Berbagi Masa Depan untuk Semua

GERAKAN membaca merupakan gerakan yang harus dipelopori siapa saja, termasuk Rumah Baca Komunitas. Komunitas ini hadir karena keprihatinan atas betapa miskinnya bahan bacaan masyarakat, dan enggak meratanya distrubusi buku di di daerah.
Bulan bulan Mei 2012, Rumah Baca Komunitas mengawali langkahnya dengan satu kegiatan yaitu Rumah Baca on the street. Rumah Baca on the street adalah gerakan sangat sederhana.
Komunitas beranggotakan anak-anak muda Jogja ini menggelar tikar di alun-alun selatan jogja tiap minggu pagi, kemudian membawa buku-buku untuk dibaca bersama di tempat. Bisa juga buku tersebut dibawa pulang.
“Kami ingin semua orang dapat terlibat membaca atau meminjamkan bahan bacaan. Terlebih bisa menjadi kegemaran untuk membaca bagi siapa saja,” papar David Efendi,salah satu pendiri Rumah Baca Komunitas yang juga sebagai pengajar di UMY.
Komunitas ini paham betul, bahwa membaca dapat membuka jendela dunia. Mengoleksi buku adalah harta yang berharga untuk di teruskan ilmunya kepada orang lain. Dengan cara dipinjamkan ataupun membuat referensi rutin untuk di upload di web rumah baca.
Komunitas ini sepakat untuk mengumpulkan buku-buku. Diawali dari anggota mengumpulkan buku-buku koleksi mereka untuk di share bersama. Dan jadilah perpustakaan mini rumah baca komunitas. Awalnya hanya terkumpul puluhan buku seiring berjalannya waktu saat ini terkumpul empat belas ribu buku yang siap untuk dipinjam dengan gratis setiap minggu pagi di alun-alun selatan.
Komunitas Rumah Baca ini menyediakan berbagai jenis/ragam bahan bacaan baik buku, majalah, e-book yang merupakan koleksi komunitas dan anggota yang dishare secara saka rela. Jenis buku meliputi buku bacaan umum seperti buku psikologi, social, ekonomi, motivasi, seri remaja, anak-anak, life skill, dan sebagainya.
“Tidak harus menjadi kutu buku yang tiap hari harus membaca buku. Tapi komunitas ini terbuka untuk siapa saja. Yang ingin berbagi ilmu tentang buku, atau ingin menjadikan membaca adalah hobi barunya.” Rifki Sanahdi, mahasiswa asal sumbawa.
Jika pengunjung request buku tertentu, juga akan diusahakan oleh pengurus komunitas. Jam bukupun fleksibel mulai jam 8 pagi sampai jam 11.30 siang setiap hari dan apabila pengunjung sudah mengantongi kartu anggota komunitas berhak datang setiap waktu di markas Rumah Baca Komunitas di Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Rt 08.
Meski di luar masih banyak yang enggan untuk membaca. Fakta tersebut menjadikan tekad rumah baca komunitas untuk membangun sebuah komunitas mandiri di tengah masyarakat.
Terus menumbuhkan minat untuk membaca. Komunitas ini rutin menggelar kegiatan seperti bedah buku, malam apresiasi puisi yang di gelar rutin setiap bulannya.
Rumah Baca Komunitas selain mengumpulkan dari gerakan hibah juga merupakan buku sharing dimana semua orang dapat menitipkan buku/bacaan disini tanpa mengubah status kepemilikan bahkan secara alamiah akan merasa berbagi dengan sesama dengan bacaan/pengetahuan.
Kelebihan kedua adalah bahwa rumah baca ini sebagai tempat belajar alternatif yang buka 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Buku yang disediakan mencakup berbagai segmen usia dan pekerjaan.
“Gemar menabung saja tidak cukup untuk mengurai bobroknya negeri ini. Kita musti bersatu untuk perangi tragedi nol baca insyaAllah bangsa ini akan lebih baik,” pungkas Effendi dengan harapannya. (rin/ mga). sumber: http://www.radarjogja.co.id/blog/2015/03/17/berbagi-masa-depan-untuk-semua/