Meminjam bahasa Noam Chomsky, menulis dengan “moral” adalah bentuk tanggung jawab intelektual yang lama udah tergadaikan. Absennya moralitas intelektual, menurut Chomsky, membuat kesulitan dirinya mendefinisikan siapa kaum intelektual hari ini.

Di buku who Rule the world, dia di bagian pertama sudah menggebrak kita semua dengan judul “kembalikan tanggung jawab intelektual”.

Dalam hiruk pikuk politik dalam negeri akhir akhir ini barangkali merupakan ekspresi situasi “tercerabutnya keberpihakan intelektual terhadap nilai moral dan lebih menekankan pada pencapaian pribadi, perutnya sendiri.

Rasanya puasa bicara diskusi jakarta itu teranat berat. Di berbagai group WA isinya bicara yang tak ada ujung sebab yang dibicarakan adalah bayangannya sendiri sendiri lalu bagaimana seseorang memaksa bayangan orang lain harus Sama dengan bayangannya. Sangat melelahkan walau tak ingin membaca, ….

Satu hal yang dapat saya pelajari adalah dari kegelapan proses politik Elektoral ini adalah agar ke depan gubernur jakarta tak perlu dipilih langsung tetapi ditunjuk dengan kriteria tertentu. Semua wali kita di jakarta ditunjuk, why not gubernur gak ditunjuk. Barangkali penunjukkan gubernur jakarta dapat dimasukkan sebagai bagian keistimewaan dki jakarta sekaligus mendesakralisasikan non-elected governor of DIY