Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Dari Mana Protes Bermula? Dari Kebun Turun Ke Jalan – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Dari Mana Protes Bermula? Dari Kebun Turun Ke Jalan

Satu tahun terakhir saya memperhatikan ‘jalan’ di banyak tempat yang saya tinggal tetap, tinggal sementara, atau hanya sepintas lalu ketika melewati jalan baik di perkotaan maupun di jalan desa; pada jalanan nasional, jalan propinsi, jalan kabupaten, jalan tak bertuan, dan jalan-jalan berlubang. Yang terakhir paling menarik.

 

Tanggal 12 Januari 2017, di pojok bawah halaman koran The Jakarta Post ada foto yang menarik. Seorang turis di Bali mengendarai motor melintas di jalan beraspal yang rusak dan ditandai dengan dua pohon pisang yang masih segar berdiri di atas lubang jalan. Berita bergambar ini diberikan judul sedikit konyol: Banana Tour. Di bawah gambar diberikan keterangan sebagaimana yang saya kutip seperti aslinya: A foreigner drives past a section of road partially blocked by banana trees in Babakan, Badung Regency, Bali, in Wednesday. Locals have planted the tress on damaged roads as a form of protest over the authorities’ slow response to infrastructure issues. Setelah saya selidiki dengan sesksama dan dengan tempo detik, ternyata protes yang persis sama juga pernah dilakukan di desa Karobokan Kelod di Badung pada tahun 2012. Ini adalah tindakan kreatif yang perlu mendapat perhatian.  

 

Walau hari ini banyak gossip soal cabe , bahkan menteri terlibat gosipkan ibu-ibu soal cabe yang menggila di repuulik ini tapi saya malah tertarik pisang. Barangkali ini tulisan ramutu tapi ya sudahlah ini anggap aja gara-gara masuk angin. Tapi saya ingin cerita satu hal. Jangan pernah remehkan gossip, Pak Menteri. Gossip adalah senjata paling berbahaya dan menjadi ancaman paling mematikan bagi penguasa. Sudah itu saja untuk Pak Menteri pertanian.

 

Pada malam ini saat saya mengikuti meeting di Lembang, saya agak serius untuk mencari tahu sejak kapan protes dengan menanam pohon pisang? Apakah sejak jaman colonial ada ekpresi ketidakpuasan terhadap pembangunan seperti ini? Ini betul-betul mengundang rasa ingin tahu saya. Tiba-tiba saja saya ingin bertanya pada kyai Arsip bernama Gus Muh di Indonesia boekoe. Kali saja dia menyimpan arisp ihwal pohon pisang.

 

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah pohon pisang menandakan suatu makna? Apakah ada konsensus yang tak terlihat sebagai ekpresi bekerjanya politik keseharian (everyday politics)? Yang berkaitan dengan kepentingan mendasar warga? Ataukah ada penjelasan yang mumpuni terkait fenomena ini?.

 

Pisang: Dari kebun turun ke Jalan

 

Saya pun memasukkan keywords ke mesin pencari: “protes dengan menanam pohon pisang di jalan yang rusak berlubang”. Agak kaget, berita atau tautan yang saya hasilkan sebanyak 18.400 (delapan belas ribu empat ratus link. Saya check sampai halaman ke 14. Semua memang berkisah tentang aktifitas protest terhadap pemerintah akibat jalan yang rusak tak dihiraukan.

 

Satu informasi paling tua yang saya dapatkan di laman website adalah pada tahun 2007 selain itu berita soal protes dengan pohon pisang terjadi ribuan kali antara tahun 2011-2016. 2017 terjadi di Bali. Karena di Bali media nasional memberitakan. Mungkin ada banyak protes serupa terjadi di daerah-daerah tapi tak tercium media atau bahkan tak pernah dianggap sebagai ekpresi protes. Pada tahun 2007, penanaman pohon pisang dilakukan di Grobokan sebagai bentuk kemarahan masyarakat terhadap lambannya pemerintah mengurus jalan. Jalan adalah proyek seumur hidup pemerintah dan tak pernah selesai walaupun anggaran terus dinaikkan. Mungkin butuh penjajah yang kejam untuk merampungkan urusan jalanan berlubang. “Warga Dusun Krajan Desa Mayahan KecamatanTawangharjo menggelar aksi keprihatinan ”menanam” pohon pisang di tengah jalan raya Purwodadi- Blora Km 7 sebanyak 16 batang pohon pisang dipasang secara berderet”, demikian penggalan berita yang ditulis suara merdeka pada tanggal 18 Desember 2007.

 

Model protes pohon pisang ditanam di atas lubang di jalanan ini nampaknya tanpa ada kesepakatan telah menjadi consensus budaya masyarakat untuk menyampaikan ketidakgembiraan masyarakat terhadap proyek jalan—yang tak pernah selesai. Pada saat pembangunan menganggu aktifitas ekonomi, selesai pembangunan kembali rusak adalah siklus politik pembangunan jalan. Sebenarnya jalan itu boleh rusak tetapi bagaimana mungkin ada uang tetapi jalan dibiarkan rusak. Ingat bung: pajak kendaraan naik, harga cabe naik, SPP naik, kalua hujan naik. Yang hanya bisa turun hanya celana kolor…oppss.

 

Masih banyak yang bisa kita gosipkan seputar jalan ini. Korupsi di jalanan juga sangat tidak wajar bukan hanya korupsi aspal, korupsi semen, pasir, ketebalan jalan, korupsi trotoar, dan sebagainya. Bahkan, korupsi anggaran dengan manipulasi atau markup anggara berkali lipat sebelum dicairkan. Ya jalan adalah cerita soal pesta pora, cerita air mata korban, dan cerita soal pohon-pohon pisang yang diangkut dari kebun ke jalan.

 

Revolusi mental itu harusnya menjadikan pemerintah lebih peka akan suara suara yang tak pernah diperdengarkan (seperti pohon pisang) dan sejenis gossip keseharian. Dari bacaan yang saya banggakan, gossip punya dua fungsi yaitu solidarity maker dan information sharing. kedua hal ini adalah manifestasi bekerjanya modal sosial. kekuatan ini yang lebih penting dari harga cabe. gak makan cabe gak apa apa tapi gak punya teman ngobrol atau nggosip, itu masala bro. Paham gak pak Menteri? kata orang Newyork, gossip adalah upaya menjawab pertanyaan penelitian paling aktual: “Wahzgoanawn?” (baca: What is going on) atau bisa juga  juga diplesetkan “whats going wrong?.

Dengan mental revolusioner ala Jokowi, pemerintah harusnya tkerje-kerja kerja….. tapi ternyata pemerintah begini menjadikan mereka merasa tak perlu tahu soal-soal remeh temeh begini: urusan pisang dan tetek bengek keburukan keadaan. Tapi apakah juga mampu menjalankan pembangunan yang besar? Saking psimisnya orang bilang: pemerintah itu menjalani yang gampang dan rutin saja tak mampu. Berharap inovasi itu mimpi.

 

Ya itulah publik membangun kesimpulan. Kalau blusukan harusnya tahu arti gossip jalanan seperti ini. Kalua memang suka blusukan, mengertilah pisang, mengertilah pisang yang bergoyang di atas lubang-lubang jalan. Jika gagal paham, ya sudah berhentilah memerintah! Sudah dulu. Semua ini hanyalah ujian, kata Don Fauzanian. Semua memang hanyalah cobaan.

 

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*