Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Muhammadiyah Membangun Pendidikan dari Mimpi – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Muhammadiyah Membangun Pendidikan dari Mimpi

Oleh David Efendi

“Mimpi adalah kunci untukn menaklukkan dunia…”

(Ical, dalam Laskar Pelangi)

Ada pesan yang kuat, bagaimana kita tidak boleh menyepelekan pentingnya mimpi-mimpi dalam hidup kita. Dengan mimpi kita akan memaksimalkan usaha untuk meraihnya, dengan mimpi tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Mimpi akan menjadi kenyataan dengan usaha dan kerja keras sebagimana yang telah dibangun oleh sosok dan figur yang luar biasa yang bernama KHA Dahlan. Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah.

Kata Plato, Pendidikan bukan sekedar mengisi bejana dengan air, tetapi pendidikan adalah menyalahkan api dalam kegelapan. Kehidupan tanpa pendidikan adalah sepert halnya agama tanpa ilmu, seperti mungkin peradaban tanpa buku. Di Indonesia, kesadaran pentingnya pendidikan dan pengilmuwan masyarakat diawali oleh salah satunya adalah Muhammadiyah yang kini gerak dan lintasannya sampai satu abad. Apa yang berubah dari wajah Indonesia? Wajah ummat Islam di negeri terbesar penduduknya beragama Islam ini?

Pendidikan yang diawali dari Mimpi itu juga dilakukan oleh Muhammadiyah, pendiri Muhammadiyah membangun mimpi kamajuan, pencerahan, dan keberadaban melalui ikhtiar yang sekuat-kuatnya dengan membangun apa yang disebut sekolah, madrasah dengan nuansa modern yang tidak hanya berpaku pada pelajaran agama semata tetapi juga dengan menggunakan metode-metode belajar meski dari Barat.

Menjelang satu abad Muhammadiyah, salah satu kado istimewa adalah munculnya kisah Laskar Pelangi atau tepatnya lakar matahari dalam novel yang ditulis oleh Andrea Hirata yang kemudian diangkat dalam layar lebar merupakan kebanggaan tersendiri bagi Mhammadiyah sekaligus menyerukan kepada para pemimpin Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah bahwa di abad kedua ini rasa syukur itu juga perlu ditumbuhkan sambil menengok kebelakang betapa banyak pejuang-pejuang pendidikan di negeri ini yang penuh tantangan dan kesulitan dalam memperjuangkan pendidikan di bawah naungan matahari yang bernama Persyarikatan Muhammadiyah. Artinya, dibalik kebanggaan bertaburnya sekolah-sekolah unggulan Muhammadiyah, sekolah elit Muhammadiyah dengan kelas internasionalnya perlu kiranya membangun jati diri bangsa ini dengan mimpi-mimpi yang telah ditancapkan pada sosok dan figure pejuang pendidikan Muhammadiyah yang ada di pelosok-pelosok desa, di pedalaman yang penuh ikhlas dan dengan

segenggam kekuatannya terus dan terus membangun karakter anak bangsa meski dengan kondisi yang memprihatinkan, dengan bangunan sekolah yang atapnya bocor, dengan tembok yang nyaris runtuh, tetapi dengan semangat yang penuh seluruh…para pengabdi bangsa it uterus saja hidup dan menginspirasi bangsa ini untuk tumbuh menggapai peradaban utama, untuk pencerahan bangsa.

Dari Laskar Pelangi itu menggambarkan bahwa lembaga pendidikan milik Muhammadiyah bukan hanya untuk Muhammadiyah, bukan hanya untuk kelompok kelas tertentu saja tapi pendidikan Muhammadiyah adalah persembangan Muhammadiyah untuk bangsa Indonesia, tidak ada motif lain selain keinginan kuat Muhammadiyah untuk benar-benar mengabdi kepada peradaban dan kejayaan bangsa sebagai implementasi dari spirit al-maun, semangat Rahmatan Lil Alaamin-nya Muhammadiyah. Dengan demikian, Muhammadiyah menganut education for all, bahwa pendidikan itu adalah hak segala anak bangsa tanpa terkecuali.

Muhammadiyah kini memang lain dengan Muhammadiyah yang dulu, kata KHA Dahlan yang memang sudah bermimpi bahwa Muhammadiyah akan tumbuh besar…”“Jadilah kalian dokter, jadilah kalian insinyur, jadilah kalian guru, jadilah kalian arsitektur

tapi kembalilah kepada Muhammadiyah.” Kembali kepada Muhammadiyah berarti kembali untuk memberikan kemanfaatan yang semaksimal mungkin untuk bangsa bukan hanya untuk golongan saja. Harus dibangun semangat untuk anak-anak didik Muhammadiyah agar percaya diri bahwa anak didik Muhammadiyah tidak akan melupakan jatidirinya, sebagai orang beriman, Islam dan sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

Dan kini setelah se-abad lamanya mengabdi kepada bangsa dan agama…ribuan sekolah pun dipersembahkan oleh Muhammadiyah kepada bangsa Indonesia, ratusan ribu sarjana, cendekiwan, guru, dokter, insinyur yang dihasilkan oleh pendidikan Muhammadiyah. Mimpi-mimpi KHA Dahlan itu memang telah menjadi kenyataan!

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.