Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Kata Pengantar Achmad Charris Zubair Buku Runtuhnya Pedagang Pribumi Kotagede – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Kata Pengantar Achmad Charris Zubair Buku Runtuhnya Pedagang Pribumi Kotagede

Oleh : Achmad Charris Zubair

Di manapun, kapanpun, sutradara maupun aktor utama dinamika sosio cultural pada umumnya, digerakkan dan dimainkan oleh manusia terdidik yang ter”cerah”kan, kelas menengah, komunitas “borjuis” dan umumnya generasi muda. Karena kelompok itulah yang pada umumnya memiliki idealisme, cita-cita dan harapan. Bahkan telah siap dengan konsep masa depan yang relatif jelas. Serta alasan paling umum, dalam bahasa yang paling sederhana, yakni makan, sandang dan bahkan papan. Karena sudah tercukupi dan tidak menganggap itu sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Sulit menemukan, walaupun tentu ada revolusi sosial yang seolah digerakkan orang-orang tak terdidik, miskin, namun pada umumnya akan melalui proses anarkhi atau bahkan berujung pada situasi chaotic, dan segera akan dimanfaatkan penyelesaianya oleh orang lain yang sesungguhnya aktor dibelakang layar dari dinamika sosiokultural tersbut. Gerakan sosial orang miskin pada umumnya digerakkan demi kepentingan tertentu yang seringkali sekedar memanfaatkan wacana orang miskin dan kelompok marginal. Pandangan saya diatas tentu memiliki argumen teoritik maupun faktual, kendatipun demikian terbuka untuk dibantah atau dilengkapi dengan argumen yang lebih memadai.

Tulisan saudara David Efendi yang bertajuk ”Formasi Borjuasi dan Politik di Indonesia” dengan mengambil kasus genealogi borjuasi di Kotagede Yogyakarta, menjadi sangat relevan untuk menjelaskan peran komunitas ”midle up society” dalam perubahan, dinamika maupun mempengaruhi corak masyarakat. Dalam hal ini saya menjelaskan bahwa manusia bukanlah makhluk yang terisolasi dari lingkungannya. Secara internal pasti dipengaruhi oleh nilai kultural dimana ia lahir, hidup dan berkembang serta dipengaruhi oleh faktor eksternal yang pada dasarnya mengasah latar belakang internal tersebut. Kelompok borjuasi di Kotagede merupakan kelompok yang amat dipengaruhi oleh kondisi manusia yang ”beruntung” dalam hidupnya. Penjelasan teoritiknya adalah demikian, dalam kehidupan manusiaada 2 faktor yang menentukan kebebasan manusia tetapi juga sekaligus menunjukkan bagaimana kita harus melakukan pembebasan hidup manusia. Pertama, adalah faktor internal, yang merupakan kondisi dalam baik fisik, intelektual, maupun spiritual. Sepenuhnya tidak tertolak, begitu saja diterima manusia, merupakan kondisi niscaya. Asal keturunan, ras, jenis kelamin, kecerdasan merupakan contoh dari kondisi ini. Kelompok borjuasi di Kotagede diuntungkan dengan kondisi internal ini. Pada gilirannya akan membentuk faktor kemampuan. Kedua, adalah faktor eksternal yang merupakan kondisi di luar diri, baik yang berupa tempat maupun suasana, lingkungan kultural, pergaulan, sosialisasi, pendidikan, kesempatan dan lain sebagainya. Faktor internal menjadi semacam fasilitasi yang diberikan oleh alam untuk  komunitas borjuasi meraih faktor eksternal-nya. Pada gilirannya akan membentuk faktor kemungkinan yang dapat dikembangkan manusia. Upaya pembebasan pada dasarnya membangun faktor eksternal yang memadai bagi pengembagan optimal faktor internal serta mensenyawakan keduanya menjadi dasar bagi terbentuknya kesadaran dan kesanggupan manusia untuk dapat mempertanggungjawabkan keputusan tindakannya dan mendinamisasi masyarakat sekitarnya.

Komunitas borjuasi di Kotagede, adalah kelompok yang dapat mengelola kondisi keniscayaan dalam hidupnya dengan nilai, norma, maupun kondisi faktual kulturalnya di Kotagede. Pandangan saya yang lain, tentu terbuka untuk dibantah dengan argumen yang lebih memadai, manusia menjadi tokoh atau pecundang, pahlawan atau pengkhianat, pada dasarnya bukan semata-mata ikhtiar dan kekuatan manusia. Namun, karena ia di”garis”kan berada pada tempat dan waktu yang tepat atau tempat dan waktu yang salah. Pasti, sebagai titik peristiwa akan terkait dengan mata rantai titik yang lain di masa yang lalu dan akan menentukan titik masa depan. Sehingga tidak ada dalam hidup ini peristiwa yang kebetulan dan peristiwa sekonyong-sekonyong. Semua peristiwa, setiap lakon, setiap titik kehidupan ada logikanya. Namun sesungguhnya siapa yang sanggup menentukan secara sepenuhnya titik tersbut?

Saya melihat, kalau kita berbicara tentang Kotagede, titik sentral nilai kulturalnya, sesuatu yang memotivasi seluruh dinamika adalah Islam. Kotagede sendiri, yang sejak awal sejarahanya merupakan kawasan Islam. Ketika kota pertama dibangun di bekas tanah perdikan Mentaok ini, maka masjid merupakan bangunan utama Kota yang pertama kali didirikan. Raja yang pertama kali pun memakai gelar Islam, Penembahan Senopati ing Alaga Khalifatullah Sayidin Panatagama. Latar belakang kultural Kotagede adalah Islam, sehingga dari faktor historis penanaman nilai-nilai Islam sebenarnya tidak menjadi masalah serius bagi Kotagede dan penduduknya. Kendatipun sebagai kota ibukota kerajaan Mataram, Kotagede tidak lagi berfungsi karena raja memindahkan pusat kerajaan ke Plered, Kerto, kemudian Kartasura, yang kemudian pecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. Warna Islam di Kotagede pada dasarnya tidak pernah luntur, ruh Islam tetap menyalakan denyut jantung kehidupan masyarakat Kotagede.

Kalau Kotagede dirunut secara historis, di awali sejak Mataram beridir hampir 500 tahun yang lalu, Islam merupakan mainstream nilai dan norma Kotagede. Tapi tentu saja Islam yang teranyam dari subsitem budaya yang lain. Untuk itu ada dua faktor yang perlu diperhatikan: pertama, faktor historis yang berupa peristiwa-peristiwa penting di Kotagede yang mempengaruhi dinamika masyarakat Kotagede dan kedua. Faktor internal yang muncul dari karakter manusia Kotagede.

Faktor historis yang penting untuk diperhatikan adalah, masa awal Mataram yang periodenya antara masa hidup Panembahan senopati (1540an) sampai Sultan Agung (1630an) yang merupakan masa Islam yang teranyam dengan undur Hindu dan Animisme, Dinamisme. Argumennya cukup jelas. Mataram Kotagede merupakan mata rantai Majapahit, demak, Pajang dan Mataram. Sehingga perilaku masyarakat Kotagede dipengaruhi hal-hal tersebut. Arsitetktur yang dibangun pada masa itu, seperti masjid, kompleks makam, keraton, beteng dan sebagainya, serta tata kota Kotagede yang masih kita kenal sekarang ini, masih jelas warna Hidunya. Gelar Senopati memang Khalifatullah, itu gelar Islam, namun banyak catatan yang menyebutkan bahwa Senopati dan bahkan juga raja-raja yang hidup sekarang ini, memiliki dan menyimpan pusaka, jimat dan sebagainya yang itu merupakan tradisia animisme dinamisme. Juga melakukan banyak upacara yang dipengaruhi oleh bentuk akulturatif macam-macam latar belakang budaya. Itu wajar-wajar saja, tidak perlu disebut bid’ah, khurafat dan tahayyul sebelum faham konteks historitasnya. Dinasti Abbassiyah yang sering disebut sebagai masa kejayaan Islampun mengembangkan arsitektur yang sebenaranya produk budaya kaum Majusi penyembah api di Persia Kuna, seperti kubah dan lengkung yang sekarang menghiasi masjid-masjid di seluruh dunia. Perilaku masyarakat Kotagede pada waktu itu pasti dipengaruhi oleh para penguasa dimana raja, bangsawan dan abdi dalem menduduki posisi elite pada stratifikasi sosial masa itu.mainstreamnya sudah Islam tetapi nilai, norma, perilaku dan produk budaya pada masa itu teranyam dari berbagai unsur. Bahkan kultur Arab tidak nampak pada masa itu. Buktinya di Masjid Gedhe Mataram, tidak satupun ditemukan tulisan Arab, kecuali yang dipasang pada masa-masa terakhir ketika masjid tersebut direnovasi awal abad 20.

Peristiwa penting kedua adalah dipindahkannya ibukota Mataram dari Kotagede ke Kerto kemudian plered oleh Sultan Agung pada dasawarsa ketiga abad 17. Kotagede ditinggal oleh raja, bangsawan tinggi, yang disisakan abdi dalem setingkat Patuh, Bekel, Lurah yang relatif rendah. Masa ini merupakan the turning point dari potensi ekonomi dan budaya manusia Kotagede yang berorientasi keraton ke orientasi pasar yang lebih luas. Di satu sisi Sultan Agung bersamacendekiawan pada zamannya telah berhasil mengharmonikan Islam dengan Jawa, Islam pada masa Sultan Agung terfahami secara lebih utuh. Karyanya yang monumental ”sastra Gendhing” adalah karya Jawa yang sangat Islami. Wajah islam menjadi sangatb ”kultural” ketika Sultan Agung mengkombinasikan sisitem kalender Hijriyah dengan sistem kalender Caka. Ada orang Kotagede yang sangat faham soal ini, sayang sudah wafat sebelum ilmunya tercerap oleh generasi Kotagede yang lebih muda, yaitu bapak Muhammad Hoedan bin Mustadjab. Sesudah periode ini Kotagede mengalami dinamika, lebih berwatak ekonomis dan demokratis, sejak saat itulah potensi Kotagede sebagai perniagaan mulai tumbuh.

Peristiwa penting ketiga, adalah pasca perjanjian Giyanti 1755 yang memecah Mataram menjadi dua:Yogyakarta dan Surakarta. Kotagede terkena dampak dari pembagian yang aneh ini. Kotagede Surakarta enclave di tengah-tengah wilayah Yogyakarta. Sementara Wilayah Kotagede yang masuk Yogyakarta ada sendiri. Bangunan dan pohon beringin dibagi keduanya, hanya masjid dan makam yang tidak dibagi, abdi dalem dipecah dengan baju yang berbeda. Pada masa itu banyak pandatang dari luar daerah seperti Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul dan menjadi penduduk Kotagede dengan membangun rumah di alun-alun dan nDalem yang tadinya kosong ditinggal raja.

Peristiwa penting keempat, awal abad 20 di mana terjadi kebangkitan nasional. Muncul gerakan-gerakan baru yang bersifat nasionalis, islamis, bahkan Marxis yang mengindikasikan sebagai awal abad komunikasi dan kebangsaan. Lahirnya Boedi Oetomo, Moehammadijah, sjarikat Islam yang berkembang menjadi SI kanan dan kiri, mempengaruhi Kotagede. Moehammadijah Kotagede bahkan termasuk cabang perintis. Sekolah pertamanya justru Kotagede tahun 20an. Penyandang dana cukup besar bagi gerakan awal Moehammadijah adalah orang Kotagede yang bernama H.Moehsin bin H.Moekmin. Pada awal abad ini terjadi pertumbuhan pesat di Kotagede, karena pemerintah Hindia Belanda memberikan konsesi dan hak monopoli terhadap dua kelompok keluarga di Kotagede. Kelompok keluarga Kalang mendapatkan konsesi untuk perdagangan berlian, candu, dan pegadaian. Sementara kelompok ”santri” mendapatkan konsesi perdagangan mori, lawe untuk batik serta berlian. Tahun 1999 saya berkunjung ke salah satu keluarga di Laweyan Sala dan mendapatkan catatan dan cerita bagaimana erat hubungan antara Laweyan dan Kotagede. Booming ekonomi terjadi di tahun 20an, ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan mewah di Kotagede dan dikirimnya pemuda-pemuda Kotagede untuk belajar agama maupun umum. Tercatat Zubair dan Jalan belajar di Nederland, Makmur dan Abdul Qohhar mudzakkir belajar di Mesir, Kasmat Bahoewinangoen dan Rasjidi Atmosoedigdo belajar di Perancis. Booming ekonomi di Kotagede dinilai ajaib karena karena pada saat itu dunia sedang dalam keadaan malaise atau krisis di bidang ekonomi. Muncul cerita atas peristiwa yang menyangkut perilaku orang kaya yang banyak uang. Seperti rencana untuk mengganti lantai rumah dengan kepingan mata uang, atau lomba mencari kantung berisi uang di ruang gelap atau bahkan yang ekstrim ada pemuda kaya yang perilakunya nakal, karena suka memanggil pedagang angkringan gulai kambing tidak untuk dimakan tapi untuk dikencingi walaupun toh dibayar juga.

Peristiwa keempat adalah periode 1950an menjelang 1965, di mana Kotagede menjadi kota buruh Miskin. Juragan tidak lagi nampak kaya, sementara para profesional banyak yang memilih tidak tinggal di Kotagede. Kesenian-kesenian rakyat tumbuh berkembang yang karena aktivisnya banyak anggota PKI (LEKRA) maka kethoprak, wayang, srandhul identik dengan PKI. Sementara keroncong adalah kesenian orang ”abangan”. Secara umum Muhammadiyah terkonsentrasi pada kegiatan sosial seperti pendidikan, kesehatan dan pengajian dan tidak pada kesenian. Hanya pada generasi mudanya, NA Kotagede memiliki grup angklung dan Pemuda Muhammadiyah memiliki drumband, yang juga dimiliki oleh pemuda rakyat dan pemuda Marhaenis. Gerakan kesenian yang lainnya adalah munculnya sanggar lukis ”Bulus Kuning” dan teater ”Iqbal” dimotori oleh anak-anak muda yang tergabung dalam pelajar Islam Indonesia. Pada era 65 sampai dengan 70an, Kotagede mencerminkan situasi kondisi pasca Gestapu. Masjid-masjid penuh, orang-orang kelihatan alim, namun kesenian tidak berkembang. Dunia Kotagede nampak agamis tapi kering. Saya mencatat hanya beberapa grup keroncong yang hidup, dan satu kelompok Orkes Melayu yang dimotori oleh Jumanuddin Humam adik dari As’ad Humam almarhum penyusun “IQRO”, kini Jumanuddin aktif di TPA AMM.

Kotagede pernah ditinggalkan oleh penguasa, yakni jaman Sultan Agung di paruh ketiga abad ke tujuhbelas, yang memindahkan ibukota Mataram ke Plered. Sebagai kota yang ditinggalkan penguasa, Kotagede berkembang menjadi kota dagang dan wirausaha, dan umumnya penduduk Kotagede masih memiliki ikatan persaudaraan, yang pada dasawarsa kedua dan ketiga abad ke-20 amat disegani. Karena justru pada saat dunia sedang dilanda “malaise” atau kehancuran perekonomian. Kotagede sedang maju ekonominya, bahkan menjadi kota termakmur di wilayah Jawa pada saat itu. Pada masa itulah gerakan modern Islam Muhammadiyah berdiri di Kotagede dengan dipelopori keluarga pedagang kaya di Kotagede.

Harus diakui di Kotagede Muhammadiyah tidak berjalan sendiri. Bahkan harus diakui dengan lapang dada, gerakan Muhammadiyah di Kotagede terkesan agak kurang greget karena kebanyakan terbelenggu pada rutinitas dalam beraktivitas. Kotagede menjadi amat tersohor dengan adanya gerakan Angkatan Muda Masjid nya almarhum h. As’ad Humam dengan ”Iqro” nya. Taman Kanak-Kanak, Taman Pendidikan Ta’limul Qur’an nyan menjadi contoh di seluruh Indonesia dan bahkan di berbagai negara di dunia. Mereka dikenal sebagai penyelamat Al Qur’an, sebuah sebutan yang tidak saja membuat bangga perintisnya tetapi juga seluruh ummat. Sejak lama ma;had Islamy yang didirikan oleh almarhum kyai Amir, Kyai h. Ahmad dan Kyai H. Muhsin mendidik tunas-tunas Kotagede menjadin manusia yang bermanfaat bagi kehidupan kemanusiaan. Ma’had Islamy telah berkembang dan mempunyai lembaga pendidikan sejak Taman kanak kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan ’Aliyah dengen murid dan alumni yang berjumlah ribuan. Bahkan diantaranya telah berhasil menjadi orang terpandang di lingkungannya. Di Kotagede juga telah berdiri pondok pesantren Nurul Ummah dan Nurul Ummahat yang dirintis oleh Kyai H.Asyhari Marzuki (alm) yang pada masa hidupnya pernah menjadi Rais Syuriah Nahdatul Ulama dan Kyai H, Abdul Muhaimin. Saya tahu persis banyak mahasiswa di Yogyakarta yang belajar agama di pondok tersebut, dan hasilnya mereka berhasil memberikan wacana religius yang sangat kental di kampus-kampus umum di mana mereka belajar ilmu pengetahuan umum. Masih, di wilayah Kotagede bagian timur terdapat ”Markas” Majelis Mujahiddin Indonesia. Kotagede amat dekat dengan Pondok Pesantren Krapyak yang menjadi tempat kader Nahdatul ulama, dan juga dengan pondok pesantren Ibn al Qayyim di Jalan Wanasari. Denyut nadi dinamika sosiokultural yang luar biasa, yang lagi-lagi digerakkan oleh komunitas elite, terdidik, tercerahkan dan memiliki modal yang cukup. Belum lagi gerakan-gerakan organisasi kesenian Islam seperti Slawatan, gejogan lesung, dan sebagainya.

Untuk melengkapi kata pengantar ini, dalam konteks Yogyakarta kita dapat belajar bagaimana kelompok borjuasi yang elite juga mempengaruhi dinamika sosial. Saya menyebut sebagai ”segitiga emas” yang secara historis kultural tidak dapat dipisahkan dari eksistensi Yogyakarta, di sini pula gerakan-gerakan mmasyarakat dengan mainstren Islam. Lokasi itu meliputi lokasi 7 (tujuh)K, yakni: pertama, Kotagede, karena merupakan bekas pusat kerajaan Islam Mataram yang didirikan Panembahan Senopati pada paruh abad 16, Mataram menjadi cikal bakal dari kesultanan Yogyakarta dan juga kesunanan Surakarta, di samping kadipaten Pakualaman dan Mangkunegaran. Kotagede sekarang masih representatif mewakili kota tradisional Islam-Jawa. Di Kota ini terdapat juga gerakan-gerakan Islam baik tradisional maupun modern, lembaga pendidikan pesantren dan umum, lahir tokoh-tokoh gerakan Islam berskala nasional bahkan internasional seperti Kahar Muzakir, Rasjidi. Lahir dan berkembangnya gerakan pendidikan Al Qur’an ”Iqro” yang dimotori As’ad Humam yang gemanya diseluruh Nusantara dan luar negeri, bermula dari Kotagede. Kotagede juga merupakan contoh baik tumbuh berkembangnya semangat entrepreneurship di kalangan kaum santri. Kedua adalah Kerta dan atau Plered sebagai tempat kedua ibukota Mataram, pada masa raja ketiga yakni Sultan Agung pada dasawarsa pertama abad 17. Sultan Agung merupakan raja besar yang berperang melawan Belanda di Batavia. Ketiga adalah Kanggotan dan atau Wanakrama, yang secara tradisional merupakan lokasi tumbuh dan berkembangnya pesantren dan ulama Yogyakarta. Keempat adalah Krapyak, lokasi bersejarah dalam konteks, baik Mataram maupun kesultanan Yogyakarta, di sinipun merupakan pusat gerakan Islam yang berupa Pondok Pesantren dari Nahdatul Ulama yakni Pesantren Al Munawwir. Kelima, adalah Karangkajen, sebagai pusat gerakan santri pedagang di samping Kotagede. Keenam, adalah Kauman Yogyakarta, yang secara tradisional merupakan temkpat tinggal ulama dan penghulu keraton Yogyakarta, dan dari keluarga penghulu keraton lahor Kyai Dahlan sebagai pendiri gerakan Islam modern Muhammadiyah. Ketujuh, yang terakhir adalah Keraton Kasultanan Yogyakarta itu sendiri yang kini menjadi pusat gerakan budaya yang tidak boleh dianggap enteng di Yogyakarta dan bahkan Indonesia. Karena dari tempat inilah sumber inspirasi bagi perkembangan budaya dalam arti yang luas.

Sebagai penutup, saya melihat studi yang dilakukan oleh saudara David Efendi dalam tulisan ini, merupakan sumbangsih yang berharga untuk memahami dinamika masyarakat yang digerakkan oleh manusia tertentu. Kasusnya memang amat terbatas, yakni Kotagede, sebagai wilayah kecil di Indonesia. Kelemahan pasti ada, baik dalam konteks pilihan kasus dan lokasi maupun kelemahan dalam analisis akademiknya. Namun upaya semacam ini, dapat diproyeksikan dalam skala ruangyang lebih luas dan rentang waktu yang lebih panjang, dalam memahami dinamika manusia itu sendiri. MANUSIA dalam ”huruf”besar sebagai makhluk mulia dan khalifatullah dimuka bumi ini.

 

Kotagede, 12 Nopember 2008

 

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*