Reuni keluarga sebagai salah satu kekuatan sosial keagamaan yang sangat utama. Tradisi keguyuban pada bulan syawal biasanya dirayakan dengan beragam kegiatan keluarga seperti syawalan Bani ABC atau anak cucu XYZ, arisan Trah, dan beragam festival kebagusan lainnya yang sangat kreatif: pengajian akbar, apresiasi karya keluarga, panggung prestasi, dan bahkan serangkaian foto foto (selfie dan groufie) sebagai aktifitas kontemporer yang mana semua itu berguna untuk upgrade soliditas kekeluargaan, penyegaran pilar kehidupan religius/spiritual anggota keluarga.

Penggunaan kata reuni dan kebagusan dalam catatan artikel ini punya maksud tersendiri. Jika reuni dapat diganti atau dipertukarkan dengan silaturahim yang punya dimensi duniawi dan ilahi (pentingnya Silaturahim ini dapat dilihat dari catatan tausyiyah Kiai Abdurrahman tarih 1438H yang disampaikan di Rumah Ndukun) maka kata kebagusan juga mewakili “sepertiga agama” atau bahkan itu jauh lebih besar dari itu.

Islam itu indah, maka perindahlah hati, pikiran dan tindakan. Perbagus seluruh dimensi kehidupan karenanya, islam akan menjadi agama samawi (abrahamic) yang bermartabat, unggul, utama dan menjadi jalan terbaik untuk sampai pada derajat makrifat–ridhoNya. Dalam kebagusan juga akan memantik perbuatan baik, rasa syukur, dan terus bersiklus tanpa akhir sampai pada waktu yang tak terbatas.

Asal kejadian itu suci yang mana suci itu berati benar, baik, dan indah. Begitu tafsif M Quraish Shihab yang saya kira sangat memberikan kredit kepada kata kebagusan. Kebenaran harus berbuah kebaikan dan kebaikan yang terus dirawat akan menjadikan kehidupan indah. Di dalamnya kedamaian, persaudaraan, kesyukuran, penghargaan, dan pemuliaan antar warga dunia. Dimensi iman yang indah dan suci tentu saja akan menjadi penghubung dunia yang fana dengan akherat yang kekal, konektor atau Ary Ginandjar (founder SQ) bilang bahwa godspot antara ketauhidan dengan kehendak sang pencipta. Ya, itu peristiwa batin yang menghubungkan antara yang profan dengan yang transenden, yang kasar dan yang halus, yang ganjil dan genap. Dalam keindahan atau kebagusan iman, islam, dan ihsan seseorang inilah akan muncul kehidupan paripurna yang membawa kemuliaan demi kemuliaan, sambung menyambung menjadi satu.

Kita telah menyaksikan, prestasi anak cucu cicit Bani Kastam-Aslikah ini, yang dosen, yang guru, yang ustad ustadzah, yang dai kecil, qori’, yang teknisi, yang inovator sosial, yang pemikir, bisnismen, pengusaha super sukses, yang petani sukses, yang chef, yang pejuang, yang tukang kebagusan, yang driver, yang biker, yang minta ganti presiden dan ganti petinggi, ada semua. Sebagai Keluarga besar, kebagusan ini harus disyukuri karena syukur itu separuh agama, separuh lainnya adalah sabar. Itu kira kira sidikit hal agama yang saya tahu.

Rekaman audio (terarsip) tausyiyah Pakdhe Dul pada tanggal 2 Syawal di kopen kemarin sangat perlu disarikan bila perlu ditranskrip langsung karena penting sekali dua bagian itu: pertama soal titik kisar awal sejarah keluarga,pribadi Abdurrahman yang connected dengan Mbah Kastam dan Aslikah serta rekaman suasana batin pendidikan Islam di Godog. Bagian kedua, adalah sejenis tasawwuf modern ala Kiai Abdurrahman al Godoqi al maskumambangi yang saya kira tidak banyak berbeda dengan praktik “sufinya” buya Hamka atau AR Fahruddin. Pembedanya mungkin soal hukum merokok.

Bagian pertama, masa kecil dikisahkan pakdhe Dul di Godog tahun 50-an atau 60-an (butuh koreksi) , sebelum ada sekolah Muhammadiyah sudah berdiri msdrasah Islamiyah (perlu dituliskan lebih detail) yang mengajarkan murid murid skill pidato atau cetamah. Istilah lain dari ujian lisan pada saat itu. Pakdhe Dul termasuk anak belum cukup umur yang maju ke mimbar yang membuat suasana meria lantaran kecil, ragaduk mimbar, dan dipanggil maju hanya berisi salam dan membaca sejenis pantun yang dipesan khusus oleh “panitia”. Begini bunyinya:” turu gardu bantal kentongan, kalah dadu keloyongan.” Kebayang, di masyarakat Godog tahun tahun itu masih jahiliyah, abad pertengahan nan gelap gulita. Namun, pengakuan pakdhe Dul, pengalaman “maju ke tampil”(bahasa MC Muhadhoro IPM Godog tempoe doeloe juga yang terekam oleh saya) ini sangat menancap sehingga kemampuan Pidato pakdhe Dul disyukuri sebagai kebagusan yang insyallah berguna untuk melakoni hidup di dunia dan insyallah akherat kelak. Keterampilan ini layak sejajar dan atau lebih baik/meningkat dari kehebatan-kehebatan mbah Kastam di bidang pertanian, nyingkal (benerin mata alat singkal/bajak sawah). Memang ada sedikit sesal dari pakdhe Dul, mengapa mbah Kastam sedikitpun tak mewariskan ilmu tangan adem pertanian kepada anaknya. “…pa’e mendukung anak agar belajar, menemukan duniany sendiri yang berguna untuk hidupnya kelak.” hal ini kelihatan sekali bahwa orang tua sudah punya bayangan masa depan itu tidak sama dengan masa lalu sehingga keterampilan lain, penguasaan bidang lain harus dimiliki anak anaknya.

Kesan pakdhe Dul soal mercon yang dibuatkan mbah Kastam (bapaknya) itu luar biasa walaupun bukan pakdhe dul sendiri yang bisa membunyikan, tetapi karena merconnya bunyi dia suka cita ndak kepalang tanggung. “sebagai orang tua, harus mencari cara upaya bagaimana cara membuat anak anak terkesan dan terhubung dengan orang tuanya.”, begitu salah satu hikmah tausyiyah bagian Pertama: masa kecil. Kisah kisah serupa, kenakalan anak, peristiwa purek, dsb juga pernah ditulis oleh Buya Hamka dalam bukunya kenang-kenangan bersama Ayah. Anak anak buya Hamka juga menuliskan hal yang serupa tentang sosok ayahnya, Buya Hamka. Ini barangkali yang disebut al ilmu nuurun (plesetannya, ilmu yang menurun) akibat daya cahaya pengetahuan yang memancar tak pernah padam.

Bagian kedua isi nasehat pakdhe Dul adalah seputar perlunya dan dominannya atau sentralnya peran hati dalam keselamatan hidup manusia. Iman yang aktif dan islam yang menyelamatkan adalah cita cita tertinggi setiap pemeluknya. Arifin Ilham, AaGym, dan Ary Ginandjar Agustian dijadikan contoh model model ustadz kekinian yang menekankan dan mengutamakan urusan hati untuk menggapai makrifat dan syafaat di dunia sampai yaumul akhir. Tiga metode ustadz ini menurut pakdhe Dul dapat/harus disatupadukan karena muaranya sama: iman tauhid yang memberhasilkan sampai pada derajat paling unggul.

Dalam uraiannya, kiai Abdurrahman (Bukan Agus Salim Rahman yang kiai Semesta BerMaiyah) mencontohkan kisah dalam hadis ihwal seekor lalat yang bisa mengantarkan seseorang ke surga yang di dalamnya mengalir sungai yang jernih, Juga dapat menggelincirkan seseorang ke dalam api neraka yang deritanya tak ada bandingnya. Inilah keutamaaan niat dan tauhid berhadapan dengan kesirikan. Tidak ada jaminan, ahli jihad, ulama, dan dermawan didalam hatinya bebas polusi niat/anti musyrik sehingga hati harus dijaga kesuciannya dan keteguhannya dalam iman yang lurus (udhullu fii silmi Kaffah)

Di pamungkas catatan ini perlu disampaikan beberapa testomoni bagus dari silaturahim kebagusan keluarga Bani Kastam dan Aslikah ini. “tetap kompak dan jangan pecah.”, salah satu kalimat koentji kak Rofiq (putra Tokoh Umaro’utama desa Godog, Bapak Thoha/Bu Kholimah). Juga antusias di kalangan muda mudi bapak ibu budhe pakdhe yang kemarin sudah merembug kegiatan festival kebagusan keluarga ini dua tahunan sekali yang insyaallah tahun berikutnya shohibul baitnya keluarga Budhe Kholimah/Pak Rofiq and brothers. Insyallah dapat ketemu lagi dalam suasana bathin yang damai. Silaturahmi ini tentu sebagai ikhtiar manusia merawat kebaikan dan kebagusan secara berjamaah

Semoga catatan dari HP butut ini ada kemaslahatan yang dapat dipetik untuk bekal hidup. Semua kesalahan datang dari saya dapat dikoreksi dilengkapi, Semua kebenaran, kebaikan, kebagusan dari dan akan bermuara kepada Allah Swt. Fastibiqul Khairat, Nuun Walqolami wamaa yasturuun, al birru mani taqo. Matur nuwun sudah dibaca, mohon dikoreksi jika ada salah nama dan peristiwa.

Kopen, 2 Syawal 1439H