Tanpa pandai bersyukur teramat banyak kesengsaraan itu. Tanpa merasa hidup sebagai ibadah, sepuluh tahun waktu sia sia. Tanpa keinginan yang kuat belajar, sepuluh tahun seperti karnafal kebodohan yang panjang. Tanpa cinta, kehampaan sepuluh tahun itu menyakitkan jiwa raga. Tanpa kasih sayang dan kepercayaan, sepukuh tahun hanyalah reruntuhan harga diri dan putus asa.

Tanpa kesetiaan, akan banyak hati yang remuk redam. Love you tanpa padam.

Jogokaryan, 6 syawal 2018

Entah ini puisi yang kebarapa ratus yang aku tulis dan entah yang keberapa yang saya kirim kepada istri saya. Hari-hari ya diselingi dengan fadhilah-fadhilah sastra dan keajaiban buku karena itu sepenggal kegembiraan yang saya miliki entah sampai kapan. Kadang saya tak mau kebebasan saya dihempaskan oleh ikatan ikatan emosional lain, oleh orang lain sehingga seringkali saya lebih senang membelanjakan uang untuk urusan buku dan komunitas buku ketimbang untuk memberikan hiburan pada istri dan anak-anak. Tentu saja ini tindakan seorang suami yang aneh.

Tapi apakah kekonyolan saya ini mengandung konsekuensi? bisa saja istri saya tidak ikhlas dengan kisah-kisah hidup ala kadarnya ini. Bisa saja istri kurang piknik, kurang puas, kurang nonton, dan sebagaianya dan seterusnya. Tapi saya ingin mempertahankan jati diri saya tanpa saya buat-buat. Soal istri akan protes kepada tuhan? protes kepada presiden, saya dengan senang hati ikut menyimaknya.

Kali ini saya ingin menuliskan apa saja yang ada dalam pikiranku detik dan menit ini di tengah malam. Tulisan ini saya akan berikan kepada istri saya yang sekarang berjarak kurang lebih 80 KM dari saya. Saya di Jogja, dia di Lamongan bersama anak-anak. Jarak tak pernah memisahkan kasih sayang, jika semua saling percaya. Begitulah pelajaran dari long distance lover yang pernah kami berdua membacanya. Dulu istriku pernah membaca novel Diorama Sepasang Albana, jika tak salah. Tentu menarik, karena di dalamnya ada eksotisme melukis dalam kehidupan rumah tangga. Aku hanya membaca tak selesai buku itu. Ini cerita sebelum kami menikah, kira-kira saat SMA ya.

Benar waktu SMA yang kami tak pernah serius amat mengenai persahabatan sebab saya sendiri cukup sibuk dengan dunia SMA. Secara gitu, ketua umum OSIS di sekolah terbaik se-Lamongan. Tidak sombong, emang keren seorang bukan siapa-siapa dari kampung alias ndeso dapat  kesempatan menjadi ketua OSIS. Keren kan? ‘ya iyalah’, ya nggaklah, meminjam kata Hafiz. Anak saya pertema, umur delapan. Dia punya dua adik laki-laki yang super.

Alhamdulillah. Pasti saya bersyukur atas segala cinta Allah kepada kami semua. Hari ini tepat 7 syawal, sepuluh tahun yang lalu kami menambatkan ikatan berdua dalam ikatan yang kuat lillahi ta’ala untuk bekerja sama, berjuang, mengejar cita-cita, memperkuat, saling percaya, saling setia, saling berbagi bahagia, dan semua semua harus menjadi satu bangunan yang kokoh untuk kelak kejayaan di dunia dan di akherat. Hidup yang sederhana ini harus banyak disyukuri: anak-anak yang sehat adalah rizki, tiga amanah anak adalah kepercayaan Allah kepada kami berdua bahwa kami bisa mengurusnya, memuliakannya, dan kelak akan membawa semua pada derajat kebaikan. Insyallah.

Rasa syukur sangat penting dalam hidup saya sehingga sebisa mungkin tidak membuat rizki yang diberikan Allah tak berguna dalam hidup kita. Tiga manusia kecil adalah karunia besar, tiga anak adalah rizki luar biasa yang tak mungkin kami sendiri bisa menghadirkan ke dunia. Tiga manusia ini harus menjadi perhatian sangat serius agar kelak dapat berkembang, tumbuh, besar menjadi pribadi yang mulia dan dapat memuliakan kehidupan.

Dengan dinamika keluarga kecil di tengah kota ini, Alhamdulillah saya masih bisa membeli buku, menulis, mengajar, berbagi, belajar dalam komunitas dan mencatat urusan politik. Semua ini saya kerjakan dengan kesadaran paling unggul, semua saya lakukan dengan bahagia tanpa terpaksa. Semoga kiranya tuhan selalu bersama usaha dan mimpi kami semua.

Hari ini juga, bertepatan sepuluh tahun pernikahan, saya menyelesaikan pendaftaran sekolah doktor di UGM demi menghindari menunda-menunda karena Tuhan tak memberikan bocoran kapan kontrak kehidupan ini kelar. Mimpi S3 di luar negeri sambik jalan saja, tetap berupaya tetapi yang didekat dulu haruslah dikejar agar waktu tak membunuh kita perlahan-lahan dan kita lalai. Bismillah, kemualiaan hanya milikNya dan kepadanya bermuara. Kita semua mengharap pancaranNya, pantulan cahayanya yang benderang. Kita berupaya, Tuhan yang memuliakan dan mewujudkannya.

 

 

Jogokaryan, 7 Syawaal 1439 H/21 Juni 2018