Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Ampat Oktober: Ringkasan Khotbah Hari Kesadaran 1938 – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Ampat Oktober: Ringkasan Khotbah Hari Kesadaran 1938

 

Oleh: AR Baswedan

Di seluruh Indonesia, di mana ada cabang atau grup PAI bahkan di mana ada PAI-ers dan kaum PAI, orang sama mengadakan perayaan dengan gembira, memperingati hari kesadaran kaum peranakan pada tanah airnya.

Indonesia tanah air kita!

Itulah semboyan kesadaran itu, kesadaran yang baru timbul pada 4 Oktober 1934, dalam satu permusyawaratan pemuka-pemuka peranakan Arab dari berbagai-berbagai tempat di Kota Semarang.

Dunia Arab di Indonesia goncang, yang totok maupun yang peranakan sama terperanjat, mendengar pernyataan itu.

Puluhan tahun berturut-turut lampau, sebelum 4 Oktober 1934, kaum peranakan yang lahir di kepulauan ini tidak mengakui dengan lidahnya “bahwa Indonesia tanah airnya”. Indonesia ada tanah mahjar, tempat kita berhijrah, tanah perantauan, begitulah dahulu kita berkeyakinan.

Kaum peranakan Arab telah melalui beberapa abad merupakan satu umat tersendiri di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Padahal di dalam masyarakat itu mereka bercampur gaul dengan bangsa Indonesia, bersanak famili dengan mereka, ibu-ibu dan ninik-ninik kita adalah bangsa Indonesia.

Anggapan bahwa Indonesia ada tanah air buat sementara di samping pengakuan yang tegas dan tetap, bahwa di sana ada lagi tanah air, atau beberapa tanah air, anggapan yang demikian ini seolah-olah syirik khafi di dalam keyakinan tauhid wathaniah.

Dan sebagai juga syirik khafi yang tersembunyi, membatalkan amal usaha kita di dalam agama, begitupun syirik khafi di dalam keyakinan tanah air, dapat merusak usaha untuk pergaulan hidup.

Karena adanya syirik wathaniyah itu, maka hati kita, cita-cita dan tujuan hidup kita, kita bagi-bagikan ke beberapa tanah air, kabur tidak tertentu.

Oleh pengaruh keyakinan yang demikian itu, rasa perbedaan antar kita dengan bangsa Indonesia, bukan saja di medan pergaulan hidup, tetapi sampai di medan pergaulan agama, bahkan sampai di dalam menghadapi Allah, melakukan kewajiban agama.

Buktinya, sebagai juga kampung Arab, ada juga masjid dan langgar Arab, kepunyaan orang-orang Arab, yang lain daripada masjid umum yang biasa.

Sedemikian mendalamnya perasaan keasingan itu, sehingga di dalam satu kampung penduduk Arab dan Indonesia, masing-masing mengadakan sinoman sendiri.

Keindahan Indonesia dengan gunung-gunungnya kalau dahulu menarik hati kita, seperti juga seorang turis luar negeri, tertarik hatinya kalau sedang memandangnya.

Beda sekali dengan sekarang setelah kita sadar, keindahan alam yang kita pandang itu, adalah indahnya tanah air kita semata-mata!

Kita sekarang sanggup melihat keindahan tanah air Indonesia, dengan mata putra Indonesia kalau sedang memandangnya!

*

Rasulullah lahir di Makkah, di tanah Hijaz. Dan Hijaz termasuk jazirah Arab. Tanah air Rasulullah ialah Makkah, tempat beliau lahir, dan Madinah disebut tempat hijrahnya. Bangsa Arab melangkah ke Andalusia yakni tanah Spanye, sebagian dari Eropa. Bangsa Arab melangkah ke Mesir, sebagian dari benua Afrika. Bangsa Arab melangkah ke Persie yakni sebagian dari benua Timur. Mereka turun temurun di sana di pelbagai negeri luar jazirah Arab.

Akhirnya orang Arab yang di Andalusia itu disebut orang Al Andalusi, yang di Mesir Al Misri, yang di Afghanistan Al Afghani, dan seterusnya!! Masing-masing disebut menurut tempat kelahiran dan kediamannya (dan kita di Indonesia?… Al Indonesie-Cor).

Bahkan bukankah aneh, bahwa tanah Makkah yang suci itu yang sesungguhnya adalah tanah kepunyaan umat Islam, oleh orang Makkah sendiri dianggap tanah airnya, bukan tanah air orang Najid, bukan tanah air orang Yaman, bukan tanah air orang Hadramaut. Padahal anggapan yang demikian itu, akan lebih bertentangan dengan faham yang mengatakan, bahwa tanah air kita itu ialah dunia Islam yang seluas-luasnya.

Tapi orang yang berpendapat demikian itu, kalau pada suatu waktu ia melewat ke Hadramaut, ia mengatakan pergi ke tanah airnya, padahal ia sebagai seorang Islam, sebenarnya ia tidak menetapkan sesuatu tanah air yang tentu.

Kalau andai kata masih ada orang-orang yang demikian itu, tidak lama lagi kami yakin akan sadar sendiri. Maka PAI tiap-tiap tahun melakukan adat mengadakan perayaan kesadaran, untuk menginsafkan mereka itu.

 

Sumber:   majalah Aliran Baru nomor edisi 3 Oktober 1938 halaman 52—53.

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*