Ahlan Wa Sahlan Saudara Muda NU Di Kampoeng Muhammadiyah

Banyak cacahnya, Muhammadiyah hadir lahir tumbuh dan berkembang di kampoeng kantong Nadhiyin. Tidak berlaku sebaliknya. Gairah modernisasi islam, islam reformis dan lembaga lembaga pendidikan Muhammadiyah menyerbu secara sentripetal dan sentrifigal, ke desa ke kota, ke desa lagi ke kota lagi tanpa lelah hingga ribuan lembaga, jutaan warganya. Muhammadiyah sudah besar meraksasa, apakah masih relevan mengirikan saudara mudanya tumbuh di halaman belakang atau samping rumah?

Kabar NU akan berdiri di Godog, kampoeng yang dibunyikan 100 persen Islam Muhammadiyah. Sebuah kampung yang tak jauh dari aliran bengawan solo di Lamongan, Jawa Timur. Di desa ini ranting sangat subur, semua ada di desa berpenduduk dua ribuan* ini kecuali rumah sakit dan PTM. Gedungnya magrong magrong sangat unggul di zamannya. Ranting yang meluber aktifismenya sampai ke negeri Jiran dgn keterlibatan di PCIM Kualalumpur, PRIM dan PRIA di Malaysia. Anak anak mudanya sudah membanjiri kota kota dengan kreasi dan kreatifitasnya masing-masing. Godog harusnya tetap besar di tengah proporsi keragaman yang makin berwarna. Godog adalah warisan kemajuan yang besar dalam kisah. kenyataannya masih terus dinegosiasikan oleh para pelaku sejarah dan orang orang di dalam dan di selubung luarnya.

“Muhammadiyah godog harus sudah mulai Keluar dan melangkah Dari selubung kebesaran sejarah muhammadiyah.. Kaum muda bergerak.”, kata Kak Maslahul, pemimpin muda Muhammadiyah Laren yang juga senior Hismag. Cak Aam, dosen muda di Kampung mentereng Unibraw Malang pun andil dalam merespon kejutan atas pendirian NU di Godog. “iki tantangan besar Godog mengelola keberagaman yg selama ini barang mewah,” kata cak Aam. Dan kedewaaan kaum muda yang pernah tercelup didikan Muhammadiyah nampaknya makin dewasa melihat zaman yang tumbuh tak selalu simetris dengan jalan pikiran kita. Lahirnya NU sebagai adik di Godog adalah kabar baik, tapi bisa bagi orang orang adalah kabar buruk. Saya lebih senang memberi ucapan welcome ketimbang mengusir atau mengalianasi mereka dari sistem sosial yang telah terbangun. Piye kok iso ngono awakmu? Lah justru kalau mengusir itu bukan tindakan ummat wasattiyah, islam rahmatan lil alamien. Sesok tak tekon mbah Nun nek petok tanggal 14 15 rencana ono selonjorab bareng warga salam dengan cak Nun. Tapi ngene iki sek yo posisiku: Mendirikan organisasi dijamin konstitusi tertinggi NKRI. Ya sedikit resiko nama, Hilanglah status kisah “300 persen Muhammadiyah” yo bener wong jengene cinta. Wajarlah. Walau dalam gretek dalam hati yo ra ikhlas, tapi yesss, rapatkan barisan. Bersama NU, Fastabiqul khairat sejati punya kesempatan hadir.

NU bukan Noda

Ya jangan sampai kita sesekali dalam hidup menamai orang islam lain, sesama islam sebagai noda. Kita juga tak suka diperlakukan begitu. Muhammadiyah di Bierren dianggap aliran sesat oleh ulama tradisional Aceh. Masjidnya di bakar berkali kali, apa perlu kita juga membakar tempat suci? Apa perlu kita mau masuk surga dengan tiket kesombongan dab keangkuhan luar biasa di hadapan mahluknya, di hadapanNya pula. Tak ada surga bagi orang yang ada di dalam hatinya sombong. Itu kata pak Guru Syamsi saat pelajaran hadis di SMP Muhammadiyah Godog. Sekarang mengamalkan islam di tengah tekanan tekanan dan ketidaknyamanan sebagai perjuangan paling aktual ummat islam.

Sejarah bergerak, manusia kadang tertinggal dari kereta pergerakan zaman dan juga idealogi di dalam denyut nadinya sendiri. Bukan tidak mungkin Muhammadiyah hilang dari Indonesia apalagi Godog? Marahkah kita jika suatu hari Muhammadiyah terbelah jadi dua. Di utara jadi Bumi, di selatan jadi Matahari mengikuti takdir desa Bulubrangsi atau beraduk aduk seperti Brangsi dan Karanglo. Kita tak bisa mengendalikan diluar diri kita? Bisa? Tuhan yang menghendaki, yang menggerakkan!

Jika suatu hari Godog separuh NU separuh Muhammadiyah, apa kita akan marah kepada tuhan?

Saya belum lama membaca tesis mahasiswa unair soal sejarah Muhammadiyah Jombang, dokumen data terkumpul dan klaim kesimpulannya: muhammadiyah di jombang tak dapat berdiri tanpa restu kiai kiai NU di sana di tahun 1930an. Jadi memang Muhammadiyah jombang sowan nembung dulu ke kiai NU. Hebat juga Muhammadiyah jombang ini,perilaku yang sangat mulia, assalamualaikum dulu

Perlu juga orang NU di godog nembung dulu kali ya, assalamualaikum warga Muhammadiya Godog, mhn maaf dulur enom bade ngrusuhi Muhammadiyah. Niki jamaah NU saitik ten godog niki nyuwun sewu badhe diopeni mugi berkah kagem sedeyo. Mohon berkenan njih. Kira kira begitu kasarane leh nembung.

Saya tidak takut akan pendapat yang salah, sik penting orang harus mengedepankan mencegah mudhorat dan baru mengutamakan maslahat

Ngono yo ngono tapi ojo ngono jarene petatah petitih wong jowo. Jadi sewajarnya tamu itu kulo nuwon walaupun ndak kulo nuwun itu tidak membatalkan posisi sebagai tamu. Merasa gagah gagah dewe, merasa kebebasan adalah kebenaran udelle dewe trus merendahkan perlunya kulo nuwon apa nembung itu juga problematik: sluman slumut slamet. Sikap sluman slumut slamet dalam hasanah antropologi juga bagian dari ekspresi perlawanan, juga ekspresi moral ala orang orang yang anti kemapanan, dan banyak lagi tafsir lainnya. Ketika orang merasa rendah di hadapan penguasa, ilmu sluman slumun… Ini disejajarkan dengan falsafah inggeh inggeh ora kepangge.

Glenak glenik, rasan rasan, omong oming, hahahihi akhirnya udah lelah. Godog akan menyusul takdirnya jika dikehendaki untuk “adik baru” bernama dek Nahdiyin atau NU (waktu kecil dengarnya NO). Baru umur akhir MI rada paham ada NO dan mengerti NU sebagai “liyan” pada saat SMP lebih ideologis. NO ndebakan, NU tahlilan, NU 23 Rakaat ya tahunya di saat SMP. Pengetahuan ini sesungguhnya tak begitu bermakna karena di Godog tak ada kompetisi, kiai Sarlim bukan sosok misionaris yang agresif cari jamaah yang akan mengoyak ketentraman desa telaga bening ini. kiai arlim adalah warna indah yang semua orang memaklumkan kehadirannya. Aku juga pernah sesekali sholat di sana tapi lupa lupa ingat apakah pernah tarawih di sana. Infaq musholah Karang Sukun pun masuk ke PRM Godog jika saya tak salah ingat. Glenak glenik di grouop WA Hismag kambuh lagi saat cak Faiz, tokoh pemuda Muhammadiyah yang mengabarkan ada “orang luar” intervensi ke desa godog yang menyabung wacana agar Godog tak utuh, tak tentram. Apa mau direbus (digodog) biar panas dan bisa mematangkan spiritualitas atau membuat kopi kehidupan lebih maknyosss karena perpaduan lebih banyak, gula, kopi, ampas kopi, dan sedikit keringat kecut. Yo cah enom rasan-rasan tanda peduli. Jarene, hismag peduli ya dengan cara kreatif yang tak memgumbar amarah dan kesumat. Ngono yo ngono, nek ojo sakmono.

Ini cerita lanjutan, belum ketemu simpulan. Semoga dulur dulur kabeh luwih taneg, menep pikirane terutama sik nang Godog. Tugas sik adoh ming iso glenak glenik ngalor ngidul rakaru karuan. Mbuh, piye carane Godog tetap menjadi tempat mudik yang penuh inspirasi. Menjadi tempat mempertautkan masa lalu dengan urusan seharian dan masa depan. Godog tetap godog, ada atau tidak sedulur enom Nahdiyin. Ngono iso ora ya, nek rasek nang ngati nyuwun pangapura. Sugeng istirahat, selamat berkarya.