Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Menulis Skripsi di Langit – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Menulis Skripsi di Langit

Menjadi pembimbing skripsi atau dosen mata kuliah metodologi penelitian menyimpan kisah kisah yang tak terelakkan antara kekonyolan, keseriusan, dan kelucuan. Misteri lainnya bakalan akan ditulis di bagian bagian tulisan berikutnya.

Mau cepat lulus, cumlaude, dapat kerja dengan gaji baik dan menjadi pelaku kelas menengah perkotaan merupakan cita cita tak tertahankan di dalam diri mahasiswa baik secara sadar maupun tidak. Semua orang yang berarti mahasiswa semakin pragmatis, bagaimana cara dapat A dengan mudah dan menyelesiakan skripsi tanpa polemik atau susah payah.

Mahasiswa jenis pengen cepet lulus dengan berbagai alasan yang sering aneh dan konyol menurutku biasanya nyaris tak pernah berfikir menulis skripsi sebagai intellectual exercise untuk menunjukkan kapasitas inetelegensianya. Mereka tak pernah berfikir menulis skripsi agar bisa dibaca orang banyak dan menginisiasi riset selanjutnya. Tipikal mahasiswa begini, jangan sekali-sekali diiming-imingi skripsi diterbitkan itu membanggakan. Gak bakalan nyambung karena jaringan sedang disconnected.  Saya udah pernah merasa konyol gara gara salah fikir: bahwa  mahasiswa bangga skripsinya diterbitkan jadi buku. Aku mengukur diri dengan mahasiswa di zaman yang berbeda. Aneh bin konyol kadang perlu, ya kalau gak sesekali aneh, kadang kita gak belajar apa pun dalam hidup atau melewatkan hikmah di balik kisah. Akibatnya, piknik juga gak jauh amat.

Sejujurnya, seringkali menulis skripsi itu seperti tanpa makna. Bagi mahasiswa, saya sering katakan kalau lulus sekedar lulus jadi sarjana alangkah gampangnya itu diraih. Anda bisa lakukan plagiat, semi plagiat, bahkan membeli skripsi pun bisa. Tapi apa artinya? Atau bagi yang punya mental rada kuat/mental gondes, tulis ala kadarnya lalu bimbingan dengan kekuatan mental pertahanan mendengar omelan aneh dosen lalu pergi, dan datang lagi sampai di hari H minggu revisi tetap lakukan hal yang serupa. Pasti juga lulus akhirnya akibat dosen lelahnya mengurusmu. Gampang kan? Skripsi hancur lebur tak berarti masa depan suram. Tuhan tahu itu.

Suatu siang yang mendung, seorang mahasiswa pernah curhat kepada saya via Whatsapp: “…skripsi adalah aib besar dalam hidupku, jgnkan memberikan org membaca membukanya saja saya malu dan kadang geleng geleng kepala, ya mungkin mahasiswa butuh dicerahkan meraka tak patut dsalahkan karna lingkungan tenpat belajar mereka tak pernah serius juga memfasilitasi riset-riset kece, dosen pun kadang tak pernah serius membimbing mahasiswanya…”.

Ya, kesibukan atau apalah penyebab pembimbing tak maksimal membimbing tapi itu juga bagian dari lingkar kekonyolan akhir zaman yang sedang aku tuliskan ini. Dari puluhan ribu mahasiswa, saya yakin sekali selalu ada yang idealis mewakili zaman dan ruang sosialnya.

Seorang mahasiswa PhD yang baru lulus dari kampus di Negeri Uncle Sam pernah bilang di sebuah jamuan makan malam di Kota Honolulu: “menulis disertasi itu 5% kecerdikan, dan 95% daya tahan.” Idealnya, daya tahan bukan soal telingah kuat menahan amarah dosen tetapi disertai ikhtiar membaca, menulis, riset ke lapangan, mengolah data, menganalisis, merevisi, dan juga tekun minta pertolongan tuhan yang konon selalu bersama mahasiswa semester akhir. Jika tak kuasa menahan kebodohan, belajarlah sejak sekarang atau kemarin kemarin kalau bisa memundurkan waktu.

Tantangannya adalah, bahwa kuliah s1 lama tak lagi zamannya. Jadi, harus segera lulus dan tak usah peduli sudah belajar apa selama 3 tahun di kampus. Kuliah s1 bukan ukuran. Skripsi s1 gak usah baik baik, nanti kalau s2 dan s3 kerja lebih baik. What? Entahlah kalimat kalimat ini logis, massif, dan berdampak sistemik.

Di penghujung tulisan ini akhirnya saya menutup kisah kisah tak tertahankan ini dengan sebuah mantra. Jika dirimu tak sanggup menulis skripsi yang berkualitas di bumi, mencobalah menuliskannya di langit. Demikian, semoga menghibur.

 

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*