Tulisan pendek Petinggi Jangan Alergi “Diganti” adalah sejenis kritik.Semua pejabat seharusnya tak kaget dan marah dengar kata #ganti. Artikel ini merupakan serial esai yang saya sumbangkan untuk memelihara tradisi kritik dan berdemokrasi di masyarakat. Bukan hanya gejala politik Godog saya rasani, di mana saja karena kekuasaan tanpa dikritik itu mencelakakan, penguasa yang alergi kritik juga sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Sudah tabiat, wis lakone, bahwa kekuasaan cenderung menyimpang. Wong sik nduwe jabatan biasa iku nggedabrus, mlete, petentang petenteng, raduwe isin, njuk berkuasa tanpa akal. Ini fenemana umum. Nasib, situasi buruk kedaden alias terjadi di kampung Godog.

Karena potensi dan daya rusak kekuasaan, maka perlu sekali aktor aktor independen, otonom, berani, kritis, iso dipercoyo yang terus menjadi kekuatan penyeimbang dan kekuatan perubahan bila penyimpangan sudah membuat sebagian besar orang tak nyaman. Sholat rakkhusuk, mangan rapenak, berkarya dibatasi, izin dipersulit, tabbayun ndak ada guna, ya keadaan ini menjadi pembenar kaum muda dan masyarakat kritis bergerak lebih nyata.

Hak Demokratis sebagai Fitra manusia

Memilih dan dipilih merupakan mekanisme hasil dari musyawarah. Fondasi demokrasi kita itu masih musyawarah, bukan murni one man one vote seperti negera sekuler liberal yang banyak dibanggakan negara berpenghasilan rendah yang lagi demen demokrasi. Ada basis sosial dari praktek elektoral yang tak dapat diremehkan: legitimasi etis dan sosial itu lebih penting ketimbang sekedar memenangkan suara mayoritas atau menang saja.

Pemenang ndak perlu gumede, lalu ngasorake tumrap liyan mentang mentang menang suara coblosan dalam pemilu lokal. Perlu disadari, sistem demokrasi itu ibarat beli barang mewah tanpa garansi dan asuransinya. Ora saitik kepala daerah brengsek, maling brandal, puluhan petinggi di penjara, kepala desa dan cariknya melarikan istri orang, ora saitik mereka terjerembab dalam mental dan moral yang bobrok. Bukan semata karena kekuasaan mengubahnya, banyak juga menang karena kebrandalan dan keburukan akhlaknya sehingga setan pun ikut nyoblos dalam pemilihan umum itu.

Keliru rek, tsumma keblinger namanya nek menang njuk merasa hebat dirinya terbaik di mata manusia dah tuhan. Pilkades ity kayak karambol utowo gubak sodor wae, ora ono hubungan karo kepinteran, ketinggian moral, kecerdasan, dan lain lainnya. Pernah pengalaman kecil saya, sek dipilih dadi ketua kelas yo sing mbuandek nuakal pol. Tek ngopo dipilih? Kelas dadi aman, sopo ngerti bocah kui tambah apik megane diweneni amanah. Nek wis pengalaman ngene iki, ora nggumun nek Trump menang, Duterte menang, Petinggi ABC XYZ yo menang, Bupati bandit, walikota preman kae yo menang, dan lain-lainnya.

Iki sinau bodoh bodohan wae lek. Ini menandaskan, sistem pilihan itu bukan sistem terbaik. Itu adalah sistem yang bobroknya minimalis dari sistem bobrok maksimalis atau jahilun kubro. Jadi, nek ada orang berekspresi ganti presiden, ganti camat, ganti caleg, ganti ketua Muhammadiyah itu hal yang sangat normal dan diperbolehkan. Patologinya ya sabaliknya, kalau ada orang ndak mau diganti, pengen njabat sakmodare, ingin jadi ketua saklawase, pengen nabrak aturan untuk jadi presiden sak umur hidup. Itu namanya penyakit yang harus diatasi.

Saya sarankan, petahana itu mbok santai saja, anggap saja itu energi yang harus diterima untuk memperbaiki keadaan, untuk mengoreksi diri. Apa mau langsung dipanggil diperingatkan oleh Mailaikat izrail? Nek siap ya gek ndang disebul terompete kono. Kok dadi ruwet urusan ganti petinggi wae, Lek. Nek sek entuk ngomel, tak tambahane limo opo enem paragraf mene disambi karo ngantri buko puasa.

Demokrasi berbasis pemilihan liberal itu hanha bisa ditututi atau harus dilawan dengan demokrasi berbasis kebijaksanaan sosial. Kebijakan sosial inilah yang dikenal dengan kearifan lokal. Kearifan lokal atau etika sosial sebagai cermin nurani masyarakat ini nilainya lebih tinggi dari hukum formal.

Artinya, kalau ada masyarakat menuntut petinggi lengser mergo kasus kasus sek terbukti meyakinkan, maka tuntutan itu bernilai lebih tinggi dari pada absahnya jabatan secara hukum. Suharto lak lengser perkoro iki ta, cak. Secara hukum, demo demo itu tak bisa membatalkan kedudukan panglima perang atau presiden. Tapi, secara. Etika sosial dan politik, kekuatan massa itu mbebayani bagi petahana atau boso inggrisnya pihak status que atau incumbent.

Mugo mugo wis onok point sik iso ditangkep pikirane awak dewe yo. Iki omelan wong kurang ngopi, wis dianggep angin wae sopo ngerti angine iso nggo tomboh ongkep jagad Godog.

Perlu baca puisi ini dulu untuk mbedah kritik dan manfaat kritik bagi kehidupan. Ini mas Thukul wis mewariskan mantra mantra sik apik kanggo awak dewe, bocah enom-enom:

Peringatan!

jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat bersembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat berani mengeluh

itu artinya sudah gasat

dan bila omongan penguasa 

tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

Puisi ini berjiwa karena ditulis oleh korban persekusi tanpa ampun oleh penguasa. Di zaman itu, dianggap PKI. Tapi puisi ini sudah familiar dan akrab di dunia santri, termasuk kader Muhammadiyah.

Banyak orang berkuasa bilang, siap dikritik siap diberi masukan. Tapi ketika dilakoni, wajahnya merah padam dan pihak pengkritik pemberi masukan dikucillkan, dianggep ora bolo. Senenge mung sing barisan ABS opo sesama likers saja. Takut dengan oposan dan dengan kasat mata membangun demarkasi dengan masyarakat yang tidak sejalan dengannya. Inilah mental tempe bosok hasil proses demokrasi. Enggan menerima perbedaan pendapat tapi mau menerima tambahan pendapatan saja. Situasi ini menunjukkan pihak penguasa berkhianat pada nilai nilai demokrasi itu sendiri.

Mengapa seseorang harus membuang alerginya tehadap kritik? Inilah manfaat ktitik dan oposan bagi kesehatan masyarakat secara luas. Pertama, kritik itu akan memicu kerja lebih baik dan lebih optimal. Kritik itu bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial politik. Bahkan, ngurus masjid saja bisa dikritik apalagi ngurus desa. Ngeritik dan menjadi tukang kritik itu kegiatan dan profesi yang dijamin UUD 1945 dan juga oleh versi amandemen. Nabi wae pernah dikritik oleh anak buahnya saat menjalankan strategi perang dan bisa menerima kritik serta melaksanakan perubahan. Kok antum, manusia zaman now, kok anti kritik sampek nggetem ngunu kui piye, Lek?

Manfaat kritik lainnya, adalah bahwa kritik itu menunjukkan relasi penguasa dan yang dikuasai,atau dalam bahasa lain, pemerintah dan masyarakat masiha da hubungannya yang saling memperbaiki. Bisa dibayangkan, pemimpin yang dicuekbebeki warganya apa malah ndak pusing, atau petinggi yang radigagas, dijarke sak karepe, sak kayang-kayange sak urip uripe, apa malah ndak susah? jadi, kritik pertanda hidup berjalan dan kekuasaan tidak semena-mena.

Banyak penguasa tumbang karena tak mampu memaknai kritik. Tradisi kririk itu adalah praktik kehidupan setara dan sama kedudukan di masyarakat sebagai prinsip kodrat manusia. Dalam Filsafat Tsao atau mengenai alam bahwa semua manusia memiliki kebebasan dan kesederajatan–hanya dalam keadaan inilah naluri kritis dan parktik kritik dapat hidup subur untuk memperbaiki keadaan. Cicero, misalnya, menegaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi kebaikan, keutamanaan, keunggulan. sehingga dengan demikian, seorang penguasa sangat tidak memungkinkan merasa atau mau memonopoli semua potensi manusia yang dipancarkan oleh Tuhan. Maka, kritik tidak bisa dipidanakan.

Lalu mengapa kok ujian berat Godog ini seolah tak mampu di tanggulangi? ini pertanyaan serupa dengan ungkapan Pemuda Luqman: ebdi iki sik dunung engko, yo ganti petinggi yo urusan NU? itu menunjukkan betapa berat persoalan yang disandang kaum muda desa ini. Saya pun juga berat rasanya menjawab syukur saya tak punya kewajiban menjawab. Sing wajib kudune wong sak ndonyo. Namun, saya kok merasa ilmu geni, ilmu banyu yang dulu mahsur di Godog tak begitu berguna hari ini. Hilangnya kekuatan sakti warga Godog ini memperparah keadaan. Kita suprplus sarjana, tapi minus orang sakti. Coba bayangkan, kalau orang sakti kita masih punya, kepala desa bisa tiba-tiba hilang suaranya, atau pas sambutan tiba-tiba hujan petir sehingga ujaran-ujaran tidak berfaedah hilang bersama angin badai di lokasi sholat iedul fitri. Kisah-kisah orang sakti ini rasanya tak ada lagi sehingga desa kita diliputi persoalan yang tak sanggup orang orang memikulnya.

Kita, maksudnya saya, kok tiba tiba kangen orang sakti yang dapat menghadapi semua muslihat jahat yang sedang bergentayangan di desa ini. Kisah-kisah orang sekti mandraguna ini bagus sekali diuarikan oleh Kuntowijoyo dalam novelnya Wasripin dan Sutinah dimana pak Mudin dan Wasripin ini kok sakti banget yang bisa mengatasi kejahatan negara dan dukun santet.