Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Rohingya dan Takdir Negara Weberian – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Rohingya dan Takdir Negara Weberian

Ada status teman saya yang mendapat komentar pro dan kontra soal Myanmar (Rohingya). Berita mengenai kejahatan kemanusiaan di negara tersebut yang lagi ramai bertebaran. Entah mana yang benar mana yang hanya berhasrat provokasi.

Status itu begini bunyinya: “setiap negara memiliki rohingya-nya masing-masing.”

Komentar keras keras pun menghatam di wall FBnya sebagai medan pertempuran yang bisa keji bisa anti Kemanusiaan itu sendiri. Jadi begitulah perdebatan negara, identitas, dan kekerasan mudah menjalar memakan korban dalam jarak yang jauh tak terprediksikan.

Situasi politik global Hari ini dihantui oleh perang dan kekerasan yang siap memakan korban tak terperikan. Zaman ini, ritual perang jauh lebih gampang diselenggarakan. Perdamaian hanya dalam seremonial.

Aktor kunci segala Sumber kekerasan itu adalah nalar identitas yang dangkal yang dimiliki negara dan tangan tangan dinginnya.

 

Meminjam bahasa Leviathan karya Thomas Hobes bahwa negara itu lazim memiliki karakter brutal, sadis, banal, dan rakus, adalah menegasikan bahwa negara itu menjadi sarana alokasi nilai kebaikan untuk rakyat di teritorialnya.

 

Jika Ada kabar negara melakukan pembantaian dalam pikiran saya itu tidak hoax karena itu adalah cerminan takdir negara weberian–dimana negara adalah satu satunya institusi yang memonopoli kekerasan, juga tafsir saya, adalah satu satunya lembaga yang sah membantai manusia di dalam area kekuasaannya.

Pun demikian, jika agama dikelola seperti orientasi dan tabiat negara maka agama akan menjadi persemaian bibit kekerasan yang akan menebar kepedihan tak terperikan.

Seorang teman menuliskan, “politik identitas sangat menguat saat ini, politik identitas akan mengakibatkan genosida pada identitas tertentu begitu menurut ST Sunardi waktu memberi materi TOT pluralisme dan feminisme untuk perdamaian tahun 2006. Sejarah politik identitas memang sangat mempuni dan sangat kejam.” (Sarkawi, 2017)

Menekankan peran identitas sebagai sumber kekerasan cukup banyak pengikutnya, dimana pangkalan kekerasan?

Menurut Amartya Sen(2016), kekerasan dipicu oleh pemaksaan identitas tunggal yang penuh permusuhan kepada orang orang awam melalui para penebar teror. Jajaring penebar teror paling hebat adalah jaringan negara.

Politik identitas sebagai variable kajian konflik memang juga sangat kuat dalam konteks politik di Asia, apakah mungkin politik identitas dimanfaatkan oleh negara untuk menegaskan “the act of governing” sehingga negara selalu superior di dalam klaim kebenaran?

Dalam sejarah panjang hubungan antara state dan society terlihat hubungan yang eksploitatif—negara memonopoli hampir semua urusan baik soal hak hak hidup maupun tafsir kebenaran. Barangkali bukan pemerintah Myanmar telah melakukan planggaran HAM berat, semua negara memiliki karakter yang sama sebangun. Negara Arab, Amerika, Inggris, dan sebagainya juga telah terbukti menciptakan banyak rohingnya.

Nalar negara soal identitas

Bisa dikatakan bahwa tafsir negara soal identitas itu seringkali hitam putih, mutlak dan tunggal sehingga kerap Kali menjadi bebal dan brutal. Semua orang yang bukan bagiannya, adalah musuhnya. Inilah yang pernah diterapkan oleh George Walker Bush dalam war on terror–if you not follow us, you are my enemy. Kecenderungan yang sedang banyak dialamatkan juga kepada Myanmar. Nalar jenis predator seperti ini ibarat melakukan peperangan di malam hari yang memakan korban luar biasa. Seperti kata Dover Beach:

“Dan disini Kita berdiri di atas dataran kelam
Terombang ambing dalam kengerian pertarungan dan pergumulan,
kala bala tentara yang bebal bertempur pada malam buta.”

Apakah ada makhluk yang lebih brutal dari negara di Hari Hari ini?jawabanku, jelas tidak ada.

 

Manusia, warga dunia?

Manusia atau individu sejatinya masih memungkinkan mengimani bahwa semua manusia bersaudara. Atau memiliki sudut nalar sebagaimana yang pernah disampaikan dalam pidato Amartya Sen: “sebagian besar orang adalah orang lain.” Sehingga perlu kesadaran interaksi sosial yang tangguh karena masih banyak kesamaan yang mengikat satu sama lain. Bukankah benar, bahwa pikiran Kita adalah pendapat orang lain, hidup Kita serba tiruan, Hasrat Kita dalam hidup sejatinya juga kutipan dari mana mana. Hal itulah yang membentuk karakter dan etika kita mana yang patut dan mana yang tidak dalam bergaul dalam lingkungan mikro politik atau make, dalam dimensi parsial maupun kompleks.

 

Konsep kewarganegaraan global, atau masyarakat sipil global (meminjam istilah Amartya Sen) sangat penting dan mendesak dipahami dan diamalkan agar negara lewat kaki tangan militer yang seringkali menciptakan neraka tidak menjadi dominan sebagai cara membangun ketertiban manusia.

Mencari titik temu identitas tentu bukan Hal yang mudah, tetapi dapat dilakukan sehingga keluar dari jebakan indikator kesamaan dari hanya aspek agama, suku/ethnis, yang kerap menimbulkan kehidupan yang penuh konflik. Ikatan ikatan sosial yang cair yang informal dan kesukarelawanan, seperti gambaran Robert Putnam, justru yang paling memungkinkan untuk menciptakan kebaikan bersama dalam masyarakat aktual ini.

Untuk menutup catatan pendek ini, menarik untuk mendekonstruksikan arti identitas itu. Adalah Mohandes Gandhi yang lebih memilih dirinya sebagai orang-orang India biasa yang berjuang until kemerdekaan bangsanya ketimbang sebagai pengacara yang memperjuangkan bangsanya dengan kerangka hukum kolonial. Bagi Gandhi, kemerdekaan itu Hal yang prinsip dan itu dimulai dari identifikasi diri untuk melawan penjajahan. Sementara E.M Foster (1951) punya keteguhan yang menakjubkan: ” jika harus memilih antara mengkhianati negara saya dan sahabat saya, saya harap saya punya cukup nyali untuk mengkhianati negara saya.”

Jika negara hadir hanya untuk membangun neraka neraka bagi manusia di dalamnya, memaksakan identitas yang tak rasional, dan hanya mengandalkan doktrin tradisional, maka Saya pun sependapat dengan Foster, setidaknya, saya tak selalu sepakat dengan kehendak-kehendak konyol negara yang merugikan ummat manusia.

Amerika adalah negara yang hadir minimalis di hadapan rakyatnya tetapi hadir mencipta banyak ‘Rohingya’ ┬ádi banyak negara.

Bisa dikata, Amerika telah berhasil memindahkan nalar brutalnya ke territorial lain sebagai ekspandi negara predatoris. Kemampuan reorientasi Dan aktualisasi negara Amerika di jagad internasional bisa saja disebabkan penolakan eksistensinya oleh, apa yang disebut oleh Janet Beihl, penganut municipalisme libertarian justru di negaranya sendiri. Negara yang tertolak oleh warganya, dan menggelar area penjagalan di negara lain.

Semoga saja, buku buku dan pembacanya mulai mengupayakan merubah takdir negara sebagai pangkal kekerasan yang lebih banyak mencipta keadaan kelam ketimbang terang.

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*