David Efendi, Pegiat Rumah Baca Komunitas

292453_3621605771367_1406082182_n Dalam agama Islam, bulan Ramadan adalah bulan dimana wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammadiyah yang telah diabadikan dalam mushaf Al-Quran. Salah satu keajaiban bulan dan ayat pertama ini adalah bahwa ayat dan perintah pertama adalah agar manusia membaca (Iqra yang secara harfiah berarti bacalah). Perintah membaca dalam surat al-qalam tersebut ditafsirkan oleh Quraigh Shihab sebagai aktifitas yang terdiri dari membaca, menyimak, memahami, dan meneliti. Artinya, dimensi perintah membaca ini lebih luas dari sekedar membaca secara tekstual tetapi adalah bagian dari perintah agar manusia menggali hasanah ilmu pengetahuan yang tersedia di alam semesta ini.

Dalam surat berbeda, kalau tidak salah dalam surat Thoha:114 berbunyi; “ dan katakanlah (olehmu Muhammad, “ya tuhanku, tambahkanlah diriku ilmu pengetahuan.” Ini semakin membenarkan bahwa perintah membaca adalah sama dan sebangun dengan perintah untuk memperkaya ilmu pengetahuan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena manusia adalah khalifah dimuka bumi, maka sudah sepatutnya dalam jiwanya ada kebijakan untuk membina hubungan baik dengan sesame dan juga upaya sungguh-sungguh untuk melestarikan keseimbangan ekologi (hubungan dengan lingkungan). Bulan Ramadan benar-benar menjadi media untuk reflektif asal-muasal penciptaan ilmu pengetahuan dan juga bulan untuk diisi dengan kegiatan yang dapat mendayagunakan pengetahuan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya untuk kehidupan.

Dari pengantar di atas, setidaknya ada tiga point penting yang dapat dipelajari di bulan ini. Pertama, karena perintah membaca adalah bagian dari keimanan maka seharusnya membaca itu harus diperkuat dengan semangat theologis—membaca bukan aktifitas lahiriah semata tetapi menjadi bagian dari ibadah yang sangat penting. Ibadah yang didasari oleh ilmu pengetahuan tentu akan jauh lebih berkualitas. Dan kita pun harus memamahi paradigm al-quran, bahwa membaca itu bukan hanya memahami apa yang tersurat (eksplisit; tekstual) tetapi juga memahami dimensi yang tersirat (implisit) yang jauh lebih luas. Dengan demikian, aktifitas membaca atau gerakan literasi mempunyai pijakan ideology yang inklusuf karena ilmu pnegetahuan itu sejatinya mempersatukan beragam keyakinan theologi. Sangat mungkin, rendahnya budaya membaca bangsa Indonesia mempunyai korelasi dengan kehampaan theologis terkait pentingnya membaca.

Kedua, karena bulan puasa bukan hanya ritual untuk merasakan penderitaan lapar kaum miskin tetapi harus mampu menggerakkan kesadaran pelakunya untuk menolong, untuk berbuat nyata membantu meringankan beban kaum teraniaya dan miskin papa. Demikian juga membaca, harus mampu melahirkan aksi yang advokatif berdimensi kemanusiaan sehingga pelaku puasa benar-benar menjadi rahmat bagi sesame. Terwujudnya situasi ideal ini membutuhkan prakondisi yaitu budaya kritis dalam memahami teks dan konteks dalam aktifitas membaca. Nalar kritis akan mempertemukan banyak hal yang positif untuk dilakukan sebagai upaya untuk melakukan perubahan atau pembaharuan sosial.

Terakhir, bulan ramadhan pada umumnya menyediakan banyak waktu luang untuk melakukan aktifitas membaca sehingga sangat baik kiranya untuk menjadikan aktiftas membaca ini lebih produktif. Membaca adalah bagian dari proses pembalajaran sangat penting, termasuk menularkan apa yang telah dibacanya dalam bentuk tulisan lain atau forum kajian bedah buku yang akan menggerakkan lebih banyak manusia untuk membangun spirit literasi. Ke depan, kedaulatan suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat literasi penduduknya. Bulan ini menjadi spirit baru untuk menaikan daya saing bangsa ini dengan memulainya dengan memperkuat tradisi membaca. Mulai sekarang, mulai dari diri sendiri, keluarga, dari Komunitas kita.