Pada awalnya buku adalah sesuatu yang ‘asing’ bahkan di saat sekolah di madrasah buku-buku paket dari pemerintah itu sangat tidak menarik. Wajar saja perpustakaan di sekkolahku sangat sepi tahun-tahun itu 1990-an. Sebuah sekolah kampung di tepi bengawan solo. Asingnya buku itu seperti asingnya dunia luar bagiku sebab yang aku tahu hanyalah homogenitas yang ada di desa kecil. Manusia dan kebudayaanya hingga makanannya nyaris seragam antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Belum ada “air gelasan” atau air meniral kemasan. Rasanya-rasanya tahun itu belum pernah ketemu “indomie”
Di saat tahun akhir madrasah, aku mengenal majalah Kuntum. Majalah edisi lama yang tetap menarik karena menghibur dan memberikan informasi. Puisi dan tebakan mang kunteng adalah halaman yang harus segara dibaca—kadang-kdanag dibaca di dean umum pada saat “muhadhoroh IPM” setiap malam jumat. Rasa penasaran itu kemudian terus merasuk dalam otak, bukan hanya saya, tetapi banyak teman lainnya. Di sini saya akan memperkenalkan manusia-manusia yang memberikan warna dalam petualangan mencari ‘bacaan’ dalam hidupku.

Pak Guru muda dan revolusioner bernama Abdullah Rozieq, membantuku membangun banyak mimpi, aku pun dikenalkan dunia organisasi dan teater begitu juga buku-buku yang beliau bawah dari Surabaya tentang banyak hal. Beliau juga bersama Kepala sekolah Pak Nur Sholeh yang mendatangi rumahku dan berbicara dengan “Mak”ku agar saya bisa dan didukung lanjut ke sekolah paling favorite di Lamongan–SMA N 2 Lamongan karena nilai ujian nasionalku sangat mencukupi. Sekolah ini telah menjadi banyak impian orang di kampungku. Aku bukanlah satu-satunya manusia Godog lulus dari sekolah ‘keren’ itu. Tetapi sudah angkatan ke 3 atau empat dari kakak-kaka kelasku. Tapi barangkali hanya saya yang pernah menjadi ketua umum OSIS di sekolah ‘elite’ ini.

Abraham Isnain adalah manusia penting dalam awal-awal pengembaraan pertamaku keluar dari ‘lingkaran setan’ atau tepatnya ‘tempurung kelapa’ bernama kampung kecilku. Dia mengenalku dengan banyak teman aktifis IPM, mengenalkanku tekhnologi ‘mesin ketik’ sampai foto kopi. Di saat foto kopi dokumen organisasi dan undangan ke Pacirand an karang geneng, aku kemudian mengenal banyak majalah mulai al muslimun, al hidayah, suara muhammadiyah, sabili, annida, ummi, dan sebagainya. Begitu juga koran Jawa Pos aku menjadi tahu. Walau tidak bisa membeli, nyaris setiap minggu menimal bisa membaca satu dua edisi sembari menunggu foto kopi. Teman-teman lainnya mungkin ada yang asik menikmati pantai Tanjung Kodok. Aku lebih memilih membaca di warung-warung foto kopi–tepatnya di pertelon paciran disingkat “telon paciran”.

Di saat SMA di kota, saya punya teman berburu buku bernama Abdul Alam Abdul Allam Amrullah, Mas Jai, Imanul Khan, dan Adiyta Nuryanto. Mereka ini semua dekat dengan dunia buku. Setiap hari setiap waktu kadang nongkrong di samping masjid sembari membaca buku dan majalah di kios mas Jai. Dengan Imanulkhan, dan Aditya biasanya membaca di kios sekitar/samping SMA 2 bahkan sampai ke Mblauran di Surabaya. Ini membuat jatuh cinta berat pada bacaan umum diluar mata pelajaran di kelas. Kadang aku pun mengesampingkan buku-buku mata pelajaran. sering juga meminjam buku di perpustakaan yang bukan berurusan dengan mata pelajaran.

Sejak mengenal banyak berita dalam koran dan media menjelang tahun reformasi. Diam-diam aku merasakan bahwa dunia itu luas. Aku pun berlama-lama memandangi setiap goresan peta di dalam buku atlas yang ada di pasar Kliwon. Beberapa teman membeli mercon, sementara aku membeli athlas Indonesia dan dunia dan juga RPUL (buku ini memang sakti, bahkan saya sampai hafal halaman-demi halaman dan isinya). Tidak heran, nantinya pada saat pelajaran geografi di SMP dan sejarah saya memang ‘terdepan.’ Saya masih ingat untuk ujian geogafi dan sejarah di SMP maksimal hanya 1-2 saja aku salah mengisi jawaban.

Lamongan kota kodok.

Gidup di lamongan kota bukanlah impian yang aku pelihara. Seolah tuhan mengutusku untuk pergi dari rumah dan belajar ke kota tanpa persiapan tanpa mimpi. Aku pun berada di kota kodok–kalau hujan gak bisa ndodok kalau kekeringan gak bisa cebok. Hari-hari awal sekolah memang dibayangi kesulitan hidup yang dialami keluarga di rumah. Sawah-sawah terancam banjir dan bahkan terancam dibeli ‘paksa’ oleh pemerintah untuk proyek sudetan bengawan solo. Jika itu terjadi, sumber penghidupan keluargaku akan terhenti. Dan itu memang benar-benar terjadi. sesak nafas setiap malam dan gelisah setiap saat. Di sisi lain, aku melihat anak-anak lain di sekolahku seolah terpenuhi segala apa yang menjadi kebutuhan.

Optimisme itu terus terbangun tanpa ada upaya dari diri saya. Ada banyak faktor yang menguatkan diri dan jiwaku. Inilah invisible power–saya yakin ini adalah kerana keihlasan orang tua dan ibuku yang mengirimkan balatentara dari langit untuk mengencangkan ikat pinggangku. Bacaan yang aku makan, adalah, bagian penting energi yang membuatku terus bertahan dalam membangun karakter ‘anti patah arang.’ Aku lihat banyak laporan di koran dan majalah yang menceritakan banyak manusia yang nestapanya jauh dari apa yang aku rasakan–pasti itu diluar kemampuanku karena aku pun yakin dengan mantra dari ustadz dan kyaiku Bapak Sutaman yang terus mengirimkan doa untuk santri-santrinya, “Allah tidak akan memberikan cobaan kepada kita apa yang diluar kemampuan kita.” Beliau juga meyakinkan, ‘orang-orang yang dekat dengan masjid tidak akan pernah sengsara hidupnya.” Ini ajaran agung yang sampai sekarang pun saya terapkan. Padaa saat kuliah nantinya juga hampir 3 tahun tinggal di Masjid yang merupakan jasa besar Mas Kholiq Imron.

Cak Kholik Imron, atau Cak Imron adalah manusia unik. Nyaris tidak ada kekurangan dan keburukan dalam dirinya. Itu yang aku tahu, tidak ada kamus prasangka dan negatif thinking selama hidupnya yang aku tahu sejak waktu itu. Dialah orang yang menjerumuskanku ke perpustakaan gelap dan toko buku besar sampai kakiku ngringgen karena harus membaca dan menunggu dia selesai membaca. Di sosial agency sagan dan khususnya di Gramedia sudirman aku beberapa kali ditegur petugas keamanaan karena duduk saking capeknya berdiri berjam-jam hingga toko buku nyaris tutup jam 9 malam.

Ketekunan membaca inilah yang hingga saat ini mempengaruhi kebahagiaanku dan hobiku yang kemudian aku tularkan ke teman, dan anak isitriku. Tuhan mengirimkan mukjizat berupa manusia yang mau membimbing rasa optimisku hingga aku diterima di UGM. Masjid lembah code atau MLC menjadi saksi hidup perjuangan itu dengan bimbingan spiritual dan kemanusiaan dari Triyanto Sugeng dan bimbingan optimisme serta matematika dari Mas Iswarto (mahasiswa fisika UNY). Cak Imron membimbing dalam sastra dengan mengajakku mencintau karya sastra dalam buku dan juga ikut dalam komunitas pecinta sastra bulak sumur setiap kamis di bawah tiang bendera gedung Graha Sabha Pramana. Suatu dunia yang kelak akan menjadi mozaik hidup saya. (Catatan sambil menunggu pagi di 2011, di tengah samudra pasifik)

Tentang duniaku yang melebar aku harus mengakui banyak berhutang budi kepada banyak manusia dan sekelilingku. Aku merasa bersukur lahir dan kecil di saat TV dan video game belum menjadi ‘tuhan’ dan ‘berhala’ baru generasi akhir-akhir ini. Pemilik TV di desa hanya 1 sampai dua saja mungkin. Pada saat itu masih pakek “aki.” Jika saja tuhan terlambat “mengutusku” ke dunia fana ini saya bisa saja tidak sampai dewasa sudah lumat ditelan gelombang gelap zaman.

Sebelum masuk UGM, ada banyak lika-liku yang aku lewatkan. Setelah lulus dari SMA aku pun langsung menyabung masa depan ke Yogyakarta. Beruntung sekali tahun 2002 ada yang menerimaku dan memberikan tempat tidur dan berbagi atap denganku. Orang itu bernama Kacung Tole nama lain dari Cak Fajar. Persiapan UMPTN 2002 pun digelar selama beberapa minggu. Hasilnya UMPTN itu menempatkanku dalam list calon mahasiswa Ilmu sejarah UNY. Dan bukan UGM (rasanya agak sedih gitu ya waktu itu). Rasanya juga senang kalau bisa menjadi murid Prof Syafii Maarif. Ini ada dalam hatiku walaupun ada kecewa karena pilihan masuk HI UGM kandas. Aku pun pulang dan menjalani kembali beberapa minggu di kampung sebagai manusia tanpa aktifitas produkti. Sawah sudah dimakan air bengawan solo. Kadang menjadi ‘preman’ ngarit pari untuk yang masih keluarga sebab saya gak begitu hebat urusan ‘mreman’ kecuali mreman ngombeni pitik yang aku alami pada saat masih kelas 2 SMP selama 6 bulan.

Mak-ku melihatku gak jelas aktifitasnya terlihat agak ‘murung.’ Aku pun menyampaikan maksudku ingin ke Pare, belajar bahasa inggris dan akupun berangkat tanpa menunggu banyak alasan dan pertimbangan. Bertapalah aku dalam sunyinya alam Pare dan dinginnya malam….sampai terbilang minggu dan tanpa terasa sudah 5 bulan mengasingkan diri di Pare–tempat penting yang disebutkan oleh Prof Clifford Geertz sebagai desa “mojokuto. Aku tinggal di pondok Darul Falah di sana, bukan di kos-kosan. Kalau hari Jumat banyak makanan gratis di masjid Al Falah karena banyak yang kirim doa setiap malam jumat.

Dari Mojokuto menuju Graha Sabha Pramana

Petualangan itu harus diuji dengan test yang bernama UM UGM. Dengan sangat PD akan bahasa inggrisku, aku pun merasa sudah di atas angin untuk mematahkan soal-soal bahasa Inggris yang salam hidup menjadi ‘momok’ dan ‘hantu’ itu. Untuk Matematika harus tetap berguru dengan ustadz Iswarto. Pendekar dan pengamat pendidikan asal lereng Merbabu itu. Edan, sesulit apa pun soal dapat diselesaikan olehnya. Aku sehari-hari menghabiskan waktu di Masjid di bawah jembatan Sarjito itu.

Sungguh-sungguh terjadi. AKu tinggal di bantaran kali code, di Kampungnya Terban namanya, banyak orang bergidik hanya kalau kita bilang tinggal di terban ketika orang bertanya tempat tinggal kita. Suatu malam saya di terminal Umbul Harjo. Ada “preman” yang mau melakukan kejahatan kepadaku–lalu teman preman itu ngabsen dulu dengan pertanyaan di mana tinggalmu?, aku pun jawab di Terban. Lalu urunglah dia ‘menyentuh’ku. Terban kemudian aku kenal sebagai kampung ‘preman’ walau dari dekat kita gak merasakan aroma dunia ‘sadis’ itu