Saat khotib Iedul Fitri selesai khutbah di lapangan Perguruan Muhammadiyah Godog, ditafsir oleh petahana kepala desa (kades) sekitar 20 persen melakukan aksi WO sebagai protes ketidaksukaan kepada kades dan juga ekspresi pro hastag Ganti Petinggi #2019GantiKadesBaru. Jamaah iedul fitri meradang, kepala desa terbakar emosi sampai lupa menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

Kekalahan telak itu adalah saat kepala desa tak mampu berucap minal aidzin wal faidzin kepada seluruh warga desanya. Ini bukan kali pertama.

Arti 20 persen apa?

Sambutan jadi sangat politis. Inilah kesempatan yang selalu dimanfaatkan oleh incumbent atau petahana pandai menyusup dalam kesempatan. Berterima kasihlah pada Muhammadiyah Godog yang sangat baik menghargai petinggi, coba jika tak diberi sambutan. Apa soal? NdK melanggar hukum sebagaimana kata kata pak Kades, “NU godog berdiri tidak melanggar hukum”

Itulah balasan yang konyol dari seorang yang dihargai. Persoalan belum selesai, menjadi netral tetapi bertolak belakang dari keinginannya menjadikan masyarakat godog damai sejahtera. Banyak kontradiksi di dalam sambutan kades yang seolah sedang berkampanye pemilu kepala desa.

Arti 20 persen itu dianggap bukan warganya. Ini naif sekali, kepala desa mengekslusi ratusan orang yang jelas jelas warga Godog. Bahkan, di godog orang tak ber KTP godog saja masih menjadi warga dan berperan di dalam banyak urusan. Warga godog yang ber KTP malaysia juga tetaplah warga Godog, warga muhammadiyah. Bisa saja 20 persen itu dianggap bukan warga godog, tetapi jelas sekali darah daging muhammadiyah mengalir dan menggumpal dari dalam jiwa raga 20 persen. Jangan sepelekan dua puluh persen. Mereka anak anak muda, masa depan Godog.

Adapun yang duduk bertahan di lapangan bukan berarti pendukung kepala desa, itu salah, kepala desa berfikir dikotomis: yang dengerin sambutannya adalah pendukung, yang bubar adalah lawan. Ini konyol Seoerti Trump atau Duterte yang gagal paham dan suka kontroversial yang tak penting.

Klaim pejuang kesejahteraan

“saya fokus sejahterakan ummat”. Duh kepala desa ini benar benar sedang kampanye pemanasan pilkades. Tidak pada tempatnya, itu membuat jamaah iedul fitri babak belur batinya. “semua kepala desa bisa melakukan karena dana dari pusat.”, “bantuan dana propinsi godog adalah satu satunya yang dapat.” kok membual banget kesannya, ini buah kesombongan walau beliau bilang tidak menyombongkan diri. Arena sambutan jadi obral obril omongan yang berbau perang perebutan dukungan politik elektoral.

Saya mengutipkan salah satu artikel di majalah hismag, “semoga pemerintah desa bijak menyikapi pendirian NU di Godog”. Langsung direspon tidak bijak dalam sambutan. Apa pasal?

Seharusnya, pak Kades lebih banyak mengapresiasi anak anak muda dan warga Godog yang sangat baik dan dewasa pikirannya. Mereka sebagian besar dapat mengendalikan diri walau tidak suka kepemimpinan desa tetapi tetap menunjukkan aklah al karimah, begitulah etika Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah di mana saja menghargai pemerintahan desa dan tentu saja berani menyampaikan kritik konstruktif.

Jangan nanya solusi apa yang diberikan Muhammadiyah. Itu namanya ndak tahu sejarah. Jangan salah, Muhamadiyah ranting Godog terus berbuat kebaikan, setia pelayanan segala lini kehidupan. Sehingga muhammadiyah sejatinya kiprahnya tak dipengaruhi oleh siapa kadesnya, bahkan jika sandal jepit pun yang jadi kadesnya Muhammadiyah tetap bersinar terang di Godog. Bukan begitu? Ya memang itu adannya.

Tindakan menjadikan warga godog sabagian adalah musuh politik petahana, itu penyebab fitnah dan dusta yang diproduksi dari etika politik yang buruk. Seorang pemimpin yang netral dapat merangkul semua baik pendukung atau oposisi kepala desa. Netral bukan berarti semua dapat dilakukan asal tak melanggar hukum. Di atas hukum ada kearifan lokal, ada nurani, ada etis.

Berdirinya NU tak melanggar konstitusi, tetapi sangat bisa itu melanggar etika sosial dan adat pergaulan masyarakat yang telah ratusan tahun dirawat. Respon petinggi terhadap pendidirian NU jelas tidak arif dan tak bijak.

Pengalaman buruk sambutan di hari raya ini harus dijadikan pelajaran, ada baiknya sambutan kepala desa agar tak kontroversi dan merusak suasana kebatinan pasca khutbah, sambutan kepala desa dibuat pagi banget saat orang sedang mulai kumpul di lapangan dan karena akan sholat maka sambutan tak bisa panjang. Setelah khutbah, sambutan ranting Muhammadiyah boleh panjang. Ini namanya merawat kebaikan bersama.

Saya pribadi memang masih kayak anak muda pada umumnya, tak takut berbuat salah. Termasuk dalam catatan ini. Jika keliru, monggo diluruskan.

Tulisan oret oret Ini bagian dari sinau saja, jangan anggap ini hukum apalagi fatwa. Ini obrolan sebagai warga saja, saya tidak ktp godog, tetapi secara sosial dan adat keluarga, saya masih dan akan tetap menjadi bagian desa Godog. Administrasi ktp bukan alasan untuk tidak boleh berkata kata

Terakhir, sikap Kades terhadap pendirian NU di Godog oleh “bukan orang godog” netral. Netral iki piye? Monggo diudar ben cetho.

Kawan, Dalam banyak hal sikap netral itu lebih dilihat sebagai tindakan politik main aman sementara sesungguhnya tidak netral. Apakah jokowi netral dalam pilihan pilihan sosial dan politik? Ya jelas tidak. Jokowi punya tanggungjawab meningkatkan elektabilitas PDIP, membantu memenangkan kepala daerah yang diusung PDIP, membuat program yang mengayomi pemilihnya dan pemilih PDIP. Jadi, sikap netral itu harus diperjelas. Kalau semua organisasi dijual dipaksadirikan ke Godog dan warga menolak, apakah sikap netral kades membawa masalahat? Yo iso modar siji modar kabeh nek opo opo netral ala beginian. Netral itu konotasinya negatif dalam politik, sering dipeyorasikan sabagai sikap pengecut dan munafik. Maka, hati hati bilang “saya netral.”

Banyak orang menghendaki, seHarusnya iedul fitri memang tak dibalut amarah, gerakan ganti presiden mengalir sampai godog hanyalah Dinamika lokal dan itu adalah harga politik bagi seorang politisi desa bernama kepala desa.

Mak tratap. Jika anak anak muda berkumpul dan protes, penguasa harus waspada. Kekuasaan atau bahasa halusnya kepemimpinan yang kehilangan kepercayaan oleh kaum muda itu adalah kejatuhan legitimasi politik paling buruk dalam peradaban sistem demokratis ataupun diktator. Kaum muda punya mukjizat politik yang tak dimiliki golongan mana pun. Salah satu mukjizat terdahsyatnya adalah mereka pemilik masa depan atau penentu warna rupa hari esok. Seperti dalam muhadhoro IPM yang pernah kita ikuti: pemuda hari ini, pemimpin besok. Akhirnya, selamat mengasah diri jadi pemimpin Godog pada tarih depan untuk memenuhi tantangan provokatif sang incumbent. Salam #2019GodokPastiLebihBaik.

Saya renung renungkan, di masyarakat Godog ini ada loyalitas ganda yang sangat faktual. Cinta habis habisan kepada Muhammadiyah dan desa. Cinta desa tak pernah identik cinta kepada kepala desa? Loyalitas penuh seluruh pada Muhammadiyah berarti kepada kepemimpinan kolektif kolegial ranting Muhammadiyah. Posisi ini menjadikan keadaan: kepala desa boleh datang dan pergi atau pemerintah jalan ala kadarnya, masyarakat masih punya pegangan kepemimpinan Muhammadiyah. Inilah yang disebut posisi “ambivalen” Muhammadiyah sebagai ‘negara’ dalam negara yang ramai dibincang orang. Kenapa?karena kekuatan otonomi relatif dan independensi Muhammadiyah dari skema keuangan pembangunan negara. Ini sejenis pride dan prestise Muhammadiyah semata, kebanggaan itu mengalir dari darah anak anak muda Godog juga.

Kalau ada yang mencoba merusak mengobrak abrik pranata sosial keagamaan di Godog bagaimana? Tidak ada jawaban lain, pasti ada reaksi serius dari kalangan muda mudi Godog. Mempertahankan Muhammadiyah itu sudah sama persis dan sebangun dengan mempertahankan pancasila: sila kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, sila persatuan yang menekankan keutuhan masyarakat nan bebas dari adu domba. Jelas, adanya NU mendatangkan fitnah dan dusta yang asimetris. Konon, kepala desa menyangkal telah merekomendasikan musholah ahlus sunna wal jamaah di pinggiran desa Godog (sumber : pengurus PRM Godog).

Tindakan mempertahankan keutuhan Muhamadiyah oleh kaum muda pada hakikatnya adalah bukti terima kasih mereka kepada jasa jasa Muhammadiyah. Celupan prinsip dan nilai hidup Muhammadiyah mendekatkan masyarakat pada tradisi prestasi, etos kejujuran, kerja keras, menghargai kehidupan dan keguyuban masyarakat, terdidik, berwawasan luas, bermoral etis, dan sebagainya.

Jadi ungkapan, “biarkan yang NU hanya lima gelintir itu saja. Orang yang namanya dicatut jadi pengurus NU saja ndak apa apa, kok sampean ribut.”(tanpa kurangi makna kutipan tidak sama persis pernyataan kades), jelaslah ini pernyataan pembelaan diri yang konyol dan tidak netral. Pernyataan ini juga ganjil, lari dari tanggung jawab, bahkan seolah seperti ingin memadamkan api besar mengganas dengan satu semprotan ludah. Sakti tenan kadesmu,Lur. Tapi yo pasti, ora iso cah.

Jayalah terus Muhammadiyah Godog, sekali layar dakwah terkembang tak pernah surut ke belakang. Muhammadiyah godog saatnya satukan barisan shof dan tatap dakwah masa depan: aksi pelayanan untuk kesejahteraan masyarakat lahir dan batin.

Godog, 1 Syawwal 1439 H