Tema-tema gerakan sosial latarnya yaitu teori-teori sosial menjadi topik yang terus menarik dikaji, didiskusikan, dan dituliskan kembali. Hal ini juga termasuk karena ‘driven force’ dari situasi kekinian kehidupan manusia yang tunggang langgang. Masyarakat industrial, post industrial atau masyarakat informasi mempunyai titik ‘hancur’ yang tidak kalah berat satu sama lain. Menguatnya praktik korporasi atau korporatisme diikuti perlawanan yang kuat oleh kelompok masyarakat sipil tidak berbeda bagaimana kelompok anti-war menolak dengan kekerasan agresi kemanusiaan yang pernah menjadi sejarah manusia: perang dunia 1& 2 dan perang dingin. Kesadaran-kesadaran baru demikian sangat penting untuk dipotret sebagai kemenangan ‘rasionalitas emansipatoris’ yang lahir di tengah hancurleburnya peradaban ‘manusiawi’.

teori-sosial

Untuk memberikan genealogis gerakan sosial atau gerakan sosial baru perlu penulis mengajak untuk membincangkan teori-teori sosial dan paradigmanya. Dalam kesempatan ini yang terpenting adalah paradigm kritis dalam teori-teori sosial. Buku karya Ben Agger paling sering dijadikan rujukan dalam beragam perbincangan setidaknya 20 tahun terakhir ini. Judul aslinya adalah Critical Social Science: an Introduction. Sementara edisi Indonesia yang diterbitkan oleh kreasi wacana adalah Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan, dan impikasinya. Perdebatan sengit mengenai kritik terhadap positivism dan di Indonesia terhadap rezim pembangunanisme (teknokratisme) yang masih berlanjut sampai hari ini. Perdebatan di dalam gerakan masyarakat sipil lebih kongkrit ketimbang memperdebatkan epistimologis teori-teori sosial.

 

Agger di awal memberikan ‘klaim’ kunci mengenai ketidaksetujuan dia jika pengunaan analisis ‘narasi besar’ ala Jean-Francois Lyotard (1984) bermerk dagang ‘posmodernisme’ untuk memahami realitas yang kompleks. Keterjebakan pada narasi besar ini menurutnya akan menggiring masyarakat pada situasi otoritarianisme politik. Dalam teori sosial, kegilaan terhadap posmodernisme tidak perlu menegasikan ide-ide Karl Marx, Max Weber, dan Talcott Parsons. Mereka tetap perlu dibaca. Dalam hal ini saya merekomendasikan membacai buku Martin Surayajaya yang judulnya “Mencari Marxisme.” Teori sosial dapat berfungsi saling melengkapi dan upaya pemahaman kea rah sana secara langsung adalah upaya menjahit beragam disipilin ilmu pengetahuan (intredisipliner). Aktifitas ini mempertemukan banyak cara pandang orang tentang manusia, ilmu, dan kebudayaan sehingga bagi jenis manusia yang hobi diskursus akan juga akhirnya ditemukan bacaan karya Michel Foucault, Jacques Derrida, Mazhab Franfurt, akhirnya, dengan penuh keyakinan bahwa kehadiran teori kritis dapat diterapkan dalam penelitian sosial empiris. Kebutuhan gerakan pelajar berkemajuan yang mengidealisasikan gerakan ilmu, basis ilmu pengetahuan dan teori kritis adalah suatu keniscayaan.

 

Merebaknya wacana teori kritis bukan monopoli lembaga pendidikan semata, menjelang reformasi 1998 praktik pendidikan kritis juga sudah mulai dijajal oleh banyak komunitas masyarakat sipil, tidak terkecuali gerakan pelajar Muhammadiyah yang dikenal dengan teologi kritis-transformatifnya. Secara cerdas Ikatan Remaja Muhammadiyah di tahun 2004, materi Muktamar IRM menyiapkan materi gerakan Kritis-Transformatif yang setidaknya berisi gerakan kesadaran, pembelaan, dan penyederhanaan. Sitausi wacana melampaui zaman ini sejatinya telah dikondisikan sejak interaksinya aktifis IRM dengan aktivis Insist yaitu Mansoer Fakih dan Francis Wahono yang merupakan guru laku implementasi teori-teori kritis di Indonesia. Banyak testimony bahwa Insist merupakan sokoguru kefasilitatoran yang merupakan merk penting dari praktik pendidikan memanusiakan manusia.

 

Urgensi teori Sosial Kritis

 

Secara diam-diam kita lebih mudah menerima liberalisme, kapitalisme dan demokrasi ketimbang tawaran ‘tak jelas’ sosialisme, feminisme, antikolonialisme, atau paham radikal lainnya. Hal ini bisa jadi kita kehilanganm daya kritis terhadap realitas timpang yang kita alami. Hal ini juga berdampak pada abainya kita pada praktik ketidakadilan dan kebidadaban yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Secara diam-diam seseorang menerima diskriminasi rasial, menerima ganasnya pembantaian atas nama ideology atau kepentingan jangka panjang. Dalam teori sosial kritis, upaya memperjuangkan kebebasan dengan membunuh kebebasan adalah jenis haram yang sangat tak dapat diterima. Dalam contoh yang konkrit, seseorang lebih mudah menerima proyek standarisasi pendidikan lewat ujian nasional ketimbang berupaya meyakini alternative pendidikan lainnya.

 

Dalam bagian ini rasanya penting untuk menyampaikan kata-kata kunci teori sosial kritis yang membedakan dengan teori sosial lainnya. Pertama, teori sosial kritis berlawanan dengan positivis. Kedua, teori sosial kritis membuat perbedaan antara masa lalu dan masa kini yang ditandai dengan dominasi, eksploitasi, dan penindasan. Posisi ini memungkinkan kemajuan bagi masyarakat. Ketiga, teori sosial kritis berkeyakinan bahwa dominasi itu bersifat struktural. Dominasi ini direproduksi oleh kesadaran palsu manusia, dilanggengkan oleh ideology (Marx), reifikasi (Georg Lukacs), hegemoni (Gramsci), pemikiran satu dimensi (Marcuse), dan metafisika keberadaan (Derrida). Keempat, perubahan sosial diyakini oleh teori ini dapat dimulai dari dalam rumah, dari praktik kehidupan sehari-hari, mulai dari hal-hal kecil. Dalam hal  ini teori sosial kritis lebih memberikan tempat pada aspek volunterisme dan bukan determinisme ekonomi. Hubungan struktur dengan manusia sejatinya berupa hubungan dialektis.

Gerakan Sosial 4.0

“Manusia membuat sejarahnya sendiri, tapi mereka tak membuatnya seperti apa yang mereka inginkan dalam situasi yang mereka pilih sendiri, tapi dalam situasi yang langsung dihadapi, ditentukan dan diteruskan dari masa lampau. Tradisi dari semua generasi yang sudah mati mermbebani bagaikan impian buruk di benak manusia yang hidup”.

(Karl Marx (1852)

Pertama tama adalah penulis ingin mengutipkan definisi yang inklusif atas gerakan sosial. Gerakan sosial didefinisikan secara tradisional oleh Jenkins & form (2005) sebagai upaya terorganisir untuk membawa perubahan sosial. Definisi ini inline dengan gagasan M Diani dan Bison (2004).  Definisi lain menyebutkan bahwa, “social movement are described most simply as collective attempts to promote or resist change in a society or a group.”[3] Dan terakhir yang membantu kita memahami adalah definisi yang banyak dipakai oleh sosiolog adalah bahwa gerakan sosial itu “ a type of group action—they are large informal groupings of individual and/or organization focus on specific political issues,in other words, on carrying out, resisting or undoing a social change.” Secara sederhana, gerakan sosial lama ini dapat dipahami sebagai upaya teroganisir untuk mendukung atau menentang perubahan sosial.

Dengan definisi-definisi terpapar di atas sangatlah mungkin upaya-upaya sederhana dapat menjadi bagian dari gerakan sosial. Misalnya, komunitas garuk sampah, atau warga berdaya, dan tindakan-tindakan keseharian perempuan di perkotaan dalam memelihara lingkungan. Dalam hal ini, gerakan-gerakan berbasis nilai-nilai keislaman juga dapat menyandang gelar serupa (contoh: Muhammadiyah, NU, dsb).  Struktur yang sangat mempengaruhi gerakan ini adalah Negara, pasar, dan posisi masyarakat sipil itu sendiri. Sementara, media dan informasi menjadi merk gerakan sosial baru yang akan didiskusikan bagian berikutnya.

Pola-pola gerakan sosial sangat beragam. Dari dampak perubahan yang dihasilkan/ditargetkan David Aberle membuat table yang menarik yaitu perubahan perorangan atau perubahan sosial, level perorangan atau menyeluruh (radikal). Dia membuat 4 tipologi gerakan sosial yaitu: alternative movement, redemptive movement, reformative movement, dan terakhir adalah transformative movement.  Tipe terakhir ini menggiring gerakan sosial ke ranah yang luas dengan dimensi yang kompleks seperti isu lingkungan, HAM, Gender, dan sebagainya yang menjadi fase awal gerakan sosial baru. Secara internal gerakan sosial itu mengalami koreksi yang radikal.

Gerakan sosial 4.0 adalah penamaan lai yang diberikan penulis untuk menyebut gerakan sosial dengan model dan pola-pola non konvensional. Banyak sekali gerakan sosial baru yang lahir dari inisiatif lokal yang didukung oleh keadaan lingkungan, sumber daya dan media baru. Gerakan-gerakan baru yang didominasi oleh ‘digital’ menjadi penanda penting era gerakan sosial mutakhir. Gerakan-gerakan advokasi lingkungan dan anti perang, untuk menyebut beberapa,  dapat dengan mudah dilakukan melalui gadget di genggaman sambal menyeruput kopi di warung tetangga. Selain resiko yang kecil, gerakan-gerakan baru ini adalah berkarakter law cost. Karakter lainnya adalah bisa anonym, tak terorgnisir, tidak langsung, kreatif, dan sporadis.

Pertanyaannya adalah dari mana teori gerakan sosial baru? Bagaimana implikasi strukturalnya di tengah masyarakat atas hadirnya gerakan sosial? Salah satu jawaban teoritisnya seperti ini. Teori “gerakan sosial baru” habermas (1981b; lihat Boggs, 1998) menawarakan pandangan teoritis bagi peminat studi gerakan sosial yang menjelaskan genealogis gerakan sosial. Habermas mengambil gagasan perjuangan kelas Marxis dan juga perspektif post-Marxisme yaitu bahwa gerakan sosial baru diilhami oleh aksi  sosiopolitis transformasional yang mengubah gaya gerakan marxis tradisional menjadi gerakan gerakan masyarakat kulit berwarna, feminis, LGBT, anti colonial, anti perang, anti nuklir, dan sebagainnya. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh lintas kelas, melewati batas Negara-bangsa, menjadi penanda zaman baru gerakan sosial. Resistensi atas dominasi menjadi clue bagi teori gerakan sosial Habermas.

Gerakan sosial lama

Gerakan sosial lama  (Old Social Movement) tidak secara absolut tergantikan oleh gerakan sosial baru karena satu dengan lainnya bukanlah ganmbaran proses linear yang sederhana tetapi dapat saling berkelindan dan sentripetal. Dalam beragam kajian gerakan sosial, gerakan sosial lama selalu dilekatkan pada kekuatan kelas tertentu versus status que. Ols social movement pada umumnya memfokuskan pada isu yang berkaitan dengan materi dan kelompok tertentu seperti buruh atau buruh (Gardono, 2006 )yang notabene kelas pekerja.

Kelemahan gerakan sosial lama salah satunya adalah karena kekuatannya itu sendiri. Semakin besar semakin rentan dipecah. Hal ini yang pernah dialami gerakan buruh di Indonesia pada zaman orde baru. Karena organisasi buruh radikal dianggap oleh Negara sebagai biang kerok destabilitas politik, maka Negara dengan mudah menciptakan aliansi buruh tandingan yang justru memecah kekuatan gerakan buruh.[4] Begitu juga di ranah civil society, lahirlah LSM plat merah yang menjadi penyeimbang suara massa. Selain itu, gerakan anti dominasi militer di Indonesia juga mendapatkan ‘berkah’ dari bergeliatnya gelombang demokrasi ketiga sebagaimana catatan Huntington dan Uhlin (kasus Indonesia). Kekuatan masyarakat sipil yang terkonsolidasi dianggap oleh Uhlin pada saat itu akan mempengaruhi lanskap sistem politik di masa yang akan datang. Kemungkinan mengalami pembajakan demokrasi juga akan melahirkan paradok yang tak terbayangkan.

Gerakan gerakan sosial lama yang dapat kita refleksikan dari kasus perjuangan memerdekan Indonesia adalah suatu gerakan konfrontatif. Kelahirany gagasannya saja sudah terlampau menyakitkan sebagaimana ungkapan tan Malaka: “kelahiran suatu pikiran sering emnyamai kelahiran seorang anak. Ia dahului oleh penderitaan-penderitaan..”. Begitu juga Sukarno mempunyai pandangan senada bahwa gerakan massa adalah gerakan yang penuh pertumpahan darah. Hal ini ia sampaikan secara panjang lebar, bahwa untuk merealisasikan pembebasan:

…tidak boleh tidak harus mengadakan planning dan kita harus mengadakan pimpinan dan kita harus mengadakan kerahan tenaga….tanpa planning, tanpa pimpinan, tanpa pengerahan tanaga tak mungkin masyarakat yang dicita-citakan oleh rakyat Indonesia itu bisa tercapai dan terealisasi.[5]

Karakteristik gerakan sosial ‘lama’ secara sederhana Gerakan sosial didefinisikan sebagai “gerakan sukarela” (bisa juga terpaksa), diikat dengan keanggotaan yang tidak kaku, untuk melakukan transormasi sosial, Aksi kolektif, Gerakan sosial berada di luar institusi formal, hal ini berbeda dengan organisasi kelompok penekan. Gerakan sosial mensyaratkan dua hal lainnya yaitu Mobilisasi, Peng-organisasian (fleksibel), keberlanjutan (daya tahan). Walau demikian, kemunculan gerakan sosial kritis bisa dimulai dari gerakan individu/personal

Basis gerakan sosial baru sebenarnya juga sangat dimungkinkan kekuatan basis massa dan basis teologisnya. Lkis pernah menerbitkan gerakan sosial islam yang cukup tebal di berbagai belahan bumi. Ayat-ayat gerakan sosial yang dapat mencegah hancur-leburnya kehidupan sudah disediakan di dalam al quran suray ar-rad ayat 11 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” Ayat gerakan sosial lainnya tentu banyak seperti halya dengan surat ali Imron ayat 104 yang sangat popular itu. Suatu gambaran yang sangat kuat bagaimana ummat beragama juga melekat di dalamnya kewajiban menjaga kehidupan yang adil dan damai.  Sejarah seharusnya menjadi kritik yang berdayaguna untuk mengenali semua kekuatan bangsa yang membentuk transformasi. Kedaran inilah yang akan menjadi landasan bagi mewujudnya transformasi pelajar berkemajuan (pelajar terdidik) di masa depan.

Gerakan sosial baru.

Beberapa contoh menarik untuk didiskusikan bagaimana gerakan sosial baru juga terus mengalami transformasi. Banyak gerakan sosial dijalani dengan asik, penuh kegembiraan, dan membeirkan implikasi berarti bagi perubahan sosial. Salah satu contoh mutakhir adalah bagaimana gerakan literasi menjadi bagian penting dari gerakan sosial 4.0 yang sedang kita diskusikan ini. Beberapa karakter gerakan sosial baru antara lain; (1) Gerakan sosial Baru beranggotakan lintas kelas dan ideologi serta etnis, dll; (2) Gerakan sosial baru lebih kepada “revolusi harapan” ketimbang revolusi fisik; (3)Gerakan sosial baru, mengubah pegiatnya tak bermimpi banyak mengubah dunia (besar); mikro dari pada makro; (4) dimulai dari beragam isu yang seringkali asimetris.

Gerakan literasi cukup dekat dengan kriteria di atas yaitu dengan karakter antara lain: Buku sebagai media, Keanggotaan siapa saja, Relawan lebih banyak, Tanpa label yayasan, lembaga, surat izin berdiri, dll, Bisa bubar kapan saja; Periode kepengurusan ada tapi bisa berubah kapan saja; Tak lakukan open recruitmen, tak membatasi atau menjadi “misionaris”—pencari anggota; Keuangan didanai oleh relawan, bukan sponsor negara dan lembaga donor lainnya. Sekilas infrastruktur itu lemah tapi justru itu merupakan kekuatan tak gampang ditindas yang membedakan dengan struttur hirarkis model gerakan sosial tempoe doeloe. Dalam memperjuangkan nilai-nilai transformasi yang diyakini gerakan literasi baru mengunakan cara-cara : Kreatif-edukatif; Membangun kesadaran; Mengajak berbuat (berjaaring); Merawat keyakinan dan perbuatan dengan daya tahan; Apa dan Siapa saja adalah sumber kekuatan. Selain itu, beberapa gerakan literasi mengunakan zine; sosial media, Film dokumenter (kegiatan, kampanye, praktik pendudukan (ruang publik) secara halus, membangun kesadaran, melakukan intervensi sosial, Mobilisasi kekuatan/SDM, jaringan, dll.

Untuk melaksanakannya gerakan sosial baru perlu membangun pengetahuan Melek politik, Melek budaya, Melek tekhnologi, Melek media, Melek wacana, Melek pengetahuan, Melek aksi-refleksi-aksi. Kekuatan ini akan menyelamatkan gerakan dari racun hegemoniknya kekuasaan supra struktur di lingkungannya, juga memungkinkan bermetamorfosis dalam pengunaan metode perjuangan. Posisi gerakan literasi dengan gerakan sosial lainnya jelas BUKAN OPOSISI. Bahkan, gerakan literasi transformative ini mempunyai posisi yang unik karena sifat fleksibel, micro, bersahabat, bermakna, juga memperkuat gerakan sosial lainnya. Spirit Microba itu perlu mendapati garus bawah lantaran spirit ini menjadikan semua orang adalah bagian dari upaya transformasi.

Contoh lain adalah gerakan-gerakan asik di perkotaan (kasus Yogyakarta). Banalitas akhir zaman yang terekpresikan secara gampang adalah bagaimana pengendara motor mewah alias moge merasa jagoan di jalanan dan bisa membeli polisi, juga bangunan hotel yang menguras habis sumur warga, swalayan yang mendownload seluruh kekuatan ekonomi rakyat. Selain itu banalitas proses elektoral politik dalam kampanye tak simpatik yang merusak gendang telingah kebudayaan orang-orang kampung.

Seperti Algore yang gigih menentang rakusnya kapitalisme yang merusak masa depan kehidupan di banyak penjuruh dunia, di Yogyakarta ada Elanto, Dodok, Mbah Marijan,  dan banyak individu lain yang tak disebutkan namanya berada di pihak yang menantang segala praktik kekerasan kebudayaan, kekerasan kapitalisme, dan kekerasan politik. Ada nafas baru yang segar bahwa revolusi fisik tidak lagi menjadi satu-satunya jalan untuk melakukan transformasi sosial. Ada revolusi harapan yang dilahirkan dari gagasan Erich Fromm yang mengajak kita untuk melakukan pemanusiaan atas segala skema pembangunan terencana (yang selama ini sangat teknokratis dan tekhnologis yang secara efektif meminggirkan manusia).

Seruan-seruan akan emansipasi terhadap kehidupan manusiawi khususnya kehidupan urban telah sangat keras digaungkan oleh kekuatan otonomi individu baik yang digerakkan oleh Dodok dalam warga berdaya dan jogja ora didol sebagai bentuk perlawanan publik atas ambisisnya kekuatan kapital dalam pembangunan di kawasan perkotaan. Elanto dan Dodo adalah sedikit dari banyak manusia yang layak disebut sebagai para muadzin perlawanan, atau penyeru perlawanan. Dua orang ini punya kesamaan karakter yaitu nguwongke uwong—artinya inklusif saya lihat dari jarak jauh. Tidak segan-segan retweet dan repost seruan-seruan dari Komunitas lain yang mempunyai hasrat kebaikan dalam tindakan-tindakan sosialnya. Beberapa kali saya melihat postingan poster bermerk Urban Literacy Campaign dan #GerakanMembunuhJogja diaretweet dan juga di posting di kanal perlawanan kreatif: Kota untuk Manusia.

Model model gerakan sosial sederhana di banyak belahan bumi serta  sepak terjang peran individu ini dapat membantu kita memahami fenomena gerakan tentu saja sedikit kita gunakan teori yang dikembangkan oleh Erich Fromm dalam revolusi harapannya,  Vacklav Havel yang meberikan kredit pada kekuatan orang-orang biasa yang dianggap tiada daya, dan buku yang terbaru Karl Jackson dan Steve Crawshaw dalam tindakan-tindakan kecil perlawanan (trejemahan), serta model perlawanan sehari-hari yang pernah dikaji oleh Donatella tentang kekuatan online dna offline, Kervliet (2010) tentang perlawanan tanpa pimpinan dan tak terorganisir di Vietnam, dan Andrew walker (2014) di Thailand.

Konsep Tindakan Kreatif Perlawanan

Tindakan kreatif perlawanan adalah gagasan yang sepadan dengan everyday politics of resistance, everydayrebeliion, and regular small act of kindness. Menurut salah satu sumber yang saya lupa kopi paste linknya menyebutkan begini:

 

Creative resistance begins when we start to imagine what our world – our communities, our friendships, our networks – could be like when we start living by our own rules outside of the logic of progress and profit and learn to construct the ‘goodlife’ together by observing and working with the ecological systems of the natural world. To do this we need to create space, psychological and physical. Creative Resistance always begins in the imagination of another way of being together, but has to continue with an act of resistance in the world itself, when a new idea is thrown in the face of the present.

 

Tindakan perlawanan kreatif (Acts of Creative resistance) seringkali menjadi langkah awal untuk mendekonstruksikan kesadaran (kebudayaan).  Aksi teartrikal: mandi pasir, topo pepe, mandi bunga sangat mungkin menjadi misteri sekaligus penjalas kemunculan suatu bentuk solidaritas komunal (identitas kejogjaan). Penjelasan semacam ini tentu saja tak mudah ditemukan dalam pelajaran di kelas mata kuliah.

Pada kondisi tertentu misalnya mkapitalisme kehilangan legitimasi termasuk pemerintah daerah yang tak lagi berharga dimata rakyatnya, orang per orang mencari sesuatu yang lain, jalan keluar sendiri, bagaimana cara membangun solidaritas kebersamaan, sharing, memproduksi sesuatu dan belajar sesuatu. Ini adalah kebutuhan bersama. Upaya pemuasan materi yang dibutuhkan sebagai upaya bersama adalah tindakan perlawanan sebagaimana digagas Charles F Kettering, direktur General Motors Research Laboratories, jelas ketika ia menuliskan artikel pada saat kekacauan pasar stok tahun 1929 dengan judul ‘Keep the consumer Dissatisfied’. Kettering berargumen bahwa kunci kesejahteraan ekonomi adalah penciptaan ketidakpuasan.  Logikanya, jika semua orang sudah punya apa yang dia inginkan maka mereka tak akan pernah membeli suatu yang baru. Perlawanan kreatif juga demikian, bahwa perlawanan dapat dimulai dengan kata TIDAK dan membuka ruang lebar untuk mengatakan, “YA, inilah keadaan yang kami mau.”

Tindakan kreatif Elanto selain dapat dinilai sebagai tindakan kreatif adalah juga telah memenuhi beragam teori sebagai bentuk perlawanan yang teruji, tegar, dan berdaya tahan. Karakter otonomnya juga penting untuk dikaji dalam konteks super citizen yang dibanyak negara telah berperan sebagai penjaga keutuhan kehidupan bermasyarakat-bernegara. Sama dengan kekuatan social capital, bentuk perlawanan dengan jalan budaya kreatif adalah kekuatan yang strategis untuk membangun kekuatan beasosiasi-berjejaring (Putnam dalam Bowling Alone, 2001).  Dalam artikel ini, ada beberapa konsepsi yang akan diperlihatkan untuk melihat kekuatan kretaifitas yang ditopang pengetahuan sebagai metode menyerukan perlawanan yaitu pertama, keberanian berjalan sendiri atau bersama-sama; kedua, kretaifitas dalam banyak tindakan baik online maupun offline, baik yang mengarahkan penolakan atau tindakan small act of kindness; ketiga. Ketegaran atau daya tahan dalam menyampaikan gagasan atau keyakinan akan pentingnya sharing ideas.; dan keempat adalah karakter non-violence yang sangat menggerakkan.

  • Keberanian Bertindak

Siapa pun tahu bahwa keberanian yang didasari karakter otonom adalah suatu keniscayaan bagi sosok penyeru perlawanan. Dalam konteks kota sebagai arena pertempuran kuasa (politik )dan kapital (ekonomi) maka daerah ini daerah yang syarat dengan kemenangan, pestapora, kejayaan dan di sisi lain akan bergelimpangan nestapa. Kekuatan politik dan uang selalu berdekat erat dengan premanisme dalam segala variasinya. Maka.  Menolak pembangunan hotel,eksploitasi, dan brandalisme jalanan bukanlah perbuatan tanpa resiko. Resiko disadari dan jalan taktik ditempuh. Jika mau berhasil, keberanian haruslah dipadukan dengan penalaran yang baik agar tidak mati dalam keadaan konyol. Mati dalam keadaan ide gagasan brilian belum sempat merasuk dalam alam kesadaran netizen & citizen (rakyat). Ya, karena mental berani inilah sosok Dodok Putra Bangsa berhasil menjadikan Hotel Fave ditutup, juga sosok Elanto mengubah brutalnya pengendara moge dan praktik penyuapan polisi semakin tidak sembrono. Ini adalah suatu upaya mulia untuk terus meneriakkan kebaikan.

  • Kreatifitas Perlawanan

A creator is not someone who works for pleasure. A creator only does what he or she absolutely needs to do.” Gilles Deleuze (1925-1995)

Seperti tindakan kretaif Elanto, sebenarnya ada banyak kisah inspiratif seputar penggunaan metode perlawanan yang kreatif di muka bumi ini. Ada buku Jakcson dan Crawshaw, ada website menarik seperti ini http://www.everydayrebellion.net/category/creative-resistance/ yang dapat menjadi petunjuk dan pengetahuan akan perlunya kreatif di dalam upaya mengubah suatu keadaan atau menolak suatu keadaan baru yang mengancam. Elanto dan Dodo mirip seolah mereka percaya bahwa gagasan yang diviralkan akan melahirkan kekuatan dukungan sentipetal dan sentrifugal secara simultan dan ini sebuah jalan yang tidak ‘mahal’ untuk memulai suatu agenda aksi. Kisah kekuatan viral juga pernah terjadi di Korea atas tindakan asik seorang mahasiswa bernama Ju Hyun-Woo yang membuat poster bertuliskan “I am not fine” berwarna kuning seperti warna identitas #gerakanmembunuhjogja. Poster dari kampus ini menjadi viral lantaran terlampau banyak kasus yang membuat orang tidak gembira dan tidak baik-baik saja seperti korupsi, pemilu yang tak jujur, pembangunan PLTN, dan sebagainya. Banyak orang mengaimini tindakan Hyun-Woo ini seperti orang mengamini tindakan Dodok dan Elanto. Kedua makhluk tuhan ini sangat kompak untuk mengedukasi publik agarmenjadi warga berdaya—warga yang terus berkarya tak berharap pada negara dalam brandingnya #JogjaOraDidol dan juga kampanye serta advokasi untuk mewujudkan Kota Untuk Manusia (ini juga menjadi nama group facebook).

Biar bagaimanapun, perlawanan itu adalah adalah seni kemungkinan. Bagaimana cara membuat suatu yang tak mungkin menjadi mungkin dengan trial and error tanpa merasa stress dan frustasi. Perlawanan yang dapat dibuat asik, dagelan, fresh, dan unik tentu saja akan memberikan nafas lebih panjang. Contohnya, perlawanan yang cukup kompak saat memperjuangkan keistimewaan DIY dalam format legal-formal. Ada sound of revolution-nya dari hip hop. Di Kota Yogyakarta ada lagu Jogja Ora Didol dan gangnam Ramasalah Har, dan sebagainya. Ini pertanda bahwa cara perlawanan kita sudah sampai pada tindakan tindakan kreatif. Kreatifitas juga punya korelasi dengan daya tahan serta ketagaran. Selain itu juga ledakan karya seni bernada perlawanan dalam beragam desain di social media, poster, graffiti jalanan, banner, leaflet, broadcast, dan fotografi.

  • Kekuatan daya tahan

Bentuk perlawanan yang paling mematikan adalah perlawanan yang berdaya tahan. Sederhananya, satu orang saja melakukan perlawanan seperti tuntutan kamisan di depan istana Negara tentu ini adalah suatu kegoncangan moral dan harga diri luar biasa bagi pelaku kejahatan yang disowani setiap hari. Jenis perlawanan yang tidak bisa dihadang dengan tank karena hanya satu atau tiga orang, bentuk perlawanan yang sulit dilumpuhkan lantaran meraka tak melakukan kekerasan apapun, dan juga tidak bisa ditembak karena semua orang tahu aksi berpayung hitam adalah seperti orang sedang takziah. Begitu juga Elanto menghadang Moge dan meneriakkan beragam kasus kemungkaran di ruang publik seperti mempetisikan perusak Kawasan Cagar Budaya (KCB), konvoi kampanye pemilu, dan teriak melalui foto-foto kekacauan trotoar jalan untuk membela hak “difable” (different ability). Aksi-aksi berdaya tahan dan individual ini selain akan mendatankan simpati, berbiaya murah, dan tak gampang dihantam terlebih karena ‘adzan’nya ditunggu jamaah di sosial media. Apa hal baru postingan di facebook dan tweeter gerakkannya ini selalu ada yang sabar menunggu. Saya pribadi terasa betul, bahwa gerakan Elanto dan Dodok ini memaksa kita melakukan apa yang bisa kita lakukan. Terlebih, setelah menonton film di belakang hotel, semen-samin, kala benoa, dst karya Watcdoc itu rasanya kita adalah bagian dari jamaah yang diadzani setiap saat.

Daya tahan itu adalah kekuatan yang dipelihara dengan berjejaring, dengan melakukan tindakan, melanjutkan apa yang sudah berjalan, berteman dengan siapa saja, beriteraksi, menjawab wawancara, mennyatakan pendepat di media, menuliskan cerita pendek, menguatkan diri dengan membaca, belajar hal baru, mau berbagi dan bertanya satu lain hal. Inilah kekuatan yang tak gampang ditumpas. Peluang melakukan seruan dan perlawanan semakin terbuka. Keyakinan inilah yang saya saksikan dari sosok manusia merdeka bernama akun twetter @joeyokarto ini.

  • Jalan non-Kekerasan

Dunia kontemporer yang kita dapat jadikan pelajaran adalah bagaimana berminggu-minggu kelompok oposisi di Mesir menduduki (sit-ins) tempat umum di masa transisi mendukung Mohamad Morsi. Mereka mereplikasi taktik para demonstran yang pernah aksi protes kepada komunisme dengan menduduki Tiananmen di China,  pendudukan damai di Epifanio de los Santos Avenue untuk membebaskan Presiden Ferdinand Marcos dari tuntutan, aksi pendudukan the United States’ National Mall to memaksa menghentikan perang Vietnan, pendudukan gedung DPR-MPR tahun 1998 di Indonesia untuk melengserkan Suharto, dan masih banyak lagi.

Praktik perlawanan tanpa kekerasan ini dipraktikkan secara luas di dunia seperti Anna Hazare di India yang melawan korupsi dengan puasa yang membuat solidaritas luar biasa. Jutaan manusia bergabung, turut berpuasa. Jadi, sebenarnya tindakan non-violence resistance (perlawanan tanpa kekerasan) ala mandi pasir, mandi kembang, menghadang moge, menebarkan kesadaran akan pentingnya ruang publik ala Elanto ini dapat membangkitkan kekuatan citizen & netizen untuk menyuarakan kebenaran.

Keberhasilan tentu saja debatable ukurannya. Saya sendiri lebih melihat keberhasilan perlawanan kretif ini diukur dari sisi internal (apakah bertahan, solid, nilai yang diperjuangkan semakin mantab dipahami pengikutnya) dan sisi eksternal melihat obyek yang mengalami transformasi seperti penghentian pembangunan hotel, penyegelan. penyitaan, penyerahan diri, kemenangan di persidangan, dan mendapatkan semakin besar dukungan publik terkait isu/kasus yang sedang diperjuangkan.

Salah satu kesalahan terbesar dalam melihat perlawanan sipil adalah bahwa demonstrasi jalanan dan aksi pendudukan akan mengubah keadaan secara signifikan(Chenoweth) karena gerakan ini membutuhkan taktik yang tepat (Gene Sharp dalam demokrasi tanpa kekerasan). Sebaliknya, menurut teori setidaknya tiga tahun sebuah gerakan rakyat dapat diidentifikasi perubahannya. Kampanye brutalisme malah butuh banyak tiga kali waktu lebih lama. Sejarah dunia menunjukkan bahwa civil resistance campaigns cenderung berhasil ketika mereka membangun kuantitas dan kualitas pengikut, taktik yang dipilih melalui seleksi, loyalitas, disipilin dalam tindakan non-kekerasan, dan keahlian mengurangi resiko. Semua ini memerlukan waktu, pengorganisasian gagasan, persiapan, dan juga bayangan perubahan di masa yang akan datang.

Taktik berbeda dengan strategi. untuk menggaransi keberhasilan tak pernah gampang di dalam misi perlawanan sipil atas kuasa politik atau kuasa pasar. Selalu ada dinamika, pembelajaran, korban, dan kebangkitan dari perlawanan tersebut. Ini adalah seni melakukan negosiasi (bisa saja), atau seni memaksimalkan tuntutan (dengan kesediaan menerima apa yang mungkin didapatkan). Erica Chenoweth menuliskan:

Effective civil resistance involves a number of skillfully sequenced moves that increase broad-based, diverse participation, allow participants to avoid repression, and lead regime loyalists to defect. Without a broader strategy based around these steps, sit-ins can end in catastrophe.

Katanya, perlawanan efektif itu membutuhkan skill yang hebat untuk menarik dukungan besar, dapat mengindarkan pengikutnya dari tindakan brutal dan menjadikan ‘musuh’ menyerah. Tanpa taktik kreatif upaya pendudukan hanya akan berakhir pada penumpasan atas gerakan. Dalam rezim demokratis, kesalahan startegi sangatlah mungkin akan lebih awal dikalahkan.

Dalam beberapa kajian dari tahun 1900 -2006 mengenai gerakan rakyat yang dapat dikategorikan sebagai “popular movement” yang dengan menggunakan satu metode perlawanan dapat berhasil. Saya kira inilah kekuatan baru yang dapat dimengerti bersama tentang betapa sebuah perlawanan yang efektif itu mensyaratkan keberanian, ketegaran, non-kekerasan, kreatifitas, dan ketahanan. Jadi apa yang dilakukan Elanto ini punya kontribusi serius bagaimana cara cara perlawanan: taktik, metode, dan spirit nilai yang dimiliki dapat mengawetkan sebuah perlawanan yang menjadikan agenda perubahan itu menjadi tugu peringatan untuk banyak orang.

Catatan untuk Gerakan pelajar

Mengingat semakin mengganasnya situasi sosial kebudayaan kita yang tepat menembak jantung para kader bangsa ini, tentu strategi untuk mempertahankan diri dari gempuran nilai-nilai yang melawan akal sehat, menghina kebudayaan bangsa, adalah sebuah keniscayaan untuk kembali mempertegas jati diri, mempraktikakkan kesadaran dan aksi kritis untuk memperoleh keberhasilan dalam deretan kemenangan-kemenangan kecil—kemanangan yang sejati yang setiap hari kita raih.

Nilai-nilai yang kita perjuangkan setidaknya  ada tiga hal yang masih sangat relevan untuk memnyumbangkan kekuatan pada gerakan pelajar kontemporer. Pertama, nilai-nilai ideologi “islam-inklusif” di mana praktik dan nilai ajaran agama akan membangun kekuatan lintas organisasi, latar belakang, status sosial sehingga ‘rahmat untuk semesta’ itu benar-benar adalah nilai yang sudah tertanam kuat dalam akal pikir dan akal budi serta tercermin dalam sikap-perbuatan. Jadi, sikap ‘open minded’ yang dibingkai oleh nilai-nilai ketulusan, kejujuran, dan keadilan itu harus menjadi bagian dari akal sehat kita. Kekuatan nilai-nilai ini yang akan menjamin berlansungnya kehidupan bangsa—dari bayi bangsa menjadi anak semua bangsa.

Kedua, memperkuat tradisi literasi sebagai bagian perjuangan yang tak boleh diceraikan atau disia-siakan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tingkat melek baca dan melek wacananya tinggi. Dengan dalih apa pun, merebut ilmu pengetahuan dan hasanah kebudayaan adalah dengan jalan membangun budaya literasi—baik membaca, menulis, dan mendiskusikannya untuk mendpaatkan pemahaman dari dialektika yang konstruktif. Tanpa itu, sejarah akan gampang dilupakan dan tanpa buku peradaban akan membisu. Dari tradisi literasi ini pula, proses pengilmuwan gerakan menjadi sangat mungkin untuk didesiminasikan menjadi aksi nyata—mendapatkan kemenangan kecil terus menerus sampai menjadi gerakan yang massif. Kesadaran literasi telah berkonstribusi membangun  kesadaran dan merebut kebebasan dalam sejarah Indonesia. Kita tidak bisa membayangkan, tanpa propaganda tulisan bangsa ini mungkin saja maish jauh di bawah lumpur penjajahan.

Dengan demikian, aktifis gerakan pelajar harus meneladani bangsa sendiri sebelum menaladani bangsa-bangsa di atas angin, bangsa-bangsa dari semua bumi manusia. Tak boleh tidak, para pengggerak pelajar haruslah tekun dan sabar membaca jejak pejuang literasi sejati: membaca Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Pramudya AT, Rendra, dan masih banyak lainnya, membaca perjuangan para intelektual dan aktifis yang menjadi martir sejarah dengan mempelajari dan meneladani anak-anak muda dari anak kandung peradaban seperti Munir, Wiji Tukul, dan masih banyak lainnya. Anak-anak muda sekarang harus menyibukkan mencari kekuatan diri sendiri, dari bangsa sendiri, bukan sibuk mencari kelamahan sambil memberhalakan keunggulan bangsa-bangsa lain—yang kadang mereka tak segan-segan merebut kemerdekaan anak bangsa.

Terakhir, nilai-nilai “dekonstruktif” sebagai karakter anak muda. Keberanian keluar dari pakem kelaziman, “thinking out of the box”, berani salah, tidak takut resiko, berani tidak popular, adalah permintaan sejarah yang mestinya dipenuhi oleh aktifis pelajar. Kita saksikan anak-anak muda hari ini yang ingin terkenal, ingin mendapat pujian, dari pada berkhidmat pada nilai-nilai kemanusian sesama teman seperjuangan dan mendekatkan pada basis massa tanpa terdistorsi kepentingan sesaat. Pelajar yang tidak berani melawan arus dan takut mengalami kerugian masa depan, maka pada saat itu juga mereka telah berubah menjadi sosok manusia tua renta yang tinggal menunggu nyawa meregang dari sel-sel darahnya.

Tentu, berani menempuh “jalan lain” bukan tanpa argumentasi, bukan ‘membabi buta’ asal berbeda karena gerakan pelajar sudah mencapai pada tahap pengilmuwan (“masyarakat ilmu”, meminjam istilah Kuntowijoyo) sehingga tak beralasan jika langkah yang ditempuh hanyalah euphoria tanpa akar pengetahuan). Dengan kekayaan ilmu pengetahuan karena budaya literasi telah well established dalam diri kader, tentu saja langka-langka dekonstruktif dalam gerakan menjadi sangat kuat untuk kemudian diwujudkan dalam beragam kegiatan yang ‘positif’—misal, advokasi kebudayaan lokal, nilai-nilai counter hegemoni, dan anti-dominasi.

Kemampuan mengagendakan dan mengelola perubahan itu penting bagi organisasi pelajar karena memang dinamika menjadi tuntutan zaman. Anak-anak muda dengan kemampuan khusus menafsir tanda-tanda zaman ditunjang oleh kemampuan literasi yang kuat tentu mendesains sebuah perubahan yang pro-pelajar dan pro-terhadap cita-cita perjuangan menjadi hal yang tidak mustahil untuk di raih. Bahkan dalam kegiatan sehari-hari msalnya dalam kegiatan pro lingkungan, pemberdayaan komnitas, kedaulatan pelajar, dan beragam bentuk kemenangan kecil lainnya itu akan sangat intensif untuk diperoleh—sebagai bekal mendapatkan kemanangan yang besar pada waktunya nanti. Sebagai penutup, ketiga nilai-nilai itu seharusnya mempu menghentikan kemandegan gerakan dan sebagai manusia kita tak boleh “menyerah dengan kelelahan.”

Referensi/bacaan direkomendasikan

Buku

Agger, Ben. 2016. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan, dan Implikasinya. Yoyakarta: Kreasi Wacana

 

Khoirudin, A dkk. 2014. Pelajar Bergerak Menuju Indonesia Berkemajuan. Gresik: Penerbit Nun

 

Rachman, Noer Fauzi. 2015. Panggilan Tanah Air: Tinjauan Kritis atas porak Porandanya Indonesia. Yogyakarta: Literasi Press.

 

Uhlin, Anders. 1998. Oposisi Berserak: Arus Deras Demokratisasi Gelombang Ketiga di Indonesia. Bandung: Penerbit Mizan

 

Triwibowo, G. 2005. Gerakan Sosial: Wahana Civil Society bagi demokratisasi. Jakarta: LP3ES.

 

Majalah

Majalah Prisma Edisi No.7 Tahun 1996

 

Online

 

http://www.everydayrebellion.net/we-are-not-fine-posters-go-viral-at-south-koreas-universities/

https://www.foreignaffairs.com/articles/egypt/2013-08-11/why-sit-ins-succeed-or-fail

http://www.creativeresistance.org

[1] Disampaikan dalam Taruna Melati 3 PW IRM Jawa Timur di Madiun tanggal 9 September 2016

[2]Ketua PIP PP IRM 2006-2008; dosen Ilmu Pemerintahan UMY, bergiat di Rumah Baca Komunitas (rumahbacakomunitas.org). E: defendi83@gmail.com T: @kejarlahmimpi

 

[3] Edgar F.Bogatta and Marie L Bogatta (eds), encyclopedia of sociology volume 4 (new York: McMillan Publishing Company, 1992), hal. 1880.

[4] Vedi hadiz dalam tulisannya ‘ Buruh dalam Penataan Politik Awal Orde Baru’ dimuat dalam Majalah Prisma Edisi No.7 Tahun 1996

[5] Fauzai Noer Rachman, hal. 61, ejakan penulis ganti/sesuaikan dengan EYD.