Saya ingin memberikan pengantar tentang penyataan sikap elemen mahasiswa yang saya kenal cukup serius mengawal dan terlibat pada kasus-kasus kebijakan negara yang melukai masyarakat rentan. Saya cukup mengenal bagaimana kawan-kawan mahasiswa ini membelajarkan diri saban hari dari buku, komunitas, diskusi, dan pergerakan. Beberapa group telah merespon baik pernyataan sikap yang saya posting utuh di sini. Ada juga yang menyarankan dialog biar cover both side dan sebagainya. Intinya kira-kira pada pertanyaan bagaimana urgensi pejabat publik yang ‘dalam kasus’ hadir di ruang demokrasi mahasiswa? jawabannya pasti tidak urgen tetapi sebagai ruang demokratis kehadirannya penting sehingga mahasiswa bisa menyampaikan aspirasi lebih dekat dan mengurangi persoalan political distance–mahasiswa di Jogja demo Ganjar dan tak pernah didengarkan karena faktor jarak dan prioritas? Ganjar hadir akan membelajarkan banyak pihak mulai dari yang bermadzab developmentalis, kritis, sampai pada yang anarkis. Kita welcome Ganjar saja dan mari melakukan apa yang ingin kita lakukam? begitu? sekedar pengantar dan selamat belajar semoga akal sehat tetap memimpin. Silakan simak pernyataan ini dan akan baik kalau direspon dengan tulisan juga (DE). 

 

SEMEN & E-KTP: KUNANTI ENGKAU “BERSELFIE” DI KAMPUSKU

Gugatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tunas Bangsa UMY terhadap acara seminar media digital BEM Fisipol UMY yang menghadirkan gubernur semen alias Ganjar Pranowo sebagai pembicara

Teruntuk pengurus BEM Fisipol UMY, semoga akal sehat, empati, dan keberpihakan pada rakyat masih bersama kalian. Jujur, 1 minggu terakhir ini kami dilanda keterkejutan sekaligus kekecewaan terhadap jajaran kepengurusan BEM Fisipol UMY. Bagaimana tidak? kalian mengundang seorang gubernur yang selama masa kepemimpinannya berseturu dengan petani yang bersikukuh mempertahankan tanahnya. Kalian mengundang gubernur yang ngotot mem-pabrikkan petani-petani pegunungan kendeng. Kalian mengundang gubernur yang melawan keputusan pengadilan dan presiden yang telah memintanya mencabut izin pembangunan pabrik semen.

Apakah kalian tidak tahu selama empat hari terakhir ini lebih dari 40 petani dari kendeng, rembang telah memasung kakinya dengan semen di depan istana presiden sebagai wujud perlawanan terhadap GANJAR PRANOWO yang kalian beri kursi dan panggung untuk berbicara dan mendapat tepuk tangan di kampus Muhammadiyah kita. Apakah kalian tidak tahu bahwa tamu undangan yang kalian banggakan itu adalah seorang TERDUGA PENERIMA SUAP PROYEK PENGADAAN E-KTP? Apakah kalian, jajaran pengurus BEM Fisipol UMY, sadar bahwa dengan mengundang gubernur yang telah mendzolimi petani selama bertahun-tahun dan terduga menerima suap E-KTP kalian sedang menghina akal sehat dan hati nurani seluruh mahasiswa fisipol UMY yang kalian wakili? Kalian bahkan telah menghina pendiri Muhammadiyah itu sendiri, kalian meludahi nama baik Kiyai Ahmad Dahlan, seorang kiyai revolusioner yang pro kaum Mustad’afin (kaum tertindas).

Kami ingin bertanya kepada Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang terhormat “Apa manfaat yang didapatkan ketika mengundang seorang penguasa yang lalim di saat rakyatnya hari ini merelakan diri mencor kakinya dengan semen? Kalian mau apa? Mau berswafoto ria dengan sang penguasa?.

Bukankah kalian menamakan diri kalian ini “MAHA-siswa”? Anda tahu apa yang membuat kita menjadi “MAHA”? Idealisme, keberpihakan pada rakyat, dan intelektualisme lah yang membuat kita menjadi MAHA. Ingat, ingat ini, KEBERPIHAKAN PADA RAKYAT. Ingat apa yang dikatakan oleh Pramoedya, “Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana”.

Sekarang kami ingin tanya sekali lagi, apakah jajaran pengurus BEM Fisipol tidak terketuk rasa kemanusiaan nya saat melihat apa yang terjadi pada petani-petani kendeng? Atau jangan-jangan seperi yang dikatakan pram, kalian telah menjadi GILA & BERJIWA KRIMINAL.

Kalian tidak perlu merasa terluka karena beberapa petani Kendeng rela mencor kakinya agar hak, tanah, dan kehidupannya tidak dirampas. Kalian juga tidak perlu marah bahwa nama beliau digadang-gadang terlibat dalam korupsi. Yang penting, kalian cukup bisa ber-selfie ria bersama pak gubernur Semen kan?

Jadi, apakah BEM Fisipol UMY akan secara legowo mengakui kesalahannya dan membatalkan udangan pada gubernur semen alias Ganjar Pranowo?

Kalau tidak, maka terimakasih BEM Fisipol UMY, kalian memang layak disebut intelektual “kacang goreng”.
Oh iyaa, kalau memang masih menghadirkan gubernur semen itu, kenapa tidak minta sponsor dan bantuan dana ke PT. Semen Indonesia, siapa tau kalian dapat bantuan semen agar kantor kalian menjadi lebih luas dan menghasilkan gagasan yang lebih GILA lagi.

Salam kami buat kalian para pemimpin dan pengurus sebuah badan di fakultas ilmu sosial dan politik UMY..!!