Bagaimana menjadi warga negara baik di negara yang super jahat kepada warganya?. Mengingatkan pada butir2 mantra Vaclav Havel dalam tulisan panjangnya “the power of powerless….”

Negara yang terus mengancam warganya adalah negara yang secara substansial mempraktikkan totalitarian atau otoritarian. Setiap akal sehat menolaknya. Sekali lagi, setiap akal sehat menolaknya. Menolak monopoli tafsir kebenaran oleh justru orang orang yang berwajah moralnya suram. Penuh sejarah kekerasan

Apa yang tersisa dari kebaikan negara hari ini? Beberapa orang akan menjawab beasiswa lpdp ya 😍

Itu jawaban kelas menengah banget sepertinya bukan jawaban orang orang yang dihempaskan dari tanah kelahiranhya. Tentu bukan jawaban orang2 yang dijarah mataharinya Karena hotel apartemen. Pernah ke bayang rumah tanpa sinar matahari? Aku bertanya, sangat serius.

Tidak sedikit orang orang diusir dari kampungnya, dari hutannya, dari sungainya, dari kuburannya, dari sumber penghidupannya. Please, kebaikan negara bukanlah beasiswa LPDP yang dihamburkan di luar negeri oleh keluarga kaya, atau, setidaknya keluarga kelas menengah perkotaan yang bahasa inggrisnya bagus sejak sebelum lahir.

Tanggal 6 Februari kemarin Pram ulang tahun, pasti dia sangat sedih membaca postingan adlun Andi Gus syarif Gus risdi dolah…dkk….menangis dia.

Seorang anarcho muda beliau menanggapi teror poster humas polri haruslah dengan ketawa ngomong “kami tidak takut”. Bagaimana dengan kebaikan negara terhadap gerakan literasi? Kisah kecil saya dengarkan baik baik dua tahun lalu. Bantuan negara untuk taman baca di bantul selama setahun per taman baca 300 ribu dengan pengajuan. Inilah bait-bait puisiku.

 

Inilah “monumen pengkhianatan”
Bagaimana tidak?

Kebebasan berpendapat dijamin bukan hanya konstitusi negara tapi konvensi hak asasi manusia

Bagaimana definisi kritik, masukan, Saran, protest di negara demokrasi?

Katakanlah, ukuran kita akal sehat.
Maka setiap hal yang menghalangi adalah melawan akal sehat

Negara mau memenjarakan akal Sehat? Sehat? Sehat?

Aku bertanya pada Pak Presiden. sehat, Pak? A

Aku bertanya pada Pak Presiden, apakah negara ini beserta pejabat aparaturnya sehat? Sudah imunisasi?

Kerja kerja kerja!
Penjarah, penjarah, penjarah!
Penjajah, penjajah penjajah!

TAMAT,
Salam anarchopedia

 

Akhirnya, Polri memilih untuk menghapus postingan gambar di jejaring sosia Instagram @divisihumaspolri, terkait imbauan berhati-hati menuliskan opini. Polri khawatir postingan tersebut disalah tafsirkan.

“Karena ada multitafsir, itu (postingan) kami tarik kembali,” kata Karopenmas Polri Brigjen Pol Rikwanto saat dihubungi di Jakarta, Rabu (8/2), seperti dikutip Republika.

Postingan dalam akun @divisihumaspolri tersebut telah mendapatkan 1.000 lebih komentar sebelum akhirnya ditutup. Adapun postingan yang menimbulkan banyak penafsiran tersebut berisi “Suka menulis? Awas! Tulisan opini berujung jeruji. Berpikir sebelum menulis.”