Oleh R William Liddle

Setelah sebulan tinggal di Yogyakarta bersama sejumlah mahasiswa S-1 Ohio State University, tempat saya mengajar, saya makin apresiatif terhadap ciri-ciri khas daerah ini. Khususnya kepada peran positif yang dimainkan universitas lokal serta kepemimpinan luar biasa Sultan Hamengku Buwono X.

Kunjungan kami ke Yogyakarta melengkapi mata kuliah di Ohio State pada musim spring (semi) 2011. Topiknya, pembangunan di negara-negara sedang berkembang dengan Indonesia sebagai kasus.

Melalui buku teks dan artikel di jurnal ilmiah, mahasiswa saya diperkenalkan pada dua macam literatur tentang pembangunan. Salah satu berasal dari ilmu ekonomi yang mengandalkan pasar dan insentif-insentif pribadi. Literatur yang satu lagi berasal dari tradisi sosiologi kritis yang mencemooh ilmu ekonomi sebagai ”neoliberalisme”.

Perdebatan besar ini tentu tak bisa kami selesaikan dengan satu bulan penelitian lapangan diYogyakarta. Namun, setidak-tidaknya kami bisa menelusuri, melalui pendekatan pengamatan langsung, pengalaman beberapa individu dan kelompok di daerah itu. Sejauh mana pembangunan berhasil pada era reformasi di Yogyakarta dan faktor apa yang paling memengaruhi proses itu?

Atas dasar pertanyaan pokok itu, kami memilih empat topik khusus. Topik pertama, pengembangan industri pariwisata dengan fokus pada program desa wisata sebagaimana terwujud di Candirejo, sebuah desa di Kabupaten Magelang yang berbatasan dengan Candi Borobudur.

Kedua, kami mewawancarai pejabat Bappeda di Sleman dan Bantul tentang program pembangunan di kedua kabupaten itu. Kami juga mendatangi sejumlah pengusaha kecil yang berhasil di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, menanyakan rahasia kesuksesan mereka.

Akhirnya, kami mendalami peran konflik agama, khususnya terkait jender, sebagai penghambat pembangunan. Kami mengunjungi empat lembaga: madrasah modern yang berafiliasi ke Muhammadiyah, seminari Katolik, dan dua LSM (satu berkarya dalam hubungan antaragama dan satu lagi punya misi melindungi perempuan korban perilaku kekerasan pasangan hidupnya).

Kesimpulan umum kami: memang ada kemajuan di Yogyakarta. Banyak individu, misalnya, sebagai wiraswasta, berhasil memanfaatkan sumber daya ekonomi meningkatkan tingkat kehidupan material mereka. Begitu pula dengan berbagai kolektivitas, termasuk perangkat desa, pemda tingkat kabupaten, LSM, dan organisasi lain, khususnya di bidang agama.

Dua faktor menonjol

Apa penyebab keberhasilan ini? Dua faktor paling menonjol dalam penelitian sepintas kami: peran beberapa universitas yang kebetulan sudah lama berada di daerah ini dan kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono X.

Kontribusi universitas terdiri atas sebagian besar dari gagasan dan bantuan teknis yang dipermudah lokasi berdekatan. Dari desa paling terpencil pun di Daerah IstimewaYogyakarta tak sulit menghubungi lembaga kampus.

Tak kurang penting, hubungan pribadi dosen, peneliti, mahasiswa dengan masyarakat, yang menjadi alumni salah satu universitas di Yogya. Bappeda Bantul, misalnya, pascagempa 2006 diuntungkan oleh partisipasinya dalam jaringan orang- orang kampus yang mau ikut membangun kembali kabupaten itu. Beberapa yayasan antaragama juga didukung secara intelektual dan politik oleh tokoh kampus.

Kontribusi terbesar Sultan adalah terciptanya suasana dialog, toleransi, dan keamanan antaragama yang belum tentu terwujud di daerah lain, pun di tingkat nasional. Contoh paling menonjol adalah sikap Sultan terhadap masyarakat Ahmadiyah. Setelah rumah dan masjid Ahmadiyah di Jawa Barat digeledah dan dibakar, Sultan mengeluarkan pernyataan: kehidupan orang Ahmadiyah di Yogya tak akan diganggu siapa pun.

Kasus Ahmadiyah mewakili sebuah sikap konsisten. Di beberapa LSM yang aktif di bidang antaragama, kami diberi tahu, program mereka selalu dilindungi dan dibantu Sultan. Salah satu tokoh LSM mengeluh pemimpin nasional organisasi Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah, tak terandalkan lagi untuk bersikap toleran. Tokoh LSM yang lain menjelaskan bagaimana Sultan dan istrinya, Ratu Hemas, memaklumi masalah yang dihadapi kaum lesbian, gay, biseks, dan transjender: sebuah cara memandang jender yang masih sangat kontroversial.

Akhir kata, tulisan ini harap jangan dianggap punya pesan terselubung. Saya tahu jabatan Sultan sebagai gubernur tak terpilih sedang dipersoalkan. Namun, saya merasa perlu melaporkan beberapa temuan saya dan mahasiswa saya sebelum pulang ke Amerika. Semoga berguna sebagai pandangan pengamat-pengamat dari jauh yang masih polos dan merasa tak berpihak.

R William Liddle

Profesor Emeritus, Ohio State University, Columbus, OH, AS