Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Meruntuhkan Kolonialisme Metodologi – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Meruntuhkan Kolonialisme Metodologi

David Efendi

“They came, they saw, they named, they claimed” (Smith 1999:67)

Satu tahapan seharusnya sudah “kita” capai ketika negara-negara yang menjadi budak imperealisme dan kolonialisme sudah menjadi bagian dari penduduk bumi yang merdeka dan berdaulat serta dengan segala kekuatan sumber daya alam dan kemanusiaan mampu menentukan pilihan-pilihan sadarnya. Manusia-manusia merdeka harusnya bisa mendefinisikan dirinya, memposisikannya di tengah jagad raya dengan memahami epistimologi, paradigma, dan mindset barunya untuk pembebasan. “Kita” lihat yang terjadi kemudian, walau fisik kita tidak dibelenggu oleh negara super power atau penjajah lagi namun mindset kita, cara pandang kita seringkali menjadi bagian dari pikiran orang-orang Barat yang menjajah kita selama ratusan tahun. Cara pandang kita adalah legitimasi sebagai orang yang memperkenalkan diri ke dunia luar dan kita menjadi faham arti, meminjam Edward Said, “orientalisme” dan “occidentalisme” (Buruma & Margalit; Hasan Hanafi) atau cara pandang dari dalam tentang ‘kita’ dan dari luar dan ‘kita’ juga bisa berperan tidak malulu menjadi objek tetapi sebagai subjek yang aktif dan independent—bisa subjektif tetapi juga memahami arti objektifitas sebagai ilmu.

Bentuk-bentuk ketertundukan kita kepada metodologiu barat dalam memproduksi pengetahuan adalah bagian dari neokolonialisme yang mempunyai dampak serius (leten) walau juga akan menjadi bencana kemanusiaan jika mengarah kepada dimensi ilmu yang menjadi keputusan pihak yang mempunyai kekuasaan untuk mengimplementasikanya. Awal mula keterjebakan metodologi ini bisa berasal dari akibat (1) lamanya kita dijajah dan didekte oleh bangsa asing mengenai siapa diri kita, mau kemana, dan bagaimana kita menjalani praktik kehidupan sehari-hari; (2) Kita mengalami disorientasi terhadap kebudayaan bangsa sendiri atau identitas kultural kita; dan (3) hasil didikan “barat” baik secara langsung atau tidak (membaca buku-buku barat) yang kebetulan menyimpan banyak bias dan standar–perlu ditekankan bahwa tidak semua berasal dari barat buruk dan berbahaya. Ketidakpekaan terhadap dimensi lokalitias, autentisitas ini mengarah kepada rabun ayam sehingga kita tidak bisa melihat aspek-aspek penting dalam fenomena masyarakat sendiri dan selalu menggunakan pisau atau kacamata impor untuk mendefinisikannya.

Ingatan saya kembali hadir, ketika tahun 2007 saya sedang menyusun judul dan proposal skripsi di UGM. Saya terjebak pada ide subjektifitas dan objektifitas yang disempitkan sebagai cara pandang insider dan outsider. Peneliti yang bekerja dalam komunitasnya, daerahnya, dan persoalan yang dekat dengan dirinya dianggap bagian dari penyakit subjektifitas dan tidak ilmiah. Sementara, mungkin dalam kaca mata neokolonailsme tadi, peneliti dari luar/asing adalah super objetif seperti Cliffor Geertz, Hefner, Kahin, dan indonesianis lainnya, sehingga kita/ pikiran/mindset dengan muda terkooptasi olehnya dan gegabah menyimpulkan bahwa objetifitas hanya bisa dipertanggungjawabkan dan dihasilkan oleh peneliti yang bekerja bukan sebagai insider tetapi ousider–dimana mereka bekerja pada lingkungan asing, meneliti dengan berbagai metode wawancara, olah data, dan ethnograpi. Pada akhirnya saya pun memilih meneliti sebagai outsider di Kotagede sekitar 3-4 bulan dan saya sebenarnya takut untuk menyimpulan makanya saya lebih memilih kesimpulan sebagai agenda riset lanjutan karena bagi saya, sebagai outsider, mempunyai keterbatasan dan persoalan subjektifikasi-objektifikasi tidak akan pernah selesai diperdebatkan sampai kiamat.

Perdebatan ini sudah bertahun-tahun hingap dan pergi dari kepala saya. Semester lalu saya mengambil kelas methodology research in Qualitative yang kebuetulan diajar oleh profesor Valli Kanuha (Sosiologi) yang pernah melakukan project penelitian sebagai seorang insider, group member dengan ‘object’ penelitiannya. Dia menbeliti mengenai stigmatisasi komunitas LGBT di Hawaii yang banyak memberikan konstirbusi terhadap riset berbasis komunitas dan beliau juga menyabet banyak penghargaan atas dedikasinya sebagai insider researcher. Di kelas tersebut saya sempat kaget ternyata perdebatan objetifitas-subjektifitas, insider-outsider juga mengemuka secara massif dalam diskusi setidaknya sampai 3 kali pertemuan namun berakhir pada happy ending bagi saya ketika professor menerangkan bagaimana potensi seorang insider untuk menemukan banyak hal yang sudah dipahami dan hanya pelru menjaga jarak sebagai peneliti (tidak harus menegasikan identitas sebagai insider/group member). Lalu, ketika saya mengajukan proposal thesis dimana saya mengklaim sebagai insider/bagiand dari komunitas yang hendak saya teliti, seorang Professor dan chair yang kemudian menjadi commitee thesis saya, Nevzat Soguk, mengatakan bahwa seorang insider adalah “legitimated resources” sehingga saya semakin percaya diri sebagai orang yang hendak menjadi insider dalam projek penelitian.

Terkait upaya mendekonstruksikan atau mendelegitimasikan bentuk-bentuk metodologi yang selama ini taken for granted dalam dunia akademik di Indonesia, patut kiranya kita selalu menjadi manusia yang open minded, tidak tertutup untuk perubahan dan tidak konservatif dalam keusangan (unintended stupidity) sehingga kita dari dalam melakuka autoktitik dan kita juga memfilter otoritas metodologi orang asing yang super bias. Ada banyak buku yang bisa kita jadikan untuk menguatkan daya kepekaan kita dalam memproduksi pengetahuan yang sudah melekat (embedded) dalam masyarakat dan tentu saja kita sebagai insider mempunyai pengetahuan karena ini lebih bisa dilihat dari practical knowledge ketimbang objek pengetahuan yang menurut ousider masih perlu diinterpretasi, didefinisikan, dan seterusnya sebagaimana kata Linda Tuhiwai Smith (1999) dalam bukunya Decolinizing Methodologies, “They came, they saw, they named, they claimed”. Buku ini sangat penting menjadi fondasi kita untuk membangun kesadaran diri dari dalam (insider consciousness) untuk lebih objektif dalam meneliti apa yang sudah menjadi bagian dari dalam dirinya.

Walau demikian, saya masih terganggu oleh klaim bahwa peneliti asing lebih objektif dan insider tidak objektif alias sangat kental subjektifitasnya. Beberapa hari lalu, mahasiswa pasca sarjana di Indonesia yang sedang berencana menulis thesis juga menyampaikan hal yang sama bahwa seolah ada stigma yang kuat bahwa insider tidak punya kelebihan apa-apa selain keburukan subjektifitasnya. Stigmatisasi yang dibiarkan oleh banyak kelompok akademisi ini lambat laun akan menjadi penyakit baru dalam dunia keilmuan/bukan sama sekali baru tetapi penyakit lama yang dibiarkan membengkak dan menjadi tumor ganas dalam hasanah intelektual. AKibatnya adalah kebuntuhan ilmu yang menawarkan pespektif dari dalam akibat terlalu banyak peneliti asing yang memberi konstribusi kepada definisi dan interpretasi terhadap komunitas lokal (indigenous groups). Perspektif dari dalam dibutuhkan, tidak hanya untuk pelengkap penderita tetapi harus, jika tidak lebih tinggi derajatnya, minimal disetarakan dengan ‘pandangan’ luar-jauh-asing’ itu.

Sebagai tambahan, ada beberapa potensi positif yang dapat dikembangkan oleh peneliti dari dalam (insider) yang seringkali disepelekan oleh peneliti sendiri atau halayak akademisi. Pertama, seorang peneliti insider mempunyai pengetahuan yang lebih detail mengenai objek kajian yang ditelitinya. Kedua, dengan mudah memetakan aspek-aspek penting mengenai fenomena, tradisi, bangunan cara pandang, dan sampai kepada informan kunci yang dapat dijadikan nara sumber. Ketiga, seorang insider yang sudah tercerahkan melalui kajian methodologi riset, tidak akan kesulitan untuk menjaga jarak dengan objek kajian tanpa kehilangan identitasnya. Ikatan emosional seringkali muncul tetapi hal ini bisa dijaga ketika berhadapan dengan narasumber tidak perlu menyampaikan perasaan dan emosinya terkait kajian yang hendak/sedang diteliti. Peneliti tidak harus netral, keberpihakan perlu sebagai seorang intelektual tetapi cara mengekpresikan keberpihakan ini harus juga dituangkan dalam sistematika argumentasi yang memenuhi standar “rumah produksi ilmu”. Dan terakhir, seorang peneliti dari dalam bisa memperbandingkan temuan-temuan yang dihasilan dengan peneliti luar yang mungkin bisa melengkapi atau mengkritisi, begitu pula sebaliknya. Terkait kelemahan peneliti luar (outsider) juga banyak, salah satunya adalah bias kebudayaannya dan standar yang digunakan, selain itu ‘mereka’ tidak tahu detail objek kajian karena lingkungan baru sementara waktu riset sangat terbatas sehingga over generalisasi sering kali dapat ditemukan. Demikian semoga manfaat.

 Hamilton Library, Oct 26, 2011 6.30-7.00pm

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.