Sejarah membuktikan para Taipan yang saat ini menguasai prekonomian dunia dengan konglomerasinya adalah mereka yang leluhurnya berasal dari pesisir Cina (Propinsi Kwangtung dan Fukien) yang bermigrasi ke berbagai penjuru dunia.  Bank Dunia pernah meramalkan bahwa Cina bakal menjadi nomor satu di jagad raya. Sejak 1994 tingkat pertumbuhan Cina mencapai 19 persen yang juga ditopang oleh kekuatan besar pendekar-pendekar China Rantau. Kini jumlah diaspora Cina atau China Rantau (Overseas China) diperkirakan sebanding dengan jumlah 55 juta manusia yang mempunyai kekuatan dan kekayaan luar biasa secara ekonomi dan etos politik. Kaum imigran-pedagang ini telah menguasai semua ‘lantai dasar’ perekonomian dunia. Dari buku Seagrave ini saya berkepentingan mengutipkan:

…GNP Cina rantau yang tinggal di Asia mencapai US$ 450 Miliar , 35 % lebih besar dari GNP Cina. Semua negara Asia dibawa control mereka kecuali Jepang dan Korea. …Jika keajaiban ekonomi jepang karena control ketat negara, maka Cina rantau membangun super ‘keajaibannya’ secara diam-diam, sebagai pelancong, imigran di negeri-negeri asing yang tak ramah…

Dalam banyak penelitian ahli China rantau, sejarah telah membuktikan para Taipan yang saat ini menguasai prekonomian dunia dengan konglomerasinya adalah mereka yang leluhurnya berasal dari pesisir Cina yang bermigrasi ke berbagai penjuru dunia sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu. Komunitas Cina Pesisir adalah sebuah kerajaan tanpa bentuk yang terdiri atas 55 juta orang atau hanya 4 persen dari penduduk RRC, mereka menjalin diri dalam suatu sistem yang rumit dan membentuk jaringan finansial yang membuat Cina Rantau tumbuh menjadi kekuatan raksaksa. Mereka terlatih dalam berbagai zaman dan tipologi rezim politik di Asia dan di luar Asia. Karenanya, nyaris mustahil ada komunitas di muka bumi yang dapat merebut posisinya secara ekonomi dan kepiawaian politik.

Jika Chalmers A. Johnson (1982) mengatakan Jepang mengalami keajaiban dalam perkembangan Industri, sejatinya China Rantau tidak disebut sebagai keajaiban tetapi barangkali ‘takdir’ yang diciptakannya secara sengaja. Kedigdayaan China Rantau menjadi disuka sekaligus di caci dalam konteks praktik persaingan ekomomi politik terutama hampir di semua kawasan Asia Tenggara. Di beberapa perkotaan atau kota-kota besar dan menengah di Indonesia situasi cukup sensitive akibat pola ekspansive kaum dagang China keturunan. Pertanyaannya selalu sama yang diajukan: Bagaimana Cina dapat sekuat itu? Atau bagaimana China mampu membeli Dunia dan isinya? Kadang tak semua orang benar-benar mau mendengar jawaban karena dianggap itu sebuah kenyataan ‘pahit’ yang harus ditelan.

China Membeli Indonesia

Keturunan China atau keturunan Tionghoa atau keturunan Tiongkok yang akrab digunakan untuk menyebut kebaradaan China overseas di Indonesia. Di dalam Bahasa Inggris terminology yang digunakan biasanya ‘Chinese Indonesians’ atau ‘Ethnic Chinese’. Wu-Ling Chong (2016) menuliskan artikel cukup panjang mengenai posisi Etnis China di Indonesia. Dia men-tracking banyak sekali literatur dan data sepak terjang Cina di Indonesia sejak zaman Belanda, Orde Lama, Orde Baru, sampai Pasca Orde Baru yang dapat disimpulkan sebagai privilege orang China dan daya tahan orang China di Indonesia. Baik Belanda maupun Orde Sukarno sejatinya mereka tak pernah menghalangi orang China jadi Taipan di republik ini. Belanda memberikan hak istimewa kepada orang China untuk menguasai sumber ekonomi tertentu untuk menghadang pertumbuhan kelas borjuasi pribumi. Sukarno juga sangat pro-China di Indonesia dan juga membangun relasi dengan Pemerintah China. Walaupun demikian, tuntutan ‘politik’ menyebabkan Sukarno harus beprihak pada kemajuan Ekonomi kaum pribumi (bentuk nasionalisme tetapi dapat dianggap sebagai kebijakan diskriminatif). Tapi itu tak cukup berhasil bila dibandingkan dengan kedigdayaan dan keberhasilan China rantau. Baik Belanda atau rezim Sukarno telah menyemai bibit-bibit “ersatz capitalist” (Kunio Yushihara, 1988) di Indonesia yang nanti dibesarkan lagi dan dihebatkan di era Suharto.

Sedikit berbeda dari periode politik sebelumnya, Suharto memaksa grassroot Cina di Indonesia untuk melakukan asimilasi dan membangun kemitraan dagang/rent seeker atau sejenis patronase dengan elite Ciina Rantau di Indonesia. Saya menduga praktik ABS itu dilahirkan dari kaum bussinessman ini yang punya akar kuat di China kuno—penghargaan yang berlebihan untuk menyenangkan atasan dengan menunjukkan loyalitas super tinggi. Periode ini, kekuasaan Banker ada di tangan ‘elite China’ sampai pada krisis 1997-8 yang mengacaukan ekonomi dan berakibat pada eksodusnya ratusan Ribu orang china keturunan dari Indonesia. Pada Era Gus Dur dan Megawati ada upaya menarik kembali orang china untuk menstabilkan ekonomi yang diakibatkan capital flight karena aksi eksodus tersebut. Baik Gus Dura tau Mega, keduanya kembali memberikan privilege secara sosial-politik posisi China rantau dan semakin terbuka keterlibatan politiknya.

Tercatat di tahun 2013, penduduk Indonesia dari ethnis china sebanyak 1,2% dari total populasi di Indonesia (Ananta et al., 2013). Walupun demikian, fakta tak dapat disangkal bahwa mereka menguasai porsi terbanyak dari sumber kemakmuran. Mereka bertahan di tengah berbagai badai politik atau mereka selalu puny acara untuk bertahan—dengan menjadi samar atau tak kentara.

Cara Cina Membeli Dunia

Dalam catatan Seagrava dalam buku Lords of The Rim, beberapa puluh tahun belakangan lebih dari 100 perusahaan besar konglomerasi muncul di Asia Tenggara, hampir seluruhnya dimiliki dan dikendalikan oleh Etnis Cina. Mereka tinggal dan bekerja di Indonesia, Malaysia, Thailand namun memiliki akar di Cina Selatan. Konon, mereka sudah membabat alasan di berbagai negara di dunia sejak 2000 tahun lalu akibat dari etos mencari kehidupan yang lebih baik secara politik atau ekonomi dengan mengembangkan perdagangan. Tapi etos saja tak pernah cukup, mereka harus ultra lihai seperti belut untuk merintis dan mengawetkan apa yang disebut politik patronase—selain etos ketekunan patah tongkat merangkak, mereka bisa menembak lebih cepat dari bayangannya. Gilanya, mereka juga dapat disebut sebagai bangsa yang ‘licik sejak dalam kandungan’. Itu barangkali yang memungkinkan mereka Berjaya di darat, di laut, dan di udara.

Sejatinya, China rantau layak disebut sebagai negara di atas angin (bukan lagi Eropa, Jepang, atau Amerika). Bagaimana mereka membeli sumber kemakmuran terbesar di jagad raya? Saya mencoba menekankan pada aspek ‘politics’ ketimbang ekonomi-profit. Tapi semua orang tahu, dunia China rantau itu sejatinya adalah politics and profit ibarat dua sisi mata uang. Bangsa ini bisa menguasai sumber keuntungan dari hulu sampai hilir, dari ujung bumi sampai ujung bumi lainnya, atau dari PKL di kampong kecil di Vietnam sampai wall street. Di pengantar buku Seagraf telah dipaparkan dengan apik bahwa 55 juta China rantau telah menguasai sebagian besar uang di dunia. Cina pesisir di China juga tak lebih dari 4% dari total populasi Cina tapi disana mereka juga paling Berjaya dan berkemampuan dalam ilmu pertahanan kekuasaan finansial.

Saya membaca beberapa referensi mengenai etos dagang china rantau (etos rantau) seperti yang ditulis Gordon Redding (1994) yang mengkisahkan Spirit of Chinese Capitalism, atau buku karya Souchou Yao (2002) tentang kapitalisme yang dibalut dengan confusianisme, juga buku terkait Bisnis Etnik China oleh Jomo K.S. and Brian C.Folk (2003). Ketekunan, ketegaran, dan kekuatan untuk ‘merebut’ capital dianggap sebagai sesuatu yang mulia oleh bangsa China, begitu juga seperti yang diyakini oleh kaum pedagang Minangkabau, Batak, dan beberapa ethnis di Nusantara. Bangsa China beranggapan dengan kepemilikan kekayaan dan kemampuan mempertahankan kekayaan (oligarki) mereka dapat menyelamatkan dirinya, keluarga, komunitas, dan bangsanya (lihat Seagrava bagian prolog dan bab 1). Namun, ada juga yang menganggap profesi pedagang sebagai profesi yang ‘tercela’ (Carrey, 2015). Selain etos, pengetahuan juga dipercaya sebagai sumber kekuatan. Pengetahuan sebagai pilar kedua dari etos rantau dan mental menang bisnis para Taipan. Jack Ma, CEO Group Ali Baba menambahkan bahwa pengetahuan juga dapat digunakan dalam bisnis sebagai alat membual (Chen Wei, 2017).

Baik China rantau atau kapitalis non-pribumi (foreign capitalists) dianggap sebagai outsider dalam politik di Indonesia (Robison, 1996) dan hanya china rantau yang muslim yang dapat berasimilasi dengan baik di masyarakat islam di Nusantara (Cheng Ho, misalnya). Jika mereka bukan muslim maka yang terjadi hanyalah asimilasi kepentingan ekonomi-politik yang sangat ditentukan oleh kepentingan rezim kekuasaan. Dengan posisi demikian, sejatinya kelompok dagang china rantau cukup lekat dunianya dengan konsepsi politik identitas (Suryadinata, 2002).

Terakhir tetapi sangat utama dalam pemahaman saya, adalah political linkage. Para Taipan atau God Father merajai urusan ini. Walau bicara etos atau etika bisnis ternyata selalu overlap dengan politik yang telah banyak ditekankan oleh beberapa ‘sarjana’ (scholars) yang mengkaji Capitalisme di Asia tenggara seperti Kunio Yoshihara, Richard Robison, Vedi Hadiz, Anthony Reid, Jeffry Winters, Denys Lombar, Leo Suryadinata, dan sebagainya. Skill berpolitik cina rantau seringkali disamarkan atau tertutup dengan kemampuan bisnis mereka padahal kemampuan membangun patronase ini juga tak ada yang bisa menandingi (bukan hanya kekayaannya sebagaimana kata Batuta). Kelihaian berpolitik ini menjadikan bangsa diaspora ini mampu menciptakan beragam model praktik ekonomi seperti illegal economy, informal economy, unreported economy, unrecorded economy, underground economy, dan criminal economy (Fiege, Portes dan Haller, 2005; Barbara Harris-White, 2008). Kerakusan dan banalitas jenis ini jelas bertentangan dengan moral economy bangsa-bangsa mayoritas di negara ‘miskin’ seperti ethnic-ethnik yang ekonominya tertinggal (dan gaya politik grassrootnya selalu sentimental dalam kehidupan sehari-hari).  Pengalaman buruk poliitik patronase antara negara dan kapitalis cina rantau ternyata banyak ditiru oleh kelompok miluter di negara Asia Tenggara dalam skala yang berbeda-beda. Itu bukan soal kebodohan militer atau negara, tetapi lebih pada posisi ‘digdaya dan cerdiknya’ bangsa Cina Rantau.

Sedikit melompat ke China rantau kontemporer. Majalah The Economist dalam tajuk istimewa ‘China Buys up the World’ tak lama setelah US recovery dari krisis moneter 2008menyebutkan bahwa kedigdayaan China dalam konteks ekonomi global adalah dengan cara: to acquire raw materials, get technical Know-how and gain access to foreign markets. Kita bisa melihat itu semua bahwa ada atau tidak sistem perdagangan bebas Cina rantau selalu punya kebebasan mengakumulasi keuntungannya hingga ke level yang tidak masuk akal sampai-sampai kekayaan mereka dianggap mitos.

Kemenangan Besar Selamanya Vs Kemenangan Kecil Sementara

Beberapa karya buku yang penulis jangkau, ada beberapa kisah pedagang atau borjuasi pribumi yang dalam batas tertentu berhasil membangun struttur ekonomi yang tangguh walau dalam skala kecil dan jangkah waktu relative lebih singkat—tak lebih dari dua atau tiga generasi sebagaimana yang terjadi di Kotagede (lihat buku David Efendi, the decline of bourgeoisie di Kotagede, 2009), Saudagar Pariaman karya Mestika Zed (2017), The Muslem Bussinesman of Jatinom (Irwan Abdullah, 1994), Etos Dagang Orang Jawa (Daryono, 2007) juga barangkali pedagang santri di Pekajangan, Gresik, Weleri, dan tempat-tempat kecil lainnya yang Berjaya pedagang Bugis, Madura, Minang, dll. Dari kisah-kisah mashur pedagang non-Cina di Indonesia dapat dikatakan sebagai kemenangan kecil yang sepintas dibandingkan dengan Cina selain kemenangan kecil yang massif, juga kemenangan besar yang spektakuler—telah diakui dunia persilatan bahwa Cina perantauan adalah Master dari segala master pemilik sumber kesejahteraan,

Kepunahan generasi saudagar di beberapa kota menunjukkan bahwa etos dagang kaum pribumi memang banyak sekali tidak diuntungkan oleh rezim colonial yang takut pribumi menghebat, juga rezim kekuasaan yang korup. Konteks political opportunity pada umumnya dibenarkan sebagai faktor yang membuka ruang-ruang akses kepada proyek-proyek yang menguntungkan. Irwan Abdullah melihat kekuatan pedagang Jatinom juga tak terlepas dari aspek=aspek politik yang menjadikan orang-orang Cina terhambat melakukan ekspansi ke kampong-kampung. Temuan saya dalam riset di Kotagede juga sejalan dengan hal tersebut. Ekonomi kekeluargaan ala santri di Kotegede cenderung tidak awet apalagi ada ketakutan akan lesuhnya bisnis menjadikan keluarga pedagang menyiapkan takdir generasi penggantinya menjadi priyayi baru, kaum terdidik-pandai, dan birokrat negara. Selain faktor itu, kaum dagang, terutama santri, terlalu banyak nilai agama atau prinsip moral yang mesti dipatuhi sehingga menghambat sepak terjang bisnisnya menghadapi pesaing-pesaing di arena pertempuran pasar yang lebih luas (global).

Berbeda dengan bangsa Naga seperti Jepang atau Cina yang meyakini bahwa pasar adalah medan perang yang harus direbut. Mereka harus main di skala besar seperti bsinis narkotika-uang-senjata dan kini mereka merambah segala proyek infrastuktur negara, pasar, hotel, serta tambang, hasil pertanian, dan perkebunan dan paling akhir ini bisnis industry kreatif semisal e-commerse. Bisnis para taipan dan cukong cina ibarat wabah penyakit yang tak pernah terbendung bukan hanya endemic di negara-negara dunia ketiga tetapi juga menjadi terror di negara-negara maju. Sepak terjang di dunia persilatan ekonomi internasional menjadi spesies manusia bernama cina rantau ini menjadikan banyak orang berfikir ulang mengenai arti status kewarganegaraan (nasionalisme). Mereka tak menetap lama di satu negara, tetapi berpindah-pindah seperti backpacker tetapi memindahkan rekening uang yang tak terbatas. Etos dagang orang rantau minang, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian nampaknya, melihat kisah-kisah dalam buku Seagrave ini, tak akan mampu mengejar ketertinggalan. Barangkali untuk mengejar ketertinggalan bisnis dengan cina perantauan butuh waktu minimal dua ribu tahun dengan catatan Cina rantau tak melakukan apa pun. Gila!

Sebagai penutup rasanya tak enak kalua tidak memberikan apresiasi terhadap buku ini. Karena saking pentingnya informasi dalam buku yang ditulis sangat serius ini, nampaknya ada kesulitan yang tak tertahankan bagi pembaca untuk mendapatkan update bagaimana hari ini cina rantau berkuasa. Tapi, pasti mereka masih mencengkram kekuasaan ekonomi di seluruh dunia. Buku yang enak sekali dibaca seperti membaca novel sejarah pendekar kelas dunia yang kesaktiannya sekaligus kebejatannya tak terperikan. Buku yang memang benar-benar layak dibaca untuk menemukenali bagaimana suatu komunitas yang kekayaannya endemic sebagai superclass di negeri-negeri yang kemiskinannya endimik (Endemic poverty, meminjam bahasanya C.L.M Penders dalam bukunya  ‘Bojonegoro: 1900-1942’ terbit tahun 1982 ). Di toko buku harga buku Seagrave ini masih diatas 70 ribuan, saya sarankan bisa dibajak saja buku ini. Mungkin kita tak bisa menggeser imperium Cina rantau, tetapi setidaknya kita bisa sadar bahwa kita tak mampu mengejar karena mengejarnya ibarat mengejar sarang angin atau hantu. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Referensi

 Abdullah, Irwan. 1994. (Disertasi)The Muslim Bussniesman of Jatinom: religious reform and economic modernization in a cenral jawanese town. Universitas van Amsterdam.

Borsuk, Richard & Chng, Nancy. 2016. Liem Sioe Liong dan Salim group: Pilar Bisnis Suharto. Jakarta: Penerbit Kompas.

Carey, Peter. 2015. Orang Cina, Bandar Tol, Candu, & Perang Jawa: Perubahan Persepsi Tentang Cina 1755-1825. Depok: Komunitas Bambu.

Chalmers A. Johnson, Chalers A. 1982. MITI and the Japanese Miracle: The Growth of Industrial Policy, 1925-1975. Stanford: Stanford University Press.

Daryono. 2007. Etos Dagang Orang  Jawa: Pengalaman Raja Mangkunegaran IV. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Efendi, David. 2009. The Decline of Bourgeoisie: Runtuhnya Pedagang Pirbumi di Kotagede. Yogyakarta: Polgov UGM.

Jong, Huub De. 1998. Madura dalam empat zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan islam, suatu studi antropologi. Jakarta: Gramedia.

Gie, Kwik Kian. 1999. Ekonomi Indonesia dalam krisis dan transisi politik. Jakarta: Gramedia

Suryadinata, Leo. 2002. Negara dan Ethnis Tionghoa: Pengalaman Indonesia. Jakarta: LP3ES

Seagrava, Sterling. 2005. Lords of The Rim: Sepak Terjang Bisnis Para Taipan. Jakarta: Pustaka alvabet.

Kunio, Yushihara.1988. The rise of Ersatz capitalism in South-east Asia. Manila: Ateneo de Manila University Press.

Redding, S.Gordon. 1993. Jiwa kapitalisme Cina. Jakarta: Penerbit Abdi Tandur.

Robison, Richard. 1986. Indonesia: The Rise of Capital. Jakarta & Kuala Lumpur: Equinox Publishing

Wei, Chen. 2017. Jack Ma : Sisi-Sisi Tak Terduga Sang Godfather Bisnis China. Jakarta: Noura Book.

Winters, Jeffrey A. 2011. Oligarki. Jakarta: Gramedia

Zed, Mustika. 2017. Saudagar Pariaman: Menerjang Ombak membangun maskapai. Jakarta: LP3ES