Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Pembakaran Kapal Asing Direspons Positif – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Pembakaran Kapal Asing Direspons Positif

Ahmad Lutfie | Selasa, 30 Desember 2014 | 06:59 WIB | Dibaca: 389 | Komentar: 0

YOGYA (KRjogja.com) – Tingkat kepercayaan masyarakat DIY terhadap pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) dalam Pilpres 2014 tergolong cukup tinggi. Hal itu dibuktikan dengan perolehan suara yang mencapai 55,81 persen dari total suara sah di DIY.

Namun kondisi tersebut tidak bertahan lama, dalam hitungan 2 bulan tingkat kepuasan masyarakat DIY tinggal 48,3 persen (kurang dari 50 persen). Jumlah tersebut tergolong menurun jika dibandingkan dengan persentase pemilih Jokowi-JK yang mencapai 55,81 persen.

“Dalam waktu sekitar 2 bulan tingkat kepuasan masyarakat sudah berada di posisi kurang dari 50 persen. Persentase tersebut dapat diartikan sebagai posisi yang kurang aman bila dibandingkan dengan tingkat kepercayaan publik secara nasional terhadap kinerja baik Jokowi-JK yang mencapai 82,5 persen,” kata salah seorang tim peneliti dari Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), David Effendi SIP MA dalam acara diskusi akhir tahun dengan tema ‘Evaluasi Kritis Kinerja Pemerintah Jokowi-JK’ di Kampus Fisipol UMY, Senin (29/12/2014).

Selain David, diskusi akhir tahun tersebut juga menghadirkan pembicara Dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Eko Purnomo MSi PhD dan Dr Mada Sukmajati MPP (dosen Ilmu Pemerintahan UGM) dengan moderator pemimpin redaksi SKH Kedaulatan Rakyat, Drs Octo Lampito MPd.

David mengatakan, tingkat kepuasan masyarakat DIY terhadap pemerintahan Jokowi di bidang kedaulatan, ekonomi dan pendidikan tidak terlalu tinggi. Karena berada pada kisaran 50 persen. Misalnya untuk bidang kedaulatan tingkat kepuasannya sebesar Rp 51 persen, ekonomi 44 persen dan pendidikan sebesar 50 persen. Kendati demikian, kebijakan pembakaran kapal asing untuk mengurangi pencurian ikan mendapat respons positif dari publik dengan persentase sebesar 61 persen. Karena masyarakat menilai kebijakan itu sebagai salah satu upaya menjaga kedaulatan NKRI, sekaligus mengenjot pendapatan nasional.

“Meski 48 persen publik menilai model blusukan Jokowi sebagai metode tepat untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Tapi sebanyak 29 persen meragukan efektifitas dan 23 persen tidak yakin akan kekuatan blusukan. Kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah, agar blusukan bukan hanya pencitraan semata yang dilakukan banyak menteri,” terang David.

Hal senada dikemukakan Eko Purnomo. Menurut Eko, program Jokowi-JK yang selama ini lebih dikenal dengan sebutan Nawa Cita (sembilan prioritas) dalam realitanya belum sepenuhnya bisa diterapkan, karena adanya beberapa persoalan. Selain problem di tingkat parlemen dan birokrasi seperti in efisiensi serta in efektivitas yang tumpang masih tumpang tindih kewenangan.

Sedang Mada berpendapat kinerja menteri Jokowi juga harus dikritisi. Ia melihat hanya sejumlah menteri plihan Jokowi sudah menunjukkan kinerja yang nyata. “Jangan hanya gebrakan PNS tak boleh seminar di hotel, atau mengganti makanan dari terigu ke makanan lokal saja. Itu hanya simbol. Harus lebih substansial lagi” katanya.

Minimnya dukungan ketahanan nasional, peningkatan ekonomi dari pencabutan subsidi dan kepercayaan masyarakat dalam perbaikan kurikulum, butuh penangganan serius. (Ria)

sumber: http://krjogja.com/read/242454/kepuasan-masyarakat-diy-terhadap-jokowi-jk-menurun.kr

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.