Sejumlah warga di Yogyakarta menginisiasi gerakan kembali ke pasar tradisional dan warung tetangga sebagai respons atas merambahnya mini market berjejaring.

“Belanja di warung tetangga membuat saya lebih dekat secara pribadi dengan warga sekitar,” kata Rudiyanto Marbun, mahasiswa berusia 22 tahun yang merantau dari Sumatera untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Dan, (pasar) membuat saya teringat masa kecil, ketika diajak ibu belanja dan membawa tas belanjaannya,” lanjut Rudi.

Hal-hal kecil seperti sapaan hangat dan obrolan ringan membuat Rudi senang berbelanja di warung dan pasar, dibandingkan di mini market.

Dia dan sejumlah kawan dari Rumah Baca Komunitas, yang kebanyakan adalah anak muda, tidak merasa malu untuk pergi blusukan ke tempat belanja tradisional dibandingkan pergi ke tempat-tempat belanja modern.

Irfan Yasir, 22, mahasiswa lain misalnya senang dengan gaya tawar menawar khas pasar. “Kalau di toko jejaring, mall atau supermarket kan harganya sudah sudah ditetapkan dari sananya,” katanya.

Image captionSejumlah anak muda mengajak pedagang membubuhkan tanda tangan mendukung gerakan belanja ke pasar. 
Image captionSalah satu pedagang jeruk di Pasar Gamping, Sleman, Yogyakarta.
Image captionSuasana pagi di Pasar Gamping, dengan para pembeli yang berlalu-lalang.

Pada Minggu (03/04), Rudi, Irfan, dan dua kawan lainnya bertemu di Pasar Gamping, salah satu tempat nongkrong mereka tiap Jumat, Minggu dan Rabu. Kebiasaan yang kemudian memunculkan aksi Jumiral (Jumat, Minggu, dan Rabu belanja ke pasar tradisional).

“Kegiatannya keliling-keliling, belanja kebutuhan sehari-hari anak kos, ngobrol dengan pedagang,” katanya.

Cukup memprihatinkan, menurut Rudi, di kawasan ini sudah banyak dibangun mini market. Di sebelah utara misalnya, ada toko berjejaring berjarak sekitar 500 meter. Di selatan, barat, dan timurnya juga berdiri toko berjejaring dengan jarak kisaran satu kilometer.

Salah satu pedagang di Pasar Gamping, Sumarni, 60, mengaku pusat belanja berjejaring membuat penghasilannya menurun karena banyak pembeli yang lebih memilih belanja ke sana daripada ke pasar.

“Saya dukung (kegiatan anak muda pergi ke pasar), biar jualan saya ramai,” kata Sumarni penuh semangat. Perempuan berusia 60 tahun yang memiliki toko kelontong mengaku terharu melihat empati anak muda terhadap nasib mereka.

Image copyrightURBAN LITERACY CAMPAIGN
Image captionKampanye juga dilakukan di media sosial dengan menyebar ajakan untuk berbelanja ke warung-warung tetangga.

Kampanye belanja ke warung tetangga dan pasar telah digerakkan lebih dari sebulan lalu oleh Rumah Baca Komunitas yang dibangun David Effendi yang juga menjadi pengajar di UMY. Gerakan yang awalnya dilakukan oleh individu di komunitas kemudian mulai menyebar di dunia maya, dari blog, media sosial, dan forum-forum online.

Walau sulit diukur seberapa besar dampak nyatanya, David mengatakan ide tersebut mendapat sambutan yang cukup baik dari pengguna media sosial.

“Ini gerakan kultural tanpa batas tanpa struktur sehingga setiap orang bisa ambil bagiannya masing-masing. Bagi saya ini adalah perlawanan damai terhadap pasar modern. Perlawanan kreatif masyarakat yang memihak budayanya.”

Mereka mengaku memilih pendekatan yang ringan dan menyenangkan dengan mengangkat sisi-sisi positif belanja ke warung dibandingkan melakukan pendekatan yang keras dan frontal.

Image copyrightGETTY
Image captionPasar Beringharjo yang menjadi salah satu ikon kota Yogyakarta.
Image copyrightGETTY
Image captionSejumlah pihak mengatakan upaya pemerintah daerah membendung mini market belum maksimal. 

Pertumbuhan mini market di provinsi Yogyakarta memang menjadi masalah yang cukup meresahkan warga beberapa tahun terakhir, kata wartawan lokal Yaya Ulya dalam laporannya kepada BBC Indonesia.

Di pusat Kota Yogya, pemerintah sudah berupaya melakukan penertiban sejumlah mini market yang menyalahi aturan.

Namun, Hempri Suyatna, dosen Fisipol Universitas Gajah Mada mengatakan bahwa upaya-upaya itu belum maksimal. “Pertumbuhannya tidak terkendali. Di Sleman misalnya kuotanya 130, tetapi jumlah yang dibangun sekitar 300. Di kota Yogyakarta, kuota 52 yang ada sekitar 90-an.”

sumber : http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160403_trensosial_belanja_warung_tetangga