Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Tanggung Jawab Moral-Intelektual Anak Bangsa – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Tanggung Jawab Moral-Intelektual Anak Bangsa

Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas merupakan penghargaan yang diprakarsai  Jakob Oetama kepada sejumlah ilmuwan  yang berbagi untuk kepentingan masyarakat luas lewat pengabdian kepada profesi kepakaran mereka.

Penuh komitmen dan dedikasi, lewat artikel dan kolom, mereka memproduksi ide, gagasan dan menawarkan jalan keluar, terobosan, dan membawakan pencerahan. Sikap kritis yang mereka sampaikan ibarat guru-guru masyarakat (civil education) yang ikut mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan bangsanya. Penghargaan Kompas Cendekiawan Berdedikasi diterimakan sebagai tanda terima kasih atas kesetiaan, komitmen, ketekunan dan dedikasi mereka seiring perjalanan Kompas. Sejak 2008 hingga 2016 sudah ada empat puluh tiga penerima.

Saya kira buku ini refleksi penting tentang tanggung jawab intelektual atau cendekiawan.

Ini jam 1.10 pagi, saya ingin sedikit berbagi apa yang saya baca hari ini. Kompas sangat jeli teliti memilih puluhan sosok selama beberapa tahun terakhir ini untuk dijadikan Mata air inspirasi. Sebagian memang sudah cukup dikenal publik sepak terjang dan “tanggungjawab” intelektualnya.

Beberapa nama yang sangat familiar bagi saya adalah buya syafii maarif guru kemanusiaan, sayogyo guru pedesaan, Eko budiharjo guru perkotaan manusia, Surono penakluk gunung berapi, Yudi latif bapak pengilmuwan pancasila (ini label dari saya bukan dari kompas,ya rada spekulatif tapi berpijak dari bacaan), dan lain lainnya

Saya lupa, ada Muchtar Pabotinggi, paten ilmu politiknya dan lulusan S3 dari University of Hawaii dimana saya pernah belajar di kampung perbukitan yang sama. Uniknya, profesor LIPI ini suka nulis puisi, dan buku auto biografinya asik dibaca ‘burung ‘burung cakrawala”.

Tulisan yang tajam sebagai intelektual di Lembaga plat marah diberikan judul judul “monumen pengkhianatan” di opini kompas yang membuat rezim penguasa gelisah tiada terkira. Saya kira tulisan monumen pengkhianatan itu juga berlaku untuk rezim hari ini.

Ihwal kota manusia, Eko Budiharjo dahsyat sekali mengguncang moral intelektual. Dia menolak proyek pembangunan kota yang instan. Menurut nya, banyak rancang bangun kota di indonesia hanya copy paste: satu proposal untuk ratusan kota. Banyak uang didapat, tapi korban manusia berjatuhan di Kota kota.
Orientasi pembangunan kemudian berorientasi pada ekonomi sebesar besarnya. Menurut Daoed Josoef, mantan mendikbud orde baru, ahli moneter sangat langkah, penerima penghargaan kompas juga, “bahwa pendapat yang mengatakan bahwa pembangunan ekonomi dapat menyelesiakan persoalan bangsa adalah pendapat yang picik.’ ngeri kan?

Orde baru sudah membuktikan kepicikan ini. Apa mau diulang lagi?Karenanya investasi ilmu pengetahuan sangat mendesak. Daoed Joesoef bilang, “membaca buku itu kebutuhan, bukan hobi” Beliau ditendang dari kebinet Suharto Karena ngeyelnya soal gagasan pembangunan manusia harus dipentingkan selain ekonomi. Begitu tanggung jawab intelektual berkarakter.

Karena Gus syarif sudah datang, kuakhiri catatan enteng entengan ini dengan mengutip visi bung Hatta yang dia dapatkan dari kata kata Charles Fourier ” kami ingin membangun satu Dunia yang di dalamnya semua orang bahagia.” Sekian. Alfatihah.

Daoed Joesoef: Saya sangat menghargai kebebasan intelektual, makanya saya gemar menulis. Itulah yang membuat diri kita berpikir merdeka. Kalau saya silau dengan jabatan dan kedudukan mungkin saya tidak hidup sebebas ini. Tahun 1953, saya tercatat sebagai dosen ekonomi moneter di Universitas Indonesia. Saya sempat ditawari menjadi Gubernur Bank Indonesia menggantikan Sjafruddin Prawiranegara, Saya menolak karena jika saya masuk BI, saya tidak lagi bebas menulis dan berpikir. (Kompas, 8 Agustus 2016)

Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas merupakan penghargaan yang diprakarsai  Jakob Oetama kepada sejumlah ilmuwan  yang berbagi untuk kepentingan masyarakat luas lewat pengabdian kepada profesi kepakaran mereka.

Penuh komitmen dan dedikasi, lewat artikel dan kolom, mereka memproduksi ide, gagasan dan menawarkan jalan keluar, terobosan, dan membawakan pencerahan. Sikap kritis yang mereka sampaikan ibarat guru-guru masyarakat (civil education) yang ikut mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan bangsanya. Penghargaan Kompas Cendekiawan Berdedikasi diterimakan sebagai tanda terima kasih atas kesetiaan, komitmen, ketekunan dan dedikasi mereka seiring perjalanan Kompas. Sejak 2008 hingga 2016 sudah ada empat puluh tiga penerima.

Buku ini berisi pertanggungjawaban Kompas atas penghargaan Cendekiawan Berdedikasi kepada masyarakat, thanksgiving bagi mereka yang menjadi pendamping Kompas sebagai pendidik, mereka yang menjadi mercusuar untuk berani tahu, berani berbicara, dan terus belajar berdemokrasi tanpa meninggalkan tata krama keilmuan dan sopan santun masyarakat. Merekalah para cendekiawan yang mengembangkan tugas pokoknya mencari dan menemukan kebenaran (search for truth), berbeda dan kadang tercampur dengan tujuan politisi memburu kekuasaan (search for power), berbeda pula dengan tujuan utama pengusaha, yakni mencari keuntungan.  (Hal. xii-xiii)

Gagasan dan prakarsa harian Kompas memberikan peng hargaan Cendekiawan Berdedikasi berasal dari Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama. Disampaikan beberapa bulan menjelang perayaan syukur 43 tahun usia Kompas, 2008, ia meminta saya menindaklanjuti, sekaligus menangani yang terus berlanjut sampai sekarang. Maksud awalnya, dalam rangka ulang tahun Kompas—pertama kali diberikan tahun 2008—disampaikan thanksgiving khusus kepada para kontri butor artikel Kompas.  (Hal. ix)

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*