Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Muhammadiyah Kecam Pametri – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Muhammadiyah Kecam Pametri

Muhammadiyah Kecam Pametri

Samakan Amien Rais dengan Sengkuni Dianggap Fitnah

JOGJA – Aksi ruwatan digelar se-kelompok orang yang menamakan diri Paguyuban Masyarakat Pelestari Tradisi (Pametri) di kediaman Ketua MPR periode 1999-2004 HM Amien Rais Kamis (16/10) lalu, menuai kecaman dari internal Muham madiyah. Aksi Pametri tersebut, dianggap sebagai fitnah.

”Kata Sengkuni yang dipakai Pametri untuk memberikan stigmatisasi terhadap Amien Rais adalah fitnah, dan simbolisasi yang sarkastik, tidak beradab, serta jauh dari nilai-nilai kebenaran,” kata Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Muhammad Aziz kemarin (17/10).

Azis menilai, tindakan Pametri menjadikan ruwatan sebagai alat politik untuk mendiskreditkan se-seorang. Padahal tuduhan tersebut tidak berdasar. Jika itu dikaitkan dengan h idden agenda politik, maka sesungguhnya Pametri salah alamat. Kompetisi dalam dunia politik itu sesuatu yang biasa. ”Sampaikanlah aspirasi politik melalui jalur yang sudah ada tanpa harus mencederai anak bangsa yang lain,” lanjut pria yang tinggal di Prenggan Kotagede ini.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Irawan Puspito. Ia menyatakan, aksi Pametri merupakan upaya pence maran nama baik dengan menggunakan simbol kebudayaan Jawa. ”Itu tidak sepatutnya dilakukan. Tindakan Pametri itu justru menodai tradisi dan budaya Jawa yang adiluhung,” kritiknya.Sebagai tokoh yang mendorong gerakan reformasi, lanjut Irawan, Amien Rais telah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Keputusan dan pilihan politiknya merupakan tindakan sah dan konstitusional. Jika ada pihak-pihak yang merasa di rugikan, seharusnya mengambil jalan konstitusional. ”Bukan melakukan provokasi dengan menyerang per-sonalnya,” tegasnya. Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Muhammadiyah DIJ Arif Jamali Muis mengingatkan, ada banyak hal yang berbeda antara Sengkuni dan Amien Rais. Sebagai figur bangsa, Amien Rais dinilai berjasa mendorong reformasi yang pada akhirnya mampu menghantarkan Indonesia pada masa depan demokrasi seperti yang se-karang terjadi.

Sedangkan Sengkuni hanya seorang tokoh antagonis yang licik dan hanya mempunyai nafsu untuk menguasai kekuasaan dengan segala cara. Adapun perubahan sikap dan pandangan antara Amien Rais dahulu dan seka-rang, adalah hal yang wajar dan sah. Sebab, dalam politik tidak ada yang statis.

”Hampir semua politisi pernah me-ngubah pandangan dan sikapnya terhadap dinamika politik dan situasi nasional. Itu tergantung proses dan konteks keadaan yang membuat seorang tokoh dapat berubah. Jokowi pernah menyetujui pilkada tidak langsung, ataupun Pak JK (Jusuf Kalla) yang pernah tidak menyutujui pencalonan Jokowi jadi presiden, serta tokoh lain-nya yang juga melakukan hal yang sama. Hal tersebut wajar saja terjadi, dan tergantung konteksnya,” tegas Arif.

Pengamat Pemerintahan UMY David Efendi menambahkan, aksi dengan menggunakan simbol budaya Jawa itu justru menunjukkan sikap kurang santun. Negeri ini menurutnya perlu gerakan santun berpolitik dan tidak mempolitisasi kebudayaan secara salah kaprah.

”Menyamakan Amien Rais dengan tokoh Sengkuni adalah hal yang keterlaluan,” kecamnya.Lebih baik, lanjut David yang juga dosen Ilmu Pemerintahan UMY ini, masyarakat kembali fokus mengawasi jalannya pemerintahan. Sebab, se-benarnya masih banyak tokoh tokoh republik ini yang menyalahgunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadi dan golongan.

”Masih banyak tokoh jahat di negeri ini dan jauh lebih sadis dan licik daripada sengkuni, yang tidak sedikitpun berkontribusi untuk negara. Sebagian mereka telah masuk jerat KPK, dan tugas kita untuk selalu mengawasi dan membentengi repu-blik ini dari para kawanan tersebut,” tegasnya. (eri/jko/ong). sumber: http://www.radarjogja.co.id/blog/2014/10/18/muhammadiyah-kecam-pametri/

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.