Ayah Bertutur #1

Salah satu tugas berat orang tua adalah belajar dari anak anaknya dan menyemai menyelami mimpi anak anak yang kita besarkan. Membesarkan bukan sekedar nutrisi jasmani semata, tapi kualitas intelektual yang mesti dipompa dengan lebih baik daya. Sejak sebelum anak anak saya lahir, saya sudah mencintai buku-buku dan Dunia di dalamnya dan di luarnya. Seperti semesta raya, batasnya hanyalah bayang bayang. Karena Dunia itu pilihanku secara sadar…. Aku pun sering melibatkan anak anakku dan keluarga kecilku dalam Dunia perbukuan khusus nya kegiatan rumah baca komunitas.
Hari yang indah menghabiskan weekend bersama anak anak di jogja setelah dua pekan di Bandung. Suatu kesempatan di ujung januari 2017 Garda, anak keduaku bertanya. “bi, apakah nanti kalau aku udah gede RBK masih ada?”
Aku menjawab dengan hari yang penuh gembira seperti ada berkah luar biasa anakku bisa membuat pertanyaan seperti itu. Tak pernah saya bahagia seperti yang aku rasakan saat mendengarnya. Lalu aku menjawab “rbk akan tetap ada, nanti adek Garda yang ikut mengurusnya, membuat rumah yang asik untuk belajar semua orang, anak anak juga…”
Lalu,selang beberapa detik…dia bertanya lagi (dimulai dengan agak mikir):
“…kalau aku udah gede apakah buku buku di rumah masih ada? Aku mau membacanya…?”
“Pasti dong, semua buku di rumah boleh adek baca”…dan dia sudah puas dengan jawaban singkat saya.
namanya Garda. Lengkapnya Iqra Garda Nusantara. Umurnya 4 tahun lebih. Musimnya agi suka mengeja, mewarnai, tebakan angka angka, sudah ikut kakaknya merencanakan riset yang didapatkan dari Salam.
Kalau Hafiz, kakaknya umur 7 tahun, metode sejarah drum. Adiknya meriset motor RX King yang dipakai kampanye partai PPP.
Duh…betapa asiknya hidup yang aku jalani. Semoga keluarga buku senantiasa bahagia.