Taman Pustaka milik Muhammadiyah Tahun 1927 di Yogyakarta

“Muhammadiyah perlu kembali gerakkan tradisi literasi.”
(Dr. Haedar Nashir, Ketum PP Muhammadiyah).

Sarikat taman pustaka Indonesia atau entah apa namanya adalah pergerakan yang diharapkan dinamis dan bukan statis sebagai forum atau jejaring perkumpulan literasi. Tanpa ada kata Muhammadiyah dibelakang nama serikat atau forum INI pastilah sudah akan otomatis menjadi ‘nama’ yang monumental mengingat kata “taman poestaka” ada sejak tahun 1923 di kelola oleh Muhammadiyah di Yogyakarta.

Intinya harus ada jihad literasi yang terbarukan–upaya sungguh-sungguh mempersenjatai ummat dengan pengetahuan dan kemampuan nalar transformatif untuk Indonesia maju. Kenapa serikat atau jaringan ini harus punya praksis bergerak? Ya kalau tak bergerak namanya mati. Kerja kerja menggerakkan pengetahuan butuh day kreatif, butuh daya kolaborasi, dan yang jelas daya tahan.
Mengingat, keberadaan Taman Pustaka yang dikelola Muhammadiyah sudah seeand, terlihat pergerakannya dalam satu gambar tahun 1927 sebagaimana terlihat. Kerja literasi bagi tokoh Muhammadiyah berada dibarisan sangat istimewa. Keberadaan bibliotek, taman pustaka,dan suara Muhammadiyah membuktikan persyarikatan Muhammadiyah ada di garda depan gerakan literasi–memintarkan rakyat, memerdekan bangsa.

Lalu apa agenda Majelis pustaka dan keluarga besar Muhammadiyah untuk melanjutkan kemajuan di masa lalu? Bagaimana pula kita merespon ‘kesedihan’ penulis Suara Muhammadiyah dalam sebuah artikelnya tentang Gedoeng Boekoe itu? Apa yang dapat dan mungkin dilakukan pengurus MPI dari pusat sampai cabang yang jumlahnya juga bisa lebih seribu pengurusnya?

Bagi Saya sebagai muallaf Gerakan literasi dan baru sinau di Muhammadiyah, abad harus ada keajaiban-keajaiban yang diciptakan para pembaharu di dalam zaman ini. Pembaharuan atau membangkitkan elan vital literasi haruslah direkayasa diperkuat baik secara kultural maupun kultural. Muhammadiyah punya keduanya dan apalagi soal pembangunan infrastruktur, Muhammadiyah sangat terlatih untuk itu.

Sebagai ide biasa, penguris MPI di berbagai tingkatan entah bagaimana caranya harus turut mengelolah taman pustaka atau Komunitas literasi di lingkungan tempat tinggal/kerja masing-masing. Ada ribuan amal usaha ada sekian ribu hektar taman di halaman rumah dan halaman AUM. Buku Dan aktifitas yang sederhana tak sulit ditemukan yang penting nafas hidup tetap berlanjut. Gerakan kultural ini barangkali patut diujicobakan. Siapa memulai? Saya lihat beberapa Hari ini ada letupan semangat AMM di beberapa daerah untuk andil dalam pergerakan literasi–menggerakkan buku ke jalanan, mentoring kader penulis, sampai komunitas budidaya tanaman yang berurusan dengan perbukuan. Dinamika itu Ada di Lampung, Lamongan, Jawa Tengah, DIY, dan beberapa lainnya. Barangkali banyak yang tak terlihat Gerakan tapi ada dan dinamis.

Kedua, dengan adanya kirim buku Gratis sebulan sekali yang diadakan oleh kantor POS kita bisa melakukan banyak hal bukan? Pergerakan buku lebih leluasa, peminjaman buku dalam skala banyak lintas pulau dapat berjalan. Bisa membuat aplikasi go-read dan sejenisnya misalnya untuk pinjam buku berbasis aplikasi atau jaringan @pustakaMu online yang dapat diinstall di Android Dan buku akan mengembara jauh. Buku Tak lagi diam di kandangnya atau bertapa di rak buku berpuluh tahun. Dan Kita akan menyadari bahwa Ada kebaikan teramat besar nan mulai dari upaya menyediakan bacaan secara berkelanjutan. Pasti banyak hal yang lebih dahsyat kita bisa obrolkan kalau kopdar nanti. Ini bukan apa-apa karena hanya sambil lalu saja.
Untuk merembug itu semua, kepada semua pegiat literasi: penerbit, pengelola taman pustaka,pengurus majalah Komunitas/sekolah, dst silakan gabung di kopdarnas pegiat literasi di semarang 8-10 Desember 2017. Kegiatan ini diinisiasi oleh Majelis Pustaka Dan Informasi PP Muhammadiyah juga bersana Lembaga Kebudayaan PP Aisyiyah.

Terakhir, spirit kopdar akan memperingatkan kita semua akan dua sosok Haji Mochtar sebagai sang pemula Taman Pustaka dan juga diujung pergantian ke Abad kedua ada sosok Dauzan Farook dari Kauman Yogyakarta yang membangun gerakan yang sangat inspiratif: Mabulir (majalah Buku bergilir) yang memakan nyaris separuh usia hidupnya. Tidak tahu persis, apakah mabulir yang diasuh Pak Dauzan ini adalah model taman pustaka bergerak pertama di Nusantara?

Pesan Dauzan, “siapa saja dapat menjadi penggerak literasi.’
#TamanPustakaMu
#PustakaMuBergerak
#serikatPustakaMU