Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Merajut Komunitas Perdamaian Di Asia-Pasifik – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Merajut Komunitas Perdamaian Di Asia-Pasifik

 


                                                         Oleh: David Efendi


Tajuk editorial tentang Harmoni sangat menarik untuk kita renungi dan hayati bersama-sama. Harmoni bukan sekedar jargon media. Kata itu memiliki sakralitasnya di waktu kini, ketika para elite politik mencabik-cabik kondisi perdamaian akar rumput yang mulai terajut kembali pasca pilpres. Pada kontek inilah, ijinkan saya berbagi cerita dan pengalaman ketika mengikuti konferensi internasional di Okinawa-Jepang dalam rangka strategi membangun komunitas perdamaian tingkat kawasan Asia Pasifik.

East West Center, sebuah lembaga pemerintah Federal Amerika Serikat yang berbasis di Honolulu, Hawaii, menyelengarakan konferensi Internasional dengan tuan rumah yang bergilir di negara-negara kawasan Asia Pasifik. Konferensi itu dilakukan setiap dua tahun sekali. Salah satu tujuan strategisnya adalah perlunya mekanisme kultural dalam rangka membangun kerjasama regional melalui pembangunan wacana intelektual, hingga pada tindakan aksi nyata menjaga perdamaian kawasan yang nyata untuk jangka panjang.

East West center (EWC) tersebut telah melakukan kerja-kerja kultural dengan berbagai program kemitraan, baik berupa beasiswa degree ataupun non-degree, untuk kawasan Asia pasifik yang dipusatkan pada kegiatan di kampus East West center dan Universitas Hawaii at Manoa.

Tahun ini, acara konferensi EWC diadakan di Hotel Pacific Kota Naha yang terletak di Okinawa, Jepang, pada tanggal 17-20 September 2014 dengan mengusung tema besar: “Developing a Peacefull and Sustainable Asia Pacific Community”.

Setidaknya, ada sekitar 350 peserta yang hadir di sana dan 301 dari partisipan memaparkan papernya dengan berbagai topik yang beragam. Namun, dari keragaman topik itu sebenarnya dapat dikerucutkan ke dalam beberapa klaster utama. Yakni, (1) isu-isu konflik dan perdamaian kawasan; (2) regionalisme dan politik identitas; (3) muatan lokal yang terkait bencana dan recovery di Jepang (termasuk beberapa Negara lain yang terdampak bencana).

Tema-tema yang terkait pendidikan dan budaya juga cukup banyak dipaparkan dalam konferensi ini. Muatan lokal lainnya terkait food security dan bagaimana modal sosial mampu menggerakkan dan mempercepat pembangunan pasca bencana alam. Dalam kaitannya dengan bencana, Jepang memang terlihat yang paling berat dengan tiga jenis bencana yang datang pada waktu bersamaan. Yaitu, gempa bumi, tsunami, dan bocornya nuklir.

Di Jepang, modal sosial dan “civic connectedness” yang digambarkan oleh Putnam betul-betul dieksplorasi sedemikian cerdas oleh beberapa presenter. Sehingga, mampu didapatkan kesimpulan yang sangat kuat bahwa ada korelasi antara kekuatan modal sosial dalam ragam solidaritas sosial terhadap kemampuan survive menghadapi tiga jenis mega bencana alam dan dampaknya terhadap kegagalan teknologi perangkat nuklir di sana.

Masalah keamanan pangan dan bagaimana keseharian harus bertahan bersama itu telah menjadi praktik kekeluargaan yang luar biasa akrab dan mengundang praktik kerja kesukarelawanan yang nyata dan berkelanjutan (sustainability voluntary works). Baik oleh anak-anak muda maupun orang dewasa di semua bagian di Jepang. Salah satu contoh kecil saja, adanya gerakan food security di media sosial dan internet yang memberikan informasi bagaimana harus memilih makanan yang sehat pasca-nuklir Fukusima. Mirip sekali dengan apa yang terjadi di Yogyakarta beberapa tahun silam, ketika bencana erupsi. Yaitu, munculnya radio komunitas online dan update sebagai pusat informasi seputar lokasi, memfasilitasi kebutuhan antar kelompok relawan, serta masyarakat terdampak.

Amerika pun mencoba memasuki peran mediasi dengan berbagai cara. Akan tetapi, menurut beberapa pembicara dalam panel konflik dan resolusi, kawasan pasifik justru mempunyai potensi untuk negosiasi, seperti Japan, India, Indonesia, Singapore, Malaysia, dan Taiwan. Sayangnya, diantara negara-negara tersebut tidak ada model kepemimpinan yang dominan, sehingga peran Amerika masih memegang dominasi sebagai penyeimbang China.

Isu mutkahir yang paling dekat adalah masa depan Pulau Natuna yang konon akan diambil China. Peneliti Iseas yang juga menjadi salah satu penelis menyatakan bahwa masalah ini akan menjadi persoalan baru di era Jokowi, karena selama republik ini berdiri tak pernah ada sejarah perang ataupun konflik dengan China yang secara teritori jauh dari wilayah kedaulatan Indonesia. Namun, persoalan ini bisa membuka staretegi baru di komunitas asean untuk lebih mengutamakan kultur diplomasi, karena selama ini kekalahan Indonesia bukanlah pada aspek kekuatan militer ataupun armada penjagaan wilayahnya. Melainkan, lebih pada masalah negosiasi dalam berbagai level perjanjian internasional.

Tentu, belumlah sirna ingatan kita tentang bagaimana proses kekalahan diplomasi dengan Malaysia di forum perundingan Sipa dan Ligitan hanya karena Indonesia dianggap tak pernah mengurus kedua pulau terdepannya.

Selain kegiatan panel, di sela-sela jadwal konferensi yang padat juga diselingi ragam kegiatan workshop tentang kebudayaan Okinawa, Poster session presentation, dan pertunjukan kesenian yang cukup beragam mulai dari Okinawa, Indonesia, China, Jepang, Pakistan, Banglades. Negara-negara lainnya juga tidak kalah aktraktifnya di dalam kegiatan konferensi ini. Perdamaian kawasan, secara sederhana, nampaknya ingin disajikan dalam perjumpaan budaya yang diringkas dalam panggung seluas 30 meter ini. Mungkin saja, ini adalah pesan simbolik bagaimana ke depan kawasan ini harus dirajut dalam satu kekuatan besar untuk menggalang perdamaian dan rasa aman warga kawasan.

Tersirat dalam laporan penyelenggara konferensi, Mary Hammond dari EWC, memaparkan tentang bagaimana selama ini upaya membangun hubungan antar negara di kawasan Asia Pasifik sudah dilakukan melalui lembaga EWC yang berbasis di Honolulu. Tentu, itu belum cukup tanpa peran aktif dari alumni dan juga masyarakat Asia Pasifik untuk membangun perdamaian berkelanjutan melalui berbagai komunitas yang mampu melakukan upaya nyata mewujudkan perdamaian di masa yang akan datang.

Konferensi ini ditutup dengan pemberian penghargaan kepada para alumni dan orang-orang yang mempunyai jasa membangun komunitas lokal di Okinawa dan yang mempunyai peran serta yang kuat dalam mewujudkan perdamaian.

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*