Sangat unik sekali kesempatan ini karena saya harus meninggalkan ‘upacara’ hari raya idul fitri di kampung halaman. Konferensi yang saya ikuti ini sangat bergengsi dimana banyak sekali di dalamnya banyak sekali ahli di bidang kajian politik di Asia. Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dari 4-7 Juli 2016. Tanggal 5 adalah tepat hari raya di Indonesia. Jadi, memang ini pilihan sådär untuk berjauhan dengan keluarga selama beberapa hari.

Conference ini sebenarnya diadakan 2 tahun sekali di ANU, di Canberra. Kota ini adalah pusat pemerintahan di Australia. Kota kecil yang sangat padat dan sibuk. Satu hal yang sik adalah dengan mudahnya kita mendapatikan publik transportation, free wifi dan sebenarnya untuk melihat kota ini, cutup dengan jalan kaki. Silakan dicoba dech. Saya aja pengen lagi main-main ke sana.

Di depan School of Art, ANU. Take jauh dari perpustakaan

Salah satu site yang ask untuk membuktikan bahwa seseorang sedang berada di kawasan ANU. Diambil sore hari oleh teh Herni (Mahasiswa Pascasarjana di Public Policy di ANU asal Indonesia, penerima AAS)

Di tengah pusat perkotaan Camberra, tak jauh dari ANU

 

Hal yang menyenangkan memang karena UMY, kampus dimana saya bekerja sangat support dengan kegiatan ini. Saya dibantu semua urusan mulai visa, ticket, conference fee, hotel, yang saku. UMY dalam hal ini sangat generous. Bukan kali pertama saya mendapatkan kesempatan mengikuti conference international. Tahun sebelumnya saya bagpacker ke Okinawa, jepang sambil conference. Di Okinawa, saya menemukan banyak teman Indonesia sedang berjuang untuk PhD dan menyisakan waktu mengajak saya jalan-jalan dengan kendaran pribadi mereka.

Waktu di Australia saya tinggal di Rumah kontrakan teh Herni yang kebetulan tak jauh dari ANU. Dia mahasiswa akhir waktu itu di ANU dengan beasiswa AAS. Sangat menyenangkan karena saya tinggal di sana gratis, plus dapat pinjaman card untuk naik bis juga makan sekuatnya di dapur. Orang tua teh terni juga kebetulan sedang di Australia so, saya menikmati keramahan mereka juga keceriaan Feivel, anak Teh Herni yang bahasa Inggrisnya keren abis.

di dalam salah satu koridor perpustakan ANU

Di dekat area konferens, di Departement of Political Science and Social Change, ANU