Pertemuan Sultan HB X dengan Segenap Takmir Masjid Pathok Negoro, Masjid Kagungan Dalem, Abdi Dalem, dan Peserta Undangan di Bangsal Kraton Ngayogyakarta,

Sabtu 25 Februari 2017
(Dalam Rangka Mangayubagya Adeging Nagari Ngayogyakarta)

Sabtu sore bakdal-shalat Ashar, semua undangan sudah duduk rapi di bangsal Kraton yang digelari karpet bertaburan kembang mewangi. Suasana hening dan sakral menyelimuti bangsal menanti kehadiran Sri Sultan. Kebanyakan takmir masjid berkostum baju putih, berpecis hitam dan bawahan hitam duduk di shaff (barisan) depan menghadap ke selatan. Kanjeng Ridwan dengan sorban putih terikat di kepala, Ketua Kaji Rolasan duduk di sebelah timur dengan khidmat didampingi beberapa abdi dalem. Beliau mengumumkan agar semua handpone dimatikan. Di sebelah barat ada tampak beberapa abdi dalem istimewa duduk tidak kalah khusyu’nya. Kami tidak melihat seorang pun rayi dalem menghadiri acara sakral yang diharapkan Sri Sultan X diselenggarakan setiap menjelang pengetan Adeging Nagari.

Tidak lama kemudian Sri Sultan hadir dan menduduki bantal yang sudah disediakan di tengah bangsal menghadap ke utara, yakni ke arah hadirin. Adapun kedua anak putrinya mengiringinya dan duduk di sebelah timur. Setelah duduk, Sri Sultan mengucap salam kepada hadirin. Setelah mengucapkan kalimat pembuka, Sri Sultan mengundang hadirin untuk menghadiri acara semakan al-Qur’an yang digelar Ahad pagi hingga selesai malam hari, sekaligus beliau menyatakan hanya akan menghadiri pada sore/malam harinya. Beliau menyampaikan 3 hal, yakni:

1. JANGAN TERSERET FUNDAMENTALIS, TETAPLAH BERPEGANG AHLU SUNNAH WAL JAMAAH

Sri Sultan mengamati bahwa fundamentalis menyebabkan riak gelombang dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Aksi 411, 212, dan seterusnya tidak murni agama, melainkan ditunggangi kepentingan politik. Sri Sultan menghimbau alim ulama dapat mengkosolidasikan kondisi agar tetap aman dengan tetap memegang ahlu sunnah wal jamaah.

Sri Sultan mengingatkan pula, bahwa demokrasi sudah menjadi pilihan kita. Demokrasi bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai kesejahteraan dan kemajuan hidup. Sehubungan Indonesia merupakan negara maritim yang terbentuk atas kepulauan, maka demokrasi tidak boleh digunakan untuk menyalurkan aspirasi terpecahnya negara Indonesia. Dan Yogyakarta telah membuktikan sebaliknya, Kraton Yogyakarta justru mempelopori penggabungan diri kedalam NKRI.

2. JANGANLAH MEMBESARKAN MASALAH KRATON YOGYAKARTA

Sri Sultan mengharapkan dialog ini bukan untuk memperbesar masalah. Sri Sultan HB IX telah melakukan perubahan besar dengan Amanah 5 September 1945, yakni menjadikan Nagari Ngayogyakarta bergabung dengan NKRI, yang berarti tunduk kepada konstitusi dan tidak boleh bertentangan.

Sri Sultan HB X berkata, ”Saya hanya sakdermo melakukan apa yang menjadikan keyakinan bahwa saya harus mengubah gelar Sultan…”. Kraton Yogya mengakui asal-usul, maka harus kembali kepada asalnya. Maka gelarpun berubah sebagai kearifan lokal. Sultan HB X menjelaskan panjang lebar sejarah hingga masa Majapahit dan Singasari. Beliau menyakini bahwa perubahan gelar tersebut tidak banyak mengubah makna. Dan beliau menjelaskan bahwa tidak satupun rayi (adik-adik) menyetujuinya.

Bahkan beliau meyakini bahwa 100% tidak salah dalam mengubah gelar Sultan itu. Lalu beliau menyampaikan sejarah Perjanjen Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring yang dianggap sudah selesai. Beliau juga menjelaskan bahwa Mataram dianggap dinasti tersendiri.

3. UJI MATERI DI JAKARTA

Sri Sultan HB X menjelaskan bahwa UUK atau hukum negara bukan mengatur HB dan PA, melainkan hanya mengatur kaitannya dengan gubernur. Beliau menyinggung Pasal 14 Ayat 1 Butir m, tentang Persyaratan Gubernur harus memenuhi syarat di antaranya: istri, anak, saudara kandung dan lainnya.

Negara demokrasi seperti Indonesia mempunyai sumber hukum UUD dan Pancasila, dimana mengakui adanya kesetaraan gender. Adapun pemerintahan kerajaan (monarki) mempunyai sumber hukum tersendiri, yaitu Sultan yang sedang jumeneng. Dengan demikian, diharapkan segenap takmir masjid pathok negoro dan takmir masjid kagungan dalem serta masyarakat tidak perlu campur tangan dalam urusan kraton.

DIALOG DENGAN HADIRIN :

1. UTUSAN MASJID ROTOWIJAYAN:

Perubahan gelar Sultan dan proses suksesi yang tampaknya ke arah wanita ternyata menimbulkan polemik besar bagi masyarakat atau kawulo Mataram Yogyakarta.

JAWABAN SRI SULTAN HB X:

Sri Sultan HB X menjelaskan paugeran berdasarkan sejarah suksesi hingga dari Sultan HB I ke HB X. Dalam suksesi dari HB IX kepada beliau dijelaskan melalui pengambilan sumpah setia dari calon HB X. Ringkasnya, Calon Sultan HB X bersedia mengemban sumpah setia yang diniatkan untuk mukti (bukan mulyo) yang mengandung nilai luhur, suci, kebenaran.

Sumpah setia yang dituntut Sri Sultan HB IX yang sudah disanggupi calon HB X adalah:
a. Janganlah melanggar Paugeran Nagari Ngayogyakarta.
b. Janganlah melanggar aturan /hukum negara.
c. Harus lebih berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
d. Janganlah berambisi apapun, kecuali semata-mata demi kesejahteraan rakyat.

Sri Sultan HB X mengingatkan pesan Sri Sultan HB IX kepada calon HB X: Jika engkau memenuhi janji ini, jangan engkau mencari diriku. Sebab aku selalu di sampingmu. Namun jika engkau mengkhianati janji ini, maka jangan engkau mencari diriku. Sebab aku sudah pasti meninggalkanmu.

2. UTUSAN MASJID AL-JIHAD (AGUNG) CONDRONEGARAN:

Utusan Masjid al-Jihad Condro mengingatkan Sri Sultan X dengan pesan moral suksesi Kraton Yogyakarta yang tersirat di Mihrab Masjid Gedhe kauman Kraton Yogyakarta:

Secara tegak (vertikal) di Mihrab tertera: 1. Allah; 2. Muhammad; dan 3. Fathimah.
Penjelasannya, Allah Swt telah memberikan nikmat besar kepada Sinuwun Sultan HB X mirip Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yang mana Allah Swt mengutus hamba terbaik-Nya, Sayidina Muhammad Saw sebagai Rasulullah bagi seluruh alam, termasuk Yogyakarta. Demikian pula, Allah Swt juga sudah melimpahkan amanah khalifatullah panotogomo kepada Sinuwun Sri Sultan HB X.

Allah Swt memberikan nikmat besar kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw dengan memberikan anak yang kesemuanya putri berumur hingga dewasa. Demikian pula Sri Sultan HB X diberi nikmat oleh Allah Swt dengan anak-anak putri.

Allah Swt memberikan nikmat besar kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw dengan memberikan rasa cinta kepada semua putrinya. Demikian pula Sinuwun Sri Sultan HB X, diberi nikmat besar oleh Allah Swt rasa cinta yang besar kepada seluruh putri-putrinya.

Allah Swt memberikan nikmat besar kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw untuk memberikan gelar kepada putri tercintanya, Siti Fathimah sebagai, ”Sayidatu nisaa’ ahlil-Jannah” atau “Ratuning midodari suwargo”. Demikian pula Sinuwun Sri Sultan HB X diberi nikmat besar oleh Allah Swt dengan memberikan gelar putri tercintanya.

Walaupun Kanjeng Nabi Muhammad Saw amat mencintai semua putrinya, namun beliau tidak mengangkat Siti Fathimah sebagai khalifatullah atau pemimpin ummat. Hikmah kebijaksanaan ini tersirat secara mendatar (horisontal) di Mihrab tertera nama: 1. Abbas; 2. Hasan; 3. Husen; Fathimah; Zakaria; Yahya; dan Hamzah.

Dan ternyata langkah politik yang tidak populer dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw membuahkan keberkahan luar biasa, yakni Siti Fathimah berhasil mengkader keturunannya melalui Sayidina Husein anaknya Siti Fathimah (atau cucu Kanjeng Nabi Muhammad Saw) menjadi pemuka masyarakat di seluruh dunia, hingga para Walisongo yang berdakwah di Indonesia. Salah satu dari Walisongo adalah Sunan Giri yang keturunannya banyak menjadi umara dan ulama di Ngayogyakarta Hadiningrat.

Maka jika Sinuwun Sri Sultan HB X berkenan mengikuti teladan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, maka sungguh akan mencapai kamukten (mukti) di dunia yang sementara ini dan mukti di surga tertinggi bersama Kanjeng Nab Muhammad Saw di hari akhirat kelak selama-lamanya.

Keinginan kawulo dari Masjid al-Jihad (Agung) Condronegaran dan insyallah hampir semua kawulo Metaram Yogyakarta adalah Sinuwun Sri Sultan HB X mengambil taufik dan hidayah dari Allah Swt untuk mengikuti suri teladan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yakni memberikan estafeta Kasultanan ini kepada lelaki Muslim dari Kraton Ngayogyakarta berdasarkan musyawarah intern Kraton. Semoga Allah Swt mengabulkan semua niat baik semua hamba-Nya.

JAWABAN SRI SULTAN HB X:

Mendengar tanggapan utusan Masjid al-Jihad (Agung) Condronegaran, Sri Sultan HB X memberikan tanggapan singkat bahwa dirinya hanya sakdermo nglampahi. Beliau tidak menegaskan kepastian bahwa Sultan HB XI adalah wanita. Kemudian beliau bertanya kepada Kanjeng Ridwan, “Apakah masih ada waktu?” Dan dijawab, “Cekap” oleh Kanjeng Ridwan. Dengan demikian pertemuan dianggap selesai.

Yogyakarta, Sabtu 25 Februari 2017
Notulen dibuat oleh Utusan Masjid al-Jihad (Agung) Condronegaran

NB: Notulen ini dipublish dan didedikasikan agar :
1. Sinuwun Sri Sultan HB X memenuhi janji kepada ayahanda Sri Sultan HB IX dan dalam rangka membantu Sinuwun Sri Sultan X meraih kamukten (mukti) dunia hingga akhirat.
2. Mensinergiskan semua pihak dalam suasana Golong Gilig Manunggaling Kawulo-Gusti demi mempertahankan NKRI.
The untold story of Notulen HB X :
Ternyata setelah tanggapan disampaikan oleh utusan Masjid al Jihad (agung) Condronegaran, tampak para takmir (hadirin) mengulurkan tangan mereka untuk berjabat tangan sambil berbisik mengucapkan rasa syukur ada yg berani menyampaikan taushiyah kpd Ngarsa Dalem.