Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Menjadi Mataramiyah Elite atau Pinggiran?: Pilihan Terbatas jangan Kacaukan Dirimu Dan Keluargamu – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Menjadi Mataramiyah Elite atau Pinggiran?: Pilihan Terbatas jangan Kacaukan Dirimu Dan Keluargamu

Oleh: @pekerdjaliterasi

Selain setnov ada inner dynamic yang sangat patut diikuti dari aktifitas aktifis ormas tradisional paling modern di jagad Indonesia–sebut saja, Mataramiyah. Dari spektrum aktor di dalamnya punya varian super berwarna mulai latar pendidikan Timur Tengah, Barat, Timur tenggara, lokalan, dan eropa. Dari aspek geneologinya, ada merah, hijau, Kanan kanan, kiri kiri, Kanan tengah, kiri tengah baru, Dan seterusnya sebagainya.

Tentu saja cara pandang Haji ustadz Marxian Tak boleh dilupakan, bahwa Ada golongan aktifis Borjuas atau garis perjuangan elite dan Ada yang setia pada perjuangan kaum mustadafin bin proletariatina (pinggiran). Inilah satu pandangan dari dalam mengenai mataramiyah elitis dan mataramiyah pinggiran.

 

Sastrawan lawasan, Sapardi Djoko Damono dalam novelnya yang ketje terbaru ini, Hujan Di Bulan Juni, memperdebatkan istilah kaum pinggiran perkotaan yang disengketakan dalam epistimologi Kang Sarwono, pacar Pingkan (tanpa Mamboo).

 

Kaum pinggiran konon tak identik dengan daerah pedalaman, atau Istilah akademisi semi millennial sebagai, daerah 3 T: Terluar, Terdepan, tertinggal, atay bahasa akademisi zadul sebagai 5T : terasing, Tak terkenal, terkubur, termiskin, teraniayah. Jadi T telah dikorupsi bukan oleh Setnov, tapi oleh kaum teknokratis elites pseudo-tercerahkan. Kaum pinggiran adalah kaum endemik. Setiap prosesi industrial, prosesi professionalisasi dan rasionalisasi pasti meminggirkan, mencipta secara kentara kelompok terpinggirkan. Did saat yang sama, membangun Benteng plus istana oligarki yang kokoh tak tertandingi.

Kini di Abad kedua Mataramiyah, Dan jelang Abad pertama nusantara bercokol bah kecambah di musim tanam pemilukada. Kaum pinggiran bergeliat dimana mana, kelompok pinggiran seluruh dunia bersatu dalam nasib dan bukan dalam perjuangannya. Ini menjadi kegelisahan Frederick Angel dan Marx muda di Zaman itu. Kini di Zaman milennial, dua kegelisahan itu menjadi padu di seantero jagad kamanungsan mengais nasibnya di reruntuhan bangunan bernama rasionalitas palsu—kesesasatan epistimologi akhir zaman. Duh, sampai sini semua orang linglung tentang ketidaktahuan apa yang mereka tidak tahu. Kaum pinggiran tetap adalah kunci. Kunci memahami dramaturgi dan simulakra orang orang elite borjuas berpeci. “Kunci itu jangan sampai hilang,” pesan Marx Muda kepada anak joragan kaya.

 

Borjuis hidup di tanah berbatu dan tanah liat serta dapat gampang sekali hidup menggantung di udara seperti codot, hidup di air tawar, air asin, air raksa, adalah kepintaran tersendiri bagi kalangan borjuis taat dan kurang taat agama. Semua orang adalah pasar, semua peristiwa adalah kesempatan, semua rumah adalah tempat ibadah, semua perempuan cantik adalah hiburan, dan dunia adalah panggung sandiwara. Itulah Kira Kira teologi kaum borjuis kontemporer. Satu kunci yang perlu Saya sampaikan kepada pembaca adalah, bahwa kaum borjuis atau elite adalah kaum yang paling piawai dan terlatih untuk menipu logika, paling smart dalam memainkan kata kata penuh makna. Karenanya, kaum pinggiran yang jujur tak pernah compatible dengan borjuis tukang monopoli—termasuk will to power dalam memonopoli kebenaran. Duh, borjuis setengah dewa, setengah dewi.

Sifat, karakter, dan lifestyle kaum borjuis serta siasat politik ekonominya secara implisit sudah saya utarakan. Pertanyaan mendasar lainnya adalah dimana posisi tuhan: apakah Ia bersemayam di dalam rumah kaum pinggiran atau kaum elitis citeris paribus? Jika tuhan Ada dimana-mana baik di rumah si miscall bin miskin atau di istana so kaya bin ghoniyah berarti tuhan tidak berpihak pada kaum pinggiran. Intinya, ummat proletariat harus berjuang sendiri mengandalkan mimpi yang tersisa untuk menyelenggarakan hidup ala kadarnya.

Tidak semua orang punya pilihan. Borjuis punya rencana Dan pilihan mati dengan pesta pora dan kavling surga yang diidolakan. Kaum pinggiran sangat terbatas pilihan: surga didunia tak ditemukan, surga postdunia belum pasti akan didapatkan.

 

Maka, satu hal yang masih bisa direbut kaum pinggiran adalah bagaimana cara menutup hidup secara baik-baik. Kunci mati baik baik adalah: tidak mati dipenjarah karena KPK, tidak menimbulkan kerusakan bencana alam pasca kematian yang akan menyibukkan MDMC walau ada uangnya kalau sibuk, dan tidak menjadi genderuwo yang nangkring siang malam di POS Ronda RT karena akan merepotkan Majelis tarjih, tabligh dkk. Juga, tidak meninggalkan hutang bagi anak keturunan, organisasi, bangsa, dan negara yang membebani kas MPM dan Forum Panti Asuhan.

Selama Rakyat masih menderita, tak ada kata istirahat. Terima kasih sudah mau susah membaca, semoga antum sejahtera selama-lamanya.

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*