“semua pengedar dan  pelapak buku bersaudara”

“Kegembiraan terbesar pegiat literasi adalah ketika berhasil mengantarkan buku-buku kepada orang tua asuhnya, kepada pembacanya.”

 

 

Tulisan ini hendak melanjutkan diskusi dari label gerakan literasi sebelumnya yang disebut gerakan literasi transformatif, gerakan literasi emansipatif, gerakan literasi kritis yang telah mewarnai tahun-tahun 2014 sampai kini. Di sisi lain, bukan oposisi, berkembang pesat apa yang disebut juga sebagai gerakan literasi madzab asik atau kreatif—terhubung pada aspek-aspek humanisme actual yang bercerikan: mudah, mobile, unik, asik, dan media friendly. Sebagaimana pengakuan fauzi Baim, pegiat literasi di Sidoarjo dengan produk ‘jamu pustaka’ bahwa sosial media mempunyai kekuatan penting dari upaya mensosialisasikan kehadiran pustaka-pustaka yang unik tersebut.

Banyak sekali komunitas literasi yang mempunyai kekuatan nilai yang menjunjung tingggi kesamaan hak antar pegiatnya, kerelawanan, tidak diskriminatif, dan sampai pada hasrat-hasrat manusiawi sebagau keluarga dekat yang tinggal dan menetap di bawah langit atau atap yang sama. Kekuatan nilai-nilai ini menjadikan etos otonom, mandiri, tegar, dan kreatif dapat berjalan seiring seirama dengan nalar gerakan literasi. Gerakan literasi tak lagi didefinisikan secara ttradisional sebagai pegiat taman bacaan—mengusahakan buku, pengadaan perpustakaan, dan meminjamkan buku-buku kepada masyarakat. Literacy is more than books! Literasi berarti tentang kehidupan yang kompleks dan saling berinteraksi satu dengan lainnya.

Dimensi paradigmatik juga penting guna memahami keragaman gerakan literasi baik praksis maupun teoritis. Tapi ini agak rumit, tetapi sejatinya, semua penggerak literasi adalah dinamis dan mempunyai ‘takdir’nya masing-masing. Bukan soal seberapa luas spektrum gerakan akan mampu menstransformasikan masyarakat menjadi suatau keadaan lebih ideal-actual, tetapi sangat penting untuk melihat seberapa keberkuasaan dan otonom dari pelaku gerakan tersebut (aktifisme). Bukan soal klaim mengorganisir kesadaran masyarakat atau fisik orang per orang, tetapi bagaimana sebuah gerakan itu bermanfaat bagi pelakunya dulu (Muhiddin Dahlan, 2016).

 

Aktifis literasi Texstual

Aktifisme adalah candu! Mantra penting yang pernah penulis dapatkan dari seorang aktifis di ruang diskusi. Istilah ini mengkritik betapa aktifisme dianggap sebagai pemenuhan hasrat pelakuknya daripada hasrat masyarakat yang diklaimnya sedang diperjuangkan (Tania Murai Li, 2010). Makanya, banyak sekali kegiatan pemberdayaan masyarakat berakhir pada keberkuasaan pelaku atau wali masyarakatnya: LSM, NGO, komunitas, lembaga, dll. Siapapun yang berafiliasi dengan lembaga yang semakin stabil, punya tantangan untuk mengurangi hasratnya sebagai dewa penolong, sebagai malaikat bumi yang seolah melakukan upaya pengentasan masalah bagi orang-orang yang sengsara.

Seharusntya will to improve dalam konteks kritik Tania diubah menjadi will to learn. Jika hasrat belajar lebih kuat, maka perasaan superior akan semakin berkurang dan semua orang akan baik-baik saja di tengah kultur pembelajar sejati. Di dalam mengarungi aktifisme harus ada keberanian untuk belajar (learn), menetralkan pengetahuan (unlearn), dan belajar kembali (relearn). Makanya, dalam filosofi pegiat literasi yang tantangan sehar-hari tak pernah ada padamnya, harus punya mentalitas tangguh dan berdaya tahan: aku belajar, maka aku ada dan terus hidup.

Aktifisme yang bergaya tekstual artinya berfikir sangat tradisional dan konvensional seperti hasrat dikenal, puja-puji, meningkatkan kapasitasnya yang berguna untuk kebaikan hidupnya, dan juga menjalin pertemanan secara pragmatis, bahkan kapitalistik untuk memenuhi hasrat ekonominya. Saya masih menemui pegiat-pegiat yang otaknya proposal, dan bangga kalau menyarankan orang lain/pegiat lain agar bikin proposal untuk mendapatkan bantuan. Ini benih-benih civil society yang bersifat patologis. Dalam diskursus pasca kolonialisme ORBA, ada yang dilabeli NGO Plat merah. Tugas utamanya, menyerap anggaran publik.

Jika paradigma masih demikian, bagaimana meningkatkan indexs baca di Inodnesia yang masih serendah 0,001 % yang artinya hanya ada satu orang dari 1000 manusia indonesia yang menghabiskan buku selama satu tahun. Perbandingan ketersediaan buku juga tak kalah buruknya. Barangkali ada banyak buku tetapi tidak aksesibel. Hal ini bukan hanya karena minat rendah, tetapi juga karena pparradigma negara yang masih memperlihatkan kultur ‘feodal’ dan ‘kolonial’ dalam mengelola lembaga pengembangan pengetehuan sejenis perpustakaan umum (public library). Bayangkan, anda pinjam dua buku di perpustakaan kota Yogyakarta dan KTP anda ditahan selama satu minggu. Saya sendiri jika demikian adanya akan sangat berat untuk meminjam buku. Apakah pemerintah takut buku hilang? Inilah dosa paling besar abad ini yang dimiliki oleh pemerintah. Jika takut hilang, jangan bangun perpustakaan tetapi bangun kantor polisi sebanyak-banyaknya atau kantor pegadaian.

Pendek kata, paradigma gerakan literasi yang tekstual ini melahirkan beberapa dosa sosial bagi stakeholder yang seharusnya memberikan akses buku kepada publik. Dosa sosial itu antara lain, pemerintahan yang tak mensubsidi harga buku agar terkjangkau, pemerintah dan pelaku penyelenggara pendidikan yang mempersulit peminjaman buku, distributor buku dan penerbit yang mengeruk keuntungan dari kesusahan publik dengan memahalkan harga buku, dan juga orang per orang yang menumpuk bukunya di rumah sendiri untuk hasrat egoismenya sendiri. Inilah dosa yang tak kalah mengerikan dari dosa-dosa sosial yang dimantrakan oleh yang mulia Mahatma Gandhi. Gerakan literasi tekstual memerlukan belas kasih negara, belas kasihan penebit, orang kaya, belas kasihan proposal.

Melihat tantangan zaman, gerakan literasi tekstual harus mulai ditinggalkan. Gerakan-gerakan literasi harus dibumikan dan tak lagi mengandalkan sektor negara bergerak mendominasinya. Ada informasi negara kita akan menyusun indeks literasi nasional sebagai agenda baru kemendikbud, setelah mendikbud sebelumnya sibuk dengan indexs integritas pendidikan (indeks kejujuran ujian nasional). Pendekatan positivis demikian sejatinya tak banyak membantu, tetapi sebagai program pastilah ada banyak manfaatnya misalnya sebagai pangkalan data evaluasi akan efektifitas gerakan literasi selama ini. Pasti kan?

Lalu bagaimana dengan TBM yang buanyak di seluruh Indonesia walau dilihat dari angka manusianya masih sangat sedikit, tapi TBM saja sudah banyak yang diabaikan oleh negara padahal mereka sejatinya diopeni karena terminologi TBM itu bagian dari kerja pemeirntah?. Ada 200 ribu desa dan keluarahan lebih di Indonesia dan ratusan ribu RT RW. Jika semua area entitas manusia itu dibangun peprustakaan atau reading corner yang baik dan dikelola komunitas secara berkelanjutan ada harapan itu akan mengubah keadaan dari ‘nol baca’ menjadi sekian persen baca. Dan baru bisa diukur dalam indeks literasi.

 

Aktifis literasi Aktual

Pilihan kata aktual ini sepadan dengan penggunaan kata kontekstual—adalah format gerakan yang adaptif pada ruang dan waktu. Dengan demikian, gerakan literasi dan aktifis di dalamnya mempunyai dimensi aktual dan atau kontekstual. Aktifisme yang menolak kebaruan dalam cara mengelola kekuatan atau sumber daya berarti ia akan menguburkan diri dalam konservatisme yang bisa menggelindingkannya kedalam stagnasi. Kebosanan adalah satu ekspresinya. Kadang ada perasaan sudah melakukan banyak hal tetapi sebenarnya tak ada hal yang dapat dikatakan sebagi buah dari tindakan. Akhirnya, aktifis ‘tektual’ ini menyerah begitu saja.

Alhamdulillah, selama kurang lebih empat tahun saya diberikan kesempatan bertemu dengan orang-orang baik yang menjadi pegiat di Rumah Baca Komunitas, Yogyakarta. Selalu ada kisah yang menarik mengapa seseorang melibatkan diri dalam dunia komunitas literasi. Literasi aktual, kadang tak menyaratkan seseorang punya alasan mengapa bergabung dan belajar dalam komunitas. Setidaknya kesimpulan ini juga saya dapatkan dari diskusi dengan Fauzan A Sandiah yang telah banyak merefleksikan kisah hidupnya sebagai manusia buku dalam beragam tulisan-tulisannya.

Persoalan aktual atau tidak dalam interaksi sebagai manusia dan aktifis banyak dipengaruhi oleh ekosistem sosial atau ekologi manusia sekitarnya. Kekuatan ekosistem menempati derajat penting dalam kehidupan lantaran posisi aktifisme yang juga bertendensi memberikan dampak kepada sesama manusia. Senada dengan hal tersebut, dalam  System and Structure (1972), Anthony Wilden mengembangkan pemahaman akan model komunikasi manusia sebagai simbol dan pertukaran materi dalam sebuah konteks ekosistem. Lebih jauh dia katakan, mengikuti jejak Gregory Bateson dan Jacques Lacan, Wilden menemukan bahwa pertukaran makna dalam komunikasi insani selalu dimediasi oleh konteks sosial dan level pertempuran (level of constraint). Jika dapat disebutkan identitasnya, barangkali intelektual publik atau intelektual organik dapat menjadi bagian dari pengurai atas persoalan-persoalan aktual seputar daya dan pengetahuan masyarakat. Mengapa? Karena salah satu tugas seorang intelektual yang bertanggungjawab adalah untuk melanjutkan advokasi politik untuk keadilan dan perubahan yang lebih baik.

Apa yang dibutuhkan oleh penggerak gerakan literasi aktual selain doa-doa dan kebaikan alam? Gerakan ini pertama-tama jelas mensyaratkan kesadaran penuh akan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, keberdayaan, kemandirian, dan juga keteguhan dalam melakukan tindakan-tindakan kreatif yang berkesinambungan. Selain itu, kekuatan akan bergantung pada soliditas komunitas dan rasa komunalitas di dalam melakukan upaya-upaya memberdayakan dirinya. Gerakan literasi aktual itu menilustrasikan bahwa semua orang adalah kekuatannya, alam semesta, apa pun yanga da disekitar adalah bentuk dukungan bagi gerakannya. Misalnya, ada kuda, ada kapal, ada buku, ada tanaman, sastra, puisi, tukang kayu, tetangga, ada mahasiswa, dan sebagaianya, dan sebagainya adalah resources. Baginya, kekuatan paling penting ada tepat di dekat kita. Intinya, tuhan tak pernah mengirimkan sesuatu kepada alamat yang salah. Maka, tuhan selalu bersama pegiat literasi.

Sebagai contohnya, saya ingin memberikan contoh salah satu gerakan literasi yang dimensi aktualnya masih sangat kuat yaitu belajar/mengajarkan cara naik sepeda ontel biar bisa ke perpustakaan yang lokasinya jauh. super amazing ya. Bahkan  Frank Cody (2012) dalam bukunya berjudul The Light of Knowledge mencatat:  .

“…Arivoli Iyakkam, one of the largest literacy movements in the world, which mobilized millions across Tamil Nadu between 1990 and 2009. The Arivoli Iyakkam sought to increase the political participation and leverage of rural women and aspired to help them attain new, enlightened autonomy through literate access to science and knowledge.”

Gerakan yang sangat dipengaruhi oleh pikiran progresif dan anti kemapanan Paulo Friere tersebut telah terbukti menginspirasi banyak gerakan literasi di jagad raya. Hal serupa sebanarnya, walau tak sefenomenal Arivoli Iyakkam, mudah kita temui di Indonesia misalnya yang tergabung dalam jaringan pustaka bergerak yang dimotori oleh banyak orang salah satunya adalah Nirwan Arsuka. Saya juga menjadi bagian darinya secara individual atau kelompok. Mereka terlihat sangat ‘terpisah’, bebas, dan militan dari segala program yang jauh dari gemerlap dana atau simbol-simbol negara, rada berbeda dengan komunitas literasi lain yang masih gagal move on dari ‘bajakan’ atau quasi negara.

Btw, apakah aktifis gerakan literasi aktual menolak kehadiran negara? Jelas bukan ‘iya’ jawabannya. Lalu? Mari kita diskusikan bagaimananya? Terima kasih.

Bahan Bacaan:

Cody, Francis. 2013. The light of knowledge : literacy activism and the politics of writing in South India. Cornell: Cornell University Press.

Li, Tania Murray. 2013. Will to Improve: Perencanaan dan Kekuasan dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Marjin kiri

Sinaga, Marsen. 2016. Pengorganisasian Rakyat dan Hal- Hal yang belum selesai;  Belajar Bersama Arkom Jogja. Yogyakarta: Insist Press.

http://cornell.universitypressscholarship.com/view/10.7591/cornell/9780801452024.001.0001/upso-9780801452024-chapter-7

http://rediscoverbicycle.blogspot.co.id/2010/04/arivoli-iyakkam-cycling-initiative-in.html