Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Pemilu untuk Rakyat – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Pemilu untuk Rakyat

Pendahuluan

Judul diatas terinspirasi oleh pemikiran Sri Sultan Hamengkubuwono IX yaitu tahta untuk rakyat yang dapat juga kita pelajari dari kumpulan tulisan sahabat dan kolega HB IX baik dari dalam maupun luar negeri. Buku dengan judul Tahta Untuk Rakyat itu beberap kali cetak ulang oleh gramedia. Semenjak 1984, buku yang diedit oleh Muhammad Roem itu sudah cetak 8 kali. Tahta untuk rakyat itu kemudian menjadi piweling untuk para pejabat, pemimpin dan politisi agar senantiasa sadar bahwa kedudukan politik itu hanyalah amanah untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat, mengabdi ‘untuk kesejehteraan rakyat’ (HB X). senada dengan hal itu, jenderal besar Sudirman yang juga orang Jogja itu mengingatkan kepada kita untuk selalu berusaha membentengi rakyat kebanyakan—rakyat tidak boleh menderita. Pemimpin yang harus menjadi garda terdepan mengambil alih derita rakyat. Dua sosok manusia mulia (priyantun agung) itu hendaknya terus kita hidupkan dan menjadi sumber isnpirasi dalam membangun bangsa dan negara kita. Bukan hanya untuk tanah air Jogjakarta, tetapi untuk Indonesia.

Persoalan kemrunsung berebut kursi kekuasaan di negeri ini sudah sangat jauh meninggalkan nilai-nilai luhur dan budaya kita. Akibatnya konflik kepentintan it uterus menjadikan rakyat kebanyakan sebagai korban. Walau demikian masih ada oprimisme untuk terus memperbaiki situasi negeri ini. Mahasiswa membangun desa, seperti kita lihat hari ini berbagai mahasiswa terus memberikan sumbangsih untuk masyarakat pedalaman—hari ini juga kita lihat perkumpulan mahasiswa Ilmu pemerintahan se- Indonesia memperlihatkan hal serupa, hari ini, di desa Beji.

Pemilu di Indonesia tidak lagi menjadi seremoni yang bersifat sacral lima tahunan. Pemilu atau pemilihan umum hampir menjadi kegiatan sepanjang tahun mulai dari piplres, pemilu legislative, pemilu bupati dan walikota, pemilu gubernur, pemilihan kepala desa, pemilihan rt/rw, dukuh, dan berbagai organisasi sosial juga menerapkan system suksesi dan cara suksesi yang mirip satu sama lainnya. Pemilu kemudian mengalami desakralisasi, kemudian mengalami profesionalisasi dan kapitalisasi. Baik disadari atau tidak masyarakat juga mengalami pergeseran pandanan dan orientasi perihal memilih pemimpin.

Berapa kali kita mengadakan pemilu selama lima tahun? Berapa kandidat yang kita pilih selama musim-musim pemilu tersebut? Belum ada statistic yang dapat memberikan kejelasan berapa. Tetapi setidaknya ada beberapa data terkait pemilukada selama 5 tahun terakhir dan pemilu kepala desa yang dapat diperkirakan jumlahnya mengacu pada jumlah desa seleuruh Indonesia.

Pemilu dan Kita

Jika pemilu tidak lagi menempatkan rakyat sebagai orientasi pertanggungjawaban dalam upaya membangun ketahanan ekonomi, sosial, budaya, dan rasa aman maka sangatlah wajar apabila akhir-akhir ini muncul berbagai stiker dan spanduk yang menyindir kekacauan zaman ini (pasca reformasi) dengan mengatakan zaman orde baru lebih baik situasinya. Dalam pesan stiker dan gambar Suharto itu dituliskan, “ piye kabare le, isih kepenak zamanku to?” Ini bisa jadi cambuk keras bagi pemimpin generasi ini untuk membuktikan bahwa pembangunan di era demokratis jauh lebih baik.

Ada banyak persoalan dalam pemilu. Salah satunya adalah kecurangan baik dilakukan oleh kandidat, penyelenggara pemilu dan penguasa. Kandidat dapat menlakukan money politik dan black campaign, penyelenggara dapat kongkalikong dengan kandidat, dan pengusa bisa memanipulais berbagai hal termasuk DPT. Jadi, kecurangan itu selalu diproduksi dan direproduksi dalam berbagai pesta pemilu.

Agar pemilu untuk rakyat

Setidaknya ada beberapa faktor yang dapat mengarahkan pemilu itu membawa kesejahteraan untuk rakyat. Pertama, penyelenggaran pemilu yang professional dan bertanggung jawab. Kedua, adanya informasi yang jujur terkait kandidat dan profil partai politik. Ketiga, adanya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat (NGO, Media, dan lainnya). Kita akan bahasa satu persatu indikator tersebut.

Kedua, informasi itu sangat penting bagi masyarakat mengingat banyaknya kandidat yang berlaga dalam pemilu. Bukan hanya itu tetapi perlu ada lembaga yang menyediakan informasi valid. Gagasan rasiometer yang dicetuskan oleh Dr Madasukmaji menjadi bernilai tinggi untuk era pemilu yang kapitalis-liberal seperti sekarang ini.

Demikian makalah ini saya sampaikan semoga menjadikan manfaat dan maslahat untuk kita semua. Wallahu alam biasshowab. Salam pemilu untuk kesejahteraan rakyat.

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.