak membingungkan bagi media tradisional. Konferensi pers yang dipersiapkan dengan baik sangatlah jarang, ke adaan pemimpin yang karisma s, gelombang protes yang ada cenderung tumpang ndih satu sama lain. Bukannya membentuk sebuah piramida (struktur komando -Penj.), seper halnya kebanyakan gerakan, dengan pemimpin di puncak dan pengikut di bawahnya, gerakan itu justru lebih mirip jaring laba-laba yang kompleks.

Di satu sisi, struktur seper jaring (web) ini merupakan hasil dari pengorganisasian berbasis internet. Namun itu juga merupakan sebuah respon nyata terhadap realitas poli k yang akhirnya memercikkan aksi protes: Kegagalan total dari partai poli k tradisional. Di seluruh dunia, warga negara telah telah berusaha untuk memilih partai pekerja maupun sosialis demokrat, hanya untuk melihat mereka (partai-partai tersebut -Penj.) mengaku tak berdaya di hadapan kuasa pasar dan dikte dari IMF. Dalam kondisi seper ini, ak vis modern dak sebegitu naïf untuk percaya bahwa perubahan akan datang dari poli k electoral. Itulah kenapa mereka lebih tertarik untuk menantang struktur yang telah membuat demokrasi tak bertaring lagi, seper halnya kebijakan pengaturan struktur pemerintahan oleh IMF, kemampuan WTO untuk mendominasi kedaulatan nasional, pembiayaan dana kampanye yang korup, dan lain sebagainya. Dengan demikian, ini dak hanya sekedar berbuat karena keterpaksaan. Namun lebih pada sebuah respon pada tataran idiologis yang memungkinkan suatu pemahaman bahwa globalisasi dalam sebuah kondisi krisis representasi demokrasi. Apa penyebab dari krisis ini? Salah satu alasan mendasarnya adalah cara kekuasaan dan pengambilan keputusan diestafetkan semakin menjauh dari warganya: dari lokal ke provinsial, dari provinsial ke nasional, dari nasional ke ins tusi internasional, yang sangat berkekurangan dalam hal transparansi dan akuntabilitas. Lalu apa solusinya? Untuk menggagas sebuah alterna f, demokrasi par sipatoris.

Bila anda memperha kan muasal dari berbagai macam protes kepada WTO, hal ini dikarenakan pemerintah di seluruh dunia telah mengadopsi sebuah model ekonomi yang mengikutsertakan lebih dari sekedar pembukaan diri atas arus barang dan jasa. Inilah mengapa sama sekali dak berguna untuk menggunakan bahasa an -globalisasi. Kebanyakan orang dak mengetahui dengan pas apa itu globalisasi, dan is lah tersebut membuat sebuah gerakan menjadi sangat rapuh terpapar sebuah pernyataan seper : “Jika anda an terhadap perdagangan dan globalisasi, lalu kenapa anda masih meminum kopi?” Walaupun dalam kenyataannya sebuah gerakan merupakan sebuah penolakan akan sesuatu yang telah jadi satu paket dengan perdagangan dan globalisasi –melawan seperangkat kebijakan poli k yang mengubah se ap negara di seluruh dunia, dimana mereka dituntut untuk menerima kebijakan itu agar negerinya menjadi semakin “ramah” untuk datangnya investasi. Saya sebut paket kebijakan ini “McGoverment”. Sebuah paket happy meal yang terdiri dari pemotongan pajak, priva sasi layanan umum, liberalisasi regulasi, pemberangusan serikat pekerja –lalu apa tujuan sebenarnya? Untuk menyingkirkan apapun yang menghalangi keberadaan pasar. Biarkan pasar bebas berjalan sendiri, dan permasalahan lain biarlah diselesaikan secara trickle down e ect[7]. Hal ini dengan demikian bukan lagi tentang perdagangan. Ini tentang penggunaan perdagangan untuk memaksakan resep McGoverment.

Jadi pertanyaan yang harus kita kedepankan hari ini, dalam konteks pelaksanaan FTAA, bukanlah: apakah anda mendukung atau menolak perdagangan? Namun pertanyaannya adalah: apakah kita mempunyai cukup hak untuk menegosiasikan posisi kita dalam hubungan kepada modal asing dan investasi? Dapatkah kita memutuskan bagaimana kita melindungi diri kita dari bahaya yang dibawa oleh pasar bebas –atau apakah kita harus menolak keputusan itu? Masalah ini akan menjadi semakin parah saat kita berada pada resesi ekonomi, karena selama booming ekonomi banyak yang telah hilang dari apa yang hanya kita miliki dari jaminan sosial. Selama masa dimana ngkat pengangguran rendah, kebanyakan orang dak terlalu memperdulikannya. Mereka lebih tertarik pada masa yang akan datang. Isu paling kontroversial yang dihadapi oleh WTO adalah pertanyaan tentang penentuan nasib sendiri. Contohnya, apakah Kanada berhak untuk melarang bahan bakar yang merusak lingkungan tanpa harus dituntut oleh perusahaan kimia asing? Jawabannya dak menurut pada peranan WTO pada permintaan Ethyl Corpora on8. Apakah Meksiko mempunyai hak untuk menolak

izin pendirian tempat pembuangan limbah beracun? Jawabannya dak menurut Metalclad[9], perusahaan Amerika yang sekarang menuntut pemerintah Meksiko 16,7 juta dollar karena pelanggaran NAFTA (North America Free Trade Area). Apakah Perancis mempunyai hak untuk melarang daging sapi yang diutak-a k secara hormonal untuk memasuki negara tersebut? Jawabannya dak menurut Amerika Serikat, yang menyerang balik dengan melarang impor dari Perancis seper keju Roquefort –mempercepat seorang pembuat keju bernama Bove (Jose Bove -Penj.) untuk menghancurkan McDonald’s; Amerika pikir ia hanya dak suka hamburger. Apakah Argen na harus memotong anggaran sektor publiknya hanya untuk memenuhi syarat pinjaman luar negeri? Jawabannya ya, menurut IMF –memercikkan serangan umum untuk melawan merupakan konsekuensi sosialnya. Maka isunya pun sama dimana- mana: memperjualbelikan demokrasi dengan gan datangnya modal asing.

Dalam cakupan yang lebih kecil, perjuangan yang serupa agar mampu menentukan nasib sendiri dan menjamin kelangsungan hidup sehari-hari dilancarkan kepada bendungan- bendungan yang dibangun dengan uang World Bank, bermacam praktek pembalakan liar, Factory farming[10], dan pengeksploitasian

Kita perlu menunjukan bahwa globalisasi –versi kita tentang globalisasi- dibangun di atas dasar kesejahteraan masyarakat lokal. Yang sering terjadi, hubungan antara yang global dan yang lokal ini tak pernah terajut. Malah kadang-kadang sering berjalan sendiri- sendiri. Di satu sisi, terdapat ak vis an – globalisasi di ngkat internasional yang begitu menikma kejayaan perjuangan, namun kelihatan memperjuangkan isu yang sangat melangit, dak mengakar ke dalam pergulatan harian ap- ap orang. Mereka tampak begitu eli s: remaja kulit pu h kelas menengah dengan rambut gimbal. Sedangkan di lain sisi terdapat komunitas ak vis yang berjuang demi kelangsungan hidup sehari-hari, atau untuk menjamin keberadaan hak-hak publik yang paling mendasar, yang seringnya sudah merasa usang dan patah semangat. Ujar mereka: Apa yang membuat kalian begitu bersemangat?

Jalan yang paling mungkin ditempuh kedepannya oleh dua kekuatan ini hanyalah dengan melakukan penggabungan. Apa yang sekarang disebut sebagai gerakan an -globalisasi harus menjelma menjadi ribuan gerakan lokal, melawan cara-cara yang digunakan oleh politik neoliberal secara langsung di “lapangan”: dak adanya tempat nggal, dak dibayarkanya gaji para pekerja, semakin melambungnya harga sewa, kekerasan oleh polisi, dak memadahinya kapasitas dan kualitas penjara, kriminalisasi para pekerja migran, dan lain-lain. Ini juga merupakan perjuangan tentang segala macam isu yang membosankan: hak untuk bisa menentukan sendiri kemana akan kita

buang sampah kita, untuk memperoleh sekolah publik dengan kualitas yang bagus, untuk dapat memperoleh akses air bersih. Dengan demikian dalam waktu yang bersamaan, gerakan-gerakan lokal yang melawan priva sasi dan deregulasi di masing- masing tempat mereka berada perlu untuk menghubungkan kampanye mereka menjadi sebuah gerakan global bersama, dimana dapat ditunjukkan wacana-wacana par kular milik mereka sangatlah cocok untuk menjadi agenda ekonomi internasional (alterna f -Penj) yang ditawarkan ke seluruh dunia.

Jika hubungan itu dak terbentuk, maka kebanyakan orang akan menjadi mudah patah semangat. Apa yang kita butuhkan adalah memformulasikan sebuah framework poli k yang sekaligus dapat menandingi kuasa dan kontrol korporasi serta memperkuat pengorganisasian di ngkat lokal dan penentuan nasib sendiri. Seharusnya memang ada sebuah framework bersama yang menyemanga , merayakan, sekaligus dengan handal mampu melindungi hak untuk ber- bhineka: kebhinekaan budaya, kebhinekaan lingkungan hidup, kebhinekaan agrikultural, -dan tentu saja, kebhinekaan poli k:berbagai macam cara untuk menghidupi yang politik. Setiap komunitas harus mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut merencanakan dan bersuara tentang sekolah-sekolah mereka, pelayanan publik mereka, lingkungan dan alam tempat mereka hidup, menurut kebutuhan dan kebijaksanaan masing-masing. Tentu saja, semua ini hanya mungkin dilakukan dalam kerangka standar bersama secara nasional dan internasional –perihal pendidikan publik, emisi bahan bakar, dan lain sebagainya. Namun tujuan utamanya dak bisa terlalu jauh mengawang-awang, hal ini harus dilaksanakan dengan langsung secara demokra s di tempat masing-masing kita berada.

Kaum Zapa sta mempunyai sebuah is lah yang tepat untuk ini. Mereka menyebutnya “satu dunia dengan banyak dunia di dalamnya”. Beberapa orang mengkri k ini sebagai zaman baru tanpa adanya jawaban. Mereka menginginkan adanya sebuah rencana pas . “Kita tahu apa yang diinginkan oleh pasar terhadap semua ini, kalau

engkau apa yang ingin kau lakukan? Mana rencanamu?” Saya pikir kita tak perlu takut untuk menjawab: “Itu semua dak bergantung pada kita”. Kita perlu memiliki kepercayaan kepada kemampuan masyarakat untuk mengatur diri mereka sendiri, untuk membuat keputusan yang paling baik untuk mereka.

Kita perlu menunjukan kerendah-ha an dimana sekarang begitu banyak arogansi
dan paternalisme11. Untuk percaya pada kebhinekaan manusia dan demokrasi lokal bukan sekedar omong kosong. Segala macam cara akan digunakan oleh McGoverment untuk melawannya. Ekonomi neoliberal akan menjadi bias pada se ap hal yang berujung pada sentralisasi, konsolidasi, homogenisasi. Ini merupakan sebuah perang yang ditujukan kepada kebhinekaan. Melawan hal-hal tersebut, kita memerlukan sebuah perubahan yang radikal, dengan terus berpegang pada satu dunia dengan banyak dunia di dalamnya, yang juga berar “satu kata dak dan banyak kata ya (the one no and the many yesses)”.

_____________

[3] Jose Bove merupakan seorang petani dari Perancis yang juga merupakan juru bicara dari Via Campesia sebuah asosiasi petani global. Dia aktif dalam berbagai protes terutama protes anti perang dan anti globalisasi. Pada tahun 1976 pernah dipenjara karena merusak dokumen milik militer sebagai sebuah protes atas perluasan kamp militer di Larzac. Pernah maju dalam pencalonan presiden Perancis pada tahun 2007, sekarang ia menjadi anggota parlemen dari partai hijau sejak tahun 2009. -Penj.

[4] Landless Worker Movement atau Gerakan Pekerja tak Bertanah merupakan sebuah gerakan sosial dari Brasil yang memperjuangkan reformasi agraria dan pembebasan lahan -Penj.

[5]. Taco Bell Merupakan sebuah waralaba kedai makanan cepat saji dari Amerika yang menjual berbagai macam makanan khas Meksiko seperti Taco, Burritos, dll. -Penj.

[6] Merupakan perusahaan keuangan Amerika terbesar yang pada krisis nansial dunia tahun 2008 menyatakan diri bangkrut karena ulah para bankirnya yang melakukan spekulasi ‘kotor’. Perusahaan ini ditolong oleh program bailout besar-besaran pemerintah Amerika. -Penj.

[7]. Dimana kekayaan yang berpusat di atas (kalangan ter- batas orang kaya) pasti suatu saat akan menetes (trickle) ke bagian masyarakat lain di bawah yang jauh lebih miskin. Sebuah bualan yang tak pernah terbukti, juga di Indonesia sejak zaman Orde Baru Soeharto. Yang terjadi justru yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin tertindas. -Penj.

[8] Ethyl Corporation merupakan perusahaan yang mem-
produksi bahan bakar tambahan dari Virginia, Amerika
Serikat. Pada tahun 1997 menggugat pemerintah Kanada
karena dianggap melanggar NAFTA dengan melarang
produk Ethyl Corporation di Kanada. Alasan dari peme-
rintah Kanada untuk masuknya produk Ethyl Corpora-
tion adalah terdapatnya kandungan berbahaya dalam
produknya yang membahayakan kesehatan publik. -Penj.

[9]. Metalclad merupakan sebuah rma berasal dari Amerika Serikat yang bergerak di bidang pengerukan tanah untuk mengubur limbah hasil industri. Pada tahun 1993 ketika beroperasi di Meksiko, masyarakat setempat terserang penyakit akibat polusi limbah. Pada tahun 1995 ketika pemerintah Meksiko tidak lagi memberikan izin pada Metalclad untuk beroprasi di tempat tersebut, rma tersebut malah menuntut pemerintah Meksiko dengan dasar pelanggaran pasal 11 dari NAFTA. -Penj.
[10]. Merupakan praktek pertenakan yang menempatkan hewan ternak dalam kurungan dengan tingkat kepadatan(density) yang sangat tinggi, dimana perternakan tersebut beroperasi layaknya sebuah pabrik.

[11]. Mengacu pada tata hirarkis-patriarkis yang selalu menempatkan manusia pada suatu tingkatan-tingkatan hi- rarki yang tidak memungkinkan adanya kesetaraan -Penj.