Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Ada Misi Pembaharuan Dibalik Sabda Raja di Yogya – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Ada Misi Pembaharuan Dibalik Sabda Raja di Yogya

Ontran-ontran  diusahakan diredam dari Jakarta. Hal ini terlihat dari manufer orang dalam keraton yang berusaha memberikan klarifikasi kepada publik melalui tangan-tangan orang lain. Hal ini yang kental terlihat dalam forum seminar di DPD RI yang informasi dan statemen penuh kontroversi sebagiamana saya kopi paste di bawah ini.

Politikparlemen, JAKARTA – Sabda raja yang disampaikan Sri Sultan Hamengku Bawono X dinilai mengandung semangat pembaruan bagi Keraton Yogyakarta.

Mantan Ketua Tim Kerja RUU Keistimewaan Yogyakarta Komite I DPD RI Paulus Yohanes Sumino, masyarakat serta insan pers harus lebih jeli melihat pesan yang tersirat dalam sabda raja tersebut.

“Sabdo raja mengandung misi pembaruan bagi keraton dan juga bangsa ke depan. Apakah keraton bisa menerima pembaruan ini dilakukan secara demokratis atau melalui titah raja di keraton,” kata Paulus dalam diskusi bertajuk “Memaknai Sabda dan Dhawuh Sultan Yogyakarta” dalam dialog kenegaraan ‘Memaknai sabda dan dhawuh Sultan HB X Yogyakarta’ bersama Paulus Yohanes Sumino (mantan anggota DPD RI dari Papua dan ketua tim kerja RUU Keistimewaan Yogyakarta), J. Kristiadi (CSIS), dan Kapuspen Kemendagri Dodi Riyatmadji dan Karsono Hadi Saputro (koordinator program studi Jawa fakultas Ilmu budaya UI) di Gedung DPD/MPR RI Jakarta, Rabu (13/5/2015).

Paulus mengatakan, misi pembaruan yang didengungkan oleh Sultan Yogyakarta sebaiknya diberikan ruang terlebih dulu. Media maupun masyarakat, kata Paulus, hendaknya tidak memanas-manasi dengan memberikan tafsir yang berbeda-beda.

“Biarkan demokratisasi keraton dapat berjalan sebagaimana dia mengalir. Kita tidak boleh memanas-manasi agar persoalan ini tidak menjadi keruh,” kata Paulus.

Sementara itu Karsono Hadi Saputro (koordinator program studi Jawa fakultas Ilmu budaya UI) menjelaskan kontroversi sabda raja tentang gelar ‘Mangkubumi’ yang diberikan Sri Sultan HB X kepada putri sulungnya GKR Pembayun, tidak otomatis sang putri tersebut menjadi ratu pengganti untuk melanjutkan kerajaan daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menurutnya gelar ‘Mangkubumi’ itu masih perlu dua langkah lagi agar seorang keturunan kerajaan bisa menjadi ‘Raja’ Yogyakarta.

“Sabda itu kata atau perintah, dan khalifatullah itu dalam perspektif politik sudah berakhir ketika Yogyakarta bersatu dengan Indonesia ketika merdeka pada 17 Agustus 1945. Hanya saja dalam perspektif budaya, khalifatullah itu melekat dengan ngarso dalem – keluarga kerajaan. Ini sama dengan yang ada di Tiongkok, Thailand, Surename, dan lain-lain. Jadi, pengganti Sri Sultan HB X itu belum ada,” tegas Karsono

Ia menambahkan yang menentukan tentang siapa raja dan ratu Yogyakarta itu, masih menunggu wahyu. Di mana wahyu itu berasal adalah dari persekutuan ruh Nyai Roro Kidul, para kanjeng, dan kasuhunan, leluhur sejarah terbentuknya kerajaan Yogyakarta itu sendiri.

“Jadi, putri Sri Sultan HB X  itu belum menjadi ratu, masih menunggu wahyu di kemudian hari. Karena itu, sabda itu harus disikapi dengan dingin, arif dan melalui tiga pendekatan; yaitu supranatural, tradisional, dan rasional,” ujarnya. (erc). sumber: http://politikparlemen.com/2015/05/13/misi-pembaharuan-dibalik-sabda-raja-di-yogya/

 

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.