Oleh: Kyai Noto Sabdo Nderek Sunan Kali

(Penganut Islam Jawa, yang sedang giat meruwat bumi Mataram, tulisan ini dikirim lewat seorang kurir ke redaksi #SaveMataramIslam)

Tulisan rayi kulo J. Kristiyadi, yang berjudul Menebak Arah Sabda Sultan HB X, sungguh menggugah siapapun. Di tengah pro kontra Sabdaraja Sultan HB X, tulisan di Harian Kompas (12 Mei 2015), yang dimuat dalam rubrik analisis politik itu menggugah saya. Setelah membaca berkali-kali, penilaian saya, analisis dan bacaan atas Sabdaraja terasa kering kerontang, tidak menyuguhkan bacaan yang menyegarkan. Tulisan ini ingin menimpali dan memberikan artikulasi lain dari kekeringan yang disuguhkan J. Kristiadi. J. Kritstiadi berangkat dari titik tolak kraton Mataram yang berusaha memadukan aristokrasi dan demokrasi, yang diakuinya bukan urusan sederhana, dan ini sedang dilakukan Sultan HB X. Sepenuhnya J. Kristiadi memberikan kerangka Sabdaraja dengan sumber legitimasi aristokrasi, yaitu wahyu/wangsit. Dan dengan serampangan, membagi begitu saja, mereka yang membaca Sabdaraja baik dari publik atau dari internal Kraton secara lebih kritis, dianggap mengikuti garis rasional. Setelah memposisikan dengan membagi dua hal itu, J. Kristiadi memukul dengan telak, dengan menghimbau, reformasi paugeran yang sedang dilakukan Sultan HB X, ditanggapi dengan ngeyem-ngeyemi. Mereka yang belum menerima Sabdaraja, terutama pemimpinnya, dihimbau agar tidak bertengkar memperebutkan kekuasaan dengan mengejar godaan pangkat, harta kekayaan, dan wanita. Selintas, himbauan yang telak itu, mengayomi bila dibaca tidak jeli. Tetapi sebenarnya himbauan itu mengandung racun mematikan. Himbauan itu didahului dengan meletakkan pembagian bahwa yang menanggapi Sabdaraja dari sebagian publik dan internal kraton, menggunakan garis rasional. Dan, dengan sendirinya mereka dianggap tidak menggunakan hazanah leluluhur, wisik, wahyu, dan wangsit. Racunnya itu di sini, dan dia salah mendasar. Tidak sedikit di antara mereka, menurut informasi dari sumber-sumber saya yang dapat dipercaya, yang menanggapi Sabdaraja (baik dengan kata atau diam), adalah para pesuluk dan para pelaku mistik, dan menggunakan basis wangsit. Dan tulisan J. Kristiadi, tidak memberikan perspektif yang lebih dalam soal ini, dan malah mengaburkan saja. Dari sini, pentingnya menebak dimensi lain dari J. Kristiadi. Oleh karena itu, judul di tulisan ini, adalah menebak Sabdaraja Sultan HB X dan J. Krtistiadi.

Titik Tolak

J. Kristiadi membuat titik tolak kraton Mataram dengan sangat sumir, semata berangkat dari pembedaan aristokrasi dan demokrasi. Dia tidak merunut pada bangunan dunia batin, sosiologis, sejarah dam kebudayaan kraton Mataram, dan kelompok kepentingan yang sekarang bermain di Kraton. Itu hak dia. Hanya saja, titik tolaknya ini mengaburkan bangunan dunia batin dan kraton yang notabene adalah Mataram Islam, sehingga analisis politiknya mengaburkan. Tiba-tiba dibawa saja pada isu renaisance kraton, dan kemudian dibawa pada tarikan aristokrasi dan demokrasi. Dari sini, saya ingin menandaskan bahwa Kraton Yogyakarta adalah Kraton Mataram Islam. Ini adalah fakta sejarah, yang bisa dirunut dari seluruh sumber babad dan sejarah kraton tersebut. Bukan Hindu Mataram dan Katholik Mataram. Islamnya di sini adalah Islam yang berakulturasi dengan tradisi lokal Jawa, yang berusaha menyelaraskan antara yang luar dan yang dalam, yang lahir dan batin, yang lama dan yang baru. Di masa lalu, guru-guru agama dari Kraton ini, adalah para kyai dan sunan dari Kadilangu, keturunan Sunan Kalijaga, dan rekan-rekan mereka. Bila berangkat dari titik tolak ini, maka sabda raja Sultan Hamengkubuwono IX, perlu tetap diletakkan dalam dunia batin, sejarah dan sosiologis Mataram Islam Jawa. Tidak tiba-tiba diambil, diputus dari masa lalunya. Gelar Kalipatullah Sayyidin Panatagama, adalah wujud dari simbolisasi akulturasi Islam-Jawa sehingga disandingkan dengan gelar Senopati ing Ngalogo dan seterusnya itu. Makna Kalipatullah pun dalam tradisi Islam-Jawa ini, bukan bermana khalifah rasulillah, sebagaimana khalifah-khalifah dalam tradisi khulafa rasyidin. Kreativitas orang Jawa memaknai Kalipatullah sebagai ide manunggaling kawulo gusti; Raja tetap sebagai wakil Allah, dia tidak abadi, apalagi sampai langgenging langgeng. Raja dipandang sebagai figur insan kamil yang mencerminkan pencapaian kualitas batin dan akhlak yang sempurna, yang harus diteladani oleh rakyatnya, tetapi dia tidak abadi. Gelar Kalipatullah Sayyidin Panatagama, menandasan perwujudan dari bangunan dunia batin Islam Jawa, yang rahmatan lil ‘alamin, selaras dengan kemajuan dan kebudayaan, dengan tidak meninggalan Islamnya. Islam Jawa atau Mataram Islam bisa beradaptasi dengan dunia modern. Dari titik ini, penghapusan Kalipatullah dengan alasan renaisance dan keselerasan demokrasi, adalah keserampangan dalam memotong dunia batin, sejarah dan sosilogis Mataram Islam. Haruslah dilihat ini bukan suatu yang tiba-tiba. Di manapun sebuah kraton diubah bangunan dasarnya pasti ada ontran-ontrannya terlebih dulu. Di masa lalu, caranya lewat perang fisik perebutan kekuasaan, dan lain-lain. Pada saat sekarang adalah perang dengan cara yang terkini. Ini diperparah kenyataan bahwa Sabdaraja tidak diperkokoh oleh para penasehat Sultan HB X memberikan masukan bahwa maksud dari sabdaraja itu tidak menafikan eksistensi, dunia batin, dan sosiologis-sejarah Mataram Islam; dan apa nilai relevansinya tidak pernah jelas bagi kelangsungan Islam-Jawa. Justru Sabdaraja memberikan pandangan yang jelas, bahwa kekuatan yang kuat di Kraton sedang berusaha memutus masa lalu dari Mataram Islam. Ada apa ini? Saya beralih ke argumentasi, yang oleh J. Kristiadi tidak dipertimbangkan.

Argumentasi

Sekali lagi, J. Kristiadi memberikan argumentasi hanya dua kutub, wahyu dan alam rasional untuk melihat Sabdaraja, dengan cara membagi serampangan, yang menentang Sabdaraja atau tidak menerima Sabdaraja adalah menggunakan garis rasional. Keinginan untuk renaisance dan pembentukan kraton yang dilepaskan dari simbolisasi gelar yang melucuti dunia batin, sejarah dan sosilogis Mataram Islam, ternyata bukan berdasarkan alasan-alasan demokrasi (seperti yang dia sendiri akui bahwa menyelaraskan aristokrasi dan demokrasi begitu susah), tetapi pada wangsit leluhur. Dengan bertumpu pada argumentasi wahyu dan wangsit, justru menjadikan kelemahan dari para penasehat Sultan, dalam melihat arah zaman ke depan. Seakan-akan eksistensi kraton itu masih sama seperti dulu, dibangun dengan wahyu dan wangsit. Tidak ditemukan dan tidak diungkapkan ada alasan-alasan penting untuk memutus dan mendirikan kraton baru (kraton dengan basis tidak lagi Islam Jawa), misalnya dengan mempertimbangkan kehendak rakyat musyawarah pangeran, dll. Jadinya tumpang tindih. Mau maju dengan alasan demokrasi risikonya teramat tinggi, raja dipilih, gubernur dipilih, dan lain-lain: nggak bakalan berani. Mau tetap bertumpu dari masa lalu, tidak bisa lagi, karena kekuatan baru yang menopang kraton sadar implikasi memutus masa lalu dan eksistensi Islam Jawa yang menjadi basis dari Karton Mataram, akan liar sekali. Ketemuanya adalah gado-gado yang tetap saja menjadi liar. Tumpuanya tetap dari leluhur, masa lalu, dan basis dunia batin kraton, yaitu wahyu dan wangsit, yang ironinya mau diletakkan untuk membangun renaisance dan demokrasi-kraton. Kontradiksi ini hanya mungkin bisa dijelaskan manakala, keluar dari jebakan nalar J. Kristiadi, yang tida memberikan tempat pada analisis eksistensi kraton saat ini dan siapa saja yang mempengaruhinya. Landasan, tapak, dan basis kraton menjadi jelas manakala telah jelas pula duduk soal pemain yang berpengaruh di Kraton Mataram Islam sekarang ini. Untuk soal ini saya jelaskan konfigurasinya di bawah ini. Pertama, telah lama fondasi kultural Kraton Mataram Islam, dihancurkan oleh fundamentalis pemurnian Islam. Basisnya di Kauman dan mereka terintegrasi dalam Masjid Agung dan Muhammadiyah garis keras, tepat di depan kraton. Penghancuran dengan serangan Tahyul Bid’ah dan Khurafat (TBC), menjadikan kelompok ini ikut andil dalam menghancurkan Mataram Islam yang menggunakan basis Islam Jawa. Kekuatan mereka ini hanya di luar kraton meskipun ada di dalam Beteng, karena mereka tidak bisa masuk ke dalam Kraton. Hanya saja serangan-serangan teologisnya, yang menyebut praktik-praktik Islam Jawa penuh kemusyrikan dan bidngah, menjadikan penganut muslim Jawa menjadi risih, terancam, dan kerugian-kerugian lain dalam jangka waktu yang lama. Mereka yang tidak kuat, akan menempuh jalan pintas ikut arus mana yang kuat, dan jaringan kedua menentukan ini. Kedua, jaringan Fundamentalis Kasebul atau Fundamentalis Katholik (tidak semua Katholik adalah Kasebul) yang telah lama melihat kraton dan bumi Jawa sebagai ladang subur penginjilan dan pengkatholikan, dan mengakumulasi sumber-sumber ekonomi politik. Mereka sendiri menempuh jalan inkulturasi dan menggunakan simbol-simbol yang berkembang di kalangan Islam Jawa, dan diintegrasikan dengan Katholik; dan pada saat yang sama kelompok inti Fundamentalis Kasebul ini masuk di Kraton. Fundamentalis Kasebul berkreasi tentang wayang, gamelan, mocopatan, dan lain-lain. Bahkan Kidung Rumekso Ing Wengi karangan Sunan Kalijaga pun dipakai mereka. Kerja-kerja mereka, di lingkungan Kraton telah berhasil sukses. Sekarang ini, menurut sumber saya yang dapat dipercaya, hampir 50 persen mereka yang ada di Kraton adalah penganut Katholik. Mereka memiliki patron yang kuat dengan permaisuri. Hanya yang perlu diingat jaringan Fundamentalis Kasebul ini, bisa saja memakai orang yang tidak beragama Katholik, sebagaimana Ali Murtopo di CSIS. Obsesi mereka membangun Katholik Jawa, dan Kraton perlu menjadi titik masuk yang penting. Hal itu dilakukan sudah sejak lama, ketika mereka menafsirkan Jawa dari sudut mereka, dengan banyak kajian, buku, dan kerja-kerja budaya. Akan tetapi mereka terganggu dengan kenyataan dunia batin, sejarah, dan sosiologi kraton yang dicetak dalam Mataram Islam Jawa. Mereka menyadari bahwa untuk bisa masuk secara rapi dan baik, harus memiliki cantelan yang kuat. Dan, untuk hal ini, jaringan Fundamentalis Kasebul, menurut banyak sumber yang saya temui dari para desertir Kasebul, menyokong secara rapi biaya-biaya politik permasiuri untuk ke Jakarta; dan hal-hal lain jauh sebelum itu di dalam kerja-kerja budaya. Ketiga, muslim Jawa yang sporadis, tidak terintegrasi dalam gerakan yang kuat, yang dari dalam harus berhadapan dengan musuh dalam selimut, yaitu Fundamentalis Muslim pemurnian berbasis di Kauman; dan dari sisi lain berhadapan dengan Fundamentalis Kasebul yang agresif. Mereka diwakili oleh beberapa keluarga kraton, tetapi tidak memegang keuasaan yang berarti di situ. Sementara NU, yang mewakili tradisi tertentu dari Islam Jawa, lebih sibuk mengurus pondok pesantren dan politik, yang tersebar di pojok Mlangi, Krapyak, dan masjid-masjid Pathok Negoro, dan pinggiran kampung. Dengan komposisi kelompok kepentingan demikian, praktis yang memainkan pertarungan di Kraton adalah Fundamentalis Kasebul dan muslim Jawa yang sporadis yang semakin terdesak di dalam. Kepentingan Fundamentalis Muslim pemurnian berbeda dengan Fundamentalis Kasebul, tetapi tujuan mereka sama-sama menghancurkan Islam Jawa. Fundamentalis Kasebul berkepentingan semakin memperkokoh eksistensinya dengan membangun cantelan yang kuat, dan karenanya, mereka sebisa mungkin harus mengurangi tumpuan kraton dari basis dunia Mataram Islam. Cara yang dilakukan adalah dengan mendorong, penciptaan Mataram baru lewat para penasehat kraton dari kalangan Fundamentalis Kasebul yang jumlahnya tidak sedikit. Cara mereka halus, tetapi mengkhianati persahabatan dengan saudara-saudara mereka dari Nahdliyin. Mereka sendiri mengorbankan para penganut Katholik yang tulus, demi mencapai ambisi agresif mereka yang dibungkus secara halus tadi, menerobos celah-celah UU Keistimewaan DIY, dan lain-lain. Di tengah peta kekuatan inilah Sabdaraja itu muncul. Dengan demikian, tampak jelas tulisan J. Krtistiadi, tidak seperti biasanya yang kritis, sebagai analis politik, terasa tidak bertaji. Kalau soal tebak menebak sebagaimana judul tulisan ini, maka, J. Kristiadi bisa ditebak, ada dalam lingkaran ini. Kabar yang saya terima dari banyak sumber saya, dia adalah Fundamentalis Kasebul di bagian pembentuk opini, dan tulisan di Kompas itu bagian kerja-kerja seperti itu.

Menantang Fundamentalis Kasebul

Mencermati ini, muncul kelompok yang menamakan Jamaah Nahdliyin Mataram, dan tulisan J. Kristiadi itu, muncul setelah Jamaah Nahdliyin Mataram menggelar acara pisowanan di pemakaman Panembahan Senopati. Acara itu, menurut sumber saya yang dapat dipercaya, dibuat tidak untuk mendukung salah satu calon suksesor di kraton. Mereka hanya ingin, mengingatkan dan memberi pesan kepada para fundamentalis Kasebul, untuk tidak membegal dari belakang. Yang jadi raja boleh laki-laki dan perempuan, tetapi gelar Kalipatullah tidak boleh diubah. Kira-kira, bahasa mereka yang saya dengarkan seperti ini: “Fakta ini menunjukkan bahwa sahabat-sahabat dari Fundamentalis Kasebul ini, menggali kuburnya sendiri. Persahabatan yang lama dibangun dengan Kalangan Nahdliyin, dikhianatinya sendiri. Mereka menusuk dari belakang. Mereka mau membegal dunia Islam Jawa, dengan mengubah keraton supaya setuju dengan desain yang mengubur bangunan dan fondasi Islam Jawa. Padahal ini bukan zaman Belanda lagi. Kami akan memenuhi mereka, dari rumah ke rumah, dengan seruan-seruan para leluhur Islam Jawa.” Walhasil, saya melihat, ada dua level:1. Soal pertarungan internal para pangeran, itu suatu hal; dan 2. Ada pertarungan yang lebih besar dan panjang, sebagai hal lain. Pertarungan yang lebih besar ini adalah pertarungan memperebutkan antara mempertahankan Islam Jawa; dan atau menggantinya dengan Katholik Jawa; dan di tangah musuh dalam selimut dari kalangan muslim pemurnian yang tidak punya malu, menjadi benalu di Masjid Kraton. Kalau kerja-kerja fundamentalis Kasebul ini berhasil dan tidak dilawan secara serius, tertata dan rapi, mereka akan mampu membuat perimbangan kekuatan sosial masyarakat di Jawa, terutama daerah pengaruh Mataram Islam, berubah. Rayi kulo, J. Kristiadi, dengan demikian, selamat menikmati mimpinya dan mewujudkannya. Dengan mempertimbangkan pandangan Jamaah Nahdliyin yang menganggap ini adalah pengkhianatan persahabatan, maka pertarungan pasti akan panjang. Apakah begitu? Dunia batin Jawa memiliki hukumnya sendiri. Para leluhur yang meninggal, tidak bisa ditipu, dia akan mendatangi siapa saja yang waskita. []

Catatan, dicopy dari facebook #SaveMataramIslam. Isi diluar tanggungjawab pengupload