David Efendi

Judul pertanyaan tersebut diatas memang absurd tetapi absurditas seringkali menjadi kenyataan. Taruhlah contoh, siapa kira tiba-tiba Amerika dan pasukan sekutu perancis, inggris tiba-tiba menyerang negara orang tanpa ampun dnegan terang-terangkan. Negara-negara itu seolah tanpa dosa membumihanguskan negara orang padahal dalam kesepakatan global sebagaimana Kant mengisyarakatkan, begitu juga para filosof politik, bahwa negara tidak boleh mencampuran dalam negara orang lain. Tetapi, mungkin logika polisi dunia masih berlaku dan walau perang emnjadi opsi yang pertama untuk menegakkannya. Absurd bukan, tetapi terjadi begitu saja karena kita tidak ada daya dan upaya menghentikannya. Anehnya, negara-negara berpendudukan mayoritas ini benar-benar tidak ada nyali termasuk Indonesia. sejatinya, bangsa-bangsa arab islam itu keluar dari kebebalan dan pragmatism duniawi sesaat dan mencoba membangun citra islam yang mengunggulkan kemanusiaan dan peradaban. Jika diam, namnya silent majority akibat tirani asing yang menipu.

Menjawab pertanyaan tersebut di atas sebenarnya beerapa scholars atau ilmuwan memberikan kontribusi atasnya. Kenapa Indonesia tidak bubar sebagaimana uni siviet atau yogoslavia setelah serentetan revolusi berdarah, konflik daerah-pusat, islam-nasionalis, perang dan isu SARA, reformasi 1998, konflik etnis, perang dalam alam demokrasi seperti FPI vs. Ahmadiyah, dan seterusnya. Yusuf Wanandi, memebrikan jawabannya bahwa hal ini diakibatkan oleh daya tahan rakyat untuk menanggung ebban hidup dalam kemiskinan luar biasa kuat. Jika saya boleh mengatakan virus nasionalisme sudah terpatri dalam tulang sumsum anak bangsa. Sementara Corneliy Lay menyatakan bahwa hal ini dipengaruhi oleh ide negara yang melekat dalam batok kepala rakyat. Suasana bathin dan kejiwaan masyarakat akan senantiasa mengatakan bahwa mempunyai negara itu jelas dan nampaknya diyakini lebih baik dari pada terpecah belah tanpa bentuk sebagaimana negara-negara yang pernah bercerai dan lenyap jadi ‘abu’ peradaban.

Analisis lain, bisa jadi menerangkan bahwa Indonesia mendaatka miracle di penghujung abad 20 yang lalu setelah sepanjang abad 18-19 yang diisi dengan kisah berdarah-darah. Dalam analisis desentralasisi atau otonomi daerah pernah di kaji oleh beberapa scholar diantaranya: Pertama, yang menganalisis bagaimana desentralisasi itu mampu meredam perpecahan negara kesatuan. Brancati (2006) dalam hal ini mengusulkan bagaimana pembentukan identotas bersama, partai lokal, dan keleluasaan daerah mengurus rumah tangga sendiri. Hal ini diyakini akan menghindarkan ketrebelahan negara dalam sekat-sekat etnis. Sebaliknya, ada anggapan munculnya identitas lokal dan partai lokal akan mengurangi loyalitas daerah terhadap pusat, tetapi karena ada partai nasional yang multi basis social emnjaidkan kohesi social politik tetap bertahan dengan baik. Indonesia, sebagai bangsa multiculturalism dengan pancasila, banyak mempercayai akan kesaktian system desentralisasi dan otonomi daerah yang dimulai dari UU no 22, 1999, no.25, 1999, dan direvisi menjadi UU no 34, 2005 pada pemerintahan SBY. Terkait basis-basis social yang menghawatirkan pemerintah pusat juga memberikan kewenangan bebarapa daerah antara lain Nangroe Aceh dengan Undang-Undang no.21/2001 mengenai dibolehkannya pelaksanaan syariat islam, propinsi Papua dengan keistimewaan parlemennya melalui UU no.29/2007—di mana parlemen dapat sebagian di isi oleh perwakilan masyarakat tanpa pemilihan secara langsung. Sementara UU yang mengatur keistimewaan Yogyakarta sampai hari ini belum ada progress yang signifikan.

Selain itu, factor geografi (dan demografi) juga memberikan andil menjadikan masyarakat terlalu sulit untuk berfikir memisahkan diri. Hal lain adalah bagaiamana kondisi yang memungkinan gerakan separatis tumbuh. Mengikuti temuan Kuntowijoyo di Madura, bagaimana keterbatasan sumber ekonomi menjadikan masyarakat enggan melakukan pemberontakan. Namun, temuan ini mempunyai keterbatasan tidak bisa menganailisis semua tempat dan semua keadaan. Kedua, Jieli Lei (2002) memberikan argument kenapa negara bertahan dan tidak terpecah dipengaruhi oleh kuat lemahnya negara dalam menggunakan legitimasi kekerasan sebagaimana Weberian mendefinisikan negara. Walau demikian, ada kegagalan yang serius jika dipraktekkan dalam kasus east Timur (dulu bagian dari Indonesia). dengan kekuatan militer banyak korban berjatuhan untuk mempertahankan kesatuan wilayah timor-timur. Mamun pendekatan ini, masih ada benarnya jika melihat kasus Aceh dan Papua di mana keduanya mempunyai sejarah berdarah antara kekuatan lokal dan nasional (TNI).

Terakhir, kita akan membicarakan analisis bagaimana suasana politik luar negeri dan kepentingan internasional dapat mempengaruhi Indonesia khususnya tetap bertahan dan tidak remuk-redam secara basis geographi walau secara politik sebenarnya sudah mengalami kritaslisasi antara beberapa kubu ideologis dan pragmatis (cenderung di level nasional sangat oportunis dan pragmatis, ideology dikubur massal di Senayan). Jadi, sebagaimana kata Amien Rais (2008) dalam buku Selamatkan Indonesia, berbagai kebijakan dalam negeri sangat syarat kepentingan international sebab banyak perusahaan multi nasional beroperasi di Indonesia. pihak asing, akan berusaha mati-matian untuk menjaga agar negara Indonesia tidak runtuh secara dramatis sebelum mereka balik modal atau mengeruk kekayaan bumi Indonesia semaksimalnya. Saya sangat yakin, bahwa berbagai proses desentralisasi, pemilu, dan bahkan proses perda puns angat diintervensi kepetingan asing. Sisi positivenya adalah menjadikan bangsa ini tidak cepat collapse, tetapi ekonomi dan kekayaannya akan lenyap suatu ketika dan sejarah ambruknya bangsa akan nyata jika ini tetap dilanjutkan.

Mengenai kudeta Suharto atas Sukarno syarat dengan kepentingan perusahaan raksasa Amerika yang bernama Freeport, juga bagaimana terpilihnya SBY adalah atas kehendak para pemegang bisnis asing yang disupport oleh egent-agen financial dunia dan militer professional. Akhir-akhir ini ramai ada berita bocoran kawat dunia, rencana kudeta SBY dari berita Aljajzeera, adalah bagian dari dinamika bagaimana berita diproduksi oleh kelompok lain yang membubarkan meanstream America sebagai produk segala macam diskursus international. Kini banyak orang kecil bisa melawan fir-un, dan banyak media melawan kedzaliman superbody yang bernama ambisi superior bangsa-bangsa Barat. Revolusi itu masih berkecamuk…entah ke mana muaranya. Semoga Indonesia tidak collapse dan berdoa sambil berharap semoga kejayaan bukan ke tangan bangsa-bangsa yang arogan, dzalim, dan anti-kemanusiaan.

David Efendi, Mahasiswa Ilmu Politik University of Hawaii, USA

Bacaan :

Brancati, Dawn. “Decentralization: Fueling the Fire of Dampening the Flames of Ethnic Conflict and Secessionism?.” International Organization60 (2006): 651–685.

Li, Jieli. 2002. “State Fragmentation: Toward a Theoretical Understanding of the Territorial Power of the State.” Sociological Theory 20(2): 139-156.

Jackson, Robert H, and Carl G Rosberg. 1982. “Why Africa’s Weak States Persist: The Empirical and the Juridical in Statehood.” World Politics: A Quarterly Journal of International Relations 35(1): 1-24