Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning UMY ADAKAN SEMINAR DAN LAUNCHING SEKOLAH DESA BERKEMAJUAN – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

UMY ADAKAN SEMINAR DAN LAUNCHING SEKOLAH DESA BERKEMAJUAN

Pada hari Selasa, 27 Desember 2016 bertempat di Ruang Amphitheater Pascasarjana UMY jurusan ilmu pemerintahan UMY menyelenggarakan seminar dan launching sekolah desa berkemajuan. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan rutin akhir tahun jurusan.

Seminar kali ini menghadirkan beberapa narasumber yaitu dr Hasto Wardoyo, S.POG ( Bupati Kulon Progo 2011-2016 ); Dr. Hempri Suyatna (Fisipol UGM); dan Suswanta, M.Si (Dosen JIP UMY) serta Octo Lampito, pemimpin redaksi KR, sebagai moderator.

David Efendi, MA selaku ketua panitia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dan meminta semua pihak dapat mendukung secara aktif- progresif. “Kulon progo merupakan kabupaten yang sangat dinamis untuk mempraktekan kesempatan emas terkait dengan undang-undang desa.”, Ungkapnya.

Acara ini dibuka oleh Ali Muhammad Ph.D selaku Dekan Fisipol UMY. “Semoga seminar ini dapat memberi manfaat bagi perkembangan desa”, ujar Dekan yang juga dosen di jurusan HI UMY.

kegiatan ini juga diselingi dengan Penandatangan MOU antara desa Hargomulyo dengan jurusan IP UMY yang disaksikan oleh Dr Ali Muhammad, Bupati Kulon Progo, Suswanta dan David Efendi untuk memulai keseriusan jurusan mengawal agenda memperkuat desa.
Seminar ini membahas terkait dengan desa setelah diberlakukannya UU Desa selama dua tahun. Kita akan membahas terkait dengan evaluasi desa itu sendiri. Peran-peran apa, dari perguruan tinggi, yang terlibat pada pembangunan desa secara berkelanjutan.

Pembicara pertama, Suswanta UMY menyampaikan terkait dengan agenda aksi desa berkemajuan yang sedang dikonsep oleh tim jurusan.
“Peluang adanya pembangunan desa itu ada 3 aspek yaitu
Dana desa yang relatif besar.”, Pancing Suswanta yang sebentar lagi akan menyelesaikan doktornya di UGM.
Suswanta mengatakan bahwa adanya tantangan bagi desa, biasanya desa perlu adanya sinergi program agar desa dapat menggunakan alokasi dana desa yang telah diberikan. Adanya tantangan tersebut menantang desa agar dapat berinovasi dan berkreatifitas agar tidak mati suri desa tersebut dan dapat menggunakan peluang yang ada. Beliau ingin menekankan bahwa bangsa indonesia adalah bangsa yang kreatif.

Beberapa pendekatan pembangunan desa yaitu sektoral, spasial, pembangunan SDM ,IT. Di daerah banyumas ada desa internet, petaninya sudah dapat menggunakan teknologi informasi. Desa berkemajuan ini mempunyai 12 indikator. Kedepan memang harus dikembangkan sinergi kolaborasi agar dapat membangun desa berkemajuan dapat terwujud. Jurusan akan membentuk pusat kajian desa termasuk penyiapan agenda KKN, Penelitian. Pengabdian dan juga skema desa binaan.

Pembicara kedua adalah dr Hasto Wardoyo, S.POG selaku Bupati Kulon Progo. Sebelum menjadi bupati, beliau menjabat sebagai dosen kandungan spesialis. Pengalaman 5 tahun menjadi bupati untuk bagaimana memperdayakan desa. Kita hanya membutuhkan inovator dan mentor bukan hanya sekedar tutor maupun profokator. pada hari ini ekspektasi warga berbeda dan membutuhkan adanya perubahan. Transformasi sosial itu ada dimulai pada transformasi di bidang ekonomi, kapitalisme dominasi sistem ekonomi oleh pengusaha dan kesenjangan sosial. Jadi kalau kita mau membuat ekonomi kerakyatan jadi sebetulnya tidak ada kerepotan karena dapat mengacu pada pancasila.

Dana desa kulon progo diberikan 25 Milyar dari Pusat dan dari Kabupaten sekitar 90M. Tahun kedua di tahun 2016 mencapai 100 M. Hampir setiap desa menerima 1-3 Milyar.

Sumber keuangan desa itu sumbernya banyak dari mana saja. UMY mendapatkan tanah hibah dari kulon progo sebanyak 9 hektar ada di daerah balur. Saya berharap sekali menjadi sekolah vokasi di daerah tersebut. Kemudian prakter-praktek pemberdayaan masyarakat ini sebetulnya mental modelnya atau mainset nya. Mental model dalam berwirausaha harus diterapkan betul oleh masyarkaatnya. Karena kita harus menguasai pasar sendiri, produk sendiri agar masyarkat dapat terberdaya. Pada tahun 2012 DIY tingkat gaya hidup menduduki posisi pertama. Sekarang dengan adanya MEA yaitu akses barang murah bagi masyarakat miskin meningkat. Mental model masyarkaat itu dengan di murahkan kemudian mereka boros. Sebetulnya pemberdayaan itu wargasebagai produsen agar dapat mulai dari yang sederhana, mudah, kecil. Dimulai dari sekarang tetap berfikir besar.

Contohnya yaitu warganya dipekerjakan untuk paving. Hari ini mulai lah paradigmanya dibedakan bahwa rakyat juga harus diawasi. Banyak yang kecil sederhana bisa dilakukan. Banyak sekali yang bisa diambil untuk memberdayakan desa. Bahwa ternyata lokal tax yang ada di daerah kabupaten tidak pernah tumbuh baik dibandingkan kota.

Dr.Hempri Suyatna yang berbicara terkait praktik pemberdayaan dalam UU Desa. Melihat dari alat politik desa, banyak yang menggunakan desa sebagai alat politik karena warga desa mempunyai cara berfikir yang berbeda dengan warga di kota. Konteks otonomi desa bahwa wewenang desa di titik poinnya adalah pada UU nomor 6 tahun 2014 bagaimana desa menjadi benteng untuk liberalisasi ekonomi, termasuk juga dalam liberalisasi budaya yang muncul dari dampak globalisasi dan modernisasi budaya. Konsep-konsep sharring ekonomi harus lebih dimaksimalkan seperti home stay, hotel, tempat wisata dll.

BUMDES merupakan salah satu munculnya lembaga-lembaga ekonomi desa, tetapi yang paling penting adalah koperasi, karena koperasi sangat membangun untuk peningkatan ekonomi di desa. Sebuah desa yang mempunyai mimpi untuk membangun desanya kedepan harus mempunyai beberapa indikator adalah partisipasi, check and balances. Mengenai evaluasi implementasi UU desa diantaranya: demokrasi desa belum berjalan maksimal,
Posisi kepala desa masih sentral,
Keaktifan dan partisipasi warga masih kurang
Dan juga mengenai administrasi pengelolaan dana desa masih cenderung rumit, kemudian konsep OVOP belum teralisir one village one product.

Selain itu tanah-tanah khas desa yang beralih fungsi menjadi rumah makan. Seharusnya tanah-tanah khas desa lebih di manfaatkan untuk lahan pertanian karena bisa lebih memanfaatkan tanah yang ada didesa dan hasil alam dari desa. Bagaimana mendorong sinkronisasi antara desa dengan perusahaan-perusahaan lain.

“Perlu juga di dalam gagasan desa berkemajuan diakomodir bagaimana seharusnya kepala desa mempunyai integritas.”, Ungkap David Efendi di dalam sesi diskusi.

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*